
“Jika waktu bisa berputar, kami ingin
kembali lagi ke masa lalu”, itu kalimat yang sering kita dengar tentang
pentingnya kenangan masa lalu. Ada rasa rindu yang sangat mendalam, ada rasa
cinta yang membara dan serpihan-serpihan kisah yang sulit dilupakan hingga saat
sekarang ini. Kadang kita tersenyum dan tertawa, kadang juga ada tetesan air
mata yang menambah suasana syahdu saat kita menelusuri lorong-lorong kenangan
masa lalu.
Idul fitri sudah berjalan 6 hari -ada yang
sudah 7 hari. Kita menikmati suasana yang penuh ragam rasa. Kita bisa bertamu,
makan opor, ketupat, rendang atau soto. Ada canda dan tawa. Anak, saudara yang
dari jauh bisa bertemu dan berkumpul bersama. Moment yang sungguh hanya terjadi
dalam setahun sekali. Sangat sulit dilupakan moment yang sangat spesial ini.
Kini rumah kita sudah mulai sepi. Anak-anak
atau cucu-cucu yang tidur di depan TV sudah tidak ada. Mereka sudah pulang ke
rumah masing-masing. Hari libur atau cuti bersama sudah habis. Sudah masuk
kerja. Kembali beraktivitas. Tinggal foto-foto kenangan yang masih menjadi
penghibur saat mereka tidak berada disisi kita.
Rindu memang sangat berat. Kangen kadang
sulit diobati. Ingin bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai.
Tapi semua akan pergi sesuai dengan jadwal masing-masing. Laksana para musafir
di Bandara. Mereka menunggu panggilan penerbangan sesuai dengan jadwal tiket
yang ada di tangannya.
Memang Jadwal Penerbangan bisa delay. Terlambat.
Kadang sampai dua jam atau berjam-jam. Tapi ingat, “terlambat penerbangan”
bukan berarti gagal pemberangkatan. Ia hanya persoalan teknis. Ada
kendala-kendala teknis atau cuaca alam yang tidak bisa melakukan penerbangan.
Ketika semua kendala selesai, maka penumpang pun akan diterbangkan menuju
tujuan masing-masing.
Semua kenangan akan berlalu. Semua yang
kita cintai juga akan meninggalkan kita. Hanya ada tiga teman sejati yang
selalu menyertai kita dalam suka dan duka, yaitu: iman, karya terbaik -amalun
sholihun-, dan sumbangsih kita terhadap nilai-nilai peradaban -watawa saubil
haq watawasaubissobr.
Iman adalah teman kita yang akan mengubah
kehidupan lebih indah dari seluruh kenangan yang pernah kita alami sepanjang
hidupnya. Anda mungkin mempunyai kenangan yang sangat indah dan sulit dilupakan
sampai usia senja. Ingatlah, keimanan kita akan mengganti seluruh kenangan
terindah tersebut dengan kenangan yang belum dan tidak mampu dibayangkan dengan
kecerdasan akal kita ataupun dengan lamunan terbaik kita.
Suatu masa, iman kita akan membuka
tabir-tabir hakikat keindahan -yang menurut kita sangat menyenangkan- kepalsuan
yang kita alami sepanjang hidup kita. Iman akan membuka fakta bahwa apa yang
kita ratapi, tangisi sepanjang hari hanya setitik debu yang tidak sebanding dengan
keindahan yang Allah berikan kepada kita. Iman kita akan membuktikan bahwa apa
yang kita rindukan selama ini bersifat fana dan akan diganti dengan kesenangan
yang bersifat kekal.
Teman kita kedua adalah sumbangsih karya
terbaik semasa kita hidup di dunia. Pada saat orang-orang mengejar hiasan-hiasan
bersifat sementara, ada Sebagian kita yang rela menyisihkan waktu berfikir,
bekerja dan terus-menerus melakukan inovasi-inovasi kebaikan untuk kemaslahatan
umat manusia. Umur adalah persoalan angka. Ada panjang dan pendek. Semua sudah
ada ketentuannya. Tapi mengisi umur dengan memberikan kemanfaatan kepada orang
lain adalah pilihan-pilihan dan kecerdasan kita mengambil keputusan. Sangat sulit
memang mengambil keputusan untuk mempergunakan waktu pada hal-hal yang memberi
manfaat. Kadang ada kondisi letih, lemah atau pilihan-pilihan untuk -sebatas-
menyenangkan diri dengan berbagai hiburan. Merasa nyaman dan nikmat yang
kemudian, kita melupakan tujuan kehidupan yang agung. Kita sudah tidak mau
bersusah-susah lagi mengkaji ilmu pengetahuan, kajian teknologi, belajar agama
atau mengurus kepentingan bangsa dan negara. Kita terlena dalam zona nyaman dan
merasa sudah puas dengan apa yang kita dapatkan. Kita sudah tidak lagi mau
menanggung resiko tentang arti menghidupkan malam hari, tentang arti berfikir
mendalam, tentang arti sebuah jihad fi sabilillah dalam beragam sektor
kehidupan. Kita sudah merasa cukup bahagia dengan apa yang kita dapatkan
sekarang ini.
Teman ketiga, yaitu budaya menanamkan
nilai-nilai peradaban sehari-hari berupa kebiasaan belajar dan mengajar dalam
segala aspek kehidupan. Manusia tidak ada yang sempurna. Ia selalu saja ada
kekurangan. Allah menghadirkan orang lain agar ia bisa melihat kita dan
memberikan masukan kebaikan serta memberikan apresiasi atas segala prestasi
yang telah kita lakukan.
Budaya ini kelihatannya belum hidup dengan
mapan pada bangsa kita. Kadang kita tidak bisa menerima kelebihan-kelebihan
orang lain dengan melakukan tindakan-tindakan yang menyudutkan mereka. Seolah-olah
kebaikan mereka hanya kamulfase, cari muka, ABS dan sejenisnya. Kita
sering hidup penuh dengan kecurigaan. Kebenaran sering hanya untuk kelompok
tertentu, dan kelompok lain selalu saja salah di matanya.
Padahal, prinsip “ watawa saubil haq
watawasaubissobr “ merupakan cermin kedewasaan masyarakat modern yang
sesungguhnya. Hanya dengan prinsip hidup ini, suatu daerah, masyarakat, bangsa dan
negara akan lebih cepat naik derajat menjadi lebih mulia. Sebab prinsip
tersebut merupakan wujud keterbukaan menerima kebaikan darimanapun datangnya. Bahkan
dari musuh sekalipun tetap diterima.
Selatpanjang, 26 Maret 2026
Penulis : Imam Ghozali
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   109
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   213
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral
02 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   349
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13547
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2938
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870