Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?



Kamis , 26 Maret 2026



Telah dibaca :  145

“Jika waktu bisa berputar, kami ingin kembali lagi ke masa lalu”, itu kalimat yang sering kita dengar tentang pentingnya kenangan masa lalu. Ada rasa rindu yang sangat mendalam, ada rasa cinta yang membara dan serpihan-serpihan kisah yang sulit dilupakan hingga saat sekarang ini. Kadang kita tersenyum dan tertawa, kadang juga ada tetesan air mata yang menambah suasana syahdu saat kita menelusuri lorong-lorong kenangan masa lalu.

Idul fitri sudah berjalan 6 hari -ada yang sudah 7 hari. Kita menikmati suasana yang penuh ragam rasa. Kita bisa bertamu, makan opor, ketupat, rendang atau soto. Ada canda dan tawa. Anak, saudara yang dari jauh bisa bertemu dan berkumpul bersama. Moment yang sungguh hanya terjadi dalam setahun sekali. Sangat sulit dilupakan moment yang sangat spesial ini.

Kini rumah kita sudah mulai sepi. Anak-anak atau cucu-cucu yang tidur di depan TV sudah tidak ada. Mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Hari libur atau cuti bersama sudah habis. Sudah masuk kerja. Kembali beraktivitas. Tinggal foto-foto kenangan yang masih menjadi penghibur saat mereka tidak berada disisi kita.

Rindu memang sangat berat. Kangen kadang sulit diobati. Ingin bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai. Tapi semua akan pergi sesuai dengan jadwal masing-masing. Laksana para musafir di Bandara. Mereka menunggu panggilan penerbangan sesuai dengan jadwal tiket yang ada di tangannya.

Memang Jadwal Penerbangan bisa delay. Terlambat. Kadang sampai dua jam atau berjam-jam. Tapi ingat, “terlambat penerbangan” bukan berarti gagal pemberangkatan. Ia hanya persoalan teknis. Ada kendala-kendala teknis atau cuaca alam yang tidak bisa melakukan penerbangan. Ketika semua kendala selesai, maka penumpang pun akan diterbangkan menuju tujuan masing-masing.

Semua kenangan akan berlalu. Semua yang kita cintai juga akan meninggalkan kita. Hanya ada tiga teman sejati yang selalu menyertai kita dalam suka dan duka, yaitu: iman, karya terbaik -amalun sholihun-, dan sumbangsih kita terhadap nilai-nilai peradaban -watawa saubil haq watawasaubissobr.

Iman adalah teman kita yang akan mengubah kehidupan lebih indah dari seluruh kenangan yang pernah kita alami sepanjang hidupnya. Anda mungkin mempunyai kenangan yang sangat indah dan sulit dilupakan sampai usia senja. Ingatlah, keimanan kita akan mengganti seluruh kenangan terindah tersebut dengan kenangan yang belum dan tidak mampu dibayangkan dengan kecerdasan akal kita ataupun dengan lamunan terbaik kita.

Suatu masa, iman kita akan membuka tabir-tabir hakikat keindahan -yang menurut kita sangat menyenangkan- kepalsuan yang kita alami sepanjang hidup kita. Iman akan membuka fakta bahwa apa yang kita ratapi, tangisi sepanjang hari hanya setitik debu yang tidak sebanding dengan keindahan yang Allah berikan kepada kita. Iman kita akan membuktikan bahwa apa yang kita rindukan selama ini bersifat fana dan akan diganti dengan kesenangan yang bersifat kekal.

Teman kita kedua adalah sumbangsih karya terbaik semasa kita hidup di dunia. Pada saat orang-orang mengejar hiasan-hiasan bersifat sementara, ada Sebagian kita yang rela menyisihkan waktu berfikir, bekerja dan terus-menerus melakukan inovasi-inovasi kebaikan untuk kemaslahatan umat manusia. Umur adalah persoalan angka. Ada panjang dan pendek. Semua sudah ada ketentuannya. Tapi mengisi umur dengan memberikan kemanfaatan kepada orang lain adalah pilihan-pilihan dan kecerdasan kita mengambil keputusan. Sangat sulit memang mengambil keputusan untuk mempergunakan waktu pada hal-hal yang memberi manfaat. Kadang ada kondisi letih, lemah atau pilihan-pilihan untuk -sebatas- menyenangkan diri dengan berbagai hiburan. Merasa nyaman dan nikmat yang kemudian, kita melupakan tujuan kehidupan yang agung. Kita sudah tidak mau bersusah-susah lagi mengkaji ilmu pengetahuan, kajian teknologi, belajar agama atau mengurus kepentingan bangsa dan negara. Kita terlena dalam zona nyaman dan merasa sudah puas dengan apa yang kita dapatkan. Kita sudah tidak lagi mau menanggung resiko tentang arti menghidupkan malam hari, tentang arti berfikir mendalam, tentang arti sebuah jihad fi sabilillah dalam beragam sektor kehidupan. Kita sudah merasa cukup bahagia dengan apa yang kita dapatkan sekarang ini.

Teman ketiga, yaitu budaya menanamkan nilai-nilai peradaban sehari-hari berupa kebiasaan belajar dan mengajar dalam segala aspek kehidupan. Manusia tidak ada yang sempurna. Ia selalu saja ada kekurangan. Allah menghadirkan orang lain agar ia bisa melihat kita dan memberikan masukan kebaikan serta memberikan apresiasi atas segala prestasi yang telah kita lakukan.

Budaya ini kelihatannya belum hidup dengan mapan pada bangsa kita. Kadang kita tidak bisa menerima kelebihan-kelebihan orang lain dengan melakukan tindakan-tindakan yang menyudutkan mereka. Seolah-olah kebaikan mereka hanya kamulfase, cari muka, ABS dan sejenisnya. Kita sering hidup penuh dengan kecurigaan. Kebenaran sering hanya untuk kelompok tertentu, dan kelompok lain selalu saja salah di matanya.

Padahal, prinsip “ watawa saubil haq watawasaubissobr “ merupakan cermin kedewasaan masyarakat modern yang sesungguhnya. Hanya dengan prinsip hidup ini, suatu daerah, masyarakat, bangsa dan negara akan lebih cepat naik derajat menjadi lebih mulia. Sebab prinsip tersebut merupakan wujud keterbukaan menerima kebaikan darimanapun datangnya. Bahkan dari musuh sekalipun tetap diterima.

Selatpanjang, 26 Maret 2026



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   109

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   213

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral
02 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   349

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13547


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870