
Ketika Tuhan telah mengatur syariat
perkawinan silang, Qabil menolak aturan tersebut. Ia bersikukuh ingin menikah
dengan kembarannya -Iqlima-yang terkenal sangat cantik. Selain itu, ia juga
tidak senang terhadap adiknya -Habil- yang pola hidupnya sangat religius, indah
akhlaknya, dan sangat baik pergaulan sosialnya. Pendek kata, Habil tipe pemuda
yang merealisasikan ajaran-ajaran syariat Islam. Berkualitas ibadahnya,
berkualitas amal sholehnya. Hatinya sudah “tumancep” menghambakan diri
kepada Allah SWT.
Qabil melihat dunia dengan keindahan dan
kenikmatan. Qabil tidak menyadari bahwa kehidupan itu fana. Kenikmatan dunia
itu fana. Sangat pendek. Seperti pendeknya minum “Es Juz Mangga”, nikmat saat
diminum hilang rasanya saat sudah masuk dalam perut.
Kenikmatan yang fana telah melumpuhkan akal
dan membutakan hati. Gadis cantik, jabatan dan kekayaan telah berhasil menutup
hati. Sehingga seluruh isi hati diisi dengan nafsu dunia, pikiran orientasinya
adalah kenikmatan dan kekayaan.
Sedangkan Habil benar-benar menerapkan
“efisiensi nafsu”. Ia sudah tidak lagi melihat dunia sebagai keindahan yang
menyesatkan hati dan akal. Ia sudah mampu melihat keindahan dunia sebagai
bagian dari percikan-percikan keagungan Allah SWT. Semua serba indah. Sebab
yang membuat dunia adalah Tuhan Yang Maha Indah.
Habil tetap mentaati aturan syariat. Ia
menikah dengan Iqlima-kembaranya Qabil-sebagai realisasi ketundukan kepada-Nya.
Sedangkan Qabil tidak mau menikah dengan kembaran Habil-Labuda. Dua adik
beradik mempunyai orientasi berbeda dalam memaknai pernikahan, kekayaan dan
jabatan.
Habil sangat sederhana melihat keindahan
dunia. Penulis jadi ingat hadist Nabi Muhammad SAW tentang pernikahan:
"Wanita dinikahi karena empat perkara:
hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang beragama,
niscaya tanganmu berlumur debu (beruntung)" (HR. Bukhari-Muslim).
Prinsip hidup qabil dan habil ini yang
kemudian melahirkan dua ideologi besar: materialisme dan syariat Tuhan.
Materialisme melahirkan bencana: permusuhan, perkelahian, dan pembunuhan serta
peperangan. Syariat Islam melahirkan kasih sayang, perdamaian dan persaudaraan.
Penulis ingat kisah tentang bagaimana Nabi Yusuf mendapatkan perlakuan yang
diskriminatif oleh saudara satu ayah: Yahuda dan saudara-saudaranya. Yahuda
sebagai personifikasi dari ideologi materialisme telah merencanakan makar
terselubung.
Pola yang dilakukan yaitu”Politik Belah
Bambu”. Yahuda dengan penuh wajah memelas berkata kepada ayah nya Nabi
Ya’qub: “Wahai ayahanda, maafkan kami tidak bisa menjaga Yusuf. Ia telah
diterkam oleh binatang buas”. Ia menyerahkan Baju Nabi Yusuf yang penuh dengan
lumuran darah.
Yahuda tidak peduli terhadap nilai-nilai
kemanusiaan. Ia tidak peduli tentang makna orang tua yang telah melahirkannya. Ia
pun tidak peduli tentang makna persaudaraan. Keinginan nafsu duniawi-materialisme-
telah menghancurkan persaudaraan dan kemanusiaa. Persaudaran bagi Yahuda ketika
mendatangkan keuntungan, kekayaan dan kekuasaan.
Pola Yahuda yang sekarang ini dianut oleh
bangsa barat -AS- dan Israel. Mereka melakukan sandiwara politik sebatas untuk
kepentingan mereka sendiri. Tidak ada prinsip saling menguntungkan. Siapapun yang
sudah tidak menguntungkan akan disanjung setinggi langit. Ketika negara atau
bangsa lain tidak menguntungkan mereka, akan dicampakan seperti sampah. Negara-negara
tersebut akan menjadikan budak-budak yang sangat hina di hadapan mereka.
Yahuda telah melakukan pemborosan nafsu
dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan.
Berbeda dengan Habil, Nabi Ya’qub dan Nabi
Yusuf. Mereka telah melakukan efisiensi nafsu yang sangat ketat. Mereka telah
menggunakan nafsu pada hal-hal yang mutmainah. Kepentingan utama misi mereka
yaitu menciptakan tatanan hidup di dunia penuh dengan nilai kemanusiaan, kedamaian,
kesejahteraan dan kejayaan bersama dengan mengacu pada kalimat tauhid.
Hari ini penulis merindukan para tokoh,
para politisi, para ulama , para cendekiawan atau ilmuwan yang bisa membawa
obor misi peradaban sebagaimana yang telah diwarikan oleh habil, nabi ya’qub
dan nabi yusuf. Visi dan misi yang mengandung spirit tauhid.
Baik spirit tauhid maupun seperti materialisme
menginginkan suatu peradaban manusia yang gemilang. Hanya saja, pondasi
berbeda. Ini akan berbeda pula bentuk dan pola peradaban itu sendiri.
Jika materialisme mengingingkan suatu
peradaban dengan imperialisme, kolonialisme, menghisap darah manusia, dan
mengeruk kekayaan sumber daya alam, maka spirit tauhid justru menghilangkan
pola-pola jahat seperti itu. Spirit tauhid melahirkan peradaban yang
memanusiakan manusia tanpa memandang etnis, budaya, keyakinan dan agama.
Sekarang ini dunia semakin komplek. Persoalan
semakin semrawut. Pertarungan nafsu antara titisan Habil dan Qabil semakin
sengit. Persaudaraan semakin luntur. Keselamatan nyawa manusia semakin tidak
ada artinya. Perang sering menjadi solusi picik sebagai pembenar kejahatan para
penguasa. Masa dunia benar-benar terlihat kelam.
Apakah titisan nafsu qabil akan menghancurkan
titisan nafsu habil selama-lamanya?. Kini kita sama-sama menyaksikan episode
pertarungan dua nafsu di permukaan bumi ini.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   213
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral
02 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   349
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13548
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2938
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870