Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Efisiensi Nafsu



Rabu , 15 April 2026



Telah dibaca :  109

Ketika Tuhan telah mengatur syariat perkawinan silang, Qabil menolak aturan tersebut. Ia bersikukuh ingin menikah dengan kembarannya -Iqlima-yang terkenal sangat cantik. Selain itu, ia juga tidak senang terhadap adiknya -Habil- yang pola hidupnya sangat religius, indah akhlaknya, dan sangat baik pergaulan sosialnya. Pendek kata, Habil tipe pemuda yang merealisasikan ajaran-ajaran syariat Islam. Berkualitas ibadahnya, berkualitas amal sholehnya. Hatinya sudah “tumancep” menghambakan diri kepada Allah SWT.

Qabil melihat dunia dengan keindahan dan kenikmatan. Qabil tidak menyadari bahwa kehidupan itu fana. Kenikmatan dunia itu fana. Sangat pendek. Seperti pendeknya minum “Es Juz Mangga”, nikmat saat diminum hilang rasanya saat sudah masuk dalam perut.

Kenikmatan yang fana telah melumpuhkan akal dan membutakan hati. Gadis cantik, jabatan dan kekayaan telah berhasil menutup hati. Sehingga seluruh isi hati diisi dengan nafsu dunia, pikiran orientasinya adalah kenikmatan dan kekayaan.

Sedangkan Habil benar-benar menerapkan “efisiensi nafsu”. Ia sudah tidak lagi melihat dunia sebagai keindahan yang menyesatkan hati dan akal. Ia sudah mampu melihat keindahan dunia sebagai bagian dari percikan-percikan keagungan Allah SWT. Semua serba indah. Sebab yang membuat dunia adalah Tuhan Yang Maha Indah.

Habil tetap mentaati aturan syariat. Ia menikah dengan Iqlima-kembaranya Qabil-sebagai realisasi ketundukan kepada-Nya. Sedangkan Qabil tidak mau menikah dengan kembaran Habil-Labuda. Dua adik beradik mempunyai orientasi berbeda dalam memaknai pernikahan, kekayaan dan jabatan.

Habil sangat sederhana melihat keindahan dunia. Penulis jadi ingat hadist Nabi Muhammad SAW tentang pernikahan:

"Wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang beragama, niscaya tanganmu berlumur debu (beruntung)" (HR. Bukhari-Muslim).

Prinsip hidup qabil dan habil ini yang kemudian melahirkan dua ideologi besar: materialisme dan syariat Tuhan. Materialisme melahirkan bencana: permusuhan, perkelahian, dan pembunuhan serta peperangan. Syariat Islam melahirkan kasih sayang, perdamaian dan persaudaraan.

Penulis ingat kisah tentang bagaimana  Nabi Yusuf mendapatkan perlakuan yang diskriminatif oleh saudara satu ayah: Yahuda dan saudara-saudaranya. Yahuda sebagai personifikasi dari ideologi materialisme telah merencanakan makar terselubung.

Pola yang dilakukan yaitu”Politik Belah Bambu”. Yahuda dengan penuh wajah memelas berkata kepada ayah nya Nabi Ya’qub: “Wahai ayahanda, maafkan kami tidak bisa menjaga Yusuf. Ia telah diterkam oleh binatang buas”. Ia menyerahkan Baju Nabi Yusuf yang penuh dengan lumuran darah.

Yahuda tidak peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ia tidak peduli tentang makna orang tua yang telah melahirkannya. Ia pun tidak peduli tentang makna persaudaraan. Keinginan nafsu duniawi-materialisme- telah menghancurkan persaudaraan dan kemanusiaa. Persaudaran bagi Yahuda ketika mendatangkan keuntungan, kekayaan dan kekuasaan.

Pola Yahuda yang sekarang ini dianut oleh bangsa barat -AS- dan Israel. Mereka melakukan sandiwara politik sebatas untuk kepentingan mereka sendiri. Tidak ada prinsip saling menguntungkan. Siapapun yang sudah tidak menguntungkan akan disanjung setinggi langit. Ketika negara atau bangsa lain tidak menguntungkan mereka, akan dicampakan seperti sampah. Negara-negara tersebut akan menjadikan budak-budak yang sangat hina di hadapan mereka.

Yahuda telah melakukan pemborosan nafsu dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan.

Berbeda dengan Habil, Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf. Mereka telah melakukan efisiensi nafsu yang sangat ketat. Mereka telah menggunakan nafsu pada hal-hal yang mutmainah. Kepentingan utama misi mereka yaitu menciptakan tatanan hidup di dunia penuh dengan nilai kemanusiaan, kedamaian, kesejahteraan dan kejayaan bersama dengan mengacu pada kalimat tauhid.

Hari ini penulis merindukan para tokoh, para politisi, para ulama , para cendekiawan atau ilmuwan yang bisa membawa obor misi peradaban sebagaimana yang telah diwarikan oleh habil, nabi ya’qub dan nabi yusuf. Visi dan misi yang mengandung spirit tauhid.

Baik spirit tauhid maupun seperti materialisme menginginkan suatu peradaban manusia yang gemilang. Hanya saja, pondasi berbeda. Ini akan berbeda pula bentuk dan pola peradaban itu sendiri.

Jika materialisme mengingingkan suatu peradaban dengan imperialisme, kolonialisme, menghisap darah manusia, dan mengeruk kekayaan sumber daya alam, maka spirit tauhid justru menghilangkan pola-pola jahat seperti itu. Spirit tauhid melahirkan peradaban yang memanusiakan manusia tanpa memandang etnis, budaya, keyakinan dan agama.

Sekarang ini dunia semakin komplek. Persoalan semakin semrawut. Pertarungan nafsu antara titisan Habil dan Qabil semakin sengit. Persaudaraan semakin luntur. Keselamatan nyawa manusia semakin tidak ada artinya. Perang sering menjadi solusi picik sebagai pembenar kejahatan para penguasa. Masa dunia benar-benar terlihat kelam.

Apakah titisan nafsu qabil akan menghancurkan titisan nafsu habil selama-lamanya?. Kini kita sama-sama menyaksikan episode pertarungan dua nafsu di permukaan bumi ini.

Saya dan anda mungkin hanya rumput-rumput yang bergoyang. Tidak ada kekuasaan dan kekuatan apapun. Kecuali kita senantiasa memohon kepada Allah semoga masa depan tatanan kehidupan di permukaan bumi ini kembali baik, normal dan mendatangkan keberkahan dari seluruh penjuru mata angin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   213

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral
02 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   349

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13548


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870