
Siang itu terasa sangat panas. Saya menyapa
teman-teman yang sedang gotong royong. Membangun kantor kegiatan keagamaan
bersama. Gotong royong iuran tiap bulan. Gotong royong mengerjakan bersama,
urun tenaga, bawa makan dan minum sama-sama. Kadang ada yang langsung ngasih
uang untuk membeli membeli besi, semen atau kawat. Dan saya bagian ngasih doa.
Semoga di kondisi yang sangat panas saat itu bisa menjadi wasilah kesabaran
para pekerja dan keberkahan segara umur, ilmu dan rezekinya.
Kondisi dulu sangat panas karena cuaca
alam. Lama tidak hujan. Kini cuaca juga, panas. Bukan karena tidak turun air
hujan, tapi karena panas nya arus informasi di media sosial.
Di internal dalam negeri, masyarakat yang
membuat telinga dan perasaan panas seperti isu-isu nasional yang sangat marak
yang menyentuh pada jantung penegak hukum dan pertahanan: Jaksa, Polri dan TNI.
Di era digital dan kecerdasan masyarakat meningkat, maka apa yang terjadi pada
kasus yang menimpa mereka, bukan hanya mereka yang panas. Masyarakat pun ikut
panas. Hanya saja berbeda penyebab sumber inti panasnya. Semua kecipratan
panas.
Dunia internasional pun semakin hari
semakin panas gara-gara jagoan kalah pada piala dunia. Kini panas berlanjut
pada pernyataan dari presiden Iran -Masoud
Pezeshkian- menyatakan perang terbuka melawan AS. Imbasnya lagi-lagi sangat
jelas, barang kebutuhan masyarakat meningkat, apa-apa mahal. Lagi-lagi, yang
berkelahi antar kepala negara, yang susah masyarakat segala kelas, terutama
kelas bawah.
Pada kondisi seperti ini, kita dilatih untuk mengenal diri sendiri
tentang hakikat segala pencipta kebahagiaan dan penderitaan. Kita mulai belajar
mengurai makna kedua nya dalam dimensi nilai-nilai ketuhanan. Selama ini
mungkin kita sudah terjebak pada ekspetasi yang sangat tinggi pada
program-program pemerintah, negara dan dunia yang selalu saja menjanjikan kebahagiaan.
Dan kita sudah sering mendengar semua itu, hingga terasa jenuh
pengulangan-pengulangan tentang janji program yang sangat ambisius.
Dari kacamata spiritual bahwa persoalan-persoalan yang menurut kita
sangat sumpeg di dalam hati sebenarnya bukan persoalan yang sangat
serius sekali. Jika kita merujuk pada makna “darimana dan akan kembali kemana
hidup ini”, maka kita bisa memahami bahwa persoalan tersebut bagian dari proses
pendewasaan manusia untuk selalu ketergantungan kepada Allah SWT.
Allah SWT telah berfirman Al-Maidah ayat 23 sebagai berikut:
Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang
keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu
untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitulmaqdis). Jika kamu memasukinya, kamu
pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang
mukmin.”
Ayat tersebut mengantarkan kepada pikiran kita agar senantiasa
selalu bertawakal kepada Allah Swt. Di antara bentuk tawakal, Allah memberikan
media alam semesta ini untuk belajar tentang makna tersebut. Bagaimana seekor Cicak
makanannya Adalah nyamuk. Secara syariat imposible. Cicak tidak bisa terbang,
nyamuk bisa terbang. Namun Tuhan telah mengaturnya dengan baik. Saat nyamuk lelah
terbang atau mungkin ngantuk karena letih, pada saat itu cicak pun mendapatkannya
sebagai mangsa.
Kita bisa melihat burung camar atau burung kormoran yang selalu terbang
di atas laut. Makanan nya adalah ikan di laut. Setiap hari ia terbang di atas
laut. Saat ada peluang untuk mendapatkan mangsa, maka burung kormoran meluncur
dari atas ke permukaan laut. Akhirnya mereka mendapatkan rezeki yang Allah
tentukan dengan cara yang sangat indah.
Walhasil kondisi alam semesta akan selalu mengalami dinamika yang
sangat dinamis dengan berbagai persoalan dan konflik. Semua akan selalu
terjadi. Semua juga membutuhkan penyelesaian. Dan penyelesaian persoalan hidup
kita pada esensinya ketika kita sudah mampu merealisasikan nilai-nilai tawakal
dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   217
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   233
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   204
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   252
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   328
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14066
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5120
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5062
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4297
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3793