Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

373 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Di Bawah Lindungan Atap



Kamis , 23 Juli 2026



Telah dibaca :  92

Siang itu terasa sangat panas. Saya menyapa teman-teman yang sedang gotong royong. Membangun kantor kegiatan keagamaan bersama. Gotong royong iuran tiap bulan. Gotong royong mengerjakan bersama, urun tenaga, bawa makan dan minum sama-sama. Kadang ada yang langsung ngasih uang untuk membeli membeli besi, semen atau kawat. Dan saya bagian ngasih doa. Semoga di kondisi yang sangat panas saat itu bisa menjadi wasilah kesabaran para pekerja dan keberkahan segara umur, ilmu dan rezekinya.

Kondisi dulu sangat panas karena cuaca alam. Lama tidak hujan. Kini cuaca juga, panas. Bukan karena tidak turun air hujan, tapi karena panas nya arus informasi di media sosial.

Di internal dalam negeri, masyarakat yang membuat telinga dan perasaan panas seperti isu-isu nasional yang sangat marak yang menyentuh pada jantung penegak hukum dan pertahanan: Jaksa, Polri dan TNI. Di era digital dan kecerdasan masyarakat meningkat, maka apa yang terjadi pada kasus yang menimpa mereka, bukan hanya mereka yang panas. Masyarakat pun ikut panas. Hanya saja berbeda penyebab sumber inti panasnya. Semua kecipratan panas.

Dunia internasional pun semakin hari semakin panas gara-gara jagoan kalah pada piala dunia. Kini panas berlanjut pada pernyataan dari presiden Iran -Masoud Pezeshkian- menyatakan perang terbuka melawan AS. Imbasnya lagi-lagi sangat jelas, barang kebutuhan masyarakat meningkat, apa-apa mahal. Lagi-lagi, yang berkelahi antar kepala negara, yang susah masyarakat segala kelas, terutama kelas bawah.

Pada kondisi seperti ini, kita dilatih untuk mengenal diri sendiri tentang hakikat segala pencipta kebahagiaan dan penderitaan. Kita mulai belajar mengurai makna kedua nya dalam dimensi nilai-nilai ketuhanan. Selama ini mungkin kita sudah terjebak pada ekspetasi yang sangat tinggi pada program-program pemerintah, negara dan dunia yang selalu saja menjanjikan kebahagiaan. Dan kita sudah sering mendengar semua itu, hingga terasa jenuh pengulangan-pengulangan tentang janji program yang sangat ambisius.

Dari kacamata spiritual bahwa persoalan-persoalan yang menurut kita sangat sumpeg di dalam hati sebenarnya bukan persoalan yang sangat serius sekali. Jika kita merujuk pada makna “darimana dan akan kembali kemana hidup ini”, maka kita bisa memahami bahwa persoalan tersebut bagian dari proses pendewasaan manusia untuk selalu ketergantungan kepada Allah SWT.

Allah SWT telah berfirman Al-Maidah ayat 23 sebagai berikut:

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitulmaqdis). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.”

Ayat tersebut mengantarkan kepada pikiran kita agar senantiasa selalu bertawakal kepada Allah Swt. Di antara bentuk tawakal, Allah memberikan media alam semesta ini untuk belajar tentang makna tersebut. Bagaimana seekor Cicak makanannya Adalah nyamuk. Secara syariat imposible. Cicak tidak bisa terbang, nyamuk bisa terbang. Namun Tuhan telah mengaturnya dengan baik. Saat nyamuk lelah terbang atau mungkin ngantuk karena letih, pada saat itu cicak pun mendapatkannya sebagai mangsa.

Kita bisa melihat burung camar atau burung kormoran yang selalu terbang di atas laut. Makanan nya adalah ikan di laut. Setiap hari ia terbang di atas laut. Saat ada peluang untuk mendapatkan mangsa, maka burung kormoran meluncur dari atas ke permukaan laut. Akhirnya mereka mendapatkan rezeki yang Allah tentukan dengan cara yang sangat indah.

Walhasil kondisi alam semesta akan selalu mengalami dinamika yang sangat dinamis dengan berbagai persoalan dan konflik. Semua akan selalu terjadi. Semua juga membutuhkan penyelesaian. Dan penyelesaian persoalan hidup kita pada esensinya ketika kita sudah mampu merealisasikan nilai-nilai tawakal dalam kehidupan sehari-hari.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   217

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   233

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   204

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   252

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   328

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14066


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5120


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5062


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3793