
Fanatisme
sektarian (ta’assubiyyah hizbiyyah) jika diteliti dengan pendekatan
sejarah terjadi sejak Islam belum diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Fanatisme sektarian
yang paling parah terjadi di Yatsrib (Madinah lama pra-Kedatangan Nabi
Muhammad). Dampaknya adalah peperangan dan permusuhan yang tidak berkesudahan,
yaitu peperangan dan permusuhan antara Bani Aus dan Bani Khazraj. Permusuhan
dan peperangan itu kemudian dihentikan dan disatukan oleh Rasulullah SAW. Jadi,
pekerjaan Nabi Muhammad yang paling berat di Yatsrib saat itu adalah mereduksi
bahkan menghancurkan fanatisme sektarian hingga mereka tidak lagi bermusuhan
dan menyadari pentingnya persaudaraan dan persatuan.
Fanatisme
sektarian berikutnya yang terjadi saat setelah wafatnya Rasulullah. Pada waktu
itu seakan-akan tidak ada lagi panutan yang berwibawa untuk menyatukan umat
Islam. Muncul golongan yang sangat fanatis terhadap Ali yang disebut Syi’ah
karena berdasar pada pidato Nabi di Ghadir Khum (10 H) bahwa
kepemimpinan setelah Rasulullah dipegang oleh Ali. Dampaknya, golongan Syi’ah
ini bermusuhan dengan yang non-keluarga Ali seperti Abu Bakar yang ternyata Abu
Bakar menggantikan Rasulullah sebagai khalifah (632 - 634 M), bukan Ali. Tidak
cukup hanya sampai di situ, Umar bin al-Khattab yang saat itu menjadi khalifah
(634 - 644 M) menjadi korban pembunuhan seorang budak bernama Abu Lu’lu’ah yang
sangat kecewa karena Persia dikalahkan oleh Umar bin al-Khattab. Abu Lu’lu’ah
begitu fanatis terhadap bangsa Persia hingga berani membunuh dan mengorbankan
nilai kemanusiaan Umar bin al-Khattab. Dalam hal ini, Abu Lu’lu’ah sangat
fanatis terhadap ras dan suku bangsanya, yaitu Persia.
Peperangan
yang terjadi berikutnya yang mengorbankan sesama para sahabat Nabi adalah perang Shiffin antara Ali dan
Mu’awiyyah (657 M). Perang antara Ali dan Mu’aiyyah ini dasarnya adalah
fanatisme sektarian. Mu’awiyyah yang tidak terima atas kasus pembunuhan Utsman
karena Utsman masih satu klan Bani Umayyah. Mu’awiyyah merasa harus mati-matian
membela yang segolongan (satu Bani Umayyah) untuk terus menjadi pemimpin dan
penguasa di jazirah Arab. Sedangkan Ali berasal dari Bani Hasyim yang berbeda
dengan Bani Umayyah harus turun dari jabatan sebagai penguasa. Parang pun meletus
karena sikap fanatisme sektarian ini, hingga mengakibatkan banyak para sahabat
Nabi berguguran. Dalam catatan Ibnu Katsir, yang gugur dalam perang Shiffin ini
adalah 60.000 orang. Sementara menurut Joesoef Sou’yb, yang gugur dalam perang
Shiffin berjumlah 80.000 orang. Dampak dari perang ini selain berguguran banyak
manusia, juga munculnya aliran kelompok keagamaan yang sangat fanatis, yaitu
aliran Syi’ah, Khawarij dan Murji’ah.
Bani
Umayyah saat itu menang atas Bani Hasyim yang dibuktikan dengan pendirian
kerajaan (al-mulku as-siyasi) bernama Dinasti Bani Umayyah. Sikap
fanatisme sektarian ini terus melekat dalam kekuasaan Bani Umayyah dan
dipertahankan mati-matian. Semua yang diangkat menjadi penguasa (raja) dan
jabatan penting adalah keluarga Bani Umayyah, sedangkan non-Bani Umayyah tidak
diberi jabatan penting. Fanatisme sektarian ini mengakar sangat kuat selama
lebih kurang 89 tahun (661-750 M) hingga menyebabkan kemarahan keluarga Bani
Hasyim yang diwakili oleh Husein bin Ali yang merasa tertindas. Benteng
pertahanan untuk melanggengkan rezim Bani Umayyah saat itu sangat kuat, hingga
Husein bin Ali justru menjadi korban pembunuhan di Karbala (10 Oktober 680/10
Muharram 61 H). Lagi-lagi, penyebab peperangan masa ini adalah fanatisme
sektarian berupa fanatisme terhadap keturunan (bani).
Peperangan
rebutan jabatan dalam internal Bani Umayyah dan moral buruk para penguasa Bani
Umayyah menyebabkan pemberontakan terjadi. Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan Bani Abbas untuk melancarkan
pemberontakan yang dikenal dengan sebutan revolusi Abbasiyyah. Pemberontakan
itu dimenangkan oleh Bani Abbasiyyah yang merupakan keturunan Bani Hasyim (750
M). Bentuk fanatisme sektarian pada masa Bani Abbasiyyah ini selaian keturunan
(Persia, Turki, Bani Buwaihi, dan Bani Seljuk) tidak hanya dalam bentuk
fanatisme sektarian berupa keturunan, tetapi juga aliran keagamaan.
Pada
masa periode pertama Dinasti Abbasiyyah, fanatisme sektarian yang muncul adalah
aliran keagamaan dalam tubuh umat Islam. Sejak masuknya orang-orang Persia yang
sangat gandrung dengan filsafat, paham keagamaan yang berkuasa dan menjadi
paham resmi kerajaan adalah paham Mu’tazilah di era Khalifah al-Ma’mun (813-833
M). Paham Mu’tazilah adalah paham yang sangat rasional sehingga sangat cocok
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan saat itu. Fanatisme sektarian ini
menyebabkan Khalifah al-Ma’mun memberi instruksi para gubernur untuk diadakan
ujian terhadap aparat negara tentang paham ini yang disebut mihnah.
Paham Mu’tazilah meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Fanatismes sektarian
paham mu’tazilah ini terus dilanggengkan sampai pada Khalifah Mu’tashim
(833-842 M). Diantara korbannya adalah Imam Ahmad bin Hanbal, al-Khuza’i dan
al-Buwaiti.
Fanatisme
terhadap aliran keagamaan ini kemudian mendapat perlawanan dari paham lain.
Khalifah Al-Qaim bi Amrillah (1031-1075 M) yang memiliki paham berbeda dengan
Mu’tazilah kemudian melarang paham ini, walau paham ini sebenarnya masih banyak
diikuti oleh para pembesar saat itu seperti Qadhi Abdul Jabbar. Ditekan dan dilarangnya
paham Mu’tazilah saat itu oleh Khalifah al-Qaim bi Amrillah saat itu telah membuat Paham Mu’atazilah kurang
berkembang. Walau paham Mu’tazilah dalam Dinasti Abbasiyyah periode pertama
berakhir, tetapi kemudian digantikan oleh Kesultanan Bani Buwaihi (934-1055 M)
yang berpaham Syi’ah. Kadua aliran ini (baik Mu’tazilah maupun Syi’ah) sangat
gandrung dengan ilmu pengetahuan. Sehingga periode ini disebut masa keemasan
Islam dalam hal ilmu pengetahuan.
Konflik
internal dalam tubuh Kesultanan Bani Buwaihi yang menguasai Dinasti Bani
Abbasiyyah menyebabkan kemunduran dan kehancuran Kesultanan Bani Buwaihi.
Dengan hancurnya Kesultanan Buwaihi itu, kemudian digantikan dengan Kesultanan
Seljuk (1036-1128 M) di Tubuh Dinasti Bani Abbasiyyah. Kesultanan Seljuq yang
didirikan dan diproklamirkan oleh Tughril Bek tahun 429 H/1036 M itu sebenarnya
bertujuan mengokohkan, memenangkan dan menyebarkan paham Sunni-Asy’ari di tubuh
Dinasti Abbasiyyah dan sekitarnya. Segala macam cara dilakukan untuk
menyebarkan paham Sunni Asy’ari pada masa Kesultanan Seljuq ini, diantaranya
menciptakan kader militan Sunni Asy’ari dengan didirikan Madrasah Nizhamiyyah
oleh menteri (wazir) Nizham al-Mulk pada tahun 457 H/1065 M.
Dinasti
Seljuq yang berpaham Sunni Asy’ari harus berhadapan dengan Dinasti Fathimiyyah
di Mesir yang beraliran Syi’ah Isma’iliyyah al-Bathiniyyah. Kedua Kekuasaan
(Kesultanan) ini saling perang karena sama-sama ingin mempertahankan,
melanggengkan dan menyebarkan aliran masing-masing yang dilandasi fanatisme.
Sikap fanatisme terhadap paham keagamaan ini menyebabkan terjadinya peperangan
sengit. Korban pembunuhan akibat dari fanatisme sektarian ini adalah Sultan Alb
Arslan (1063-1072 M), puteranya sebagai penerusnya bernama Malik Syah
(1072-1092 M) pun dibunuh. Perang aliran teologi ini melibatkan seorang teolog
besar bernama Abu Hamid al-Ghazzali (1058-1111 M) sebagai proxy war
melawan Syi’ah Isma’iliyyah al-Bathiniyyah dari sisi intelektual. Banyak buku
yang ditulis untuk melawan Syi’ah Ismailiyyah al-Bathiniyyah ini, di antaranya
secara khusus al-Ghazzali menulis kitab Fadhaihul Bathiniyyah wa Fadhai’ilul
Mustazhiri. Masa keemasan kesultanan Seljuq ini tidak berlangsung lama,
karena perebutan kekuasaan di internal kesultanan. Hal ini menyebabkan mudahnya
Mongolia yang dipimpin Hulagu Khan menghancurkan Baghdad tahun 1258 M. Hulagu
Khan menghancurkan Baghdad atas dasar fanatisme sektarian berupa keturunan
(mongolia) dan membenci agama Islam hingga tega menghabisi ribuan nyawa manusia
dengan sangat kejam.
Sejarah
telah mengajarkan kepada kita bahwa permusuhan, peperangan dan pembunuhan
terjadi atas dasar fanatisme sektarian. Fanatisme sektarian itu telah menabrak,
melampaui (beyond) serta menghancurkan sendi-sendi persatuan, keadilan
dan nilai-nilai kemanusiaan. Fanatisme sektarian yang menyebabkan permusuhan
dan peperangan bisa terjadi banyak varian, seperti fanatisme sektarian aliran
dalam internal keagamaan, fanatisme ormas, fanatisme kesukuan, fanatisme
keturunan, dan sebagainya. Menjadi catatan kita bersama bahwa nilai tertinggi
dari manusia adalah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Memperjuangkan
nilai kemanusiaan hanya bisa terwujud manakala fanatisme sektarian itu dikikis,
direduksi serta dihilangkan. Semoga.
Penulis : Dr. Almaarif, M.Hum
Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129
Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   215
Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   267
Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   191
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14915
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6609
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6005
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4855
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4845