Avatar

Dr. Almaarif, M.Hum

Penulis Kolom

1 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Fanatisme Sektarian: Bencana Peradaban Kemanusiaan



Selasa , 14 Februari 2023



Telah dibaca :  567

Fanatisme sektarian (ta’assubiyyah hizbiyyah) jika diteliti dengan pendekatan sejarah terjadi sejak Islam belum diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Fanatisme sektarian yang paling parah terjadi di Yatsrib (Madinah lama pra-Kedatangan Nabi Muhammad). Dampaknya adalah peperangan dan permusuhan yang tidak berkesudahan, yaitu peperangan dan permusuhan antara Bani Aus dan Bani Khazraj. Permusuhan dan peperangan itu kemudian dihentikan dan disatukan oleh Rasulullah SAW. Jadi, pekerjaan Nabi Muhammad yang paling berat di Yatsrib saat itu adalah mereduksi bahkan menghancurkan fanatisme sektarian hingga mereka tidak lagi bermusuhan dan menyadari pentingnya persaudaraan dan persatuan.

Fanatisme sektarian berikutnya yang terjadi saat setelah wafatnya Rasulullah. Pada waktu itu seakan-akan tidak ada lagi panutan yang berwibawa untuk menyatukan umat Islam. Muncul golongan yang sangat fanatis terhadap Ali yang disebut Syi’ah karena berdasar pada pidato Nabi di Ghadir Khum (10 H) bahwa kepemimpinan setelah Rasulullah dipegang oleh Ali. Dampaknya, golongan Syi’ah ini bermusuhan dengan yang non-keluarga Ali seperti Abu Bakar yang ternyata Abu Bakar menggantikan Rasulullah sebagai khalifah (632 - 634 M), bukan Ali. Tidak cukup hanya sampai di situ, Umar bin al-Khattab yang saat itu menjadi khalifah (634 - 644 M) menjadi korban pembunuhan seorang budak bernama Abu Lu’lu’ah yang sangat kecewa karena Persia dikalahkan oleh Umar bin al-Khattab. Abu Lu’lu’ah begitu fanatis terhadap bangsa Persia hingga berani membunuh dan mengorbankan nilai kemanusiaan Umar bin al-Khattab. Dalam hal ini, Abu Lu’lu’ah sangat fanatis terhadap ras dan suku bangsanya, yaitu Persia.

Peperangan yang terjadi berikutnya yang mengorbankan sesama para sahabat Nabi  adalah perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyyah (657 M). Perang antara Ali dan Mu’aiyyah ini dasarnya adalah fanatisme sektarian. Mu’awiyyah yang tidak terima atas kasus pembunuhan Utsman karena Utsman masih satu klan Bani Umayyah. Mu’awiyyah merasa harus mati-matian membela yang segolongan (satu Bani Umayyah) untuk terus menjadi pemimpin dan penguasa di jazirah Arab. Sedangkan Ali berasal dari Bani Hasyim yang berbeda dengan Bani Umayyah harus turun dari jabatan sebagai penguasa. Parang pun meletus karena sikap fanatisme sektarian ini, hingga mengakibatkan banyak para sahabat Nabi berguguran. Dalam catatan Ibnu Katsir, yang gugur dalam perang Shiffin ini adalah 60.000 orang. Sementara menurut Joesoef Sou’yb, yang gugur dalam perang Shiffin berjumlah 80.000 orang. Dampak dari perang ini selain berguguran banyak manusia, juga munculnya aliran kelompok keagamaan yang sangat fanatis, yaitu aliran Syi’ah, Khawarij dan Murji’ah.

Bani Umayyah saat itu menang atas Bani Hasyim yang dibuktikan dengan pendirian kerajaan (al-mulku as-siyasi) bernama Dinasti Bani Umayyah. Sikap fanatisme sektarian ini terus melekat dalam kekuasaan Bani Umayyah dan dipertahankan mati-matian. Semua yang diangkat menjadi penguasa (raja) dan jabatan penting adalah keluarga Bani Umayyah, sedangkan non-Bani Umayyah tidak diberi jabatan penting. Fanatisme sektarian ini mengakar sangat kuat selama lebih kurang 89 tahun (661-750 M) hingga menyebabkan kemarahan keluarga Bani Hasyim yang diwakili oleh Husein bin Ali yang merasa tertindas. Benteng pertahanan untuk melanggengkan rezim Bani Umayyah saat itu sangat kuat, hingga Husein bin Ali justru menjadi korban pembunuhan di Karbala (10 Oktober 680/10 Muharram 61 H). Lagi-lagi, penyebab peperangan masa ini adalah fanatisme sektarian berupa fanatisme terhadap keturunan (bani).

Peperangan rebutan jabatan dalam internal Bani Umayyah dan moral buruk para penguasa Bani Umayyah menyebabkan pemberontakan terjadi. Kesempatan ini kemudian  dimanfaatkan Bani Abbas untuk melancarkan pemberontakan yang dikenal dengan sebutan revolusi Abbasiyyah. Pemberontakan itu dimenangkan oleh Bani Abbasiyyah yang merupakan keturunan Bani Hasyim (750 M). Bentuk fanatisme sektarian pada masa Bani Abbasiyyah ini selaian keturunan (Persia, Turki, Bani Buwaihi, dan Bani Seljuk) tidak hanya dalam bentuk fanatisme sektarian berupa keturunan, tetapi juga aliran keagamaan.

Pada masa periode pertama Dinasti Abbasiyyah, fanatisme sektarian yang muncul adalah aliran keagamaan dalam tubuh umat Islam. Sejak masuknya orang-orang Persia yang sangat gandrung dengan filsafat, paham keagamaan yang berkuasa dan menjadi paham resmi kerajaan adalah paham Mu’tazilah di era Khalifah al-Ma’mun (813-833 M). Paham Mu’tazilah adalah paham yang sangat rasional sehingga sangat cocok dalam mengembangkan ilmu pengetahuan saat itu. Fanatisme sektarian ini menyebabkan Khalifah al-Ma’mun memberi instruksi para gubernur untuk diadakan ujian terhadap aparat negara tentang paham ini yang disebut mihnah. Paham Mu’tazilah meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Fanatismes sektarian paham mu’tazilah ini terus dilanggengkan sampai pada Khalifah Mu’tashim (833-842 M). Diantara korbannya adalah Imam Ahmad bin Hanbal, al-Khuza’i dan al-Buwaiti.

Fanatisme terhadap aliran keagamaan ini kemudian mendapat perlawanan dari paham lain. Khalifah Al-Qaim bi Amrillah (1031-1075 M) yang memiliki paham berbeda dengan Mu’tazilah kemudian melarang paham ini, walau paham ini sebenarnya masih banyak diikuti oleh para pembesar saat itu seperti Qadhi Abdul Jabbar. Ditekan dan dilarangnya paham Mu’tazilah saat itu oleh Khalifah al-Qaim bi Amrillah saat  itu telah membuat Paham Mu’atazilah kurang berkembang. Walau paham Mu’tazilah dalam Dinasti Abbasiyyah periode pertama berakhir, tetapi kemudian digantikan oleh Kesultanan Bani Buwaihi (934-1055 M) yang berpaham Syi’ah. Kadua aliran ini (baik Mu’tazilah maupun Syi’ah) sangat gandrung dengan ilmu pengetahuan. Sehingga periode ini disebut masa keemasan Islam dalam hal ilmu pengetahuan.

Konflik internal dalam tubuh Kesultanan Bani Buwaihi yang menguasai Dinasti Bani Abbasiyyah menyebabkan kemunduran dan kehancuran Kesultanan Bani Buwaihi. Dengan hancurnya Kesultanan Buwaihi itu, kemudian digantikan dengan Kesultanan Seljuk (1036-1128 M) di Tubuh Dinasti Bani Abbasiyyah. Kesultanan Seljuq yang didirikan dan diproklamirkan oleh Tughril Bek tahun 429 H/1036 M itu sebenarnya bertujuan mengokohkan, memenangkan dan menyebarkan paham Sunni-Asy’ari di tubuh Dinasti Abbasiyyah dan sekitarnya. Segala macam cara dilakukan untuk menyebarkan paham Sunni Asy’ari pada masa Kesultanan Seljuq ini, diantaranya menciptakan kader militan Sunni Asy’ari dengan didirikan Madrasah Nizhamiyyah oleh menteri (wazir) Nizham al-Mulk pada tahun 457 H/1065 M.

Dinasti Seljuq yang berpaham Sunni Asy’ari harus berhadapan dengan Dinasti Fathimiyyah di Mesir yang beraliran Syi’ah Isma’iliyyah al-Bathiniyyah. Kedua Kekuasaan (Kesultanan) ini saling perang karena sama-sama ingin mempertahankan, melanggengkan dan menyebarkan aliran masing-masing yang dilandasi fanatisme. Sikap fanatisme terhadap paham keagamaan ini menyebabkan terjadinya peperangan sengit. Korban pembunuhan akibat dari fanatisme sektarian ini adalah Sultan Alb Arslan (1063-1072 M), puteranya sebagai penerusnya bernama Malik Syah (1072-1092 M) pun dibunuh. Perang aliran teologi ini melibatkan seorang teolog besar bernama Abu Hamid al-Ghazzali (1058-1111 M) sebagai proxy war melawan Syi’ah Isma’iliyyah al-Bathiniyyah dari sisi intelektual. Banyak buku yang ditulis untuk melawan Syi’ah Ismailiyyah al-Bathiniyyah ini, di antaranya secara khusus al-Ghazzali menulis kitab Fadhaihul Bathiniyyah wa Fadhai’ilul Mustazhiri. Masa keemasan kesultanan Seljuq ini tidak berlangsung lama, karena perebutan kekuasaan di internal kesultanan. Hal ini menyebabkan mudahnya Mongolia yang dipimpin Hulagu Khan menghancurkan Baghdad tahun 1258 M. Hulagu Khan menghancurkan Baghdad atas dasar fanatisme sektarian berupa keturunan (mongolia) dan membenci agama Islam hingga tega menghabisi ribuan nyawa manusia dengan sangat kejam.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa permusuhan, peperangan dan pembunuhan terjadi atas dasar fanatisme sektarian. Fanatisme sektarian itu telah menabrak, melampaui (beyond) serta menghancurkan sendi-sendi persatuan, keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan. Fanatisme sektarian yang menyebabkan permusuhan dan peperangan bisa terjadi banyak varian, seperti fanatisme sektarian aliran dalam internal keagamaan, fanatisme ormas, fanatisme kesukuan, fanatisme keturunan, dan sebagainya. Menjadi catatan kita bersama bahwa nilai tertinggi dari manusia adalah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Memperjuangkan nilai kemanusiaan hanya bisa terwujud manakala fanatisme sektarian itu dikikis, direduksi serta dihilangkan. Semoga.



Penulis : Dr. Almaarif, M.Hum


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129

Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   215

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   267

Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   191

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14915


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6609


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6005


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4845