Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

414 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mimpi Membuka Tabir Politik dan Cinta



Jumat , 30 Oktober 2026



Telah dibaca :  61

Mimpi merupakan bagian dari ciri-ciri kenabian. Namun tidak semua mimpi bisa disebut bagian dari ciri kenabian. Pun bukan berarti yang bermimpi langsung ujug-ujug bisa sebut nabi. Meskipun mimpi tersebut benar adanya dalam realita kehidupan sehari-hari. Artinya sebagian dari ciri-ciri kenabian ada pada manusia yang pada dirinya mendapatkan anugerah dari Allah bisa melihat kebenaran melalui mimpi.

Mimpi sebagai ciri khas nubuwah yaitu terbukti kebenaran saat orang tersebut bangun tidur. Bisa kebenaran terjadi waktu dekat maupun dalam jangka waktu tertentu dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Mimpi ada dua. Mimpi secara faktual dan majazi. Mimpi secara faktual ketika nabi ibrahim bermimpi bahwa allah menyuruh membunuh ismail anak nya sendiri. Nabi ismail pun menjawab dengan tenang untuk melaksanakan perintah allah dengan penuh kesabaran.

Mimpi dengan simbol-simbol. Contoh dalam permulaan Surat Yusuf menceritakan ia bermimpi melihat matahari, bulan dan sebelas bintang sujud dihadapannya. Nabi Ya’qub berpesan kepada agar tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya-laa ta’sus ru’yaka ‘ala ikhwatika.

Kenapa tidak boleh diceritakan kepada saudara-saudaranya?. Dari sini para arif billah membuat suatu aturan bahwa ketika kita mengalami suatu mimpi tertentu tidak boleh diceritakan kepada sembarang orang. Mimpi tersebut hanya diceritakan kepada orang-orang tertentu.

Dalam dimensi yang lebih luas mimpi sebenarnya bukan sebatas bunga tidur. Ia sering hadir sebagai simbol kehidupan manusia atau  masyarakat di masa mendatang. Mimpi tidak bisa dicerna secara akal. Kecerdasan manusia sangat terbatas untuk bisa menerima kebenaran mimpi. Itu sebabnya kaum rasional sering menolak hal-hal yang dianggap imposible dan tidak masuk akal. Padahal mimpi itu bagian dari ciri khas nubuwah. Bahkan para nabi dan rasul mendapatkan wahyu dan petunjuk melalui mimpi. Disini sebenarnya kaum rasional mempunyai keterbatasan berfikir untuk menemukan hakikat dari kebenaran.

Jika merujuk pada mimpi nabi ibrahim dan nabi yusuf, saya menemukan bahwa mimpi tersebut mengandung dua pesan penting yaitu : cinta dan politik.

Pertama, pesan cinta sangat terlihat sekali pada nabi ibrahim. Bagaimana suasana batin nya saat bermimpi yang sangat sulit dijangkau oleh nalar akal sehat. Mimpi membunuh anak nya sendiri. Padahal ia sudah bertahun-tahun menunggu kelahiran si buah hati sebagai penerus dakwah risalah tuhan. Saat menginjak usia senja, ia mendapatkan seorang putra yang sempurna secara fisik, akal dan akhlak. Ia sangat mencintai nya. tiba-tiba Tuhan menyuruh untuk membunuhnya.

Sungguh sangat sedih. Terjadi pertarungan sangat kuat pada dirinya. Antara menjalankan perintah Allah dan meninggalkanya. Antara mencintai Allah dan mencintai anak nya. Suatu posisi yang sangat dilematis sebagai seorang manusia yang pada dirinya ada naluri seorang ayah.

Disini cinta membutuhkan pengorbanan. Ketika Nabi Ibrahim telah berhasil memperjuangkan nilai-nilai tauhid - melalui analisis logika dengan melakukan beragam eksperimen ilmiahnya dan mendapatkan petunjuk dari Tuhan -dengan memberantas berhala-hala di pusat kerajaan Raja Namrud, justru pada saat ia mendapatkan seorang anak laki-laki mulai ada benih-benih halus muncul berhala-berhala cinta kepada anak nya di hati.

Nabi Ibrahim segera memotong benih-benih tersebut. Setelah berdialog dengan Ismail, ia pun memantapkan diri melaksanakan perintah Allah.  Nabi Ibrahim membunuh Ismail karena cinta yang sangat mendalam kepada Allah SWT. Kecintaan ini yang kemudian diabadikan sebagai ajaran tauhid agama samawi -millata ibrahim hanifa. Dan Nabi Ibrahim berhasil membunuh berhala-berhala yang sangat halus menyelinap dalam hati dan benar-benar berhasil memurnikan tauhid hanya menyembah dan mencintai Allah SWT.

Pesan cinta ini sangat terlihat pada mimpi Nabi Yusuf. Ketika Nabi Yusuf bermimpi saudara-saudaranya bersujud kepadanya adalah suatu tanda legitimasi dirinya berkaitan dengan kedudukan sosial politik di masa mendatang. Sujud adalah simbol ketundukan, ketaatan dan kehormatan serta kekuasaan. Itu sebabnya, nabi ya’qub berpesan kepada Yusuf kecil untuk merahasiakan kepada keluarganya dan saudara-saudaranya.

Namun realita sosial tidak bisa dihindari. Kecerdasan, paras wajah yang sangat tampan dan berbagai kelebihan nya sudah terlihat lebih sempurna dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Ini yang menumbuhkan rasa cemburu saudara-saudaranya. Puncak cemburu, mereka membawa nya jalan-jalan ke hutan dan mencapakannya di sumur dekat hutan.

Berjalan bertahun-tahun kemudian mimpi tersebut pun terjadi. Nabi Yusuf menjadi pejabat kerajaan Mesir. Ia menjadi manusia terhormat. Sedangkan saudara-saudaranya masih berada di kampung bersama orang tua nya. Mimpi beberapa tahun lalu telah ditampakan oleh Allah SWT. Kebenaran politik dan kekuasaan lahir dari kebenaran mimpi sebagai bagian dari kebenaran dari-Nya.

Salah satu kisah tentang kebenaran mimpi terjadi pada umu salamah tentang suatu peristiwa yang akan menimpa hasan dan husain. Lalu ia menceritakan kepada nabi Muhammad.

Ia pun sangat bersedih. Dipeluk Hasan dan Husain. Mencium bibir Hasan, dan mencium leher Husein. Ketika Fatimah bertanya tentang perbedaan sikap ayahnya kepada anak-anaknya, ia pun bertanya kepadanya. Nabi menjawab dengan berlinang air mata: “Hasan akan meninggal dunia karena diracun oleh orang dekatnya-istrinya sendiri-, dan Husein meninggal karena lehernya di tebas oleh musuh nya”.

Walhasil, setiap orang mungkin pernah bermimpi. Bermimpi dalam pengertian fenomena perjalanan ruhaniah saat tertidur atau bermimpi dalam pengertian adanya suatu cita-cita atau harapan-harapan tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

Apapun namanya, ketika hal tersebut dikaitakan dengan fenomena sosial, sebenanya tidak bisa lepas pada dua hal: cinta dan politik.

Persoalan politik dan cinta di era masa lalu akan terus terjadi di masa sekarang. Apapun dinamika politik, apapun sistem politik. Entah itu namanya kerajaan, kekhalifahan, republik, atau demokrasi apapun namanya tidak lepas dari dua hal tersebut. nilai-nilai moral seperti idealisme, profesionalime, penegakan hukum, keadilan dan nilai-nilai moral lainnya sering hadir sebagai lipstik yang terlihat indah dilihat, tapi faktanya penuh dengan kepucatan, kepalsuan dan kepura-puraan.

Kita sudah menyaksikan dengan mata telanjang, bagaimana para kritikus, atau orang-orang yang merasa sedang memikul atau penjaga moral dengan suara lantang seperti dentuman bom di malam hari. Suara sangat menggelegar. Namun tiba-tiba suara seperti suara terompet di malam tahun baru. Ada suaranya, tapi sudah hilang daya gebrak dan hilang esensi kebenarannya. Suaranya hanya sebatas hiburan semata tanpa makna.

Apakah benar asumsi yang saya ajukan, silahkan nilai sendiri fenomena politik saat sekarang ini. Bagaimana pandangan anda tentang hal tersebut? Silahkan beri komentar.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Menelusuri Jejak Peradaban Ibrahim
22 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   426

Pembatalan Perkawinan
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   123

Rasionalisme, Humanisme dan Islam
08 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   431

Batas Minimal Usia Kawin
03 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239

Agama dan Kehidupan Modern
24 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15397


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7271


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6304


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5471