
Mimpi merupakan bagian dari ciri-ciri
kenabian. Namun tidak semua mimpi bisa disebut bagian dari ciri kenabian. Pun
bukan berarti yang bermimpi langsung ujug-ujug bisa sebut nabi. Meskipun
mimpi tersebut benar adanya dalam realita kehidupan sehari-hari. Artinya
sebagian dari ciri-ciri kenabian ada pada manusia yang pada dirinya mendapatkan
anugerah dari Allah bisa melihat kebenaran melalui mimpi.
Mimpi sebagai ciri khas nubuwah
yaitu terbukti kebenaran saat orang tersebut bangun tidur. Bisa kebenaran
terjadi waktu dekat maupun dalam jangka waktu tertentu dalam kurun waktu yang
cukup panjang.
Mimpi ada dua. Mimpi secara faktual dan
majazi. Mimpi secara faktual ketika nabi ibrahim bermimpi bahwa allah menyuruh
membunuh ismail anak nya sendiri. Nabi ismail pun menjawab dengan tenang untuk
melaksanakan perintah allah dengan penuh kesabaran.
Mimpi dengan simbol-simbol. Contoh dalam
permulaan Surat Yusuf menceritakan ia bermimpi melihat matahari, bulan dan
sebelas bintang sujud dihadapannya. Nabi Ya’qub berpesan kepada agar tidak
menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya-laa ta’sus ru’yaka
‘ala ikhwatika.
Kenapa tidak boleh diceritakan kepada
saudara-saudaranya?. Dari sini para arif billah membuat suatu aturan
bahwa ketika kita mengalami suatu mimpi tertentu tidak boleh diceritakan kepada
sembarang orang. Mimpi tersebut hanya diceritakan kepada orang-orang tertentu.
Dalam dimensi yang lebih luas mimpi
sebenarnya bukan sebatas bunga tidur. Ia sering hadir sebagai simbol kehidupan
manusia atau masyarakat di masa
mendatang. Mimpi tidak bisa dicerna secara akal. Kecerdasan manusia sangat
terbatas untuk bisa menerima kebenaran mimpi. Itu sebabnya kaum rasional sering
menolak hal-hal yang dianggap imposible dan tidak masuk akal. Padahal mimpi itu
bagian dari ciri khas nubuwah. Bahkan para nabi dan rasul mendapatkan wahyu dan
petunjuk melalui mimpi. Disini sebenarnya kaum rasional mempunyai keterbatasan
berfikir untuk menemukan hakikat dari kebenaran.
Jika merujuk pada mimpi nabi ibrahim dan
nabi yusuf, saya menemukan bahwa mimpi tersebut mengandung dua pesan penting
yaitu : cinta dan politik.
Pertama, pesan cinta sangat terlihat sekali
pada nabi ibrahim. Bagaimana suasana batin nya saat bermimpi yang sangat sulit
dijangkau oleh nalar akal sehat. Mimpi membunuh anak nya sendiri. Padahal ia
sudah bertahun-tahun menunggu kelahiran si buah hati sebagai penerus dakwah
risalah tuhan. Saat menginjak usia senja, ia mendapatkan seorang putra yang
sempurna secara fisik, akal dan akhlak. Ia sangat mencintai nya. tiba-tiba
Tuhan menyuruh untuk membunuhnya.
Sungguh sangat sedih. Terjadi pertarungan
sangat kuat pada dirinya. Antara menjalankan perintah Allah dan meninggalkanya.
Antara mencintai Allah dan mencintai anak nya. Suatu posisi yang sangat
dilematis sebagai seorang manusia yang pada dirinya ada naluri seorang ayah.
Disini cinta membutuhkan pengorbanan.
Ketika Nabi Ibrahim telah berhasil memperjuangkan nilai-nilai tauhid - melalui
analisis logika dengan melakukan beragam eksperimen ilmiahnya dan mendapatkan
petunjuk dari Tuhan -dengan memberantas berhala-hala di pusat kerajaan Raja
Namrud, justru pada saat ia mendapatkan seorang anak laki-laki mulai ada
benih-benih halus muncul berhala-berhala cinta kepada anak nya di hati.
Nabi Ibrahim segera memotong benih-benih
tersebut. Setelah berdialog dengan Ismail, ia pun memantapkan diri melaksanakan
perintah Allah. Nabi Ibrahim membunuh
Ismail karena cinta yang sangat mendalam kepada Allah SWT. Kecintaan ini yang
kemudian diabadikan sebagai ajaran tauhid agama samawi -millata ibrahim
hanifa. Dan Nabi Ibrahim berhasil membunuh berhala-berhala yang sangat
halus menyelinap dalam hati dan benar-benar berhasil memurnikan tauhid hanya
menyembah dan mencintai Allah SWT.
Pesan cinta ini sangat terlihat pada mimpi Nabi
Yusuf. Ketika Nabi Yusuf bermimpi saudara-saudaranya bersujud kepadanya adalah
suatu tanda legitimasi dirinya berkaitan dengan kedudukan sosial politik di
masa mendatang. Sujud adalah simbol ketundukan, ketaatan dan kehormatan serta
kekuasaan. Itu sebabnya, nabi ya’qub berpesan kepada Yusuf kecil untuk
merahasiakan kepada keluarganya dan saudara-saudaranya.
Namun realita sosial tidak bisa dihindari.
Kecerdasan, paras wajah yang sangat tampan dan berbagai kelebihan nya sudah
terlihat lebih sempurna dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Ini yang
menumbuhkan rasa cemburu saudara-saudaranya. Puncak cemburu, mereka membawa nya
jalan-jalan ke hutan dan mencapakannya di sumur dekat hutan.
Berjalan bertahun-tahun kemudian mimpi
tersebut pun terjadi. Nabi Yusuf menjadi pejabat kerajaan Mesir. Ia menjadi
manusia terhormat. Sedangkan saudara-saudaranya masih berada di kampung bersama
orang tua nya. Mimpi beberapa tahun lalu telah ditampakan oleh Allah SWT.
Kebenaran politik dan kekuasaan lahir dari kebenaran mimpi sebagai bagian dari
kebenaran dari-Nya.
Salah satu kisah tentang kebenaran mimpi
terjadi pada umu salamah tentang suatu peristiwa yang akan menimpa hasan dan
husain. Lalu ia menceritakan kepada nabi Muhammad.
Ia pun sangat bersedih. Dipeluk Hasan dan
Husain. Mencium bibir Hasan, dan mencium leher Husein. Ketika Fatimah bertanya
tentang perbedaan sikap ayahnya kepada anak-anaknya, ia pun bertanya kepadanya.
Nabi menjawab dengan berlinang air mata: “Hasan akan meninggal dunia karena
diracun oleh orang dekatnya-istrinya sendiri-, dan Husein meninggal karena
lehernya di tebas oleh musuh nya”.
Walhasil, setiap orang mungkin pernah
bermimpi. Bermimpi dalam pengertian fenomena perjalanan ruhaniah saat tertidur
atau bermimpi dalam pengertian adanya suatu cita-cita atau harapan-harapan
tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Apapun namanya, ketika hal tersebut dikaitakan
dengan fenomena sosial, sebenanya tidak bisa lepas pada dua hal: cinta dan
politik.
Persoalan politik dan cinta di era masa
lalu akan terus terjadi di masa sekarang. Apapun dinamika politik, apapun
sistem politik. Entah itu namanya kerajaan, kekhalifahan, republik, atau
demokrasi apapun namanya tidak lepas dari dua hal tersebut. nilai-nilai moral
seperti idealisme, profesionalime, penegakan hukum, keadilan dan nilai-nilai
moral lainnya sering hadir sebagai lipstik yang terlihat indah dilihat, tapi faktanya
penuh dengan kepucatan, kepalsuan dan kepura-puraan.
Kita sudah menyaksikan dengan mata telanjang,
bagaimana para kritikus, atau orang-orang yang merasa sedang memikul atau penjaga
moral dengan suara lantang seperti dentuman bom di malam hari. Suara sangat
menggelegar. Namun tiba-tiba suara seperti suara terompet di malam tahun baru. Ada
suaranya, tapi sudah hilang daya gebrak dan hilang esensi kebenarannya. Suaranya
hanya sebatas hiburan semata tanpa makna.
Apakah benar asumsi yang saya ajukan,
silahkan nilai sendiri fenomena politik saat sekarang ini. Bagaimana pandangan
anda tentang hal tersebut? Silahkan beri komentar.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Menelusuri Jejak Peradaban Ibrahim
22 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   426
Pembatalan Perkawinan
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   123
Rasionalisme, Humanisme dan Islam
08 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   431
Batas Minimal Usia Kawin
03 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239
Agama dan Kehidupan Modern
24 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15397
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7271
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6304
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5471
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5362