Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

401 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pikiranmu Sumber Kesehatanmu


 TAUHID

Rabu , 30 September 2026



Telah dibaca :  52

Setelah melakukan aktifitas mengajar dua lokal -Prodi HKI dan HTN-saya melanjutkan rapat tim integritas. Pembahasan berkaitan tentang kenaikan jabatan fungsional para dosen. Sebelum berangkat, saya sempatkan dulu sarapan nasi goreng bersama teman-teman dosen fakultas FSEI di ruang prodi. Enak sekali. Terima kasih.

Saya mengikuti rapat tim intergritas campur. Separo ofline separo lagi online. Selesai sekitar jam 10.00.

Baru masuk di ruang kerja, dosen muda berbakat  pak Zulfikar menemuiku dan memberi kabar jurnal nya telah terbit. Sinta 1, tapi belum scopus. Tidak lama kemudian, datang staf FSEI mengantarkan berkas kerjasama antara fakultas FSEI dengan Universitas Islam Tribakti Lirboyo. Terlihat agak sibuk. Terima kasih Tuhan telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati kegiatan tugas yang engkau amanahkan kepada ku. Semoga menjadi bagian cinta ku kepada-Mu ya rabbal ‘alamin.

Jam 10.45 ruangan terlihat sepi. Saya membuka dan membaca buku berjudul “The Power of Now, Pedoman Menuju Pencerahan Spiritual” karya Eckhart tolle. Tulisan cukup bagus dalam upaya mengungkap jati diri sebagai seorang manusia. Tentu saja saya sebagai pembaca menikmati tulisannya. Meskipun tidak semua saya setuju terhadap pemahamannya-karena mungkin ada perbedaan madzhab atau ideologi-, namun saya pun harus jujur menerima kebaikan-kebaikan dari tulisan-tulisan yang ada dalam buku tersebut. saya harus belajar mengakui dan mengambil kebaikan darimanapun datangnya. Mutiara di tempat manapun tetap Mutiara. Dan tidak ada persoalan jika ia diambil sebagai jalan untuk memperhias diri semakin lebih baik lagi.

Buku yang baik datang dari renungan jiwa yang bersih. Buku yang baik adalah catatan spiritual sang penulis tentang kejujuran melihat realita diri dan kemudian memberikan suatu jawaban-jawaban dalam menyelesaikan suatu persoalan hidupnya. Ini yang kemudian buku Eckhart Tolle perlu mendapatkan apresiasi yang luarbiasa.

Dalam mukadimah nya, dia mengutip tentang perjalanan hidup nya yang kurang beruntung. Saya merasa sangat perlu untuk menulisnya dalam artikel ini:

“Sampai usia 13 tahun, saya hidup dalam kecemasan yang nyaris berlangsung terus-menerus diselingi dengan saat-saat ingin bunuh diri akibat depresi. Sekarang rasa-rasanya seolah-olah sedang berbicara tentang beberapa saat dalam kehidupan di waktu lampau atau kehidupan orang lain.”

“Suatu malam, tidak lama setelah ulang tahun ke-29, saya terbangung tengah malam dengan perasaan takut luar biasa. Sebelumnya, saya pernah berkali-kali dengan perasaan yang sama, tetapi kali ini rasanya lebih kuat daripada sebelumnya. Keheningan malam, bentuk perabotan yang tampak samar-samar di kamar yang gelap, deru kereta api yang sedang melaju di kejauhan-segala sesuatu terasa begitu asing. Begitu bermusuhan dan sangat tidak bermakna, sehingga menciptakan kebencian yang mendalam di dalam diri saya terhadap dunia ini. Namun, hal yang paling saya benci dari semuannya adalah keberadaan saya. Apa gunanya melanjutkan kehidupan dengan beban yang menyengsarakan ini? Saya merasakan keinginan mendalam untuk bunuh diri, untuk tidak eksis, dan sekarang perasaan itu telah menjadi lebih kuat daripada hasrat naluriah untuk melanjutkan kehidupan.”

“Saya menyadari bahwa beratnya tekanan penderitaan pada malam itu telah memaksa kesadaran untuk keluar dari indentitas diri dengan ketidakbahagiaan dan ketakutan yang mendalam. Penarikan diri ini harus tuntas sehingga penderitaan diri yang palsu ini dapat segera hancur, sama seperti sumbat yang ditarik dari mainan yang dapat ditiup. Yang tersisa kemudian adalah sifat sejati saya yang selalu hadir. Aku ada: kesadaaran dalam keadaannya yang murni sebelum tercemar oleh identifikasi diri dengan berbagai bentuk. Kemudian, saya juga belajar memasuki alam tanpa batas waktu dan tanpa kematian yang pada awalnya saya rasakan sebagai sebuah kehampan dan tetap tersadar sepenuhnya”.

Kisah kehidupan tersebut terlihat sangat kelam dan mengerikan. Terlihat sangat menyedikah sekali.

Kita yang sering merasa paling menderita ternyata ada jutaan orang di sana yang mempunyai penderitaan lebih hebat dibanding diri kita. Namun kenyataan kita dalam kehidupan sehari-hari sering memposisikan diri sebagai manusia yang paling menderita sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa dan hidup penuh keputus-asaan.

Kadang dalam hati yang paling dalam berkata: “Kenapalah penderitaan ini atau penyakit ini harus ada pada diri ku”. “Kenapalah aku hidup harus menanggung penderitaan sepanjang hayat”.”Kenapalah saya tidak berhak mendapatkan kebahagiaan sebagaimana orang lain?”.

Saya teringat ayah ku-semoga Allah menempatkannya di surga-Nya-ketika saya mendapatkan ujian hidup dengan penderitaan yang sangat mengerikan selama hampir tiga bulan tanpa jeda. Saya meminta nasehat dan doa kepada nya. Ayah ku menjawab dengan kalimat singkat dan padat: “ Mam, nampak nya kamu sudah lama tidak benar-benar “dzikir kepada Allah”, dan terlalu asyik urusan selain dengan-Nya. Coba perbaiki dzikir nya, maka seluruh persoalan hidup akan selesai dengan baik”.

Saya kemudian belajar melihat diri. Lalu saya membaca dzikir. Namun persoalan tidak juga kunjung selesai. Namun saya tidak berani menyalahkan saran orang ayah ku. Saya mencoba memahami makna dzikir dari dimensi lain, yaitu dimensi spiritual.

Saya mencoba menterjemahkan kata “dzikir” sebagai kesadaran total tentang “sangkan paraning dumadi”-tentang asal usul kita dan akan kemana kita hidup. Saya mencoba memahama dzikir sebagai jalan untuk “sumeleh”-menyandarkan diri sepenuh nya kepada Allah SWT. Saya terus berlatih untuk bisa menikmati keindahan hidup dalam tumpukan penderitaan, sakit yang berkepanjangan dan dan persoalan yang selalu datang silih berganti.

Setelah saya melakukan hal tersebut sesuai dengan kemampuan ku yang sangat dangkal ini, saya pun mendapatkan suatu kedamaian diri. Saya mendapatkan ketenangan. Pikiranku tenang, hati ku damai dan melihat semua kejadian dengan kacamata positif kepada Allah SWT.

Saya kemudian merasakan ada sesuatu yang baru. Berbagai penyakit yang menimpa keluarga bisa sembuh. Begitu juga diriku pada saat itu. saya benar-benar menemukan kebahagiaan pada masa itu. kebahagiaan sejati. Saya rasa begitu.

Kisah Eckhart Tolle dan saya adalah kisah dari butiran debu di antara kisah yang lebih hebat dan menginspirasi. Apapun buku-buku inspiratif tentang pola membangun diri menjadi lebih baik tetap berujung pada adanya perubahan diri semakin lebih berkwalitas diri.

Persoalan bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri. Diri kita ada dua komponen: jiwa dan raga. Allah menganugerahi akal pikiran agar bisa mengendalikan jiwa dan raga menjadi semakin merasa nikmat akan kehadiran Allah pada diri kita dengan kondisi apa adanya diri kita sendiri. Sebab kita hakikatnya adalah milik-Nya.

Jika kita lagi bahagia, Allah akan hadir melihat proses kebahagiaan kita dengan syukur kepada-Nya. Jika kita sedang sakit, Allah pun akan hadir penuh dengan senyum melihat kualitas kemampuan kita merawat titipan Allah dengan sebaik-baik nya dengan ketulusan hati yang paling dalam.

Pola hidup demikian ini yang kemudian Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Sehingga kesumpegan hati, kegelapan jiwa dan pikiran bisa hilang pada diri kita.  Kita benar-benar menemukan kebahagiaan. Pada saat kondisi terang jiwa, pikiran dan hati, maka saat itulah tirai-tirai penyakit-bahkan bisa jadi penyakitnya- akan hilang dan kita menjadi manusia yang sehat lahir dan batin. Amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

15 Hari Tidak Bisa Menulis
06 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141

Cubitan Sang Kekasih
16 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   232

Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   290

Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2991

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   300

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14969


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6649


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6042


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4924