Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta


 TAUHID

Minggu , 22 Maret 2026



Telah dibaca :  216

Takbir berkumandang di seluruh pelosok negeri, di Masjid-Masjid, Mushola-Mushola, jalan-jalan dan Rumah-Rumah warga dari kota hingga pelosok desa. Satu bulan penuh puasa Ramadhan, satu bulan penuh umat Islam seperti Kepompong. Kini mereka berubah menjadi Kupu-Kupu dengan beragam warna warni terlihat indah siapapun yang memandangnya.

Orang tua, orang dewasa, remaja hingga anak-anak mengumandangkan takbir dengan kalimat sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Artinya:

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi-Nya, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dengan segala kebesaran segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke-esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tantara-Nya serta melarikan musuh dengan ke-esaan-Nya. Tidak Ada Tuhan Selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi-Nya.

Takbir adalah pengakuan kita kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Besar. Saya, anda, kita dan mereka terlalu kecil jika dibandingkan dengan kebesaran-Nya. Bahkan kita bagian dari kebesaran-Nya. Laksana debu-debu yang berterbangan tertiup angin. Kita sebenarnya tidak ada artinya. Namun kadang kita merasa punya arti, merasa besar dan merasa hebat dengan segala kesombongan dan

kemunafikan.

Takbir yang kita kumandangkan sering terasa hampa tanpa ruh. Suara terdengar di seluruh mata angin. Tapi rendah daya dombraknya. Lemah energi efek positifnya. Sebab takbir yang berkumandang sering sebatas seremonial belaka. Pengakuan bahwa Allah yang paling akbar, tapi realita nya manusia sering mengambil sifat akbar untuk dirinya sendiri. Hati terkunci oleh egoisme jabatan, pangkat, ilmu, keturunan dan segala gelar serta atribut yang melekat pada dirinya.

Bahkan takbir yang dikumandangkan dengan keras-keras malah melahirkan eklusifitas ideologi sehingga melihat kelompok lain -padahal satu agama, satu tuhan dan nabinya- dianggap sesat dan saling enjek, bunuh dan saling serang tanpa merasa bersalah. Sungguh makna takbir telah lahir untuk melegitimasi kerakusan dunia, bukan kesadaran sebagai hamba-Nya.

Selain takbir, tahlil juga demikian. Lisan dengan fasih mengucapkan kalimat tahlil- لا اله الا الله-, tapi kadang kita sering melupakan Allah dan kita malah sering berlaku sebagai Tuhan dan kadang juga mengganti posisi Tuhan.

Saat menyembah Allah, kita sering tidak khusu’ atau terburu-buru karena ada kegiatan yang menurutnya menentukan masa depan hidupnya. Padahal yang menentukan seluruh kehidupan ini bukan manusia, tetapi Allah SWT. Kita buru-buru ingin menghatamkan al-Qur’an dan kemudian berbangga diri telah menghatamkan nya beberapa kali dalam satu bulan. Padahal, Allah menghadirkan al-Qur’an bukan sebatas pengumpul pahala, tetapi sebagai pembuka jalan ruhaniah kita agar semakin mengenal-Nya dan mencintai-Nya setulus hati.

Kalimat tahlil yang selalu diucapkan belum mampu menghilangkan rasa sedih karena belum punya jodoh, belum punya anak, belum punya pekerjaan, belum mendapatkan THR, belum mendapatkan promosi jabatan dan belum mendapatkan fasilitas dunia yang diharapkan. Tahlil yang kita ucapkan belum mampu menyakinkan diri bahwa Allah sebagai Tuhan penentu segala kehidupan, kunci dari kebahagiaan dan penderitaan dan pembuka serta penutup rezeki dari setiap manusia. Tahlil yang seharusnya memunculkan kesucian sesembahan, malah muncul sesembahan baru dalam bentuk atasan, jabatan, kekayaan dan kedekatan dengan orang-orang yang dianggap penting dan penentu segala kebijakan. Kekhusu’an kita dalam beribadah sering ternodai oleh jadwal pekerjaan, panggilan atasan dan pertemuan-pertemuan yang dianggap sebagai sumber penentu rezeki. Padahal pada saat yang sama kita sedang berada di hadapan Sang Pemberi Rezeki teragung yaitu Allah SWT.

Bagaimana dengan tasbih kita? Tasbih “ سبحن الله“ merupakan realisasi bahwa pikiran kita, perasaan kita, dan aktivitas kita benar-benar telah steril dari debu-debu kesyirikan kepada-Nya. Ketika kita bertasbih artinya sedang mengikrarkan diri kesucian Allah mampu menginspirasi kita untuk bersih dalam pikiran, ucapan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan tidak dibuat-buat, bermutu, berkualitas dan mampu memberi inspirasi kebaikan kepada orang lain. Perbuatan kita mampu menyadarkan orang lain untuk bisa mengikuti kebaikan-kebaikan yang telah kita buat. Ucapan dan perbuatan tidak menimbulkan ambigu atau jarkoni-ngajar tapi orang nglakoni. Bahkan diam pun mampu melahirkan tentang ilmu-ilmu batin sehingga orang-orang yang melihatnya terinspirasi untuk memperbaiki batin dan memperbaiki hal-hal yang belum baik.

Apakah takbir, tahlil dan tasbih kita mampu mengantarkan manusia sebagai hamba yang senantiasa hamdalah ? jika ia mampu menerapkan hakikat ketiga amalan tersebut, tentu saja ia mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat Idul Fitri tiba, manusia akan bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan “ الحمد لله“ sebagai bagian pengakuan diri secara sadar bahwa Allah sebagai sumber segala pemberi rezeki. Ahli hamdalah adalah orang-orang yang menyadari bahwa semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Manusia mempunyai tugas belajar, bekerja, dan berusaha sekuat tenaga dengan kecerdasan dan keahliannya. Ketika ia telah berusaha secara maksimal, maka semua sudah dipasrahkan kepada Allah SWT. Sebab hakikat apa yang kita dapat dan kita nikmati sebenarnya bagian dari rezeki Allah yang kita sendiri kadang tidak menyadarinya. Manusia hanya mempunyai kemampuan merancang dengan kecerdasan dan keahlian terbaiknya, sedang Tuhan dengan kebesaran-Nya mampu memutarbalikan semua nya. Bisa lebih baik, bisa juga sebaliknya. Meskipun demikian, baik atau buruk sebenarnya sama. Bagi ahli hamdalah, tidak ada istilah baik dan buruk. Sebab semua datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Baik kita bersyukur dan kurang baik kita bersabar. Dari sini, orang yang menjadi ahli hamdalah selalu hidup dengan sandaran kepada Allah atas segala kejadian hidup di dunia.

Walhasil, hari ini sudah tidak lagi terdengar suara tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Tuhan telah mengajarkan semua itu tidak sebatas diucapkan dimulut saja, tapi harus “mendep”-larut di dalam hati dan membentuk dalam pikiran, persaan dan perbuatan kita. Ketika ini terbentuk, maka muncul madu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan saat sekarang ini yaitu mampu memanusiakan manusia dan mampu menumbuhkan rasa saling mencintai sesama manusia.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   215

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119

Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   377

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870