
Takbir berkumandang di seluruh pelosok
negeri, di Masjid-Masjid, Mushola-Mushola, jalan-jalan dan Rumah-Rumah warga
dari kota hingga pelosok desa. Satu bulan penuh puasa Ramadhan, satu bulan
penuh umat Islam seperti Kepompong. Kini mereka berubah menjadi Kupu-Kupu dengan
beragam warna warni terlihat indah siapapun yang memandangnya.
Orang tua, orang dewasa, remaja hingga
anak-anak mengumandangkan takbir dengan kalimat sebagai berikut:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ
أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ
الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ
اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا
إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ،
وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ
أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
Artinya:
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah
Maha Besar. Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Allah Maha
Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi-Nya, Allah Maha Besar, Allah
Maha Besar, Allah Maha Besar dengan segala kebesaran segala puji bagi Allah
sebanyak-banyaknya. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore tiada Tuhan
selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama
Islam meskipun orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke-esaan-Nya.
Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tantara-Nya serta
melarikan musuh dengan ke-esaan-Nya. Tidak Ada Tuhan Selain Allah, Allah Maha
Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi-Nya.
Takbir adalah pengakuan kita kepada Allah sebagai
satu-satunya Tuhan Yang Maha Besar. Saya, anda, kita dan mereka terlalu kecil
jika dibandingkan dengan kebesaran-Nya. Bahkan kita bagian dari kebesaran-Nya. Laksana
debu-debu yang berterbangan tertiup angin. Kita sebenarnya tidak ada artinya.
Namun kadang kita merasa punya arti, merasa besar dan merasa hebat dengan
segala kesombongan dan
kemunafikan.
Takbir yang kita kumandangkan sering terasa
hampa tanpa ruh. Suara terdengar di seluruh mata angin. Tapi rendah daya
dombraknya. Lemah energi efek positifnya. Sebab takbir yang berkumandang sering
sebatas seremonial belaka. Pengakuan bahwa Allah yang paling akbar, tapi
realita nya manusia sering mengambil sifat akbar untuk dirinya sendiri. Hati
terkunci oleh egoisme jabatan, pangkat, ilmu, keturunan dan segala gelar serta
atribut yang melekat pada dirinya.
Bahkan takbir yang dikumandangkan dengan
keras-keras malah melahirkan eklusifitas ideologi sehingga melihat kelompok
lain -padahal satu agama, satu tuhan dan nabinya- dianggap sesat dan saling enjek,
bunuh dan saling serang tanpa merasa bersalah. Sungguh makna takbir telah lahir
untuk melegitimasi kerakusan dunia, bukan kesadaran sebagai hamba-Nya.
Selain takbir, tahlil juga demikian. Lisan
dengan fasih mengucapkan kalimat tahlil- لا اله الا
الله-, tapi kadang kita sering melupakan Allah dan kita malah sering
berlaku sebagai Tuhan dan kadang juga mengganti posisi Tuhan.
Saat menyembah Allah, kita sering tidak
khusu’ atau terburu-buru karena ada kegiatan yang menurutnya menentukan masa
depan hidupnya. Padahal yang menentukan seluruh kehidupan ini bukan manusia,
tetapi Allah SWT. Kita buru-buru ingin menghatamkan al-Qur’an dan kemudian
berbangga diri telah menghatamkan nya beberapa kali dalam satu bulan. Padahal, Allah
menghadirkan al-Qur’an bukan sebatas pengumpul pahala, tetapi sebagai pembuka
jalan ruhaniah kita agar semakin mengenal-Nya dan mencintai-Nya setulus hati.
Kalimat tahlil yang selalu diucapkan belum
mampu menghilangkan rasa sedih karena belum punya jodoh, belum punya anak,
belum punya pekerjaan, belum mendapatkan THR, belum mendapatkan promosi jabatan
dan belum mendapatkan fasilitas dunia yang diharapkan. Tahlil yang kita ucapkan
belum mampu menyakinkan diri bahwa Allah sebagai Tuhan penentu segala
kehidupan, kunci dari kebahagiaan dan penderitaan dan pembuka serta penutup
rezeki dari setiap manusia. Tahlil yang seharusnya memunculkan kesucian
sesembahan, malah muncul sesembahan baru dalam bentuk atasan, jabatan, kekayaan
dan kedekatan dengan orang-orang yang dianggap penting dan penentu segala
kebijakan. Kekhusu’an kita dalam beribadah sering ternodai oleh jadwal
pekerjaan, panggilan atasan dan pertemuan-pertemuan yang dianggap sebagai
sumber penentu rezeki. Padahal pada saat yang sama kita sedang berada di
hadapan Sang Pemberi Rezeki teragung yaitu Allah SWT.
Bagaimana dengan tasbih kita? Tasbih “ سبحن الله“ merupakan realisasi bahwa pikiran kita,
perasaan kita, dan aktivitas kita benar-benar telah steril dari debu-debu
kesyirikan kepada-Nya. Ketika kita bertasbih artinya sedang mengikrarkan diri
kesucian Allah mampu menginspirasi kita untuk bersih dalam pikiran, ucapan dan
tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan tidak dibuat-buat, bermutu,
berkualitas dan mampu memberi inspirasi kebaikan kepada orang lain. Perbuatan
kita mampu menyadarkan orang lain untuk bisa mengikuti kebaikan-kebaikan yang
telah kita buat. Ucapan dan perbuatan tidak menimbulkan ambigu atau jarkoni-ngajar
tapi orang nglakoni. Bahkan diam pun mampu melahirkan tentang ilmu-ilmu
batin sehingga orang-orang yang melihatnya terinspirasi untuk memperbaiki batin
dan memperbaiki hal-hal yang belum baik.
Apakah takbir, tahlil dan tasbih kita mampu
mengantarkan manusia sebagai hamba yang senantiasa hamdalah ? jika ia mampu
menerapkan hakikat ketiga amalan tersebut, tentu saja ia mampu menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Saat Idul Fitri tiba, manusia akan
bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan “ الحمد لله“
sebagai bagian pengakuan diri secara sadar bahwa Allah sebagai sumber segala
pemberi rezeki. Ahli hamdalah adalah orang-orang yang menyadari bahwa semua
dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Manusia mempunyai tugas belajar,
bekerja, dan berusaha sekuat tenaga dengan kecerdasan dan keahliannya. Ketika
ia telah berusaha secara maksimal, maka semua sudah dipasrahkan kepada Allah
SWT. Sebab hakikat apa yang kita dapat dan kita nikmati sebenarnya bagian dari
rezeki Allah yang kita sendiri kadang tidak menyadarinya. Manusia hanya
mempunyai kemampuan merancang dengan kecerdasan dan keahlian terbaiknya, sedang
Tuhan dengan kebesaran-Nya mampu memutarbalikan semua nya. Bisa lebih baik,
bisa juga sebaliknya. Meskipun demikian, baik atau buruk sebenarnya sama. Bagi
ahli hamdalah, tidak ada istilah baik dan buruk. Sebab semua datang dari Allah
dan akan kembali kepada-Nya. Baik kita bersyukur dan kurang baik kita bersabar.
Dari sini, orang yang menjadi ahli hamdalah selalu hidup dengan sandaran kepada
Allah atas segala kejadian hidup di dunia.
Walhasil, hari ini sudah tidak lagi
terdengar suara tasbih, tahmid, tahlil dan takbir. Tuhan telah mengajarkan
semua itu tidak sebatas diucapkan dimulut saja, tapi harus “mendep”-larut
di dalam hati dan membentuk dalam pikiran, persaan dan perbuatan kita. Ketika
ini terbentuk, maka muncul madu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan saat
sekarang ini yaitu mampu memanusiakan manusia dan mampu menumbuhkan rasa saling
mencintai sesama manusia.
Penulis : Imam Ghozali
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   215
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119
Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   377
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870