
Kelihatannya setan di era modern sudah sangat
kuat-kuat. Mungkin di negara nya, program empat sehat lima sempurna sudah
berhasil. Daya tahan tubuh kuat, tahan banting. Semakin sejahtera, semakin
agresif menjalankan program melakukan cuci otak kepada manusia. Sehingga manusia
sudah tidak mampu lagi membedakan bulan ramadhan, malam nuzulul qur’an
dan malam ampunan, rahmat serta terbebas dari siksa api neraka.
Dulu profesi setan secara spesifik hanya
mengganggu manusia. Dulu, manusia juga tahu kalau diganggu setan. Bahkan Nabi
dan para kekasih Allah bisa berdialog dengan setan dan sharing berkaitan
dengan blue print agenda besar mereka. Itu sebabnya, umat Islam pada
masa nabi, para sahabat, para tabi’in dan para aulia sudah memahami betul
strategi setan dan tahu cara menangkis serangannya. Bahkan mereka mampu meng-kerangkeng-
atau menjebloskan setan ke dalam penjara.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ
أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya:
“Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu
neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Hadist tersebut ada di shohih muslim nomor
1079. Hadist ini juga menggambarkan kondisi kuatnya spiritual umat Islam pada
masa Nabi Muhammad SAW. Mereka selain berpuasa secara jasmaniah, juga berpuasa
secara ruhaniah.
Istilah pesantren “ngaji”-menutup pintu
sanga atau sembilan dan membuka pintu siji atau satu. Menutup pintu sembilan yaitu:
dua telinga, dua mata, dua hidung, mulut, dubur dan qubul. Pintu-pintu ini yang
menyebabkan sumber dosa masuk. Sembilan pintu adalah pintu gerbang umat Islam. Semakin
kokoh pintu gerbang tersebut semakin sulit setan masuk ke dalam tubuh manusia.
Ketika sembilan pintu tersebut tertutup,
maka terbuka lah satu pintu yaitu menuju kepada Sang Hyang Widhi yaitu Allah
SWT. Pada kondisi seperti ini, orang-orang berpuasa melihat segala kehidupan
berlandaskan pandangan ilahiyah, dan semua perbuatan selalu menuju kepada
aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Kondisi seperti ini yang membuat
setan mengalami penderitaan. Ia terpenjara dalam alam semesta. Ia tidak bisa
menjalankan tugas utamanya. Akhirnya, misi besar setan menghancurkan martabat
manusia gagal total.
Itu kisah dulu. Berbeda zaman, berbeda pula
pola tingkah laku setan. kini kelihatannya setan sudah sangat leluasan keluar
masuk tubuh manusia seperti mudahnya keringat keluar dari kulit manusia. Setan benar-benar
keluar masuk tidak perlu paspor, permit dan sejenisnya. free. Tanpa hambatan,
tanpa pajak. Bebas semaunya, mau apa saja setan sangat mudah mengganggu manusia
dengan segala tipu muslihatnya.
Setan di era digital sudah sangat canggih. Kemampuannya
di atas rata-rata AI-Artificial Intelegensi. Bahkan kecanggihan data super
canggih seperti ChatGPT dan sejenisnya tidak mampu menembus pertahanan
setan. Manusia benar-benar jebol pertahanan keimanannya dan keikhlasannya. Semua
rontok diacak-acak oleh setan. Di bulan ramadhan ini, drone-drone setan
benar-benar telah menghancurkan rasa kemanusiaan, kasih sayang dan
perseduluran. Setan telah menebarkan virus kebencian, sok sumuci, merasa paling
benar imannya, paling benar ibadahnya, paling merasa mengenal Allah dan Rasul-Nya
dan paling dekat dengan-nya. virus-virus ini menyebar ke seluruh aliran darah
manusia merambat ke otak dan pikiran alam bawah sadar. Lalu semua ini membentuk
ucapan, tulisan dan perilaku-perilaku orang-orang yang terjangkit penyakit hati
yang sangat parah.
Virus-virus tersebut di atas memang sangat ajaib.
Ia mampu memisahkan antara Allah sebagai Tuhannya, dan selain Allah sebagai Tuannya.
Pada wilayah sesembahan, umat Islam menyembah Allah. Tapi pada wilayah sebagai Tuan
nya, justru Allah dikalahkan oleh Tuan dalam wujud nafsu ingin berkuasa, ingin
perang dan ingin bermusuhan. Semua ini berakar dari virus keinginan mendapatkan
kemuliaan, kekayaan dan kekuasaan. Akibatnya, antara manusia saling mengejek,
mencaci maki, saling membunuh dan saling perang satu dengan lainnya.
Kini penulis melihat dunia kadang sedih. Umat
Islam yang sering disebut “umatan wahidah”-umat yang satu. Kata Nabi “seperti
satu tubuh”. Namun tubuhnya sedang terkena penyakit komplek. Mengobati sebelah
sini, ternyata jadi pantangan sebelah sana. Dilarang makan ini, jadi pantangan
penyakit satunya lagi.
Secara ilmu akal pikiran, rasa-rasanya
sangat sulit disembuhkan. Namun tidak lah pantas jika kita berputus atas rahmat
Allah. Akal kita memang tidak didesain oleh Allah untuk memikirkan semua yang
kita lihat. Hati kita juga tidak didesain oleh Allah untuk menjadi rumah
seluruh isi dunia ini. Allah mendesain akal dan hati untuk menjadi rumah suci
spiritual kedekatan kita dengan-Nya.
Itu sebabnya saya harus melatih diri husnudzhan
atas semua yang terjadi saat sekarang ini. Mungkin umat Islam seperti sebuah
gunung. Saat meletus ada puluhan ribu manusia yang meninggal dunia. Namun selang
beberapa tahun kemudian, lava yang keluar akan mendingin, membentuk kompos dan
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan baru dan generasi baru yang lebih baik dari
sebelumnya.
Saya hanya berdoa di bulan yang mulia ini,
semoga Allah memberikan jalan terbaik bagi umat Islam dan umat manusia di dunia
ini. Semoga mereka bisa hidup berdampingan dengan saling menghormati satu
dengan lainnya.
Penulis : Imam Ghozali
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   215
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119
Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   377
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870