Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa, Setan dan Perang


 TAUHID

Selasa , 10 Maret 2026



Telah dibaca :  198

Kelihatannya setan di era modern sudah sangat kuat-kuat. Mungkin di negara nya, program empat sehat lima sempurna sudah berhasil. Daya tahan tubuh kuat, tahan banting. Semakin sejahtera, semakin agresif menjalankan program melakukan cuci otak kepada manusia. Sehingga manusia sudah tidak mampu lagi membedakan bulan ramadhan, malam nuzulul qur’an dan malam ampunan, rahmat serta terbebas dari siksa api neraka.

Dulu profesi setan secara spesifik hanya mengganggu manusia. Dulu, manusia juga tahu kalau diganggu setan. Bahkan Nabi dan para kekasih Allah bisa berdialog dengan setan dan sharing berkaitan dengan blue print agenda besar mereka. Itu sebabnya, umat Islam pada masa nabi, para sahabat, para tabi’in dan para aulia sudah memahami betul strategi setan dan tahu cara menangkis serangannya. Bahkan mereka mampu meng-kerangkeng- atau menjebloskan setan ke dalam penjara.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya:

“Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”

Hadist tersebut ada di shohih muslim nomor 1079. Hadist ini juga menggambarkan kondisi kuatnya spiritual umat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Mereka selain berpuasa secara jasmaniah, juga berpuasa secara ruhaniah.

Istilah pesantren “ngaji”-menutup pintu sanga atau sembilan dan membuka pintu siji atau satu. Menutup pintu sembilan yaitu: dua telinga, dua mata, dua hidung, mulut, dubur dan qubul. Pintu-pintu ini yang menyebabkan sumber dosa masuk. Sembilan pintu adalah pintu gerbang umat Islam. Semakin kokoh pintu gerbang tersebut semakin sulit setan masuk ke dalam tubuh manusia.

Ketika sembilan pintu tersebut tertutup, maka terbuka lah satu pintu yaitu menuju kepada Sang Hyang Widhi yaitu Allah SWT. Pada kondisi seperti ini, orang-orang berpuasa melihat segala kehidupan berlandaskan pandangan ilahiyah, dan semua perbuatan selalu menuju kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Kondisi seperti ini yang membuat setan mengalami penderitaan. Ia terpenjara dalam alam semesta. Ia tidak bisa menjalankan tugas utamanya. Akhirnya, misi besar setan menghancurkan martabat manusia gagal total.

Itu kisah dulu. Berbeda zaman, berbeda pula pola tingkah laku setan. kini kelihatannya setan sudah sangat leluasan keluar masuk tubuh manusia seperti mudahnya keringat keluar dari kulit manusia. Setan benar-benar keluar masuk tidak perlu paspor, permit dan sejenisnya. free. Tanpa hambatan, tanpa pajak. Bebas semaunya, mau apa saja setan sangat mudah mengganggu manusia dengan segala tipu muslihatnya.

Setan di era digital sudah sangat canggih. Kemampuannya di atas rata-rata AI-Artificial Intelegensi. Bahkan kecanggihan data super canggih seperti ChatGPT dan sejenisnya tidak mampu menembus pertahanan setan. Manusia benar-benar jebol pertahanan keimanannya dan keikhlasannya. Semua rontok diacak-acak oleh setan. Di bulan ramadhan ini, drone-drone setan benar-benar telah menghancurkan rasa kemanusiaan, kasih sayang dan perseduluran. Setan telah menebarkan virus kebencian, sok sumuci, merasa paling benar imannya, paling benar ibadahnya, paling merasa mengenal Allah dan Rasul-Nya dan paling dekat dengan-nya. virus-virus ini menyebar ke seluruh aliran darah manusia merambat ke otak dan pikiran alam bawah sadar. Lalu semua ini membentuk ucapan, tulisan dan perilaku-perilaku orang-orang yang terjangkit penyakit hati yang sangat parah.

Virus-virus tersebut di atas memang sangat ajaib. Ia mampu memisahkan antara Allah sebagai Tuhannya, dan selain Allah sebagai Tuannya. Pada wilayah sesembahan, umat Islam menyembah Allah. Tapi pada wilayah sebagai Tuan nya, justru Allah dikalahkan oleh Tuan dalam wujud nafsu ingin berkuasa, ingin perang dan ingin bermusuhan. Semua ini berakar dari virus keinginan mendapatkan kemuliaan, kekayaan dan kekuasaan. Akibatnya, antara manusia saling mengejek, mencaci maki, saling membunuh dan saling perang satu dengan lainnya.

Kini penulis melihat dunia kadang sedih. Umat Islam yang sering disebut “umatan wahidah”-umat yang satu. Kata Nabi “seperti satu tubuh”. Namun tubuhnya sedang terkena penyakit komplek. Mengobati sebelah sini, ternyata jadi pantangan sebelah sana. Dilarang makan ini, jadi pantangan penyakit satunya lagi.

Secara ilmu akal pikiran, rasa-rasanya sangat sulit disembuhkan. Namun tidak lah pantas jika kita berputus atas rahmat Allah. Akal kita memang tidak didesain oleh Allah untuk memikirkan semua yang kita lihat. Hati kita juga tidak didesain oleh Allah untuk menjadi rumah seluruh isi dunia ini. Allah mendesain akal dan hati untuk menjadi rumah suci spiritual kedekatan kita dengan-Nya.

Itu sebabnya saya harus melatih diri husnudzhan atas semua yang terjadi saat sekarang ini. Mungkin umat Islam seperti sebuah gunung. Saat meletus ada puluhan ribu manusia yang meninggal dunia. Namun selang beberapa tahun kemudian, lava yang keluar akan mendingin, membentuk kompos dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan baru dan generasi baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Saya hanya berdoa di bulan yang mulia ini, semoga Allah memberikan jalan terbaik bagi umat Islam dan umat manusia di dunia ini. Semoga mereka bisa hidup berdampingan dengan saling menghormati satu dengan lainnya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   215

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119

Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   377

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870