Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah


 TAUHID

Rabu , 04 Maret 2026



Telah dibaca :  109

Saya sebagai salah satu pengikut Islam sunni iri terhadap pemimpin-pemimpin Iran. Terutama sejak tahun 1979. Tahun tersebut sebagai tahun sakral bagi Iran. Tahun perubahan rezim dari Mohammad Reza Pahlavi berganti pada rezim Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dari rezim cinta terhadap kemewahan dunia menuju zuhud kepada dunia. Dari rezim cinta kemegahan menuju rezim cinta kepada Allah SWT. Dari persahabatan karena cinta dunia menuju persahabatan karena Allah SWT.

Saya -mungkin juga anda- pernah mendengar kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Para penceramah sering mengutip kesederhanaan sang nabi yang agung. Mulai dari puasa senin-kamis karena dapur rumah nya tidak ada makanan sama sekali hingga nabi tidur di atas pelepah kurma. Hingga konon terlihat dengan jelas garis-garis bekas di punggungnya.

Tentu saja penceramah hanya mengutip kesederhanaan nya. Tidak mau mencontoh kehidupannya. Kisah kesederhanaan rasul hanya menjadi bahan komoditi materi ceramah. Saat selesai ceramah, sang penceramah tadi pun pulang dengan naik kendaraan mahal atau -bahkan- ada yang naik mobil dengan harta ratusan hingga milyaran rupiah. Rumahnya elit. Makanan dan minumannya sudah ada branding nya. Ketika mereka di tanya, maka jawabnya: “Jika kita tidak kaya, maka diremehkan oleh para jamaahnya”. Jadi, sandarannya takut pada jama’ah, bukan lagi pada Allah SWT.

Saya -mungkin juga anda-pernah mendengar khalifah Abu Bakar ketika sudah dilantik menjadi khalifah masih saja jualan di Pasar. Saya -mungkin juga anda-pernah mendengar kisah tentang abu bakar hanya mempunyai beberapa helai baju. Saya -mungkin juga anda- mendengar Bilal membeli baju dengan bahan kain yang sangat kasar karena tidak mempunyai uang untuk membeli baju yang mahal. Saya -mungkin juga anda- pernah mendengar anak-anak nya Umar bin Khatab ditertawakan oleh teman-temanya karena baju yang dipakai oleh anak nya banyak sekali tambalan. Saya -mungkin juga anda-begitu banyak pernah membaca kesederhanaan hidup para sahabat dan pemimpin-pemimpin kita pada masa itu.

Tapi itu tinggal kenangan. Saat sekarang ini kita akan ditampakan rumah-rumah para pemimpin kita dari segala level laksana istana-istana kerajaan. Mungkin hanya satu dari seribu pejabat yang mempraktekan kesederhanaan seperti para sahabat nabi. Dari puluan ribu tentara, mungkin ada puluhan tentara yang hidup penuh dengan kesederhanaan.

Saya terkadang berfikir apakah pola kehidupan para masa nabi dan sahabat bisa ditemukan pada era saat sekarang ini. Hidup penuh kesederhanaan, kezuhudan, tapi pikiran dan hati penuh dengan ilmu pengetahuan?. Setiap mata memandang, rasa-rasanya sangat sulit ditemukan para pejabat yang demikian.

Saya terkaget-kaget. Saat membeli sebuah buku di salah satu buku Gramedia, saya menemukan kisah Ayatollah Khomeini saat menjadi pemimpin tertinggi iran. Saat sedang melakukan dengan beberapa wartawan-termasuk wartawan Aljazeera-ada kejadian yang sangat menarik. Pada sesi tanya jawab, tiba-tiba Listrik di ruangan tamu -tempat wawancara-putus hingga ruangan gelap. Para wartawan dan tamu di ruangan tersebut berfikir, bahwa sang pemimpin tertinggi akan menelpon pembantu nya untuk mengganti lampu yang putus. Ternyata tidak sama sekali. Sang ayatollah berdiri lalu dia mengganti dan memasang sendiri lampu yang putus.

Semua yang hadir di ruangan tersebut sangat kaget. Sebagai seorang penguasa tertinggi yang bisa dilayani seluruh kebutuhan hidupnya, tapi ia tidak menggunakan sama sekali. Dengan tangannya sendiri, ia membenarkan lampu yang putus.

Tidak hanya itu, Ketika melihat tempat tidur seorang pemimpin tertinggi Iran ternyata hanya beralasan permadani. Tempat tidurnya di ruang tamu. Ruang makanannya di sebelah tempat tidur. Ada kursi dan meja. Makanannya hanya dua jenis, roti kasar dan kentang.

Sama hal nya dengan Presiden Iran -Ahmadinejad-yang tidur berada di ruang tamu beralaskan permadani -karpet-tanpa selimut dan bantal. Ruang tamu sebagai ruang kerja sekaligus ruang tempat istirahat. Ia tidak mengambil gaji dari negara. Ketika sudah tidak menjadi presiden, ia menjadi guru. Pulang pergi naik angkutan umum tanpa ada pengawal sama sekali.

Saya juga melihat dan mendengar pidato-pidato Sayid Ali Khaimeni. Sebagai seorang pemimpin tertinggi tidak hanya mengurus persoalan negara dan hubungan internasional. Ia selalu memberi tausiah-tausiah agama dengan membaca ayat-ayat al-qur’an dan hadist-hadist nabi untuk membimbing umat-umatnya. Aura keimanan -keyakinan- kepada Allah dan kecintaan kepada nabi terpancar dari tatapan mata yang sangat mendalam. Ia selalu berpesan kepada rakyatnya untuk senantiasa shalat tahajud dan menghargai kaum Perempuan. Bahkan dalam berbagai sesi tausiah, ia sangat menyanjung Fatimah Zahra sebagai sosok umum mu’minin bagi rakyat Iran.

Diantara pidato yang sangat menggugah hatiku, salah satunya begini: “Sudah saatnya isu sunni-syi’ah tidak lagi diperbesar. Isu yang sebenarnya dibuat oleh AS dan Inggris untuk menghancurkan kekuatan umat Islam. Di antara kedua nya memang ada perbedaan. Tapi kita harus mencari titik temu persamaan untuk kejayaan umat Islam”.

Dari sini, saya bisa memetik pelajaran dari tiga tokoh Iran tersebut di atas, bahwa persahabatan yang akan memperkuat energi perjuangan terletak pada persahabatan yang dilandasi cinta kepada Allah SWT. Ketika ini sudah tertanam dalam hati, apapun kritik dan ejekan dari musuh-musuh Islam tidak ada artinya sama sekali. Sebab persahabatan yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah akan menjadi energi kekuatan yang sangat besar untuk mempercepat cita-cita.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   120

Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   378

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870