
Saya sebagai salah satu pengikut Islam
sunni iri terhadap pemimpin-pemimpin Iran. Terutama sejak tahun 1979. Tahun
tersebut sebagai tahun sakral bagi Iran. Tahun perubahan rezim dari Mohammad
Reza Pahlavi berganti pada rezim Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dari rezim cinta
terhadap kemewahan dunia menuju zuhud kepada dunia. Dari rezim cinta kemegahan
menuju rezim cinta kepada Allah SWT. Dari persahabatan karena cinta dunia
menuju persahabatan karena Allah SWT.
Saya -mungkin juga anda- pernah mendengar
kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Para penceramah sering mengutip
kesederhanaan sang nabi yang agung. Mulai dari puasa senin-kamis karena dapur
rumah nya tidak ada makanan sama sekali hingga nabi tidur di atas pelepah
kurma. Hingga konon terlihat dengan jelas garis-garis bekas di punggungnya.
Tentu saja penceramah hanya mengutip
kesederhanaan nya. Tidak mau mencontoh kehidupannya. Kisah kesederhanaan rasul
hanya menjadi bahan komoditi materi ceramah. Saat selesai ceramah, sang
penceramah tadi pun pulang dengan naik kendaraan mahal atau -bahkan- ada yang
naik mobil dengan harta ratusan hingga milyaran rupiah. Rumahnya elit. Makanan
dan minumannya sudah ada branding nya. Ketika mereka di tanya, maka jawabnya:
“Jika kita tidak kaya, maka diremehkan oleh para jamaahnya”. Jadi, sandarannya
takut pada jama’ah, bukan lagi pada Allah SWT.
Saya -mungkin juga anda-pernah mendengar
khalifah Abu Bakar ketika sudah dilantik menjadi khalifah masih saja jualan di Pasar.
Saya -mungkin juga anda-pernah mendengar kisah tentang abu bakar hanya
mempunyai beberapa helai baju. Saya -mungkin juga anda- mendengar Bilal membeli
baju dengan bahan kain yang sangat kasar karena tidak mempunyai uang untuk
membeli baju yang mahal. Saya -mungkin juga anda- pernah mendengar anak-anak
nya Umar bin Khatab ditertawakan oleh teman-temanya karena baju yang dipakai
oleh anak nya banyak sekali tambalan. Saya -mungkin juga anda-begitu banyak
pernah membaca kesederhanaan hidup para sahabat dan pemimpin-pemimpin kita pada
masa itu.
Tapi itu tinggal kenangan. Saat sekarang
ini kita akan ditampakan rumah-rumah para pemimpin kita dari segala level
laksana istana-istana kerajaan. Mungkin hanya satu dari seribu pejabat yang
mempraktekan kesederhanaan seperti para sahabat nabi. Dari puluan ribu tentara,
mungkin ada puluhan tentara yang hidup penuh dengan kesederhanaan.
Saya terkadang berfikir apakah pola
kehidupan para masa nabi dan sahabat bisa ditemukan pada era saat sekarang ini.
Hidup penuh kesederhanaan, kezuhudan, tapi pikiran dan hati penuh dengan ilmu
pengetahuan?. Setiap mata memandang, rasa-rasanya sangat sulit ditemukan para
pejabat yang demikian.
Saya terkaget-kaget. Saat membeli sebuah
buku di salah satu buku Gramedia, saya menemukan kisah Ayatollah Khomeini saat
menjadi pemimpin tertinggi iran. Saat sedang melakukan dengan beberapa
wartawan-termasuk wartawan Aljazeera-ada kejadian yang sangat menarik. Pada sesi
tanya jawab, tiba-tiba Listrik di ruangan tamu -tempat wawancara-putus hingga
ruangan gelap. Para wartawan dan tamu di ruangan tersebut berfikir, bahwa sang
pemimpin tertinggi akan menelpon pembantu nya untuk mengganti lampu yang putus.
Ternyata tidak sama sekali. Sang ayatollah berdiri lalu dia mengganti dan
memasang sendiri lampu yang putus.
Semua yang hadir di ruangan tersebut sangat
kaget. Sebagai seorang penguasa tertinggi yang bisa dilayani seluruh kebutuhan
hidupnya, tapi ia tidak menggunakan sama sekali. Dengan tangannya sendiri, ia
membenarkan lampu yang putus.
Tidak hanya itu, Ketika melihat tempat
tidur seorang pemimpin tertinggi Iran ternyata hanya beralasan permadani. Tempat
tidurnya di ruang tamu. Ruang makanannya di sebelah tempat tidur. Ada kursi dan
meja. Makanannya hanya dua jenis, roti kasar dan kentang.
Sama hal nya dengan Presiden Iran
-Ahmadinejad-yang tidur berada di ruang tamu beralaskan permadani -karpet-tanpa
selimut dan bantal. Ruang tamu sebagai ruang kerja sekaligus ruang tempat
istirahat. Ia tidak mengambil gaji dari negara. Ketika sudah tidak menjadi
presiden, ia menjadi guru. Pulang pergi naik angkutan umum tanpa ada pengawal
sama sekali.
Saya juga melihat dan mendengar pidato-pidato
Sayid Ali Khaimeni. Sebagai seorang pemimpin tertinggi tidak hanya mengurus
persoalan negara dan hubungan internasional. Ia selalu memberi tausiah-tausiah
agama dengan membaca ayat-ayat al-qur’an dan hadist-hadist nabi untuk
membimbing umat-umatnya. Aura keimanan -keyakinan- kepada Allah dan kecintaan
kepada nabi terpancar dari tatapan mata yang sangat mendalam. Ia selalu
berpesan kepada rakyatnya untuk senantiasa shalat tahajud dan menghargai kaum Perempuan.
Bahkan dalam berbagai sesi tausiah, ia sangat menyanjung Fatimah Zahra sebagai
sosok umum mu’minin bagi rakyat Iran.
Diantara pidato yang sangat menggugah hatiku,
salah satunya begini: “Sudah saatnya isu sunni-syi’ah tidak lagi diperbesar.
Isu yang sebenarnya dibuat oleh AS dan Inggris untuk menghancurkan kekuatan
umat Islam. Di antara kedua nya memang ada perbedaan. Tapi kita harus mencari
titik temu persamaan untuk kejayaan umat Islam”.
Dari sini, saya bisa memetik pelajaran dari
tiga tokoh Iran tersebut di atas, bahwa persahabatan yang akan memperkuat
energi perjuangan terletak pada persahabatan yang dilandasi cinta kepada Allah SWT.
Ketika ini sudah tertanam dalam hati, apapun kritik dan ejekan dari musuh-musuh
Islam tidak ada artinya sama sekali. Sebab persahabatan yang dibangun atas
dasar cinta kepada Allah akan menjadi energi kekuatan yang sangat besar untuk
mempercepat cita-cita.
Penulis : Imam Ghozali
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   120
Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   378
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870