Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin


 TAUHID

Rabu , 19 November 2025



Telah dibaca :  377

Di sela-sela menjaga anak-anak yang sedang demam, saya menyempatkan diri silaturahim dengan para ulama. Ada sekitar 100 para kyai, ustadz, santri senior berkumpul di majelis ilmu di Pesantren Al-Aqobah Gogok Darussalam. Saya sengaja menyempatkan diri bertemu mereka. Ingin mendapatkan keberkahan-ziyadatul khoir-dari guru-guru kami. Keberkahan bisa bertemu langsung, bertatap muka dan berkumpul di majelis ilmu nya.

Malam itu saya bertemu dengan mereka. Saya duduk di majelis ilmu. Di malam yang gelap dan suasana terasa tenang, hening dan damai dalam qalbu. Saya menatap wajah-wajah para guru-guru kami. Senang, haru dan bahagia. aura pancaran wajah nya menunjukan ketulusan luarbiasa dalam merawat, memberi petunjuk, dan membimbing masyarakat.

Saya ingin rasa nya menangis saat melihat mereka. Saya mengetahui, mereka adalah para ulama. Saat masih menjadi santri, mereka telah menghabiskan waktu nya di pesantren yang tersebar di pelosok Nusantara. Saya mengetahui, mereka menguasai ilmu agama sangat baik, Hafal Al-Qur’an, Hadist, Al-Fiyah Ibnu Malik, dan Jauhirul Maknun. Mereka juga menguasai kitab kuning dan mengerti tentang hukum-hukum Islam, akidah, akhlak dan tasawuf. Namun para ulama tersebut sampai detik ini tidak mau disebut ulama. Mereka masih menyatakan diri sebagai santri. Sungguh sikap sangat tawadhu luarbiasa.

Ketika saya berdiri, diantara mereka menemuiku dan memeluk diriku penuh dengan kehangatan dan cinta. Entah kenapa mereka menangis dan memeluku dengan erat. Mungkin ada suasana haru. Saat Allah menutup seluruh aib ku, mereka datang menemuiku dan membisikan kalimat indah:”Pak Imam, mohon doa untuk ku dan keluargaku”.

Bisikan yang hampir saja membuatku meneteskan air mata. saya yang banyak bergelimang dosa dan maksiat. Tapi malam itu, sebagian para guru-guru memeluku dan mengharapkan keberkahan doa dari ku. Saya pun menjawab nya: “Sama-sama ustadz, saya pun minta doa agar aku, istri ku, dan anak-anaku mampu menjadi cahaya kebaikan dalam menyebarkan agama Islam”.

Sifat tawadhu para ulama tersebut tentu saja sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan panjang dengan berkelana ke berbagai daerah, saya pernah melakukan apa yang telah mereka -para ulama di atas-lakukan, yaitu sering bersilaturahim dengan para ulama, pemimpin pesantren dan orang-orang tertentu yang dianggap mempunyai mata batin yang baik. Saya dan teman-teman pernah melakukan perjalanan cukup jauh dengan berjalan kaki. Setelah subuh sampai di lokasi pesantren jam 19.00. Tujuannya cuma satu, yaitu ingin silaturahim dengan seorang ulama yang nyantri di mekah selama 9 tahun, dan di pondok pesantren di salah satu daerah di Jawa Timur selama belasan tahun.

Saya selalu saja berharap doa dari para ulama dan para ilmuwan. Saat kuliah, saya selalu kesulitan memahami materi. Saat teman-teman keluar lokal, saya sudah biasa menemui dosen dan meminta doa. Bahkan saat istri ku melahirkan, saya juga memohon berkah doa dari para ulama, guru besar dan ilmuwan agar keberkahan bisa lumeber untuk anak-anak ku. sebab saya menyadari, bahwa doa dari orang lain-bagi diriku sendiri-mempunyai manfaat yang sangat besar bagi diriku sendiri dan keluarga ku. Bagi orang lain, mungkin terlihat lucu. Tapi bagiku merupakan bagian penting dalam perjalanan hidupku. Bahkan saya merasakan salah satu asbab saya bisa sembuh dari berbagai penyakit saat masih kecil karena orang tua ku selalu sowan kepada para ulama meminta doa agar saya bisa sembuh dari sakit yang menahun tidak sembuh-sembuh-sakit selama 6 tahun. Akhirnya, kami bisa sembuh saat berumur 7 tahun lebih.

Malam itu saat kami berkumpul dengan para ulama saya lupa kalau anaku sakit. ada suasana gembira berkumpul dengan kekasih-kekasih Allah SWT.

HP berdering, ada seorang hamba Allah menelpon ku dari Siak. Tidak terjawab. Ada SMS melalui WA dia menulis kalimat kurang lebih begini: “Maaf Gus, saudaraku sekarang masuk UGD. Tidak sadar diri. Terkena darah tinggi dan koleksterol. Mohon doa agar bisa sadar kembali”.

Saya termenung. Ingin rasa nya menangis. Saat diri ku melihat anak-anak ku belum sembuh dari sakit, saat yang sama orang lain meminta doa dari ku agar mendapatkan kesembuhan. Hati ku berkata: “Ya Rabbi, saya tidak mempunyai daya kekuatan sama sekali, hanya dirimu yang mampu menyembuhkan hamba-Mu ya Rabb”.

Pagi hari saya mendapatkan kiriman wa, bahwa saudarinya di UGD sudah sembuh dan sudah bisa bicara. Hari ini juga, saya mendengar saudaranya sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Saya senang mendengarkannya, sebab Tuhan telah mengabulkan doa-doa nya.

Saya semakin menyadari betapa berharga nya bisa bertemu dengan para ulama malam itu. Dari sini saya semakin merasa bermakna atas kehadiran mereka di tempat tersebut. Saya berdoa kepada Allah, semoga pertemuan-pertemuan ini bisa berlanjut di masa masa mendatang. Ada kenikmatan luarbiasa yang tidak bisa diukur dengan materi, yaitu kenikmatan silaturahim dan mendapatkan pencerahan hati serta keberkahan doa dari para ulama.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870