
Di sela-sela menjaga anak-anak yang sedang
demam, saya menyempatkan diri silaturahim dengan para ulama. Ada sekitar 100
para kyai, ustadz, santri senior berkumpul di majelis ilmu di Pesantren
Al-Aqobah Gogok Darussalam. Saya sengaja menyempatkan diri bertemu mereka. Ingin
mendapatkan keberkahan-ziyadatul khoir-dari guru-guru kami. Keberkahan bisa
bertemu langsung, bertatap muka dan berkumpul di majelis ilmu nya.
Malam itu saya bertemu dengan mereka. Saya duduk
di majelis ilmu. Di malam yang gelap dan suasana terasa tenang, hening dan
damai dalam qalbu. Saya menatap wajah-wajah para guru-guru kami. Senang, haru
dan bahagia. aura pancaran wajah nya menunjukan ketulusan luarbiasa dalam
merawat, memberi petunjuk, dan membimbing masyarakat.
Saya ingin rasa nya menangis saat melihat
mereka. Saya mengetahui, mereka adalah para ulama. Saat masih menjadi santri,
mereka telah menghabiskan waktu nya di pesantren yang tersebar di pelosok Nusantara.
Saya mengetahui, mereka menguasai ilmu agama sangat baik, Hafal Al-Qur’an,
Hadist, Al-Fiyah Ibnu Malik, dan Jauhirul Maknun. Mereka juga menguasai kitab
kuning dan mengerti tentang hukum-hukum Islam, akidah, akhlak dan tasawuf. Namun
para ulama tersebut sampai detik ini tidak mau disebut ulama. Mereka masih
menyatakan diri sebagai santri. Sungguh sikap sangat tawadhu luarbiasa.
Ketika saya berdiri, diantara mereka
menemuiku dan memeluk diriku penuh dengan kehangatan dan cinta. Entah kenapa
mereka menangis dan memeluku dengan erat. Mungkin ada suasana haru. Saat Allah
menutup seluruh aib ku, mereka datang menemuiku dan membisikan kalimat indah:”Pak
Imam, mohon doa untuk ku dan keluargaku”.
Bisikan yang hampir saja membuatku
meneteskan air mata. saya yang banyak bergelimang dosa dan maksiat. Tapi malam
itu, sebagian para guru-guru memeluku dan mengharapkan keberkahan doa dari ku. Saya
pun menjawab nya: “Sama-sama ustadz, saya pun minta doa agar aku, istri ku, dan
anak-anaku mampu menjadi cahaya kebaikan dalam menyebarkan agama Islam”.
Sifat tawadhu para ulama tersebut tentu
saja sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan panjang dengan
berkelana ke berbagai daerah, saya pernah melakukan apa yang telah mereka -para
ulama di atas-lakukan, yaitu sering bersilaturahim dengan para ulama, pemimpin
pesantren dan orang-orang tertentu yang dianggap mempunyai mata batin yang
baik. Saya dan teman-teman pernah melakukan perjalanan cukup jauh dengan
berjalan kaki. Setelah subuh sampai di lokasi pesantren jam 19.00. Tujuannya cuma
satu, yaitu ingin silaturahim dengan seorang ulama yang nyantri di mekah selama
9 tahun, dan di pondok pesantren di salah satu daerah di Jawa Timur selama
belasan tahun.
Saya selalu saja berharap doa dari para
ulama dan para ilmuwan. Saat kuliah, saya selalu kesulitan memahami materi. Saat
teman-teman keluar lokal, saya sudah biasa menemui dosen dan meminta doa. Bahkan
saat istri ku melahirkan, saya juga memohon berkah doa dari para ulama, guru
besar dan ilmuwan agar keberkahan bisa lumeber untuk anak-anak ku. sebab saya
menyadari, bahwa doa dari orang lain-bagi diriku sendiri-mempunyai manfaat yang
sangat besar bagi diriku sendiri dan keluarga ku. Bagi orang lain, mungkin
terlihat lucu. Tapi bagiku merupakan bagian penting dalam perjalanan hidupku. Bahkan
saya merasakan salah satu asbab saya bisa sembuh dari berbagai penyakit
saat masih kecil karena orang tua ku selalu sowan kepada para ulama
meminta doa agar saya bisa sembuh dari sakit yang menahun tidak sembuh-sembuh-sakit
selama 6 tahun. Akhirnya, kami bisa sembuh saat berumur 7 tahun lebih.
Malam itu saat kami berkumpul dengan para
ulama saya lupa kalau anaku sakit. ada suasana gembira berkumpul dengan
kekasih-kekasih Allah SWT.
HP berdering, ada seorang hamba Allah
menelpon ku dari Siak. Tidak terjawab. Ada SMS melalui WA dia menulis kalimat
kurang lebih begini: “Maaf Gus, saudaraku sekarang masuk UGD. Tidak sadar
diri. Terkena darah tinggi dan koleksterol. Mohon doa agar bisa sadar kembali”.
Saya termenung. Ingin rasa nya menangis. Saat
diri ku melihat anak-anak ku belum sembuh dari sakit, saat yang sama orang lain
meminta doa dari ku agar mendapatkan kesembuhan. Hati ku berkata: “Ya Rabbi,
saya tidak mempunyai daya kekuatan sama sekali, hanya dirimu yang mampu
menyembuhkan hamba-Mu ya Rabb”.
Pagi hari saya mendapatkan kiriman wa,
bahwa saudarinya di UGD sudah sembuh dan sudah bisa bicara. Hari ini juga, saya
mendengar saudaranya sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Saya senang
mendengarkannya, sebab Tuhan telah mengabulkan doa-doa nya.
Saya semakin menyadari betapa berharga nya
bisa bertemu dengan para ulama malam itu. Dari sini saya semakin merasa
bermakna atas kehadiran mereka di tempat tersebut. Saya berdoa kepada Allah,
semoga pertemuan-pertemuan ini bisa berlanjut di masa masa mendatang. Ada
kenikmatan luarbiasa yang tidak bisa diukur dengan materi, yaitu kenikmatan
silaturahim dan mendapatkan pencerahan hati serta keberkahan doa dari para
ulama.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870