Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa


 TAUHID

Selasa , 24 Februari 2026



Telah dibaca :  77

Puasa merupakan ibadah fisik. Manfaatnya untuk fisik dan non-fisik. Jasmaniah dan ruhaniah. Orang yang berpuasa berarti orang yang sedang menahan segala yang membatalkan puasa: makan, minum, dan berhubungan badan dengan pasangannya.

Pada sisi lain, orang berpuasa juga harus bisa menahan gejolak batiniah tentang “wolak-walike ati”-perubahan hati-dari penyakit-penyakit hati dalam melihat fenomena yang terjadi di sekitarnya. Orang berpuasa berarti orang yang mempunyai kemampuan bukan hanya mampu menahan segala sesuatu yang membatalkan puasa bersifat dhohir juga harus mempu menahan segala yang membatalkan puasa pada wilayah batiniah.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja”.

Ada lagi kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji".

Ritual puasa dimulai dari menahan segala sesuatu yang membatalkan dari segala hal yang bersifat dhohir. Padahal makanan dan minuman yang kita makan sudah dijamin kehalalannya. Begitu juga pasangan kita sudah sah baik secara syariat maupun hukum negara. Semua jenis kehalalan tersebut menjadi tidak halal dilakukan saat berpuasa. Yang halal saja tidak boleh apalagi yang haram.

Penulis memahami ada pesan tersirat dari puasa yaitu manusia sebenarnya tidak mempunyai apa-apa sama sekali. Jika Tuhan tidak memberikan makanan, minuman dan pasangan hidup, maka manusia tidak ada artinya apa-apa. Kecerdasan dan kekuatan badan serta keperkasaan seseorang dengan pasangannya hanya bisa dilakukan ketika mereka bisa makan dan minum. Tanpa adanya fasilitas tersebut dari Allah, maka manusia tidak mempunyai kekuatan apa-apa sama sekali. Manusia menjadi bukan siapa-siapa lagi.

Kita boleh mengklaim orang yang paling kaya sekalipun di jagat raya. Kita boleh mengklaim bahwa kita mempunyai kekayaan yang tidak terbatas dan kekuasaan yang bisa mengatur semua orang. Tapi ketika Allah mencabut kenikmatan makan dan minum hilang, maka seluruh kejayaan dan pengaruh besar kita hanya sebatas “pajangan” semata dan tidak berguna sama sekali. Kita tidak bisa menikmati kehidupan yang normal. Sebab kehidupan yang normal sebenarnya saat kita menikmati makan dan minum sesuai dengan aturan selera yang telah Allah buat pada lidah dan tubuh kita. Apa arti makanan dan minuman jika kenikmatan merasakan nya tidak ada sama sekali. Hidup terasa sangat tersiksa.

Dari puasa, Allah mengajarkan kepada manusia tentang “kefakiran” diri manusia sendiri, fakir atas ilmu, harta, kekuasaan dan segala-galanya. Puasa menjadi bukti bahwa manusia sangat lemah dan tidak pantas memperbesar keakuan diri dihadapan sesama manusia. Bagaimanapun juga saat kita mengagungkan keakuan diri, saat itu Allah sedang mengawasi perilaku kita dalam kesendirian ataupun dalam kontek kehidupan bermasyarakat.

Puasa juga tidak hanya sebatas “menguliti” manusia dari segi dhohir atau kebutuhan yang bersifat jasmaniah. Puasa juga membuka tabir tentang kebutuhan ruhaniah. Dalam konsep Islam kita telah mafhum bahwa pada diri kita ada dua nafsu yang kontradiktif dan saling tarik menarik kepentingan-nafsu mutmainah dan nafsu sayyi’ah. Ketika manusia bisa mengarahkan nafsu menjadi mutmainah, maka seluruh perilaku ruhaniah nya menunjukan kebersihan, ketenangan dan kedamaian pada dirinya. Pada wilayah ini, makna diterima atau ditolak suatu amal manusia oleh Allah SWT. Ketika ruhaniah kita selaras dengan pesan-pesan ilahiyah, maka menjadi indikasi tentang diterima segala ibadah dan amal sholeh. Sebaliknya ketika ruhaniah kita tidak selaras dengan pesan-pesan ilahiyah maka amal ibadah kita ditolah oleh Allah SWT.

Puasa secara dhohir kuat. Kita sudah latihan setiap tahun-yang wajib-, dan latihan tiap minggu-yang sunat-sunat. Namun semua latihan puasa sudah cukup sukses tetap dianggap gagal ketika ruhaniah kita tidak bisa menerapkan puasa. Dhohir sudah puasa, tapi ruhaniah kita masih “bringasan” tidak karuan dalam bingkai ketamakan, kerakusan, egoisme dan kesombongan diri ketika melihat orang lain. Jebakan-jebakan ruhaniah seperti ini yang sebenarnya menghilangkan esensi puasa di hadapan-Nya. Kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Sedangkan kualitas kedekatan kita dengan sang pencipta justru gagal. Ibadah kita menjadi mandul, tidak menjadi kualitas ibadah kita baik secara kualitas dan tidak juga menjadikan kita semakin baik kepada sesame manusia dan alam semesta.

Walhasil dari paparan di atas, puasa mengajarkan kepada manusia untuk mengenal asal usul nya atau sangkan paraning dumadi. Manusia sebagai ciptaan Allah akan kembali kepada-Nya. Sebelum kembali, Allah memberikan kesempatan hidup di dunia. Orang tua dulu hidup hanya sebatas “mampir minum”. Jika hidup sesingkat itu, kita minum secukupnya saja, jangan sampai  mabuk dan lupa diri.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   351

Hari Tasyrik: Membahagiakan Orang Lain dengan Penuh Cinta
08 Juni 2025   Oleh : Imam Ghozali   583

Segelas Air di Tengah Badai Gurun
01 Agustus 2024   Oleh : Imam Ghozali   688

Anak Kuliah di Harvard University, Kenapa Sedih?
06 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   865

Refleksi Diri ; Ngalap Berkah Acara Mata Najwa di UGM
21 September 2023   Oleh : Imam Ghozali   1092

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355