
Puasa merupakan ibadah fisik. Manfaatnya untuk
fisik dan non-fisik. Jasmaniah dan ruhaniah. Orang yang berpuasa berarti orang
yang sedang menahan segala yang membatalkan puasa: makan, minum, dan
berhubungan badan dengan pasangannya.
Pada sisi lain, orang berpuasa juga harus
bisa menahan gejolak batiniah tentang “wolak-walike ati”-perubahan hati-dari
penyakit-penyakit hati dalam melihat fenomena yang terjadi di sekitarnya. Orang
berpuasa berarti orang yang mempunyai kemampuan bukan hanya mampu menahan
segala sesuatu yang membatalkan puasa bersifat dhohir juga harus mempu menahan
segala yang membatalkan puasa pada wilayah batiniah.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali
hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak
mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja”.
Ada lagi kanjeng Nabi Muhammad SAW
bersabda:
"Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa
adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji".
Ritual puasa dimulai dari menahan segala sesuatu
yang membatalkan dari segala hal yang bersifat dhohir. Padahal makanan dan minuman
yang kita makan sudah dijamin kehalalannya. Begitu juga pasangan kita sudah sah
baik secara syariat maupun hukum negara. Semua jenis kehalalan tersebut menjadi
tidak halal dilakukan saat berpuasa. Yang halal saja tidak boleh apalagi yang
haram.
Penulis memahami ada pesan tersirat dari
puasa yaitu manusia sebenarnya tidak mempunyai apa-apa sama sekali. Jika Tuhan
tidak memberikan makanan, minuman dan pasangan hidup, maka manusia tidak ada
artinya apa-apa. Kecerdasan dan kekuatan badan serta keperkasaan seseorang
dengan pasangannya hanya bisa dilakukan ketika mereka bisa makan dan minum. Tanpa
adanya fasilitas tersebut dari Allah, maka manusia tidak mempunyai kekuatan
apa-apa sama sekali. Manusia menjadi bukan siapa-siapa lagi.
Kita boleh mengklaim orang yang paling kaya
sekalipun di jagat raya. Kita boleh mengklaim bahwa kita mempunyai kekayaan
yang tidak terbatas dan kekuasaan yang bisa mengatur semua orang. Tapi ketika Allah
mencabut kenikmatan makan dan minum hilang, maka seluruh kejayaan dan pengaruh
besar kita hanya sebatas “pajangan” semata dan tidak berguna sama
sekali. Kita tidak bisa menikmati kehidupan yang normal. Sebab kehidupan yang
normal sebenarnya saat kita menikmati makan dan minum sesuai dengan aturan
selera yang telah Allah buat pada lidah dan tubuh kita. Apa arti makanan dan
minuman jika kenikmatan merasakan nya tidak ada sama sekali. Hidup terasa
sangat tersiksa.
Dari puasa, Allah mengajarkan kepada
manusia tentang “kefakiran” diri manusia sendiri, fakir atas ilmu, harta,
kekuasaan dan segala-galanya. Puasa menjadi bukti bahwa manusia sangat lemah
dan tidak pantas memperbesar keakuan diri dihadapan sesama manusia. Bagaimanapun
juga saat kita mengagungkan keakuan diri, saat itu Allah sedang mengawasi
perilaku kita dalam kesendirian ataupun dalam kontek kehidupan bermasyarakat.
Puasa juga tidak hanya sebatas “menguliti”
manusia dari segi dhohir atau kebutuhan yang bersifat jasmaniah. Puasa juga
membuka tabir tentang kebutuhan ruhaniah. Dalam konsep Islam kita telah mafhum
bahwa pada diri kita ada dua nafsu yang kontradiktif dan saling tarik menarik
kepentingan-nafsu mutmainah dan nafsu sayyi’ah. Ketika manusia
bisa mengarahkan nafsu menjadi mutmainah, maka seluruh perilaku ruhaniah nya
menunjukan kebersihan, ketenangan dan kedamaian pada dirinya. Pada wilayah ini,
makna diterima atau ditolak suatu amal manusia oleh Allah SWT. Ketika ruhaniah
kita selaras dengan pesan-pesan ilahiyah, maka menjadi indikasi tentang
diterima segala ibadah dan amal sholeh. Sebaliknya ketika ruhaniah kita tidak selaras
dengan pesan-pesan ilahiyah maka amal ibadah kita ditolah oleh Allah SWT.
Puasa secara dhohir kuat. Kita sudah latihan
setiap tahun-yang wajib-, dan latihan tiap minggu-yang sunat-sunat. Namun semua
latihan puasa sudah cukup sukses tetap dianggap gagal ketika ruhaniah kita
tidak bisa menerapkan puasa. Dhohir sudah puasa, tapi ruhaniah kita masih “bringasan”
tidak karuan dalam bingkai ketamakan, kerakusan, egoisme dan kesombongan diri ketika
melihat orang lain. Jebakan-jebakan ruhaniah seperti ini yang sebenarnya
menghilangkan esensi puasa di hadapan-Nya. Kita hanya mendapatkan lapar dan
dahaga. Sedangkan kualitas kedekatan kita dengan sang pencipta justru gagal. Ibadah
kita menjadi mandul, tidak menjadi kualitas ibadah kita baik secara kualitas
dan tidak juga menjadikan kita semakin baik kepada sesame manusia dan alam
semesta.
Walhasil dari paparan di atas, puasa
mengajarkan kepada manusia untuk mengenal asal usul nya atau sangkan
paraning dumadi. Manusia sebagai ciptaan Allah akan kembali kepada-Nya.
Sebelum kembali, Allah memberikan kesempatan hidup di dunia. Orang tua dulu
hidup hanya sebatas “mampir minum”. Jika hidup sesingkat itu, kita minum
secukupnya saja, jangan sampai mabuk dan
lupa diri.
Penulis : Imam Ghozali
Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   351
Hari Tasyrik: Membahagiakan Orang Lain dengan Penuh Cinta
08 Juni 2025   Oleh : Imam Ghozali   583
Segelas Air di Tengah Badai Gurun
01 Agustus 2024   Oleh : Imam Ghozali   688
Anak Kuliah di Harvard University, Kenapa Sedih?
06 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   865
Refleksi Diri ; Ngalap Berkah Acara Mata Najwa di UGM
21 September 2023   Oleh : Imam Ghozali   1092
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355