
Jika bulan Ramadhan laksana seorang
sahabat, maka terserah kamu menempatkan sebagai sahabat yang bagaimana: apakah
sangat spesial, spesial atau biasa-biasa saja. Yang tahu kamu sendiri. Saya tidak
tahu, sebagaimana kamu pun tidak tahu status nya di mata orang lain.
Tentang kemulyaan bulan Ramadhan, kita bisa
menemukan dalam kitab suci dan pendapat para intelektual Islam atau para ahli hikmah
dari kalangan kaum sufi. Seperti kata Jalaluddin Rumi: “Puasa adalah seruling,
dan jiwa adalah penyanyinya. Kosongkan perutmu, maka jiwamu akan bernyanyi
merdu menembus cakrawala”.
Puasa adalah simbol cinta kepada Allah. Orang
yang sedang jatuh cinta selalu membutuhkan kasih sayang dari orang yang
dicintainya. Laksana seorang sedang berpuasa, ia sangat haus dan lapar. Ia membutuhkan
minuman dan makanan agar dirinya bisa tenang. Sebab orang-orang yang merindukan
sesuatu, akan terobati ketika yang dirindui berada di sampingnya.
Puasa telah menjernihkan jiwa. Dari nya,
jiwa bisa melihat secara jernih lorong-lorong menuju kepada keridhaan-Nya. Ia asyik
berdansa dan menikmati indahnya lagu-lagu cinta laksana suara seruling yang
membuat jiwa bahagia terbang bersama Sang Kekasih. Puasa mempertajam kehalusan
jiwa dan ketajaman pikiran serta kelembutan rasa. Orang yang berpuasa akan
menemukan pandangan-pandangan surgawi di balik tumpukan-tumpukan barang-barang
duniawi yang beragam wujud. Orang yang sudah jatuh cinta, semua berubah menjadi
terasa indah.
Apakah saya atau anda bisa memahami makna puasa
sedemikian mendalam sebagaimana yang dikatakan oleh Rumi? Terserah. Tuhan tidak
memaksa pemahaman kita tentang puasa sama sebagaimana pemahaman para sahabat,
tabi’in atau kaum sufi. Terserah pemahaman kamu sedangkal apapun tentang puasa
tidak masalah. Sah-sah saja. Wong kita sendiri yang melaksanakanya kok.
Tapi ingat, sebagaimana saya katakan bahwa
puasa seperti seorang sahabat. Tidak peduli, apakah sahabat tersebut sangat spesial,
spesial atau tidak sama sekali. Puasa akan meninggalkanmu, kami dan kita. Ia meninggalkan
secara pelan tapi pasti. Setiap langkah ia tidak akan kembali. Puasa berjalan
secara pelan-pelan. Dari detik, menit, jam, dan hari. Terus berjalan dari
minggu ke bulan. Begitu seterusnya. Bahkan puasa hari ini, tidak akan bertemu
lagi di masa mendatang. Puasa benar-benar seorang sahabat yang sudah
benar-benar menyatakan kata bahwa “Kami akan berpisah selamanya”.
Puasa atau bulan Ramadhan tahun ini tidak
akan bertemu selama-lamanya. Setiap waktu, bulan Ramadhan telah menyapa kita
tentang arti perpisahan. Tapi kita tidak menyadarinya. Nikmatnya air es campur
dan rendang telah membuat kita terlena pesan-pesan perpisahan tersebut. Bulan Ramadhan
adalah seorang sahabat yang telah menyediakan segala fasilitas terbaiknya. Mulai
dari fasilitas pahala kelas VIP, ampunan, dan rahmat Allah tidak bertepi. Tapi,
kita terlalu cuek. Fasilitas tersebut sering dilupakan. Seolah-olah fasilitas
tersebut bisa didapat kapan-kapan saja atau bisa didapat di bulan Ramadhan yang
akan datang. Padahal belum tentu. Mungkin fasilitas bulan ini adalah fasilitas
terindah dan tidak akan datang lagi di masa mendatang.
Bulan Ramadhan terlalu merindukan mu. Ia sangat
mencintai mu. Tapi kamu tidak memahami arti cinta nya kepada mu. Ia sedih
melihat mu dan sedih melihat ketidakcerdasanmu menterjemahkan arti cintanya
kepada mu.
Kini, bulan Ramadhan sedang berpamitan
kepada mu. Tapi kamu malah tidur dan bermain HP serta menghabiskan umur hanya
untuk melakukan yang tidak bermanfaat. Bulan Ramadhan sudah tidak lagi bisa
berkata apa-apa. Ia hanya titip kepada mu tentang doa dari nabi, semoga kamu bisa
bertemu dengan bulan ramadhan di masa mendatang.
Apakah kita terlalu keras kepala saat
sahabat kita akan pergi selamanya. Kepergiannya adalah penderitaan kita,
sedetik waktu yang telah berlalu adalah jatah kehidupan kita telah hilang. Satu
menit, satu jam, satu hari, satu minggu dan bulan. Hanya doa kebaikan dari
bulan Ramadhan, semoga kita semakin cerdas untuk bisa menjalankan pesan-pesan
terindah dari sahabat bulan Ramadhan Ketika ia sudah tidak bersama kita lagi.
Penulis : Imam Ghozali
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119
Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   377
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870