Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sahabat Mu Bernama Ramadhan


 TAUHID

Selasa , 17 Maret 2026



Telah dibaca :  215

Jika bulan Ramadhan laksana seorang sahabat, maka terserah kamu menempatkan sebagai sahabat yang bagaimana: apakah sangat spesial, spesial atau biasa-biasa saja. Yang tahu kamu sendiri. Saya tidak tahu, sebagaimana kamu pun tidak tahu status nya di mata orang lain.

Tentang kemulyaan bulan Ramadhan, kita bisa menemukan dalam kitab suci dan pendapat para intelektual Islam atau para ahli hikmah dari kalangan kaum sufi. Seperti kata Jalaluddin Rumi: “Puasa adalah seruling, dan jiwa adalah penyanyinya. Kosongkan perutmu, maka jiwamu akan bernyanyi merdu menembus cakrawala”.

Puasa adalah simbol cinta kepada Allah. Orang yang sedang jatuh cinta selalu membutuhkan kasih sayang dari orang yang dicintainya. Laksana seorang sedang berpuasa, ia sangat haus dan lapar. Ia membutuhkan minuman dan makanan agar dirinya bisa tenang. Sebab orang-orang yang merindukan sesuatu, akan terobati ketika yang dirindui berada di sampingnya.

Puasa telah menjernihkan jiwa. Dari nya, jiwa bisa melihat secara jernih lorong-lorong menuju kepada keridhaan-Nya. Ia asyik berdansa dan menikmati indahnya lagu-lagu cinta laksana suara seruling yang membuat jiwa bahagia terbang bersama Sang Kekasih. Puasa mempertajam kehalusan jiwa dan ketajaman pikiran serta kelembutan rasa. Orang yang berpuasa akan menemukan pandangan-pandangan surgawi di balik tumpukan-tumpukan barang-barang duniawi yang beragam wujud. Orang yang sudah jatuh cinta, semua berubah menjadi terasa indah.

Apakah saya atau anda bisa memahami makna puasa sedemikian mendalam sebagaimana yang dikatakan oleh Rumi? Terserah. Tuhan tidak memaksa pemahaman kita tentang puasa sama sebagaimana pemahaman para sahabat, tabi’in atau kaum sufi. Terserah pemahaman kamu sedangkal apapun tentang puasa tidak masalah. Sah-sah saja. Wong kita sendiri yang melaksanakanya kok.

Tapi ingat, sebagaimana saya katakan bahwa puasa seperti seorang sahabat. Tidak peduli, apakah sahabat tersebut sangat spesial, spesial atau tidak sama sekali. Puasa akan meninggalkanmu, kami dan kita. Ia meninggalkan secara pelan tapi pasti. Setiap langkah ia tidak akan kembali. Puasa berjalan secara pelan-pelan. Dari detik, menit, jam, dan hari. Terus berjalan dari minggu ke bulan. Begitu seterusnya. Bahkan puasa hari ini, tidak akan bertemu lagi di masa mendatang. Puasa benar-benar seorang sahabat yang sudah benar-benar menyatakan kata bahwa “Kami akan berpisah selamanya”.

Puasa atau bulan Ramadhan tahun ini tidak akan bertemu selama-lamanya. Setiap waktu, bulan Ramadhan telah menyapa kita tentang arti perpisahan. Tapi kita tidak menyadarinya. Nikmatnya air es campur dan rendang telah membuat kita terlena pesan-pesan perpisahan tersebut. Bulan Ramadhan adalah seorang sahabat yang telah menyediakan segala fasilitas terbaiknya. Mulai dari fasilitas pahala kelas VIP, ampunan, dan rahmat Allah tidak bertepi. Tapi, kita terlalu cuek. Fasilitas tersebut sering dilupakan. Seolah-olah fasilitas tersebut bisa didapat kapan-kapan saja atau bisa didapat di bulan Ramadhan yang akan datang. Padahal belum tentu. Mungkin fasilitas bulan ini adalah fasilitas terindah dan tidak akan datang lagi di masa mendatang.

Bulan Ramadhan terlalu merindukan mu. Ia sangat mencintai mu. Tapi kamu tidak memahami arti cinta nya kepada mu. Ia sedih melihat mu dan sedih melihat ketidakcerdasanmu menterjemahkan arti cintanya kepada mu.

Kini, bulan Ramadhan sedang berpamitan kepada mu. Tapi kamu malah tidur dan bermain HP serta menghabiskan umur hanya untuk melakukan yang tidak bermanfaat. Bulan Ramadhan sudah tidak lagi bisa berkata apa-apa. Ia hanya titip kepada mu tentang doa dari nabi, semoga kamu bisa bertemu dengan bulan ramadhan di masa mendatang.

Apakah kita terlalu keras kepala saat sahabat kita akan pergi selamanya. Kepergiannya adalah penderitaan kita, sedetik waktu yang telah berlalu adalah jatah kehidupan kita telah hilang. Satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu dan bulan. Hanya doa kebaikan dari bulan Ramadhan, semoga kita semakin cerdas untuk bisa menjalankan pesan-pesan terindah dari sahabat bulan Ramadhan Ketika ia sudah tidak bersama kita lagi.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   109

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   119

Cahaya Terkabulnya Doa Di Malam Senin
19 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   377

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870