
Entah kenapa, hari ini penyakit malas ku
kambuh. Padahal tugas menumpuk. Ada dua draf buku yang belum diedit. Juga, ada dua
draf artikel yang belum selesai dikerjakan. Numpuk. Padahal dari kos-kosan
sudah punya target positif. Semangat 45. Niat sudah bulat: “Hari ini, draf
artikel harus selesai.” Sungguh penyakit al-kaslanu benar-benar telah
mencuri waktu ku untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan sampai kapan saya akan
terus begini?.
Saya menghibur diri. Buka HP. Ada sebuah
kisah yang membuatku hampir meneteskan air mata. Kisah kehidupan manusia. Yang
sebenarnya sudah terjadi ratusan ribu manusia atau bahkan jutaan manusia pernah
mengalami nya. Namun karena kisah tersebut hadir pada moment tepat. Seolah-olah
sangat klop dengan suasana batin ku yang lagi tidak menentu. Saya hanya berdoa,
semoga saya, anda dan kita selalu mendapatkan jalan terbaik dalam setiap
aktivitas atau pekerjaan.
Saya menghibur diri. Cari lagi
cerita-cerita kehidupan. Alhamdulillah dapat. Kisah seorang bapak dari kampung.
Namanya Riyan. Ia mendapatkan penghargaan dari mui. Berikut ceritanya:
“Di sebuah desa di Kudus, Jawa Tengah,
hidup seorang ulama yang kesehariannya nyaris tak berbeda dengan warga biasa.
Namanya Supriyanto, lebih dikenal sebagai Mbah Riyan. Sebelum dikenal luas, ia
menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta dan lulus pada 2013. Sejak menjadi
mahasiswa, ia dikenal memiliki ketelitian luar biasa dalam bidang tahqiq kitab,
sehingga kemampuan akademiknya mendapat apresiasi tinggi dari para dosen”.
“Selepas kuliah, Mbah Riyan mengabdikan
diri mengajar dan mengelola perpustakaan pesantren di Sukabumi. Di tengah
ribuan koleksi kitab, malam-malamnya dihabiskan untuk menulis, meneliti, dan
mentahqiq manuskrip ulama. Dari rutinitas itu lahirlah puluhan karya ilmiah,
yang kemudian berkembang menjadi lebih dari seratus kitab, sebagian bahkan
diterbitkan di luar negeri. Fokus utamanya adalah menghidupkan kembali warisan
intelektual ulama Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman”.
“Sekembalinya ke Kudus, beliau memilih
hidup sederhana. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai pekerja serabutan, bahkan
kuli bangunan, daripada seorang ulama dan penulis produktif. Beliau juga
dikenal sangat menjaga kemasturan diri, tidak mengejar popularitas, dan lebih
ingin agar karya-karyanya dikenal daripada namanya sendiri. Bahkan ketika
memperoleh penghargaan dari MUI, beliau dikabarkan memilih tidak menghadiri
acara tersebut. Sosok Mbah Riyan menjadi pengingat bahwa kemuliaan ilmu tidak
selalu berjalan beriringan dengan ketenaran, melainkan dengan keikhlasan dalam
berkarya dan mengabdi”.
Cerita ini rasa-rasanya seperti sebuah vitamin.
Saya mencoba merenung tentang apa yang terjadi pada diriku. Mungkin saya masih
terlalu berharap pada pujian manusia. mungkin saya masih terlalu berfikir primitif
tentang makna keagungan, kehebatan, jabatan dan pujian.
Saya belajar dari mbah Riyan, bahwa
kebaikan sejati bukan siapa diri kita, kebaikan sejati tentang apa yang bisa kita
sumbangkan untuk kemaslahatan orang banyak.
Kita mungkin sering terjebak pada egoisme
diri tentang segala persoalan dan aktivitas yang telah menyita waktu. Seolah-olah
semua itu menyebabkan diri kita terbelenggu dalam rutinitas yang tiada henti. Akhirnya
kita letih, lelah dan menyerah.
Namun kita juga harus belajar melihatnya
dari sisi positif. Tuhan menghadirkan setiap kejadian tidak ada yang batil. Semua
peristiwa dan segala kejadian yang menimpa diri kita adalah kebaikan dengan
wajah-wajah yang beragam. Prasangka yang demikian ini sebagai bagian bahwa
proses kehidupan yang selalu berprinsip bahwa semua sudah diatur oleh Allah
swt.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   274
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   257
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   231
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   136
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   161
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14107
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5188
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5154
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4405
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3865