Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

377 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Energi Spiritual Mbah Riyan


 TAUHID

Rabu , 29 Juli 2026



Telah dibaca :  81

Entah kenapa, hari ini penyakit malas ku kambuh. Padahal tugas menumpuk. Ada dua draf buku yang belum diedit. Juga, ada dua draf artikel yang belum selesai dikerjakan. Numpuk. Padahal dari kos-kosan sudah punya target positif. Semangat 45. Niat sudah bulat: “Hari ini, draf artikel harus selesai.” Sungguh penyakit al-kaslanu benar-benar telah mencuri waktu ku untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan sampai kapan saya akan terus begini?.

Saya menghibur diri. Buka HP. Ada sebuah kisah yang membuatku hampir meneteskan air mata. Kisah kehidupan manusia. Yang sebenarnya sudah terjadi ratusan ribu manusia atau bahkan jutaan manusia pernah mengalami nya. Namun karena kisah tersebut hadir pada moment tepat. Seolah-olah sangat klop dengan suasana batin ku yang lagi tidak menentu. Saya hanya berdoa, semoga saya, anda dan kita selalu mendapatkan jalan terbaik dalam setiap aktivitas atau pekerjaan.

Saya menghibur diri. Cari lagi cerita-cerita kehidupan. Alhamdulillah dapat. Kisah seorang bapak dari kampung. Namanya Riyan. Ia mendapatkan penghargaan dari mui. Berikut ceritanya:

“Di sebuah desa di Kudus, Jawa Tengah, hidup seorang ulama yang kesehariannya nyaris tak berbeda dengan warga biasa. Namanya Supriyanto, lebih dikenal sebagai Mbah Riyan. Sebelum dikenal luas, ia menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta dan lulus pada 2013. Sejak menjadi mahasiswa, ia dikenal memiliki ketelitian luar biasa dalam bidang tahqiq kitab, sehingga kemampuan akademiknya mendapat apresiasi tinggi dari para dosen”.

“Selepas kuliah, Mbah Riyan mengabdikan diri mengajar dan mengelola perpustakaan pesantren di Sukabumi. Di tengah ribuan koleksi kitab, malam-malamnya dihabiskan untuk menulis, meneliti, dan mentahqiq manuskrip ulama. Dari rutinitas itu lahirlah puluhan karya ilmiah, yang kemudian berkembang menjadi lebih dari seratus kitab, sebagian bahkan diterbitkan di luar negeri. Fokus utamanya adalah menghidupkan kembali warisan intelektual ulama Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman”.

“Sekembalinya ke Kudus, beliau memilih hidup sederhana. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai pekerja serabutan, bahkan kuli bangunan, daripada seorang ulama dan penulis produktif. Beliau juga dikenal sangat menjaga kemasturan diri, tidak mengejar popularitas, dan lebih ingin agar karya-karyanya dikenal daripada namanya sendiri. Bahkan ketika memperoleh penghargaan dari MUI, beliau dikabarkan memilih tidak menghadiri acara tersebut. Sosok Mbah Riyan menjadi pengingat bahwa kemuliaan ilmu tidak selalu berjalan beriringan dengan ketenaran, melainkan dengan keikhlasan dalam berkarya dan mengabdi”.

Cerita ini rasa-rasanya seperti sebuah vitamin. Saya mencoba merenung tentang apa yang terjadi pada diriku. Mungkin saya masih terlalu berharap pada pujian manusia. mungkin saya masih terlalu berfikir primitif tentang makna keagungan, kehebatan, jabatan dan pujian.

Saya belajar dari mbah Riyan, bahwa kebaikan sejati bukan siapa diri kita, kebaikan sejati tentang apa yang bisa kita sumbangkan untuk kemaslahatan orang banyak.

Kita mungkin sering terjebak pada egoisme diri tentang segala persoalan dan aktivitas yang telah menyita waktu. Seolah-olah semua itu menyebabkan diri kita terbelenggu dalam rutinitas yang tiada henti. Akhirnya kita letih, lelah dan menyerah.

Namun kita juga harus belajar melihatnya dari sisi positif. Tuhan menghadirkan setiap kejadian tidak ada yang batil. Semua peristiwa dan segala kejadian yang menimpa diri kita adalah kebaikan dengan wajah-wajah yang beragam. Prasangka yang demikian ini sebagai bagian bahwa proses kehidupan yang selalu berprinsip bahwa semua sudah diatur oleh Allah swt.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   274

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   257

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   231

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   136

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   161

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14107


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5188


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5154


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3865