Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

387 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Buah Delima: 1 jadi 10


 TAUHID

Jumat , 14 Agustus 2026



Telah dibaca :  96

Cuaca yang sedang panas ini sebenarnya ingin mengeluh. Tapi buat apa mengeluh. Toh semua sudah desain Allah. Saya jadi khawatir ‘jangan-jangan tidak ridha atas qadha dan qadhar dari Allah SWT.

Untuk menghibur diri, saya tulis suatu kisah tentang ‘rezeki mengejar” Ali bin Abi Thalib. Berikut ceritanya:

Suatu hari, Fatimah Az-Zahra sakit. Hingga ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ali bin Abi Thalib sudah memberi beberapa makanan dan minuman. Ia tidak selera. Karena kondisi semakin memburuk, Ali memohon agar perutnya diisi dengan beberapa suap makanan agar sakit tidak bertambah parah.

Fatimah pun berkata: “Wahai sayang ku, tolong belikan delima. Rasa nya sungguh terasa nikmat dalam angan-angan ku”.

Ali pun bergegas pergi ke Pasar. Ia membeli satu buah delima. Setelah membeli, ia langsung bergegas pulang. Namun di tengah perjalanan bertemu orang miskin yang sedang kelaparan. Ia pun meminta belas kasihan. Akhirnya delima itupun diberikan kepada pengemis tersebut.

Ali pulang tidak membawa buah delima. Ketika suaminya tidak membawa apa yang diinginkan, fatimah pun menangis. Ali merasa serba salah. Ia pun keluar rumah dengan tujuan akan membeli delima ke Pasar.

Di tengah jalan bertemu dengan Salman Al-Farisi. Ia membawa buah delima. Kata nya: “Wahai Ali, ini ada buah delima dari Rasulullah saw”.

Ali menghitung. Ada 9 buah delima di nampan. Dia pun tidak menerimanya. Bukan karena menolak rezeki tersebut. tapi jumlah tersebut tidak sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa “orang yang membantu satu kebaikan akan dibalas sepuluh kebaikan”.

Salman Al-Farisi tersenyum. Ia pun mengeluarkan satu Delima kepada Ali hingga berjumlah 10 delima. Ali pun tersenyum dan pulang menemui Fatimah dengan membawa10 buah delima.

Kisah di atas mirip kejadianku tadi malam. Malam itu saya teringat ada seseorang ibu yang anak nya sedang sakit. Entah kenapa hatiku tergerak untuk membahagiakan nya. Secara spontanitas saya memberi nya Rp. 100.000,00-seratus ribu rupiah. Selesai memberi nya, saya pun jalan-jalan dengan anak ku membeli minyak wangi dan jajan di Mini Market.

Setelah sholat dhuha sekitar jam 09.15 menit, saya membuka laptop. Seperti biasa: menulis. Belum sempat menulis, ada seorang hamba allah menelpon ku. Dia tanya apakah saya berada di rumah. Saya menjawab kepadanya bahwa pagi ini saya berada di rumah.

Hamba Allah tersebut datang ke Rumah. Saya menyiapkan kueh donat dan buah melon dingin yang sudah diiris-iris kecil. Sisa belanja tadi malam. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, dia pun mengatakan bahwa kedatangan nya ke rumah ku tiada lain ingin bersedekah uang. Berapa jumlah nya? 1 juta rupiah.

Subhanallah. Saya jadi teringat sedekah tadi malam: seratus ribu. Pagi ini Allah membalas 10X lipat: 1 juta rupiah.

Sepenggal kisah dan pengalaman pribadi ini tentu bukan menyamakan status seseorang. Sungguh sangat su’ul adab jika disamakan saya dengan sahabat yang tercinta Nabi Muhammad SAW.

Namun kisah tersebut di atas adalah suatu bukti bahwa kebenaran sunnah Nabi bukan terbatas pada masa nya, tetapi melintasi sepanjang  masa. Siapapun yang berbuat baik, apakah pendosa atau tidak, muslim atau tidak selalu saja akan mendapatkan balasan kebaikan yang stimpal.

Saya-dan tentu saja mungkin anda-pernah berbuat baik dan merasa ‘tidak’ mendapatkan balasan apa-apa berkaitan dengan rezeki dalam wujud harta. Pada saat itu sebenarnya Allah telah bekerja dan membalas rezeki dalam bentuk lain. Bisa jadi rezeki ditukar dalam bentuk kesehatan, mendapatkan keturunan, dan kebahagiaan lahir dan batin. Tapi kadang kita tidak menyadarinya.

Tidak mengapa kita tidak menyadarinya. Tapi kita harus tetap berprinsip dalam hidup bahwa kita sekuat tenaga selalu menanam kebaikan. Apapun yang bis akita lakukan. Mungkin hari ini kita tidak memanen kebaikan tersebut. bisa jadi nanti anak-anak kita atau cucu-cucu kita yang akan menanam kebaikan. Dari sini bukti bahwa kebaikan tidak akan tertukar dengan kejelekan sampai kapan pun. Kebaikan akan dibalas kebaikan. Begitu juga sebaliknya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2760

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   279

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   264

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   242

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   143

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14217


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5632


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5217


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4096