
Setelah melakukan aktifitas mengajar dua
lokal -Prodi HKI dan HTN-saya melanjutkan rapat tim integritas. Pembahasan berkaitan
tentang kenaikan jabatan fungsional para dosen. Sebelum berangkat, saya
sempatkan dulu sarapan nasi goreng bersama teman-teman dosen fakultas FSEI di
ruang prodi. Enak sekali. Terima kasih.
Saya mengikuti rapat tim intergritas
campur. Separo ofline separo lagi online. Selesai sekitar jam 10.00.
Baru masuk di ruang kerja, dosen muda
berbakat pak Zulfikar menemuiku dan
memberi kabar jurnal nya telah terbit. Sinta 1, tapi belum scopus. Tidak lama
kemudian, datang staf FSEI mengantarkan berkas kerjasama antara fakultas FSEI dengan Universitas Islam Tribakti Lirboyo. Terlihat agak sibuk. Terima kasih Tuhan telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati kegiatan tugas yang
engkau amanahkan kepada ku. Semoga menjadi bagian cinta ku kepada-Mu ya rabbal ‘alamin.
Jam 10.45 ruangan terlihat sepi. Saya membuka dan membaca buku berjudul “The Power of Now, Pedoman Menuju Pencerahan Spiritual” karya Eckhart
tolle. Tulisan cukup bagus dalam upaya mengungkap jati diri sebagai seorang
manusia. Tentu saja saya sebagai pembaca menikmati tulisannya. Meskipun tidak
semua saya setuju terhadap pemahamannya-karena mungkin ada perbedaan madzhab
atau ideologi-, namun saya pun harus jujur menerima kebaikan-kebaikan dari
tulisan-tulisan yang ada dalam buku tersebut. saya harus belajar mengakui dan
mengambil kebaikan darimanapun datangnya. Mutiara di tempat manapun tetap Mutiara.
Dan tidak ada persoalan jika ia diambil sebagai jalan untuk memperhias diri
semakin lebih baik lagi.
Buku yang baik datang dari renungan jiwa
yang bersih. Buku yang baik adalah catatan spiritual sang penulis tentang
kejujuran melihat realita diri dan kemudian memberikan suatu jawaban-jawaban
dalam menyelesaikan suatu persoalan hidupnya. Ini yang kemudian buku Eckhart Tolle
perlu mendapatkan apresiasi yang luarbiasa.
Dalam mukadimah nya, dia mengutip tentang
perjalanan hidup nya yang kurang beruntung. Saya merasa sangat perlu untuk
menulisnya dalam artikel ini:
“Sampai usia 13 tahun, saya hidup dalam
kecemasan yang nyaris berlangsung terus-menerus diselingi dengan saat-saat
ingin bunuh diri akibat depresi. Sekarang rasa-rasanya seolah-olah sedang
berbicara tentang beberapa saat dalam kehidupan di waktu lampau atau kehidupan
orang lain.”
“Suatu malam, tidak lama setelah ulang
tahun ke-29, saya terbangung tengah malam dengan perasaan takut luar biasa. Sebelumnya,
saya pernah berkali-kali dengan perasaan yang sama, tetapi kali ini rasanya
lebih kuat daripada sebelumnya. Keheningan malam, bentuk perabotan yang tampak
samar-samar di kamar yang gelap, deru kereta api yang sedang melaju di
kejauhan-segala sesuatu terasa begitu asing. Begitu bermusuhan dan sangat tidak
bermakna, sehingga menciptakan kebencian yang mendalam di dalam diri saya terhadap
dunia ini. Namun, hal yang paling saya benci dari semuannya adalah keberadaan
saya. Apa gunanya melanjutkan kehidupan dengan beban yang menyengsarakan ini? Saya
merasakan keinginan mendalam untuk bunuh diri, untuk tidak eksis, dan sekarang
perasaan itu telah menjadi lebih kuat daripada hasrat naluriah untuk melanjutkan
kehidupan.”
“Saya menyadari bahwa beratnya tekanan
penderitaan pada malam itu telah memaksa kesadaran untuk keluar dari indentitas
diri dengan ketidakbahagiaan dan ketakutan yang mendalam. Penarikan diri ini
harus tuntas sehingga penderitaan diri yang palsu ini dapat segera hancur, sama
seperti sumbat yang ditarik dari mainan yang dapat ditiup. Yang tersisa
kemudian adalah sifat sejati saya yang selalu hadir. Aku ada: kesadaaran dalam
keadaannya yang murni sebelum tercemar oleh identifikasi diri dengan berbagai
bentuk. Kemudian, saya juga belajar memasuki alam tanpa batas waktu dan tanpa
kematian yang pada awalnya saya rasakan sebagai sebuah kehampan dan tetap
tersadar sepenuhnya”.
Kisah kehidupan tersebut terlihat sangat
kelam dan mengerikan. Terlihat sangat menyedikah sekali.
Kita yang sering merasa paling menderita
ternyata ada jutaan orang di sana yang mempunyai penderitaan lebih hebat dibanding
diri kita. Namun kenyataan kita dalam kehidupan sehari-hari sering memposisikan
diri sebagai manusia yang paling menderita sehingga kita tidak bisa berbuat
apa-apa dan hidup penuh keputus-asaan.
Kadang dalam hati yang paling dalam
berkata: “Kenapalah penderitaan ini atau penyakit ini harus ada pada diri ku”.
“Kenapalah aku hidup harus menanggung penderitaan sepanjang hayat”.”Kenapalah
saya tidak berhak mendapatkan kebahagiaan sebagaimana orang lain?”.
Saya teringat ayah ku-semoga Allah
menempatkannya di surga-Nya-ketika saya mendapatkan ujian hidup dengan
penderitaan yang sangat mengerikan selama hampir tiga bulan tanpa jeda. Saya meminta
nasehat dan doa kepada nya. Ayah ku menjawab dengan kalimat singkat dan padat: “
Mam, nampak nya kamu sudah lama tidak benar-benar “dzikir kepada Allah”, dan
terlalu asyik urusan selain dengan-Nya. Coba perbaiki dzikir nya, maka seluruh
persoalan hidup akan selesai dengan baik”.
Saya kemudian belajar melihat diri. Lalu saya
membaca dzikir. Namun persoalan tidak juga kunjung selesai. Namun saya tidak
berani menyalahkan saran orang tuaku sendiri: ayah ku. Saya mencoba memahami makna dzikir dari
dimensi lain, yaitu dimensi spiritual.
Saya mencoba menterjemahkan kata “dzikir”
sebagai kesadaran total tentang “sangkan paraning dumadi”-tentang asal
usul kita dan akan kemana kita hidup. Saya mencoba memahama dzikir sebagai
jalan untuk “sumeleh”-menyandarkan diri sepenuh nya kepada Allah SWT. Saya
terus berlatih untuk bisa menikmati keindahan hidup dalam tumpukan penderitaan,
sakit yang berkepanjangan dan dan persoalan yang selalu datang silih berganti.
Setelah saya melakukan hal tersebut sesuai
dengan kemampuan ku yang sangat dangkal ini, saya pun mendapatkan suatu
kedamaian diri. Saya mendapatkan ketenangan. Pikiranku tenang, hati ku damai
dan melihat semua kejadian dengan kacamata positif kepada Allah SWT.
Saya kemudian merasakan ada sesuatu yang
baru. Berbagai penyakit yang menimpa keluarga bisa sembuh. Begitu juga diriku
pada saat itu. saya benar-benar menemukan kebahagiaan pada masa itu.
kebahagiaan sejati. Saya rasa begitu.
Kisah Eckhart Tolle dan saya adalah kisah
dari butiran debu di antara kisah yang lebih hebat dan menginspirasi. Apapun buku-buku
inspiratif tentang pola membangun diri menjadi lebih baik tetap berujung pada
adanya perubahan diri semakin lebih berkwalitas diri.
Persoalan bukan pada orang lain, tapi pada
diri sendiri. Diri kita ada dua komponen: jiwa dan raga. Allah menganugerahi
akal pikiran agar bisa mengendalikan jiwa dan raga menjadi semakin merasa
nikmat akan kehadiran Allah pada diri kita dengan kondisi apa adanya diri kita
sendiri. Sebab kita hakikatnya adalah milik-Nya.
Jika kita lagi bahagia, Allah akan hadir
melihat proses kebahagiaan kita dengan syukur kepada-Nya. Jika kita sedang
sakit, Allah pun akan hadir penuh dengan senyum melihat kualitas kemampuan kita
merawat titipan Allah dengan sebaik-baik nya dengan ketulusan hati yang paling
dalam.
Pola hidup demikian ini yang kemudian Allah
mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Sehingga kesumpegan hati, kegelapan jiwa
dan pikiran bisa hilang pada diri kita. Kita
benar-benar menemukan kebahagiaan. Pada saat kondisi terang jiwa, pikiran dan
hati, maka saat itulah tirai-tirai penyakit-bahkan bisa jadi penyakitnya- akan
hilang dan kita menjadi manusia yang sehat lahir dan batin. Amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
15 Hari Tidak Bisa Menulis
06 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141
Cubitan Sang Kekasih
16 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   232
Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   291
Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2991
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   300
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14970
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6650
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6042
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4924
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4882