Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

386 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Urgensi Moderasi Beragama



Minggu , 27 April 2025



Telah dibaca :  351

Urgensi Moderasi Beragama

Pendahuluan

Sebelum lahir Negara Indonesia, masyarakat nusantara terdiri dari banyak suku, etnis, budaya, keyakinan dan agama. Jika ditinjau dari jumlah suku di Indonesia sebanyak 1.300 suku. Bahasa daerah sebanyak 718, Budaya daerah sebanyak 2.213 dan agama besar di Indonesia ada enam yaitu : Islam, Kristen Katolik, Prostestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Sebelum ada agama, masyarakat Indonesia sudah menganut berbagai kepercayaan seperti animisme dan dinamisme. Setelah mengalami perkembangan zaman, masyarakat Indonesia melakukan interaksi dengan bangsa dari luar negeri, lalu masuk agama-agama besar ke Indonesia. Agama Hindu masuk ke Indonesia pada abad ke-4. Salah satu bukti berdirinya Kerajaan Kutai dan Kertanegara. Agama Budha masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-5. Ini ditandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Agama Islam masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-7. Salah satu bukti yaitu perkampungan Islam di barus Sumatera barat pada tahun 674 M. lalu berdiri beberapa Kerajaan Islam di seluruh wilayah nusantara. Agama Kristen masuk ke Indonesia pada abad ke-16 dibawa oleh Bangsa Protugis pada tahun 1512. Dan Agama Konghucu masuk ke Indonesia pada abad ke-17 dengan dibuktikan bangunan tua di Pontianak sebagai tempat pemujaan Ajaran Konfusius. Semua penyebaran agama di wilayah nusantara berjalan dengan damai. Sehingga semua agama bisa berkembang subur di Indonesia. Semua penganut agama saling menghargai keberagaman tersebut (Ghozali, 2020).

Moderasi Beragama dalam Pandangan Islam

Moderasi berasal dari kata moderat mempunyai arti mengurangi atau mengontrol (M.Anzaikhan, 2023). Ini berarti moderat tidak condong ke kiri atau ke-kanan dan memilih jalan tengah dalam pemikiran dan perbuatannya. Prinsip dasar moderasi beragama yaitu adil dan seimbang dalam beragama. Adil dalam beragam berarti tidak boleh esktrem terhadap pandangannya sendiri dan harus bisa menerima pandangan beragama orang lain. Sedangkan seimbang merupakan cara pandang berkeadilan, adanya kesamaan derajat dan senantiasa menjunjung tinggi kemanusiaa (Rena Latifa, 2022).

Beberapa ayat yang mengajarkan tentang pentingnya moderasi beragam sebagai berikut:

1.   Q.S. Al-Baqarah ([2]: 143) sebagai berikut:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ

Artinya:

Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

2.   Q.S. Al-Baqarah ([2]:256) sebagai berikut:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya:

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Dari paparan di atas menunjukan bahwa agama merupakan ketetapan illahi untuk manusia. Bagi manusia yang berakal, ia mempunyai kewenangan untuk memilih agama sesuai dengan keyakinannya. Namun disisi lain, ia juga tidak boleh melakukan paksaan keyakinannya kepada orang lain dengan melakukan Tindakan-tindakan kekerasan (Ghozali, Politik Islam Nusantara Said Aqil Siraj di Media Massa, 2024).

Kebebasan manusia membuat pilihan-pilihan agama dan keyakinan tentu bukan sikap liberalisme yang tidak peduli terhadap agama. Kebebasan melakukan pilihan-pilihan juga merupakan ajaran Islam yang tidak boleh ada paksaan untuk masuk ke salah satu agama. Konsep lakum dienukum wali yadien merupakan bahwa Tuhan sebagai pencipta memberi ruang kepada manusia untuk melakukan putusan-putusan terbaiknya. Dan Tuhan memilih jalan kepada manusia untuk memilih salah satu agama yang diridhoi-Nya yaitu Islam.

Moderasi Agama dalam Kehidupan Mahasiswa

Jika dilihat sekarang, peta dunia ditandai oleh konflik-konlik dengan warna keagamaan. Meskipun agama bukanlah satu-satunya faktor, namun jelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam konflik iut dan dalam eskalasinya sangat banyak memainkan peranan. Di Irlandia terjadi pertentangan antara Katolik dan Protestan. Di Prancis terjadi pertentangan dengan imigran Islam. Di Bosnia-Herzegovina konlik beragam agama. Di Cyprus juga persoalan keagaaan antara keturunan Yunani dan Turki. Di Palestina ruwet lagi, persoalan pertentangan tiga agama besar, Islam, Yahudi dan Kristen (Madjid, Islam Agama Kemanusiaan , 2010).

Paparan tersebut menunjukan bahwa traumatik persoalan masa lalu hubungan antara agama telah menyebabkan permusuhan yang berkepanjangan. Ketidakmampuan mengelola perbedaan di tengah kebebasan beragama belum sepenuhnya bisa diterapkan di negara-negara tersebut.

Kita hidup di bumi Indonesia yang mempunyai keberagaman SARA sangat komplek. Ada beragam agama, suku, etnis dan budaya. Mereka mempunyai cara pandang hidup dan keyakinan  berbeda. Meskipun demikian, keberagaman tersebut mampu dikelola dengan baik. Salah satu penyebabnya yaitu adanya kesamaan pandangan bangsa Indonesia melalui nili-nilai universal dalam Pancasila. Ia menjadi kalimatun sawa atau titik temu persamaan di tengah-tengah perbedaan (Madjid, Islam Agama Kemanusiaan , 2010).

Kebersamaan dalam perbedaan yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa dan berhasil mewujudkan cita-cita besar berupa kemerdekaan republik Indonesia bukan berarti tidak ada ancaman diistegrasi. Ujian dan cobaan konflik antara penganut agama sering terjadi. Pemberontakan di/tii dan pemberontakan komunis di Indonesia merupakan ujian besar ancaman-ancaman tersebut. begitu juga konflik politik antara ormas-ormas agama besar dalam perjalanan politik Indonesia juga sering merembet pada pertikaian di masyarakat (Marjani, 2012).

Mahasiswa merupakan suatu komunitas thalabul ‘ilmi yang sedang membangun jati diri melalui dunia kampus. Di tempat tersebut, ia akan bertemu dengan beragama mahasiswa baik dari latarbelakang agama, suku, etnis, organisasi, status sosial dan keyakinan-keyakinan dalam pemahaman agama yang beragam. Keberagam sifat, sikap dan karakter mempunyai potensi terjadinya konflik. Apalagi jika perbedaan tersebut dibarengi dengan isu-isu sara sebagaimana tersebut di atas. maka mahasiswa yang sedang mencari jati diri akan mudah diprovokasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat bertentangan ajaran agama itu sendiri.

Pada wilayah tersebut, mahasiswa perlu ada proses perubahan menuju kedewasaan berfikir, bersikap dan memutuskan suatu perbuatan-perbuatan yang bisa dipertanggungjawabkan secara agama, hukum dan moralitas yang diyakini keberanaran dalam masyarakat. Sebab sekarang ini, banyak media online dan media massa memberi informasi tidak utuh yang mudah membuat rasa emosional muncul. Sehingga sering terjadi benturan-benturan budaya dan keyakinan yang sengaja dimanaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu agar generasi muda Indonesia lemah dan tidak mempunyai masa depan.

Dalam rangka menjaga hal tersebut, maka tradisi intelektual mahasiswa di kampus menjadi sangat penting. selain mereka belajar organisasi kemahasiswaan dan menghasah keahliaan-keahlian untuk masa depannya, juga yang tidak boleh dilupakan yaitu menghidupkan tradisi intelektual yang telah dirintis oleh para pendiri bangsa, bahkan jauh para ulama-ulama dan ilmuwan Islam pada masa lalu. Mereka dikenang sepanjang sejarah karena ada kejernihan berfikir dan menjaga kejernihan tersebut dengan merealisasikan dalam wujud ajaran-ajaran Islam yang rahmatal lil ‘alamin. Atas keberkahsan tersebut, Islam hingga saat ini terus berkembang dan menjadi agama penebar perdamaian di Tengah-tengah masyarakat dunia.

Kesimpulan

Dari paparan pembahasan di atas, mahasiswa barus perlu memahami bahwa anda telah memasuki dunia baru yang mempunyai pilihan-pilihan jalan berfikir, berorganisasi, dan jalan untuk melangkah menjadi seorang pemikir atau ilmuwan di masa depan, bahkan bisa juga menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Sejarah mencatat bahwa hanya dengan obor moderasi beragama, seorang pemimpin akan selalu dikenang sepanjang sejarah sebagai sebagai pemimpin terbaik. Itu yang telah diabadikan oleh Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah, lalu diteruskan oleh generasi sesudahnya.

Ruang Diskusi

Menurut kamu, apa urgensi moderasi beragama bagi mahasiswa. Dan apa bahaya ekstrimisme bagi masa depan agama Islam !

Daftar Pustaka

Ghozali, I. (2020). Agama, Politik dan Negara. Banyumas : CV.Rizquna.

Ghozali, I. (2024). Politik Islam Nusantara Said Aqil Siraj di Media Massa. el-buhuth:Borneo Journal of Islamic Studies.

M.Anzaikhan, F. I. (2023). Moderasi Beragama Sebagai Pemersatu Bangsa serta Peranya dalam Perguruan Tinggi. Abrahamic Religions.

Madjid, N. (2009). Cita-Cita Politik Islam. Jakarta : Paramadina.

Madjid, N. (2010). Islam Agama Kemanusiaan . Jakarta : Dian Rakyat .

Marjani, G. I. (2012). Wajah Toleransi NU. Jakarta : RMBOOKS.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Tantangan Mahasiswa Di Era Digital
27 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   492

Nasionalisme Dalam Pandangan Islam
25 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614

SAP PENGANTAR STUDI ISLAM
30 September 2023   Oleh : Imam Ghozali   735

Cara Membuat Artikel Sederhana untuk Mahasiswa
23 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   653

Kontrak Kuilah STAI NH
18 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   383

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14212


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5572


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5211


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4058