
Urgensi Moderasi Beragama
Pendahuluan
Sebelum lahir Negara Indonesia,
masyarakat nusantara terdiri dari banyak suku, etnis, budaya, keyakinan dan
agama. Jika ditinjau dari jumlah suku di Indonesia sebanyak 1.300 suku. Bahasa
daerah sebanyak 718, Budaya daerah sebanyak 2.213 dan agama besar di Indonesia
ada enam yaitu : Islam, Kristen Katolik, Prostestan, Hindu, Budha, dan
Konghucu.
Sebelum ada agama, masyarakat
Indonesia sudah menganut berbagai kepercayaan seperti animisme dan dinamisme.
Setelah mengalami perkembangan zaman, masyarakat Indonesia melakukan interaksi
dengan bangsa dari luar negeri, lalu masuk agama-agama besar ke Indonesia. Agama
Hindu masuk ke Indonesia pada abad ke-4. Salah satu bukti berdirinya Kerajaan Kutai
dan Kertanegara. Agama Budha masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-5.
Ini ditandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Agama Islam masuk ke
Indonesia diperkirakan pada abad ke-7. Salah satu bukti yaitu perkampungan Islam
di barus Sumatera barat pada tahun 674 M. lalu berdiri beberapa Kerajaan Islam
di seluruh wilayah nusantara. Agama Kristen masuk ke Indonesia pada abad ke-16
dibawa oleh Bangsa Protugis pada tahun 1512. Dan Agama Konghucu masuk ke
Indonesia pada abad ke-17 dengan dibuktikan bangunan tua di Pontianak sebagai
tempat pemujaan Ajaran Konfusius. Semua penyebaran agama di wilayah nusantara
berjalan dengan damai. Sehingga semua agama bisa berkembang subur di Indonesia.
Semua penganut agama saling menghargai keberagaman tersebut
Moderasi Beragama dalam Pandangan
Islam
Moderasi berasal dari kata moderat
mempunyai arti mengurangi atau mengontrol
Beberapa ayat yang mengajarkan
tentang pentingnya moderasi beragam sebagai berikut:
1.
Q.S.
Al-Baqarah ([2]: 143) sebagai berikut:
وَكَذٰلِكَ
جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ
وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ
Artinya:
Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat
pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul
(Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
2.
Q.S.
Al-Baqarah ([2]:256) sebagai berikut:
لَآ اِكْرَاهَ
فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ
بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ
الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya:
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya
telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang
siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah
berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha
Mendengar, Maha Mengetahui.
Dari paparan di
atas menunjukan bahwa agama merupakan ketetapan illahi untuk manusia. Bagi
manusia yang berakal, ia mempunyai kewenangan untuk memilih agama sesuai dengan
keyakinannya. Namun disisi lain, ia juga tidak boleh melakukan paksaan
keyakinannya kepada orang lain dengan melakukan Tindakan-tindakan kekerasan
Kebebasan
manusia membuat pilihan-pilihan agama dan keyakinan tentu bukan sikap liberalisme
yang tidak peduli terhadap agama. Kebebasan melakukan pilihan-pilihan juga
merupakan ajaran Islam yang tidak boleh ada paksaan untuk masuk ke salah satu
agama. Konsep lakum dienukum wali yadien merupakan bahwa Tuhan sebagai
pencipta memberi ruang kepada manusia untuk melakukan putusan-putusan
terbaiknya. Dan Tuhan memilih jalan kepada manusia untuk memilih salah satu
agama yang diridhoi-Nya yaitu Islam.
Moderasi Agama dalam Kehidupan Mahasiswa
Jika dilihat sekarang, peta dunia ditandai oleh konflik-konlik
dengan warna keagamaan. Meskipun agama bukanlah satu-satunya faktor, namun
jelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam konflik iut dan dalam
eskalasinya sangat banyak memainkan peranan. Di Irlandia terjadi pertentangan
antara Katolik dan Protestan. Di Prancis terjadi pertentangan dengan imigran Islam.
Di Bosnia-Herzegovina konlik beragam agama. Di Cyprus juga persoalan keagaaan
antara keturunan Yunani dan Turki. Di Palestina ruwet lagi, persoalan pertentangan
tiga agama besar, Islam, Yahudi dan Kristen
Paparan tersebut menunjukan bahwa traumatik persoalan masa lalu
hubungan antara agama telah menyebabkan permusuhan yang berkepanjangan. Ketidakmampuan
mengelola perbedaan di tengah kebebasan beragama belum sepenuhnya bisa
diterapkan di negara-negara tersebut.
Kita hidup di bumi Indonesia yang mempunyai keberagaman SARA sangat
komplek. Ada beragam agama, suku, etnis dan budaya. Mereka mempunyai cara
pandang hidup dan keyakinan berbeda. Meskipun
demikian, keberagaman tersebut mampu dikelola dengan baik. Salah satu
penyebabnya yaitu adanya kesamaan pandangan bangsa Indonesia melalui nili-nilai
universal dalam Pancasila. Ia menjadi kalimatun sawa atau titik temu
persamaan di tengah-tengah perbedaan
Kebersamaan dalam perbedaan yang telah dibangun oleh para pendiri
bangsa dan berhasil mewujudkan cita-cita besar berupa kemerdekaan republik Indonesia
bukan berarti tidak ada ancaman diistegrasi. Ujian dan cobaan konflik antara penganut
agama sering terjadi. Pemberontakan di/tii dan pemberontakan komunis di Indonesia
merupakan ujian besar ancaman-ancaman tersebut. begitu juga konflik politik
antara ormas-ormas agama besar dalam perjalanan politik Indonesia juga sering
merembet pada pertikaian di masyarakat
Mahasiswa merupakan suatu komunitas thalabul ‘ilmi yang
sedang membangun jati diri melalui dunia kampus. Di tempat tersebut, ia akan
bertemu dengan beragama mahasiswa baik dari latarbelakang agama, suku, etnis,
organisasi, status sosial dan keyakinan-keyakinan dalam pemahaman agama yang
beragam. Keberagam sifat, sikap dan karakter mempunyai potensi terjadinya
konflik. Apalagi jika perbedaan tersebut dibarengi dengan isu-isu sara
sebagaimana tersebut di atas. maka mahasiswa yang sedang mencari jati diri akan
mudah diprovokasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat bertentangan
ajaran agama itu sendiri.
Pada wilayah tersebut, mahasiswa perlu ada proses perubahan menuju
kedewasaan berfikir, bersikap dan memutuskan suatu perbuatan-perbuatan yang
bisa dipertanggungjawabkan secara agama, hukum dan moralitas yang diyakini
keberanaran dalam masyarakat. Sebab sekarang ini, banyak media online dan media
massa memberi informasi tidak utuh yang mudah membuat rasa emosional muncul.
Sehingga sering terjadi benturan-benturan budaya dan keyakinan yang sengaja
dimanaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu agar generasi muda Indonesia lemah
dan tidak mempunyai masa depan.
Dalam rangka menjaga hal tersebut, maka tradisi intelektual
mahasiswa di kampus menjadi sangat penting. selain mereka belajar organisasi
kemahasiswaan dan menghasah keahliaan-keahlian untuk masa depannya, juga yang
tidak boleh dilupakan yaitu menghidupkan tradisi intelektual yang telah
dirintis oleh para pendiri bangsa, bahkan jauh para ulama-ulama dan ilmuwan
Islam pada masa lalu. Mereka dikenang sepanjang sejarah karena ada kejernihan
berfikir dan menjaga kejernihan tersebut dengan merealisasikan dalam wujud
ajaran-ajaran Islam yang rahmatal lil ‘alamin. Atas keberkahsan
tersebut, Islam hingga saat ini terus berkembang dan menjadi agama penebar
perdamaian di Tengah-tengah masyarakat dunia.
Kesimpulan
Dari paparan pembahasan di atas, mahasiswa barus perlu memahami
bahwa anda telah memasuki dunia baru yang mempunyai pilihan-pilihan jalan
berfikir, berorganisasi, dan jalan untuk melangkah menjadi seorang pemikir atau
ilmuwan di masa depan, bahkan bisa juga menjadi pemimpin-pemimpin di masa
depan. Sejarah mencatat bahwa hanya dengan obor moderasi beragama,
seorang pemimpin akan selalu dikenang sepanjang sejarah sebagai sebagai
pemimpin terbaik. Itu yang telah diabadikan oleh Nabi Muhammad dalam Piagam
Madinah, lalu diteruskan oleh generasi sesudahnya.
Ruang Diskusi
Menurut kamu, apa urgensi moderasi beragama bagi mahasiswa. Dan apa
bahaya ekstrimisme bagi masa depan agama Islam !
Daftar Pustaka
Ghozali, I. (2020). Agama, Politik dan Negara. Banyumas :
CV.Rizquna.
Ghozali, I. (2024). Politik Islam Nusantara Said Aqil Siraj di
Media Massa. el-buhuth:Borneo Journal of Islamic Studies.
M.Anzaikhan, F. I. (2023). Moderasi Beragama Sebagai Pemersatu
Bangsa serta Peranya dalam Perguruan Tinggi. Abrahamic Religions.
Madjid, N. (2009). Cita-Cita Politik Islam. Jakarta : Paramadina.
Madjid, N. (2010). Islam Agama Kemanusiaan . Jakarta : Dian Rakyat
.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Tantangan Mahasiswa Di Era Digital
27 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   492
Nasionalisme Dalam Pandangan Islam
25 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614
SAP PENGANTAR STUDI ISLAM
30 September 2023   Oleh : Imam Ghozali   735
Cara Membuat Artikel Sederhana untuk Mahasiswa
23 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   653
Kontrak Kuilah STAI NH
18 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   383
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14212
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5572
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5211
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4551
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4058