Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dasar dan Jenis Ilmu Pengetahuan-Pertemuan Keempat



Rabu , 02 Maret 2022



Telah dibaca :  369

Dasar dan Jenis Ilmu Pengetahuan

Hakikat Dasar dan Jenis Ilmu Pengetahuan

Dasar ilmu pengetahuan seara substansial yaitu bertolak dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga dasar ilmu pengetahuan ini menunjukkan bahwa manusia dalam hidupnya harus dapat memahmi apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukann hal itu, dan untuk apa hal itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia harus dapat membedakan antara hal-hal yang dapat dilihat, diraba dan dirasa, demikian juga harus dapat membedakan hal-hal yang bersifat kejasmanian dan kejiwaan.

Dasar Ontologis

Dasar ontologis, menurut Jujun S.Suriasumantri, yaitu bicara tentang hakikat apa yang dikaji. Amsal Baktiar mengemukakan, ontologi bersal dari bahasa Yunani, yaitu on/ontos yakni ada, dan logos yakni ilmu, sehingga ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Menurut istilah ontologi adalah ilmu yang membahsa tentang hakikat yang ada, baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun ruhani/abstrak. Selanjutnya dikatakan, Rudolf Goclenius orang yang pertama kali memopulerkan term ontologil Rudolf Goclenius menami teori tentang hakikat yanga da yang bersifaat metafisis umum dan metafisis khusus. Istilah metafisis umum adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar dari segala sesuatu yang ada. Adapun istilah metafisis khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi dan teologi.

Dalam persoalan ontologi, orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini. Pertama kali orang dihadapakan pada adanya dua macam kenyataan yang berupa materi (kebendaan) dan kedua yang berupa rohani (kejiwaan). Hakikat yaitu kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga kenyataan yang berubah. Pembahasan mengenai ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan the firs philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.

Dasar Epistemologi

Menurut Jujun S.Suriasumantri, dasar epistemologis yaitu metode atau cara-cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Kemudian Amsal Bakhtiar menjelaskan ontologis, yaitu cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indra dan lain-lain yang mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan. Beberapa metode itu antara lain:

Pertama, metode induktif, yaitu suatu metode yang meyimpulkan pernyataan hasil observasi yang disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Oleh Dick Hartoko dikatakan, induksi berasal dari bahasa latin inducere, yang berarti mengantar ke dalam, yang secara sederhana merupakan suatu metode, khusus dalam ilmu alam, yang menuju dan menyimpulkan suatu hiptosesis umum dengan berpangkal padaa sejumlah gejala sendiri-sendiri.

Kedua, metode deduktif, yaitu suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data emprise dioleh lebih lanjut dalam suatu system pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif yang adanya perbandingan logis antara kesimpulan itu sendiri.

Ketiga, metode positivisme, metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Mengesampingkan segala uraian/persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Apa yang diketaui secara posifit, yaitu segala yang tampak dan gejala. Dengan demikian, metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi pada bidang gejala-gejala saja saja.

Keempat, metode kontemplatif, metode ini mengatakan adanya keterbtasan indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan hingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda. Harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi yang dapat diperoleh dengan berkontemplasi.

Kelima, metode dialektis atau dialektika berasal dari bahasa Yunani dialektike, yang berarti cara/metode berdebat dan wawancara yang diangkat menjadi sarana dalam memperoleh pengertian yang dilakukan secara bersama-sama mencari kebenaran. Tokohnya ialah Hegel yang dalam dialektika di sini berarti mengkompromikan hal-hal mengenai tesis, antithesis dan sintesis.

Dasar Aksiologis

Menurut Jujun S.Suriasumantri, aksiologi adalah dasar ilmu pengeahuan yang berbicara tentang nilai kegunaan ilmu. Di dalam aksiologi dibicarakan mengenai ilmu dan moral, tanggung jawab sosial ilmuwan, serta berbagai etika dalam pengembangan keilmuan. Aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Selanjutnya dikatakan Jujun, aksiologi merupakan teori tentang nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Oleh Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang  ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosiolopolitik.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Menelusuri Jejak Peradaban Ibrahim
22 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   384

Pembatalan Perkawinan
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   84

Rasionalisme, Humanisme dan Islam
08 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   363

Batas Minimal Usia Kawin
03 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   191

Agama dan Kehidupan Modern
24 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   156

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14322


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6046


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5482


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4416