
Dasar dan Jenis Ilmu Pengetahuan
Hakikat Dasar dan Jenis Ilmu Pengetahuan
Dasar ilmu pengetahuan seara substansial
yaitu bertolak dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga dasar ilmu
pengetahuan ini menunjukkan bahwa manusia dalam hidupnya harus dapat memahmi
apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukann hal itu, dan untuk apa hal itu
dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia harus dapat membedakan antara
hal-hal yang dapat dilihat, diraba dan dirasa, demikian juga harus dapat
membedakan hal-hal yang bersifat kejasmanian dan kejiwaan.
Dasar Ontologis
Dasar ontologis, menurut Jujun
S.Suriasumantri, yaitu bicara tentang hakikat apa yang dikaji. Amsal Baktiar
mengemukakan, ontologi bersal dari bahasa Yunani, yaitu on/ontos yakni ada, dan
logos yakni ilmu, sehingga ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Menurut
istilah ontologi adalah ilmu yang membahsa tentang hakikat yang ada, baik yang
berbentuk jasmani/konkret maupun ruhani/abstrak. Selanjutnya dikatakan, Rudolf Goclenius
orang yang pertama kali memopulerkan term ontologil Rudolf Goclenius menami
teori tentang hakikat yanga da yang bersifaat metafisis umum dan metafisis
khusus. Istilah metafisis umum adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip
yang paling dasar dari segala sesuatu yang ada. Adapun istilah metafisis khusus
masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi dan teologi.
Dalam persoalan ontologi, orang menghadapi
persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini.
Pertama kali orang dihadapakan pada adanya dua macam kenyataan yang berupa
materi (kebendaan) dan kedua yang berupa rohani (kejiwaan). Hakikat yaitu
kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang
menipu, juga kenyataan yang berubah. Pembahasan mengenai ontologi sebagai dasar
ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan the firs
philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.
Dasar Epistemologi
Menurut Jujun S.Suriasumantri, dasar
epistemologis yaitu metode atau cara-cara mendapatkan pengetahuan yang benar.
Kemudian Amsal Bakhtiar menjelaskan ontologis, yaitu cabang filsafat yang berurusan
dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian dan dasar-dasarnya serta
pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan
yang diperoleh manusia melalui akal, indra dan lain-lain yang mempunyai metode
tersendiri dalam teori pengetahuan. Beberapa metode itu antara lain:
Pertama, metode induktif, yaitu suatu metode yang meyimpulkan
pernyataan hasil observasi yang disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih
umum. Oleh Dick Hartoko dikatakan, induksi berasal dari bahasa latin inducere,
yang berarti mengantar ke dalam, yang secara sederhana merupakan suatu metode,
khusus dalam ilmu alam, yang menuju dan menyimpulkan suatu hiptosesis umum
dengan berpangkal padaa sejumlah gejala sendiri-sendiri.
Kedua, metode deduktif, yaitu suatu metode yang
menyimpulkan bahwa data-data emprise dioleh lebih lanjut dalam suatu system
pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif yang
adanya perbandingan logis antara kesimpulan itu sendiri.
Ketiga, metode positivisme, metode ini berpangkal dari apa
yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Mengesampingkan segala
uraian/persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Apa yang diketaui secara
posifit, yaitu segala yang tampak dan gejala. Dengan demikian, metode ini dalam
bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi pada bidang gejala-gejala saja
saja.
Keempat, metode kontemplatif, metode ini mengatakan adanya keterbtasan
indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan hingga objek yang
dihasilkan pun akan berbeda-beda. Harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal
yang disebut dengan intuisi yang dapat diperoleh dengan berkontemplasi.
Kelima, metode dialektis atau dialektika berasal dari bahasa
Yunani dialektike, yang berarti cara/metode berdebat dan wawancara yang
diangkat menjadi sarana dalam memperoleh pengertian yang dilakukan secara
bersama-sama mencari kebenaran. Tokohnya ialah Hegel yang dalam dialektika di
sini berarti mengkompromikan hal-hal mengenai tesis, antithesis dan sintesis.
Dasar Aksiologis
Menurut Jujun S.Suriasumantri, aksiologi
adalah dasar ilmu pengeahuan yang berbicara tentang nilai kegunaan ilmu. Di
dalam aksiologi dibicarakan mengenai ilmu dan moral, tanggung jawab sosial
ilmuwan, serta berbagai etika dalam pengembangan keilmuan. Aksiologi berasal
dari perkataan axios yang berarti nilai dan logos yang berarti teori.
Selanjutnya dikatakan Jujun, aksiologi merupakan teori tentang nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Oleh Bramel,
aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu
tindakan moral, bidang ini melahirkan
disiplin khusus yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan.
Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu
kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosiolopolitik.
Penulis : Imam Ghozali
Menelusuri Jejak Peradaban Ibrahim
22 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   384
Pembatalan Perkawinan
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   84
Rasionalisme, Humanisme dan Islam
08 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   363
Batas Minimal Usia Kawin
03 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   191
Agama dan Kehidupan Modern
24 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   156
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14322
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6046
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5482
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4669
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4416