Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

349 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menggali Tradisi Menulis Dari Seorang Guru Besar Plus Kyai


 NEWS

Kamis , 30 April 2026



Telah dibaca :  298

Malam ini saya duduk berdua dengan Prof.Dr.Wasehudin, M.Si. Bukan apa-apa. Karena di dalam ruangan terasa panas. Sirkulasi udara terbatas. Kaos yang saya pakai sudah mulai basah. Berkeringat.

Saya pindah ke luar. Tidak lama Prof Wasehudin-sering juga dipanggil pak kyai- ikut-ikutan menemaniku duduk di luar Rumah Makan. Dr. Jarir -Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam-mengabadikan saat kami berdua duduk-duduk mengobrol tentang persoalan ilmu dan juga tentang kehidupan.

Kyai Wasehudin adalah seorang guru besar dari Pasca Sarjana UIN Maulana Hasanudin Banten. Dipanggil kyai sudah sangat pantas. Sebab pertama bertemu dengan kami memakai sarung, bukan celana. Ini baru pertama kali ada asesor memakai sarung. Terlihat unik. Seperti uniknya tradisi kyai dan santri yang suka memakai sarung dari dulu hingga sekarang ini. Meskipun saat sekarang ini, sudah ada pergeseran pada santri kontemporer yang mulai merasa sreg memakai celana panjang dan dasi. Tapi, sarung menjadi identitas yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi ke-kyai-an dan ke-santri-an.

Sebagai seorang guru besar, ia benar-benar intelektual yang sangat produktif menulis. Penulis yang menjadi guru besar. Idealnya memang begitu. Karena kadang ada yang menjadi guru besar kurang bisa menjadi penulis. Sering terperangkap pada zona nyaman pada titel nya. lupa terhadap tanggung jawab kebesaran gelarnya.

Para dosen di ruangan senat iain datuk laksemana benar-benar mendapatkan pencerahan sebagai seorang penulis yang baik. Bagaimana cara menulis buku, artikel yang diterbitkan di jurnal nasional maupun internasional. dalam dunia akademik, jelas pencerahan tersebut sangat bermanfaat.

Sebagai seorang kyai, prof wasehudin dalam pemaparan terkadang mengutip ayat-ayat al-qur’an dan hadist. Kadang juga mengutip maqolah-maqolah dari para ulama. Ia mencoba menggabungkan ilmu modern dengan ilmu-ilmu klasik-kitab turost. Ada semacam sanad keilmuan yang tidak terputus dari masa lalu hingga masa sekarang. Seperti sebuah pohon yang terus menjulang tinggi penuh dengan ranting dan buah yang manis-manis dan memberi kemanfaatan bagi peradaban manusia.

Syeikh Imam Malik dalam Kitab Al Fiyah mengatakan demikian:

تُقَرِّبُ الأقْصى بِلَفْظٍ مُوجَزِ......وَتَبْسُطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Artinya:

“Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas, serta dapat menjabarkan detailnya dengan janji yang cepat”

Ini adalah kaidah filosofis kehidupan. Sudah ratusan tahun lalu, para ulama telah mengajarkan suatu etika berbicara dan etika dalam menyampaikan ilmu pengetahuan yaitu tentang pentingnya menyederhanakan penjelasan materi yang disampaikan oleh pemateri kepada audience.

Seorang guru, ulama, dosen, pendidik sangat penting menyampaikan ide-ide, petuah-petuah atau pemikiran-pemikiran yang mudah dipahami oleh para murid, mahasiswa, santri maupun masyarakat. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahan informasi. Jika ini terjadi, bisa menimbulkan keresahan atau fitnah terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Di era disrupsi digital dengan maraknya media sosial baik FB, IG, Youtube, dan X telah terjadi pembenturan informasi yang sering terjadi kontradiksi. Masyarakat dibuat bingung. Mana yang benar, mana yang salah. Kebenaran lagi-lagi seperti tidak berharga lagi. Kebenaran semakin terpinggirkan oleh presepsi. Semakin massif membangun presepsi di media sosial, maka semakin masuk ke alam bawah sadar. Maka presepsi ini akan mudah diterima oleh masyarakat meskipun salah dianggap sebagai kebenaran.

Dari sini, Prof Wasehudin juga mengajarkan tentang pentingnya penggunaan media sosial di era digital saat sekarang ini. Jika ilmu dan kecerdasan tidak dipromosikan di platform digital, maka akan semakin tertinggal jauh dari sebuah persaingan yang semakin masif.

Sebagai penutup, tugas seorang pendidik mempunyai tantangan sangat berat di era digital. Prof Wasehudin mengajarkan tentang pentingnya mencintai profesi pendidik sebagai profesi yang mulia dengan terus mengembangkan diri dengan terus menulis dan meninggalkan jejak intelektual dalam bentuk tulisan, artikel, dan buku-buku yang memberi manfaat dalam peradaban.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Wasehudin

Hanya satu kata: Beliau Goenawan Muhammad-nya Bengkalis

Avatar

Wasehudin

Hanya satu kata: Beliau Goenawan Muhammad-nya Bengkalis

   Berita Terkait

Persaudaraan Tanpa Batas
30 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131

Menampung Aspirasi, Mewujudkan Mimpi
28 April 2026   Oleh : NEWS   105

Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   251

Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   295

Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   326

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13793


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4839


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3224