
Malam ini saya duduk berdua dengan Prof.Dr.Wasehudin,
M.Si. Bukan apa-apa. Karena di dalam ruangan terasa panas. Sirkulasi udara
terbatas. Kaos yang saya pakai sudah mulai basah. Berkeringat.
Saya pindah ke luar. Tidak lama Prof
Wasehudin-sering juga dipanggil pak kyai- ikut-ikutan menemaniku duduk di luar Rumah
Makan. Dr. Jarir -Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam-mengabadikan saat
kami berdua duduk-duduk mengobrol tentang persoalan ilmu dan juga tentang
kehidupan.
Kyai Wasehudin adalah seorang guru besar
dari Pasca Sarjana UIN Maulana Hasanudin Banten. Dipanggil kyai sudah sangat
pantas. Sebab pertama bertemu dengan kami memakai sarung, bukan celana. Ini baru
pertama kali ada asesor memakai sarung. Terlihat unik. Seperti uniknya tradisi
kyai dan santri yang suka memakai sarung dari dulu hingga sekarang ini. Meskipun
saat sekarang ini, sudah ada pergeseran pada santri kontemporer yang mulai
merasa sreg memakai celana panjang dan dasi. Tapi, sarung menjadi identitas
yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi ke-kyai-an dan ke-santri-an.
Sebagai seorang guru besar, ia benar-benar
intelektual yang sangat produktif menulis. Penulis yang menjadi guru besar. Idealnya
memang begitu. Karena kadang ada yang menjadi guru besar kurang bisa menjadi
penulis. Sering terperangkap pada zona nyaman pada titel nya. lupa terhadap tanggung
jawab kebesaran gelarnya.
Para dosen di ruangan senat iain datuk
laksemana benar-benar mendapatkan pencerahan sebagai seorang penulis yang baik.
Bagaimana cara menulis buku, artikel yang diterbitkan di jurnal nasional maupun
internasional. dalam dunia akademik, jelas pencerahan tersebut sangat
bermanfaat.
Sebagai seorang kyai, prof wasehudin dalam
pemaparan terkadang mengutip ayat-ayat al-qur’an dan hadist. Kadang juga
mengutip maqolah-maqolah dari para ulama. Ia mencoba menggabungkan ilmu modern
dengan ilmu-ilmu klasik-kitab turost. Ada semacam sanad keilmuan yang tidak
terputus dari masa lalu hingga masa sekarang. Seperti sebuah pohon yang terus menjulang
tinggi penuh dengan ranting dan buah yang manis-manis dan memberi kemanfaatan
bagi peradaban manusia.
Syeikh Imam Malik dalam Kitab Al Fiyah mengatakan
demikian:
تُقَرِّبُ الأقْصى بِلَفْظٍ مُوجَزِ......وَتَبْسُطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ
مُنْجَزِ
Artinya:
“Mendekatkan
pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas, serta dapat menjabarkan
detailnya dengan janji yang cepat”
Ini adalah kaidah filosofis kehidupan. Sudah ratusan tahun lalu, para
ulama telah mengajarkan suatu etika berbicara dan etika dalam menyampaikan ilmu
pengetahuan yaitu tentang pentingnya menyederhanakan penjelasan materi yang
disampaikan oleh pemateri kepada audience.
Seorang guru, ulama, dosen, pendidik sangat penting menyampaikan
ide-ide, petuah-petuah atau pemikiran-pemikiran yang mudah dipahami oleh para
murid, mahasiswa, santri maupun masyarakat. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahan
informasi. Jika ini terjadi, bisa menimbulkan keresahan atau fitnah terjadi di tengah-tengah
masyarakat.
Di era disrupsi digital dengan maraknya media sosial baik FB, IG, Youtube,
dan X telah terjadi pembenturan informasi yang sering terjadi kontradiksi. Masyarakat
dibuat bingung. Mana yang benar, mana yang salah. Kebenaran lagi-lagi seperti
tidak berharga lagi. Kebenaran semakin terpinggirkan oleh presepsi. Semakin massif
membangun presepsi di media sosial, maka semakin masuk ke alam bawah sadar. Maka
presepsi ini akan mudah diterima oleh masyarakat meskipun salah dianggap
sebagai kebenaran.
Dari sini, Prof Wasehudin juga mengajarkan tentang pentingnya penggunaan
media sosial di era digital saat sekarang ini. Jika ilmu dan kecerdasan tidak
dipromosikan di platform digital, maka akan semakin tertinggal jauh dari sebuah
persaingan yang semakin masif.
Sebagai penutup, tugas seorang pendidik mempunyai tantangan sangat berat
di era digital. Prof Wasehudin mengajarkan tentang pentingnya mencintai profesi
pendidik sebagai profesi yang mulia dengan terus mengembangkan diri dengan
terus menulis dan meninggalkan jejak intelektual dalam bentuk tulisan, artikel,
dan buku-buku yang memberi manfaat dalam peradaban.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Wasehudin
Hanya satu kata: Beliau Goenawan Muhammad-nya Bengkalis
Wasehudin
Hanya satu kata: Beliau Goenawan Muhammad-nya Bengkalis
Persaudaraan Tanpa Batas
30 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131
Menampung Aspirasi, Mewujudkan Mimpi
28 April 2026   Oleh : NEWS   105
Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   251
Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   295
Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   326
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13793
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4839
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3837
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3497
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3224