Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

349 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Persaudaraan Tanpa Batas


 NEWS

Kamis , 30 April 2026



Telah dibaca :  130

Rabu pagi-29 April 2026-sebenarnya jadwal ku santai-santai sambil menyelesaikan draf Buku Ajar-yang rencana saya kirim naskah nya pada bulan Mei. Ingin naik sepeda ke Kampus. Istirahat sebentar ke Kedai Kopi. Biasanya minum susu campur jahe. Meskipun kadang pelayan Kedai  selalu bertanya tanpa konsep yang jelas, “Susu apa, putih apa hitam”. Saya bingung dan tersenyum. Ma’lum, setahu saya susu itu putih bukan hitam. Untung kecerdasanku kadang muncul. “Ah, ini pasti pelayan baru di sini”. Grogi. Mungkin maksudnya “susu kopi”. Meskipun putih, jadi hitam.

Itu rencana ku di Rabu pagi hingga sore hari. Namun Tuhan berkehendak lain. Mas Chanifudin, Warek 2 menelpon. Tidak saya angkat. Ia mengirim pesan lewat WA: “Gus, ngopi di Kedai Yogyakarta bersama asesor ya?”.

Meskipun masih muda, tapi salah satu atas di institusi, saya pun sami’na wa atha’na. Sepanjang itu baik dan tidak nyalahi aturan, badan sehat dan tidak ada kegiatan lain yang lebih urgen.

Sebnarnya saya sedikit kaget. Sebagai tetangga yang tetangganya lagi ada hajat, saya tentu saja tidak langsung menolak tidak juga langsung menerima. Saya tanya dulu, sudah siapa saja yang ada di Kedai Kopi. Jika sudah ada, saya kira saya sudah tidak perlu lagi datang.

Mas Chanif tetap memaksa ku untuk datang menemani Dr. Nasrun -Dekan TPI-dan Dr. Jarir-Dekan DKI.

Sepeda pun saya masukan ke Rumah, ganti bawa Honda. Langsung tancap ke Kedai Yogyakarta. Belum ada orang. Hanya Dekan TPI yang duduk sendirian sambil menikmati rokok Dji Sam Soe.

Kata Dr Nasrun rokok para waliyullah, kata Dji Sam Soe punya arti- Dji=2, Sam=3, dan Soe =4-, yaitu jumlah raka’at sholat lima waktu. Subuh 2 raka’at, Maghrib 3 raka’at dan Duhur, Ashar dan Isya 4 raka’at.

Saya pun ketularan bergaya waliyullah. Niat saya cuma satu, yaitu silaturahim. Mungkin karena saking tulus niatnya sampai lupa tidak pesan sarapan. Saya benar-benar hanya pesan kopi hitam tanpa gula. Pahit. Saya memang sengaja ingin merasakan pahitnya kopi. Kata para penggemar kopi, minum kopi yang baik justru tidak dikasih gula. Murni kopi.

Tentu saja pagi itu suasana tidak pahit. Justru sangat manis. Saat para asesor datang bersama istri-istrinya, saya dan Dr. Nasrun langsung ngobrol dengan Prof. Munawar Rahmat. Sedangkan Mas Jarir sibuk ngobrol dengan Prof. Wasehudin.

Seperti biasa, saya ngobrol yang ringan-ringan saja. Tentang kehidupan. Tentang keberagaman budaya, agama, etnis dan suku yang ada di bengkalis. Tentang tanah gambut yang kalau di waktu kemarau bisa terbakar sendiri. Ngobrol juga tentang lempeng, Mie Sagu sebagai ciri khas dari Bengkalis atau Meranti.

Saking penasaran dengan Mie Sagu, akhirnya mulai pagi sampai sore hingga malam hari pesan makanan Mie Sagu. Pagi hari sarapan Mie Sagu Goreng, di Selatbaru pesan Mie Sagu goreng dan basah tanpa cabai, di taman pinggir laut pesan lempeng.

“Jika di Bandung ada rumah makan dari sagu, mungkin tiap hari saya makan mie sagu” kata Prof Munawar.

“Jika suatu saat prof masih kangen makan mie sagu, WA saja kepada ku, nanti saya kirim dari sini” jawab ku. Dia pun mengucapkan terima kasih. Ia benar-benar mengucapkan terima kasih, tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Suatu ucapan yang tulus dari seorang guru besar yang  terlihat sangat tawaddhu.

Saya mengatakan demikian karena mungkin pengaruh kajiannya yang banyak berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam dan Tasawuf.

Kajjian tasawuf memang mengajarkan tentang arti penting kasih sayang tanpa batas dan sekat dalam wujud, gelar, jabatan, dan asesoris dunia lain. bagi ahli tasawuf sebagaimana yang diterapkan oleh Prof Munawar adalah ilmu hakikat dan syariat. Ketika melihat orang lain secara hakikat, tapi untuk dirinya sendiri secara syariat.

Maksudnya, melihat orang lain semua terlihat baik, dan melihat diri sendiri terasa belum sempurna ibadahnya. Prinsip tasawuf yang demikian membuat pola hubungan sesama manusia dihiasi dengan senyum. Bahkan dalam berbicara pun ia selalu memilih kalimat-kalimat yang membahagiakan semua orang.

Orang lain mungkin akan menggunakan kata secara faktual. Ia akan selalu mencoba menggunakan saripati kata yang lebih halus, lembut dan menyenangkan kepada semua orang. Meskipun fakta kejadiannya tidak selalu baik bagi dirinya dan orang yang mendengarkannya.

Syeikh Imam Junaid mengibaratkan kaum sufi seperti bumi: menerima segala kotoran (perlakuan buruk), namun tetap memberikan kebaikan, stabil, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan prinsip kerendahan hati dan kesabaran dalam berinteraksi sosial.

Di era digital dimana era disrupsi sangat terasa. Batasan nilai-nilai kebaikan dan keburukan semakin kabur, manusia dihadapi kebingungan yang sangat luarbiasa menghadapi dinamika kehidupan tersebut. Orang-orang yang hidup dengan bermodal ilmu syariat akan mengalami kegoncangan sangat hebat. Kejadian kehidupan sosial lebih cepat daripada regulasi. Ketika ada beberapa masalah baru belum ada solusi sudah muncul problema lain. Disi lain perdebatan pun akan terus berlangsung dalam segala aspek kehidupan yang sangat komplek, mulai persoalan sosial politik, budaya dan sosial agama.

Para ahli tasawuf bisa melihat kehidupan yang terlihat kacau oleh ahli syariat, akan tetap terlihat indah oleh ahli tasawuf. Hal ini karena ahli tasawuf melihat fenomena alam semesta tidak hanya melihat pada kulitnya, tapi juga mampu menyelami esensi-esensi kejadian alam semesta ini sebenarnya sudah berada dalam genggaman Allah SWT. Itu sebabnya, ia akan terus menjalankan syariat sembari hatinya memasrahkan seluruh kejadian kepada Allah SWT.

Maka pada saat orang lain mengeluh, ahli tasawuf cukup mengucapkan: “Gitu aja kok repot!!!”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Menggali Tradisi Menulis Dari Seorang Guru Besar Plus Kyai
30 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   298

Menampung Aspirasi, Mewujudkan Mimpi
28 April 2026   Oleh : NEWS   104

Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   251

Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   295

Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   326

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13793


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4839


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3224