
Rabu pagi-29 April 2026-sebenarnya jadwal
ku santai-santai sambil menyelesaikan draf Buku Ajar-yang rencana saya kirim
naskah nya pada bulan Mei. Ingin naik sepeda ke Kampus. Istirahat sebentar ke Kedai
Kopi. Biasanya minum susu campur jahe. Meskipun kadang pelayan Kedai selalu bertanya tanpa konsep yang jelas, “Susu
apa, putih apa hitam”. Saya bingung dan tersenyum. Ma’lum, setahu saya susu
itu putih bukan hitam. Untung kecerdasanku kadang muncul. “Ah, ini pasti
pelayan baru di sini”. Grogi. Mungkin maksudnya “susu kopi”. Meskipun putih,
jadi hitam.
Itu rencana ku di Rabu pagi hingga sore
hari. Namun Tuhan berkehendak lain. Mas Chanifudin, Warek 2 menelpon. Tidak saya
angkat. Ia mengirim pesan lewat WA: “Gus, ngopi di Kedai Yogyakarta bersama asesor
ya?”.
Meskipun masih muda, tapi salah satu atas
di institusi, saya pun sami’na wa atha’na. Sepanjang itu baik dan tidak
nyalahi aturan, badan sehat dan tidak ada kegiatan lain yang lebih
urgen.
Sebnarnya saya sedikit kaget. Sebagai tetangga
yang tetangganya lagi ada hajat, saya tentu saja tidak langsung menolak tidak
juga langsung menerima. Saya tanya dulu, sudah siapa saja yang ada di Kedai
Kopi. Jika sudah ada, saya kira saya sudah tidak perlu lagi datang.
Mas Chanif tetap memaksa ku untuk datang
menemani Dr. Nasrun -Dekan TPI-dan Dr. Jarir-Dekan DKI.
Sepeda pun saya masukan ke Rumah, ganti bawa
Honda. Langsung tancap ke Kedai Yogyakarta. Belum ada orang. Hanya Dekan TPI
yang duduk sendirian sambil menikmati rokok Dji Sam Soe.
Kata Dr Nasrun rokok para waliyullah, kata Dji
Sam Soe punya arti- Dji=2, Sam=3, dan Soe =4-, yaitu jumlah raka’at sholat lima
waktu. Subuh 2 raka’at, Maghrib 3 raka’at dan Duhur, Ashar dan Isya 4 raka’at.
Saya pun ketularan bergaya waliyullah. Niat
saya cuma satu, yaitu silaturahim. Mungkin karena saking tulus niatnya sampai
lupa tidak pesan sarapan. Saya benar-benar hanya pesan kopi hitam tanpa gula. Pahit.
Saya memang sengaja ingin merasakan pahitnya kopi. Kata para penggemar kopi,
minum kopi yang baik justru tidak dikasih gula. Murni kopi.
Tentu saja pagi itu suasana tidak pahit. Justru
sangat manis. Saat para asesor datang bersama istri-istrinya, saya dan Dr.
Nasrun langsung ngobrol dengan Prof. Munawar Rahmat. Sedangkan Mas Jarir sibuk
ngobrol dengan Prof. Wasehudin.
Seperti biasa, saya ngobrol yang ringan-ringan
saja. Tentang kehidupan. Tentang keberagaman budaya, agama, etnis dan suku yang
ada di bengkalis. Tentang tanah gambut yang kalau di waktu kemarau bisa
terbakar sendiri. Ngobrol juga tentang lempeng, Mie Sagu sebagai ciri
khas dari Bengkalis atau Meranti.
Saking penasaran dengan Mie Sagu, akhirnya
mulai pagi sampai sore hingga malam hari pesan makanan Mie Sagu. Pagi hari
sarapan Mie Sagu Goreng, di Selatbaru pesan Mie Sagu goreng dan basah tanpa cabai,
di taman pinggir laut pesan lempeng.
“Jika di Bandung ada rumah makan dari sagu,
mungkin tiap hari saya makan mie sagu” kata Prof Munawar.
“Jika suatu saat prof masih kangen makan
mie sagu, WA saja kepada ku, nanti saya kirim dari sini” jawab ku. Dia pun mengucapkan terima
kasih. Ia benar-benar mengucapkan terima kasih, tidak hanya sekali, tapi
berkali-kali. Suatu ucapan yang tulus dari seorang guru besar yang terlihat sangat tawaddhu.
Saya mengatakan demikian karena mungkin
pengaruh kajiannya yang banyak berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam dan
Tasawuf.
Kajjian tasawuf memang mengajarkan tentang
arti penting kasih sayang tanpa batas dan sekat dalam wujud, gelar, jabatan,
dan asesoris dunia lain. bagi ahli tasawuf sebagaimana yang diterapkan oleh Prof
Munawar adalah ilmu hakikat dan syariat. Ketika melihat orang lain secara
hakikat, tapi untuk dirinya sendiri secara syariat.
Maksudnya, melihat orang lain semua
terlihat baik, dan melihat diri sendiri terasa belum sempurna ibadahnya. Prinsip
tasawuf yang demikian membuat pola hubungan sesama manusia dihiasi dengan
senyum. Bahkan dalam berbicara pun ia selalu memilih kalimat-kalimat yang
membahagiakan semua orang.
Orang lain mungkin akan menggunakan kata
secara faktual. Ia akan selalu mencoba menggunakan saripati kata yang lebih
halus, lembut dan menyenangkan kepada semua orang. Meskipun fakta kejadiannya
tidak selalu baik bagi dirinya dan orang yang mendengarkannya.
Syeikh Imam Junaid mengibaratkan kaum sufi
seperti bumi: menerima segala kotoran (perlakuan buruk), namun tetap memberikan
kebaikan, stabil, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Hal ini
menunjukkan prinsip kerendahan hati dan kesabaran dalam berinteraksi sosial.
Di era digital dimana era disrupsi sangat
terasa. Batasan nilai-nilai kebaikan dan keburukan semakin kabur, manusia
dihadapi kebingungan yang sangat luarbiasa menghadapi dinamika kehidupan
tersebut. Orang-orang yang hidup dengan bermodal ilmu syariat akan mengalami
kegoncangan sangat hebat. Kejadian kehidupan sosial lebih cepat daripada regulasi.
Ketika ada beberapa masalah baru belum ada solusi sudah muncul problema lain. Disi
lain perdebatan pun akan terus berlangsung dalam segala aspek kehidupan yang sangat
komplek, mulai persoalan sosial politik, budaya dan sosial agama.
Para ahli tasawuf bisa melihat kehidupan
yang terlihat kacau oleh ahli syariat, akan tetap terlihat indah oleh ahli
tasawuf. Hal ini karena ahli tasawuf melihat fenomena alam semesta tidak hanya
melihat pada kulitnya, tapi juga mampu menyelami esensi-esensi kejadian alam
semesta ini sebenarnya sudah berada dalam genggaman Allah SWT. Itu sebabnya, ia
akan terus menjalankan syariat sembari hatinya memasrahkan seluruh kejadian
kepada Allah SWT.
Maka pada saat orang lain mengeluh, ahli
tasawuf cukup mengucapkan: “Gitu aja kok repot!!!”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Menggali Tradisi Menulis Dari Seorang Guru Besar Plus Kyai
30 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   298
Menampung Aspirasi, Mewujudkan Mimpi
28 April 2026   Oleh : NEWS   104
Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   251
Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   295
Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   326
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13793
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4839
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3837
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3497
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3224