
Sekitar 15 hari -atau mungkin sudah 20 hari-
merupakan hari berkabung bagiku. Bukan karena ada berita kematian yang sering
mendapatkan simpati begitu cepat di grup-grup WhatsApp, bukan juga karena
bencana kematian akibat longsor di pegunungan, bukan juga karena bencana alam
akibat anak gunung krakatau batuk-batuk atau kematian akibat kebakaran
hutan-hutan Indonesia -yang dulu sering disebut zamrud katulistiwa.
Saya berkabung karena ide menulisku
benar-benar hilang. Meleleh seperti es batu terkena panas cahaya matahari. Ide muncul,
tenggelam lagi. Ketika ide muncul, saya cepat-cepat buka Laptop dan mulai
menulis, lagi-lagi semua kata menguap dari pikiran.Tangan ku terasa lemas,
pikiran terasa kacau, dan ketenang jiwa tiada menentu. Seperti berdiri di
tengah Padang Pasir seorang diri. Kebingungan tak tahu arah . Ingin menangis,
tapi kepada siapa. Ingin berteriak, tapi meminta tolong kepada siapa. Hanya ada
rasa kalut yang tiada menentu dalam pikiran sepanjang hari.
Saya duduk di pinggir laut. Sebenarnya alam
semesta begitu agung. Ada air laut
berwarna biru, burung Elang Laut -Osprey- pemangsa ikan yang tiba-tiba
menukik menuju permukaan air dan berhasil menangkap mangsa dengan kedua kaki
yang sangat kuat, para nelayan dengan jaring tradisional. Saya melihat di bibir
pantai terlihat berderet bangungan-bangunan bertingkat cukup tinggi: hotel,
swalayan, dan rumah-rumah toko . Cahaya matahari memantul dari atap-atap
bangunan yang terbuat dari seng berwarna putih. Saat saya melihat di permukaan
laut ada gambar dan cahaya bangungan pun berubah menjadi lukisan hiasan alam
semesta yang sangat indah.
Keindahan alam tidak serta merta memberi
inspirasi. Ada persoalan dalam diriku. Saya mencoba menelusuri diri sendiri.
Mulai dari pikiran, perasaan dan suasana hati serta ketulusan jiwa saat
sekarang ini.
Saya ingin memetakan penyebabnya. Saya
ingin mengurai satu persatu persoalan yang menimpa ku. Lagi-lagi saya selalu
gagal untuk memetakan secara jujur semua persoalan yang membuat diriku seperti
terbelenggu oleh suasana hati yang sangat kuat sekali. Ingin rasanya menangis.
Ingin berontak dari belenggu tersebut. tapi selalu gagal melepaskannya.
Kadang berfikir buat apa saya sibuk-sibuk
menulis. Apa sih arti menulis dalam kehidupan sehari-hari. Toh tidak juga
mendatangkan materi. Apalagi era digital, tulisan seolah-olah sudah tidak
berharga. Tidak seperti era dulu, setiap menulis selalu mendatangkan pemasukan-income.
Sekarang, boro-boro pemasukan. Tidak mengambil “jatah” jajan anak atau “belanja”
istri sudah sangat syukur sekali.
Saya -mungkin juga anda-kadang
bertanya-tanya apa arti menulis buku ajar, referensi, artikel dan masih banyak
lagi jenisnya. Sudah tidak terhitung jumlahnya. Ada ratusan ribu -bahkan bisa
jutaan-judul buku dari seluruh aspek kehidupan yang ditulis oleh para penulis. Mulai
dari penulis unyu-unyu sampai pada penulis sudah mendapatkan gelar “maha
guru”. Apa manfaatnya. Toh dunia seperti ini terus. Tidak juga ada
perubahan -perasaan ku- dalam kehidupan sehari-hari. Kejahatan jalan terus. Ketidakadilan
jadi nyanyian wajib rakyat Indonesia dan ketimpangan serta kemiskinan masih
menjadi baju kebesaran mayoritas rakyat di dunia saat sekarang ini.
Cara berfikir ku di atas bagi sebagian orang
mungkin benar. Tapi pada aspek lain bisa jadi salah. Ilmu sosial memang selalu
menghadirkan wajah-wajah kebenaran yang beragam. Pada tataran idealnya memang
seharusnya kehadiran buku atau tulisan secara signifikan mampu melakukan
perubahan positif dalam berbagai aspek. Ideal nya seharusnya begitu.
Kenyataannya tidak demikian juga. Seperti dua
kisah bangsa belanda melihat rakyat Indonesia dan bangsa Indonesia melihat
bangsa belanda. Ada dua kebenaran yang berbeda. Bagi bangsa belanda ketika rakyat
Indonesia menyerang mereka, maka rakyat Indonesia dianggap sebagai teroris. Hal
sama juga ketika tentara belanda menyerang rakyat Indonesia, maka tentara belanda
dianggap sebagai kolonialisme atau imperialisme. Satu kejadian melahirkan dua kesimpulan
yang berbeda. Dan kesimpulan Sejarah ini sama-sama dicatat dalam buku catatan
peradaban manusia dari dua sisi yang berbeda.
Mana yang benar?. Semua benar. Sebab kebenaran
sosial memang selalu saja melahirkan beragam prespektif. Dan saya harus belajar
menerima realita kehidupan manusia seperti tersebut di atas dari sudut yang
beragam. Saya harus mengembalikan lagi keyakinan ku bahwa seorang penulis
sebenarnya sedang memperjuangkan suatu kebenaran-kebenaran pandangan-pandanga
dalam versi nya bukan versi lainnya. Semakin banyak suguhan yang ditawarkan
maka semakin banyak pilihan-pilihan pembaca untuk mengkonsumsi ide-ide sesuai
dengan seleranya. Tentu saja ending dari semua itu bukan untuk saling
menghujat atau menjatuhkan, tetapi diharapkan tumbuh adanya saling menghargai
keberagaman itu hidup terlihat indah.
Pada sisi lain saya kadang juga berfikir
pada aspek lebih dalam lagi: spiritual. Ada pendangkalan niat. Ada erosi
panggilan jiwa yang sudah mulai berubah dari tujuannya. Padahal kanjeng Nabi dawuh:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niat nya”.
Ketika niat ruh kehilangan arah, maka
tulisan seperti buih di tengah lautan. Banyak materi namun hilang begitu saja. Hal
ini karena hati sudah bercampur dari kepentingan dunia, nafsu kotor, ingin
dipuji,ingin dianggap orang hebat. Pendek kata, saya sudah terkena penyakit
cinta terhadap sanjungan terhadap dunia.
Tentu saja hingga saat ini saya belum memahami
secara maksimal tentang niat yang benar. Masih dalam tahap belajar. Hanya saja ketika
saya belajar mempraktekan hal tersebut sesuai dengan pemahaman ku -mungkin
masih salah- ada rasa damai dan tenang ketika saya mencoba merangkai kata-kata
dalam satu kalimat. Sekali lagi mungkin salah dan mungkin juga tulisan ku tidak
menarik. Tapi saya merasakan kenikmatan menulis saat menemukan
pemikiran-pemikiran pentingnya “sumeleh” dalam diri sendiri saat menuangkan ide-ide. Mungkin
ini mutiara yang hilang 20 hari yang lalu. Semoga Allah selalu memberi kekuatan
untuk selalu menebarkan kebaikan meskipun terlihat sederhana. Tidak mengapa
jika itu memberi manfaat meskipun hanya sebesar atom.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Cubitan Sang Kekasih
16 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   201
Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257
Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2847
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   288
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   274
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14417
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6143
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5584
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4688
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4488