Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

393 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

15 Hari Tidak Bisa Menulis


 TAUHID

Minggu , 06 September 2026



Telah dibaca :  43

Sekitar 15 hari -atau mungkin sudah 20 hari- merupakan hari berkabung bagiku. Bukan karena ada berita kematian yang sering mendapatkan simpati begitu cepat di grup-grup WhatsApp, bukan juga karena bencana kematian akibat longsor di pegunungan, bukan juga karena bencana alam akibat anak gunung krakatau batuk-batuk atau kematian akibat kebakaran hutan-hutan Indonesia -yang dulu sering disebut zamrud katulistiwa.

Saya berkabung karena ide menulisku benar-benar hilang. Meleleh seperti es batu terkena panas cahaya matahari. Ide muncul, tenggelam lagi. Ketika ide muncul, saya cepat-cepat buka Laptop dan mulai menulis, lagi-lagi semua kata menguap dari pikiran.Tangan ku terasa lemas, pikiran terasa kacau, dan ketenang jiwa tiada menentu. Seperti berdiri di tengah Padang Pasir seorang diri. Kebingungan tak tahu arah . Ingin menangis, tapi kepada siapa. Ingin berteriak, tapi meminta tolong kepada siapa. Hanya ada rasa kalut yang tiada menentu dalam pikiran sepanjang hari.

Saya duduk di pinggir laut. Sebenarnya alam semesta begitu agung.  Ada air laut berwarna biru, burung Elang Laut -Osprey- pemangsa ikan yang tiba-tiba menukik menuju permukaan air dan berhasil menangkap mangsa dengan kedua kaki yang sangat kuat, para nelayan dengan jaring tradisional. Saya melihat di bibir pantai terlihat berderet bangungan-bangunan bertingkat cukup tinggi: hotel, swalayan, dan rumah-rumah toko . Cahaya matahari memantul dari atap-atap bangunan yang terbuat dari seng berwarna putih. Saat saya melihat di permukaan laut ada gambar dan cahaya bangungan pun berubah menjadi lukisan hiasan alam semesta yang sangat indah.

Keindahan alam tidak serta merta memberi inspirasi. Ada persoalan dalam diriku. Saya mencoba menelusuri diri sendiri. Mulai dari pikiran, perasaan dan suasana hati serta ketulusan jiwa saat sekarang ini.

Saya ingin memetakan penyebabnya. Saya ingin mengurai satu persatu persoalan yang menimpa ku. Lagi-lagi saya selalu gagal untuk memetakan secara jujur semua persoalan yang membuat diriku seperti terbelenggu oleh suasana hati yang sangat kuat sekali. Ingin rasanya menangis. Ingin berontak dari belenggu tersebut. tapi selalu gagal melepaskannya.

Kadang berfikir buat apa saya sibuk-sibuk menulis. Apa sih arti menulis dalam kehidupan sehari-hari. Toh tidak juga mendatangkan materi. Apalagi era digital, tulisan seolah-olah sudah tidak berharga. Tidak seperti era dulu, setiap menulis selalu mendatangkan pemasukan-income. Sekarang, boro-boro pemasukan. Tidak mengambil “jatah” jajan anak atau “belanja” istri sudah sangat syukur sekali.

Saya -mungkin juga anda-kadang bertanya-tanya apa arti menulis buku ajar, referensi, artikel dan masih banyak lagi jenisnya. Sudah tidak terhitung jumlahnya. Ada ratusan ribu -bahkan bisa jutaan-judul buku dari seluruh aspek kehidupan yang ditulis oleh para penulis. Mulai dari penulis unyu-unyu sampai pada penulis sudah mendapatkan gelar “maha guru”. Apa manfaatnya. Toh dunia seperti ini terus. Tidak juga ada perubahan -perasaan ku- dalam kehidupan sehari-hari. Kejahatan jalan terus. Ketidakadilan jadi nyanyian wajib rakyat Indonesia dan ketimpangan serta kemiskinan masih menjadi baju kebesaran mayoritas rakyat di dunia saat sekarang ini.

Cara berfikir ku di atas bagi sebagian orang mungkin benar. Tapi pada aspek lain bisa jadi salah. Ilmu sosial memang selalu menghadirkan wajah-wajah kebenaran yang beragam. Pada tataran idealnya memang seharusnya kehadiran buku atau tulisan secara signifikan mampu melakukan perubahan positif dalam berbagai aspek. Ideal nya seharusnya begitu.

Kenyataannya tidak demikian juga. Seperti dua kisah bangsa belanda melihat rakyat Indonesia dan bangsa Indonesia melihat bangsa belanda. Ada dua kebenaran yang berbeda. Bagi bangsa belanda ketika rakyat Indonesia menyerang mereka, maka rakyat Indonesia dianggap sebagai teroris. Hal sama juga ketika tentara belanda menyerang rakyat Indonesia, maka tentara belanda dianggap sebagai kolonialisme atau imperialisme. Satu kejadian melahirkan dua kesimpulan yang berbeda. Dan kesimpulan Sejarah ini sama-sama dicatat dalam buku catatan peradaban manusia dari dua sisi yang berbeda.

Mana yang benar?. Semua benar. Sebab kebenaran sosial memang selalu saja melahirkan beragam prespektif. Dan saya harus belajar menerima realita kehidupan manusia seperti tersebut di atas dari sudut yang beragam. Saya harus mengembalikan lagi keyakinan ku bahwa seorang penulis sebenarnya sedang memperjuangkan suatu kebenaran-kebenaran pandangan-pandanga dalam versi nya bukan versi lainnya. Semakin banyak suguhan yang ditawarkan maka semakin banyak pilihan-pilihan pembaca untuk mengkonsumsi ide-ide sesuai dengan seleranya. Tentu saja ending dari semua itu bukan untuk saling menghujat atau menjatuhkan, tetapi diharapkan tumbuh adanya saling menghargai keberagaman itu hidup terlihat indah.

Pada sisi lain saya kadang juga berfikir pada aspek lebih dalam lagi: spiritual. Ada pendangkalan niat. Ada erosi panggilan jiwa yang sudah mulai berubah dari tujuannya. Padahal kanjeng Nabi dawuh: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niat nya”.

Ketika niat ruh kehilangan arah, maka tulisan seperti buih di tengah lautan. Banyak materi namun hilang begitu saja. Hal ini karena hati sudah bercampur dari kepentingan dunia, nafsu kotor, ingin dipuji,ingin dianggap orang hebat. Pendek kata, saya sudah terkena penyakit cinta terhadap sanjungan terhadap dunia.

Tentu saja hingga saat ini saya belum memahami secara maksimal tentang niat yang benar. Masih dalam tahap belajar. Hanya saja ketika saya belajar mempraktekan hal tersebut sesuai dengan pemahaman ku -mungkin masih salah- ada rasa damai dan tenang ketika saya mencoba merangkai kata-kata dalam satu kalimat. Sekali lagi mungkin salah dan mungkin juga tulisan ku tidak menarik. Tapi saya merasakan kenikmatan menulis saat menemukan pemikiran-pemikiran pentingnya “sumeleh”  dalam diri sendiri saat menuangkan ide-ide. Mungkin ini mutiara yang hilang 20 hari yang lalu. Semoga Allah selalu memberi kekuatan untuk selalu menebarkan kebaikan meskipun terlihat sederhana. Tidak mengapa jika itu memberi manfaat meskipun hanya sebesar atom. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Cubitan Sang Kekasih
16 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   201

Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257

Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2847

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   288

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   274

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14417


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6143


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5584


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4488