Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

12 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Berburu Buku Bekas



Senin , 09 Februari 2026



Telah dibaca :  168

Sekali lagi, masa-masa indah waktu sekolah di tingkat dasar-SD-hingga tingkat SLTA Ketika menemukan guru idola. Saya pikir, hampir setiap murid-murid atau peserta didik pernah mempunyai sosok guru yang bisa menjadi panutan. Ia menjadi inspirasi perubahan dalam pola belajar dan aktivitas positif lainnya. Kenangan nasehatnya saat bersama-sama dengannya sangat sulit dilupakan.

Sebaliknya, hampir bisa dipastikan murid-murid juga mempunyai kenangan terhadap guru yang sering disebut “guru kiler”. Sedikit-sedikit marah, sedikit sedikit menghukum murid berdiri di depan papan tulis, sedikit-sedikit melempar kapur-dulu menulis pakai kapur warna putih-pada anak-anak yang terlihat main-main. Era itu, mata seorang guru seperti mata elang. Siapa murid yang dehem-deham, bergerak tangannya, ngantuk, dan senyam senyum langsung kena radar hukuman. Biasanya ia menghukum dengan cara yang unik, yaitu disuruh berdiri dengan satu kaki di depan papan tulis.

Ada juga guru tidak kiler tapi terkadang juga dibenci oleh murid-muridnya. Terutama murid-murid yang belum bisa membaca dan menulis. Guru jenis ini Adalah guru PMP dan bahasa Indonesia. Pola mengajarnya, guru memerintah murid-muridnya membaca dengan pola berurutan. Mulai  dari depan terus berurutan menyamping sampai ke belakang. Bagi yang sudah bisa membaca, tentu saja merasa sangat senang. Tapi bagi yang belum bisa membaca, ini benar-benar ujian hidup yang maha berat. Badan panas dingin. Keringat keluar dan jika tidak kuat kadang bisa kencing di celana -dulu hal yang biasa anak-anak tingkat SD kencing di celana karena takut terhadap guru atau karena tidak bisa membaca. Meskipun demikian, guru tahu kondisi tersebut. Ia tidak marah seolah-olah tidak ada kejadian apapun.

Dulu tempat duduk sudah ada aturan tidak tertulis. Di depan anak-anak yang berbadan pendek, kecil dan tidak nakal. Belakang anak-anak yang berbadan tinggi, kekar, dan termasuk para preman-preman kelas. Guru-guru sudah terbiasa memerintah anak-anak di depan untuk membersihkan papan tulis, mengambil absen atau mengerjakan tugas. Biasanya deretan bangku pertama anak-anak yang mempunyai kemampuan cukup baik dalam hal baca tulis dan berhitung.

Saya selalu duduk di depan. Terutama ketika sudah masuk sekolah di tingkat SLTP-SMP- dan SLTA-SMA. Celakanya, saya bukan termasuk kriteria yang sudah bisa baca tulis dan berhitung. Hanya saja karena badan ku pendek dan kurus, maka teman-teman ku yang bergaya preman mengancam ku untuk bisa duduk di depan. Karena takut, mau tidak mau menuruti permintaan mereka.

Maka wajar saja jika saya sering mendapatkan hukuman dari guru. Berdiri di depan papan tulis karena kesulitan membaca dan menulis dengan lancar. Sungguh sangat malu. Tapi memang belum terbuka akal pikiran dengan sempurna. Setiap anak berbeda-beda menangkap pemahaman yang sempurna. Ada waktu dan ada saatnya ia mengalami suatu perubahan dan pemahaman. Pendidikan adalah suatu proses terus-menerus. Seorang murid akan mengalami perubahan secara pelan dan ada kalanya mengalami perubahan secara radikal. Ketika menemukan guru yang tepat, maka ia akan menemukan suatu perubahan-perubahan yang sangat mengejutkan. Dari sini sebenarnya, tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah murid yang belum menemukan guru yang tepat.

Ketika masuk kelas satu Aliyah, ada seorang guru bahasa inggris dan bahasa jerman. Lulusan IKIP Semarang dan IKIP Yogyakarta. Saya merasakan senang cara mengajarnya. Terasa asyik dan mudah dipahami. Ketika ia memperkenalkan buku pegangan utama, saya memperhatikan judul bukunya dan warnanya. Saya masih ingat judul buku nya”Kontakte Deutsch”, warnanya hitam putih. Saya ingin sekali membelinya.

Saat hari minggu, saya pergi ke Pasar Kroya. Pasar yang cukup ramai. Di daerah tersebut termasuk daerah yang strategis. Selain ada pasar ukuran besar, ada bioskop, ada toko buku ada juga penjual buku loakan-buku bekas.

Saya mencari buku tersebut. Ada. Di pasar loakan. Terasa sangat senang. Harga saat itu satu buku Rp. 1500,00. Saya lebih suka beli buku di pasar loakan. Murah-murah. Hanya saja, covernya sudah lecet-lecet atau mulai mengelupas. Tapi isinya masih sangat bagus.

Minggu berikutnya saya pun berburu buku-buku pelajaran lainnya. Hampir semua buku pegangan guru, saya punya. Saya senang sekali, saat teman-teman lainnya tidak mempunyai buku pelajaran-buku cetak-, saya sendiri sudah mempunyainya. Terasa sangat gagah kala itu. Tiap malam belajar secara sungguh-sungguh. Hingga kala itu, saya hampir menguasai seluruh pelajaran. Saat masuk kelas 1, saya berada di tingkat paling bontrot-juru kunci-, menanjak menjadi masuk tiga lima besar. Suatu lompatan atau capaian yang sangat luarbiasa kala itu.

Saya benar-benar mempunyai dua sahabat terdekat kala itu: guru inspiratif dan buku. Guru inspiratif telah mampu membuka kunci tentang strategi memahami pelajaran dan buku mampu membuka cakrawala ilmu pengetahuan. Semakin membaca buku semakin haus dan ingin terus berburu buku, membeli dan belajar tanpa mengenal waktu. Belajar terasa nikmat sekali.

Namun….kini saya justru merenung memikirkan diri sendiri, “Apakah saya sudah bisa menjadi guru inspiratif bagi murid-muridku dan mahasiswa ku?”. Suatu pertanyaan yang sering menghantuiku dan kadang membuat hatiku sedih. Ketika saya menerangkan tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan buku sebagai jendela dunia, mereka semua mendengarkan. Saya merasa dihargai oleh keseriusan mereka mendengarkannya. Namun saat dilihat dari realita di lapangan, hanya sebagian kecil dari mereka yang sungguh-sungguh menjadi pembaca aktif dan berfikir kritis.

Saya merasa gagal menanamkan kepada mereka untuk mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Namun, saya ternyata tidak sendirian. Teman-teman ku juga merasakan hal serupa: gagal menanamkan cinta membaca buku.

Kini mungkin alam kehidupan sudah berbeda dulu dan sekarang. Dulu kehidupan pelajar masih sebatas mengenal lingkungan terbatas dan hiburan apa adanya. Nilai-nilai moralitas lingkungan masih terjaga dengan baik. Kepatuhan terhadap orang tua dan guru masih terjaga dan terawat.

Kini dunia telah terbuka kuncinya. Pintu kebudayaan dan deras arus informasi tanpa batas. Waktu anak-anak sekarang sudah hampir habis di depan gadget, android, Iphone dan lain-lain. Mereka telah menemukan hiburan baru dan sekaligus menjadi tuntunan dalam kehidupan nya. Gadget telah berubah menjadi suri tauladan.

Mereka sudah mulai terasa kurang nikmat saat masuk sekolah atau kuliah. Mereka sudah tidak mau lagi mendapatkan beban tugas yang berat-berat. Gadget yang ada ditangannya dengan mudah membantu menyelesaikan masalah. Sangat mudah mengerjakan apa yang diperintahkan oleh guru atau dosen. Tentang benar dan salah itu urusan nomor sekian.

Pola kehidupan yang serba mudah atau kehidupan cepat saji ternyata tidak selama nya baik. Seperti makanan cepat saji yang sering menimbulkan beragam penyakit yang sangat membahayakan tubuh. Era digital pun demikian, ia telah menyiapkan ilmu pengetahuan, hiburan dan informasi siap saji kepada generasi muda. Mereka menerima asupan informasi tanpa ada filter yang tepat. Langsung dikunyah dan ditelan. Pola hidup semua “dikunyah” yang memungkinkan muncul beragam penyakit mental dan kejiwaan di usia masih anak-anak dan remaja. Bahkan kini prosentasenya sangat menghawatirkan. Indonesia termasuk masyarakat yang darurat. 1 dari 3 anak-anak atau remaja mengalami gangguang mental terutama kecemasan dan depresi.

Ini suatu alarm keras bagi masyarakat sekaligus pengambil kebijakan untuk memperbaiki kualitas mental anak-anak dan remaja generasi emas. Salah satu langkah untuk mengatasi tersebut yaitu membuat peraturan membatasi penggunaan gadget, media sosial dan sejenisnya terhadap anak-anak yang masih anak-anak dan remaja. Bisakah ini dilakukan oleh pemerintah?.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14912


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6603


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6001


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4842