Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri



Rabu , 18 Februari 2026



Telah dibaca :  138

Bagi sebagian muslim hari ini -rabu-sudah menjalankan ibadah puasa. Sebagian muslim lainnya melaksanakan ibadah puasa pada hari kamis. Semua umat Islam menjalankan ibadah puasa dalam rangka untuk mendapatkan titel mutaqin.

Ada batasan makna mutaqin yang sering kita dengar ketika di Hari Jum’at, para khatib hampir tidak pernah melepaskan definisi takwa dengan kalimat:”Menjalankan segala perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya”. Definisi sederhana, dan seolah-olah sudah mahfum. Namun menjadi rumit ketika makna tersebut diletakan sebagai perintah borongan dan larangan tanpa celah manusia berbuat dosa. Seolah-olah manusia adalah malaikat yang mempunyai kemampuan untuk meninggalkan segala larangannya. Bahkan para khatib sendiri yang selalu mengajurkan makna takwa tersebut tidak mampu sama sekali menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Para ulama mendefinisikan makna takwa berbeda-beda. Definisi sering melebar sehingga batasan takwa nya juga menjadi bias. Hal ini berangkat dari definisi makna menurut bahasa dan definisi hadist-hadist nabi ketika merespon terhadap pertanyaan para sahabat atau komentar-komtentar terhadap respon yang terjadi dalam kehidupan para sahabat-sahabatnya.

Contoh hadist-hadist nabi sebagai berikut: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan berbuat baik, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji." Hadist : “Rasulullah SAW bersabda bahwa faktor yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”.  Hadist :”Dari Abi Najih Al-Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw menasehati kami dengan sebuah pesasn yang membuat hati takut dan air mata berlinang. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah saw, wejanganmu ini seakan nasihat terakhir. Berilah kami nasehat. Rasulullah menjawab, “Aku berpesan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat sekalipun seorang budak habsyi menjadi pemerintahmu”. Masih banyak lagi.

Para sahabat juga mempunyai pemahaman takwa yang beragam. Ada definisi takwa dari Ali bin Abi Thalib: “Takwa adalah rasa takut kepada al-Jalil (Allah swt), mengamalkan isi Al-Qur'an, merasa cukup dengan rezeki yang ada terhadap yang sedikit, dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian nanti”. Ada ucapan lainnya:”Takwa adalah takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah), ridha dengan pemberian yang sedikit (qanaah), dan mempersiapkan diri untuk hari kematian”.

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Takwa diartikan sebagai ketaatan di mana Allah ditaati dan tidak dimaksiati, senantiasa diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri nikmat-Nya dan tidak dikufuri.”

Ubay bin Ka’ab berkata: “Ketika diibaratkan berjalan di jalan penuh duri, takwa adalah bersikap hati-hati, waspada, dan berusaha keras menghindari dosa agar tidak terkena "duri" (azab) Allah”.

Ibnu Abbas berkata: “Takwa adalah orang-orang mukmin yang takut berbuat syirik kepada Allah dan taat kepada-Nya, serta menghindari siksaan-Nya dengan mematuhi petunjuk-Nya”.

Memahami makna takwa di atas bukan hanya persoalan hubungan manusia dengan Tuhan nya, juga hubungan manusia dengan manusia dalam kontek kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam persoalan politik. Nabi memerintah patuh taat kepada budak habsy ketika memerintah-menjadi penguasa.

Dalam kontek ibadah sebagai realisasi ketaatan dan ketundukan manusia kepada tuhannya hingga belum bisa selesai secara tuntas. Para ahli ibadah masih mempraktekan ketulusan parsial dalam ibadah. Mereka bisa khusu’ dalam beribadah, tapi saat perbedaan model ibadah, tensi emosi naik dan menuduh ibadah umat Islam yang tidak sejalan dengan mereka dianggap telah melenceng dari syariat-syariat Islam. Kita melihat, satu kelompok dengan kelompok lain-padahal sesama muslim-tidak pernah selesai “menata hati” tentang hakikat ibadah kepada Tuhan. Ada egoisme sektoral dengan melakukan caci maki ibadah kelompok lain dengan segepok dalil pendukungnya. Padahal mereka tidak menyadari, bahwa dalil Tuhan bukan untuk diri mereka, tapi umat Islam lain juga mempunyai hak untuk memahami dalam versi nya.

Penulis kadang bertanya dalam hati, bagaimana mereka melotot matanya saat melihat cara beribadah berbeda dari mereka dengan sangat tajam dan merasa paling benar. Mengapa mereka tidak bisa melihat kita dengan pandangan ilahiyah sebagai jalan untuk mengenal diri sendiri. Begitu juga sebaliknya, kenapa kita sering tidak siap menerima mereka menyembah tuhan yang sama-sama kita sembah hanya gara-gara berbeda pada metode atau furu’ yang memang multitafsir di kalangan para ulama.

Penulis melihat fenomena tersebut sebagai suatu fakta bahwa sebagian umat Islam yang belum bisa menerima keberagaman. Satu sisi menyerahkan diri-ibadah- kepada Allah dan pada sisi lain raga nya sibuk mencari kesalahan-kesalahan sesama umat Islam. Mereka adalah umat Islam yang belum mukhsin dengan terperangkap “bayang-bayang makluk” dalam realita kehidupan. Mereka kehilangan esensi sebagai manusia. Ia terasa asing dengan dirinya sendiri. Setiap hari beribadah kepada Allah, tapi belum juga mengenal Allah. Diantara buktinya ia belum mengenal dirinya dan belum mengenal orang-orang disekitarnya. Mereka masih terjebak pada pengengalan sebatas formalitas, bukan pada subtansialnya.

Ajaran tasawuf mengatakan: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”. Realita, kita lebih mengenal nafsu nya sendiri ketimbang subtansi ibadah sebagai kepasrahan secara totalitas. Raga kita rajin menyembah-Nya, tapi pada saat yang sama kita gagal mengenal-Nya. Semakin kita tidak mengenal-Nya maka semakin arogansi hubungan kita dengan sesama manusia. Sebab cara pandang kita masih dibatasi oleh ruang-ruang dan sekat-sekat formal administrasi, belum mengarah pada esensi. Kedekatan kita kepada-Nya belum bisa memperhalus sifat, pikiran dan perbuatannya. Padahal Tuhan sudah begitu lembut kepada makhluk-Nya. Kita seolah-olah tidak ikhlas mengikuti ajaran tersebut kepada sesama manusia.

Tahun ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, bulan ramadhan selalu saja berbeda-beda. Ada yang lebih dulu berpuasa, ada yang setelahnya berpuasa. Pada tataran ini tidak ada persoalan. Puasa bukan terletak pada metode menentukan permulaan tanggal 1 ramadhan, tapi para realisasi menjalankan puasa sebagai hamba-hamba yang mutaqin yaitu yang semakin nikmat memperbaiki hubungan kepada Allah dan memperbaiki hubungan kepada sesama manusia.

Penetapan permulaan ramadhan merupakan metode. Itu pasti ada perbedaan. Jika kita rebut pada metode, maka kita terjebak pada egoisme sektoral. Itu sebabnya, kita tidak perlu rebut-ribut. Sebab kebenaran dan kesalahan dalam menentukan metode sama-sama mendapatkan pahala.

Walhasil, jika kita sebagai manusia yang asing dan terasing pada diri sendiri, maka tidaklah pantas kita merasa sempurna hidup di dunia ini. Kita masih membutuhkan orang lain untuk menyadarkan diri agar semakin mengenal diri. Kita masih membutuhkan pelajaran-pelajaran kehidupan dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu ada di bulan ramadhan. Bulan ini menjadi bulan memperbaiki status kita agar tidak terasing dengan dirinya sendiri. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   83

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   100

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   100

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   103

Board of Peace menjelang Ramadhan
11 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   89

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355