
Bagi sebagian muslim hari ini -rabu-sudah
menjalankan ibadah puasa. Sebagian muslim lainnya melaksanakan ibadah puasa pada
hari kamis. Semua umat Islam menjalankan ibadah puasa dalam rangka untuk
mendapatkan titel mutaqin.
Ada batasan makna mutaqin yang sering kita
dengar ketika di Hari Jum’at, para khatib hampir tidak pernah melepaskan
definisi takwa dengan kalimat:”Menjalankan segala perintah-perintah Allah
dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya”. Definisi sederhana, dan
seolah-olah sudah mahfum. Namun menjadi rumit ketika makna tersebut diletakan
sebagai perintah borongan dan larangan tanpa celah manusia berbuat dosa. Seolah-olah
manusia adalah malaikat yang mempunyai kemampuan untuk meninggalkan segala
larangannya. Bahkan para khatib sendiri yang selalu mengajurkan makna takwa
tersebut tidak mampu sama sekali menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Para ulama mendefinisikan makna takwa
berbeda-beda. Definisi sering melebar sehingga batasan takwa nya juga menjadi
bias. Hal ini berangkat dari definisi makna menurut bahasa dan definisi
hadist-hadist nabi ketika merespon terhadap pertanyaan para sahabat atau
komentar-komtentar terhadap respon yang terjadi dalam kehidupan para
sahabat-sahabatnya.
Contoh hadist-hadist nabi sebagai berikut: "Bertakwalah
kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan berbuat
baik, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak
terpuji." Hadist : “Rasulullah SAW bersabda bahwa faktor yang paling
banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak
yang mulia”. Hadist :”Dari Abi Najih
Al-Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw menasehati kami
dengan sebuah pesasn yang membuat hati takut dan air mata berlinang. Kami bertanya,
“Wahai Rasulullah saw, wejanganmu ini seakan nasihat terakhir. Berilah kami
nasehat. Rasulullah menjawab, “Aku berpesan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah,
patuh dan taat sekalipun seorang budak habsyi menjadi pemerintahmu”. Masih banyak
lagi.
Para sahabat juga mempunyai pemahaman takwa
yang beragam. Ada definisi takwa dari Ali bin Abi Thalib: “Takwa adalah rasa
takut kepada al-Jalil (Allah swt), mengamalkan isi Al-Qur'an, merasa cukup
dengan rezeki yang ada terhadap yang sedikit, dan mempersiapkan kehidupan
setelah kematian nanti”. Ada ucapan lainnya:”Takwa adalah takut kepada Allah
Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah), ridha dengan
pemberian yang sedikit (qanaah), dan mempersiapkan diri untuk hari kematian”.
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Takwa
diartikan sebagai ketaatan di mana Allah ditaati dan tidak dimaksiati,
senantiasa diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri nikmat-Nya dan tidak
dikufuri.”
Ubay bin Ka’ab berkata: “Ketika diibaratkan
berjalan di jalan penuh duri, takwa adalah bersikap hati-hati, waspada, dan
berusaha keras menghindari dosa agar tidak terkena "duri" (azab)
Allah”.
Ibnu Abbas berkata: “Takwa adalah
orang-orang mukmin yang takut berbuat syirik kepada Allah dan taat kepada-Nya,
serta menghindari siksaan-Nya dengan mematuhi petunjuk-Nya”.
Memahami makna takwa di atas bukan hanya
persoalan hubungan manusia dengan Tuhan nya, juga hubungan manusia dengan
manusia dalam kontek kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam persoalan politik.
Nabi memerintah patuh taat kepada budak habsy ketika memerintah-menjadi
penguasa.
Dalam kontek ibadah sebagai realisasi ketaatan
dan ketundukan manusia kepada tuhannya hingga belum bisa selesai secara tuntas.
Para ahli ibadah masih mempraktekan ketulusan parsial dalam ibadah. Mereka bisa
khusu’ dalam beribadah, tapi saat perbedaan model ibadah, tensi emosi naik dan
menuduh ibadah umat Islam yang tidak sejalan dengan mereka dianggap telah
melenceng dari syariat-syariat Islam. Kita melihat, satu kelompok dengan
kelompok lain-padahal sesama muslim-tidak pernah selesai “menata hati” tentang
hakikat ibadah kepada Tuhan. Ada egoisme sektoral dengan melakukan caci maki
ibadah kelompok lain dengan segepok dalil pendukungnya. Padahal mereka tidak
menyadari, bahwa dalil Tuhan bukan untuk diri mereka, tapi umat Islam lain juga
mempunyai hak untuk memahami dalam versi nya.
Penulis kadang bertanya dalam hati,
bagaimana mereka melotot matanya saat melihat cara beribadah berbeda dari
mereka dengan sangat tajam dan merasa paling benar. Mengapa mereka tidak bisa
melihat kita dengan pandangan ilahiyah sebagai jalan untuk mengenal diri
sendiri. Begitu juga sebaliknya, kenapa kita sering tidak siap menerima mereka
menyembah tuhan yang sama-sama kita sembah hanya gara-gara berbeda pada metode
atau furu’ yang memang multitafsir di kalangan para ulama.
Penulis melihat fenomena tersebut sebagai
suatu fakta bahwa sebagian umat Islam yang belum bisa menerima keberagaman. Satu
sisi menyerahkan diri-ibadah- kepada Allah dan pada sisi lain raga nya sibuk mencari
kesalahan-kesalahan sesama umat Islam. Mereka adalah umat Islam yang belum mukhsin
dengan terperangkap “bayang-bayang makluk” dalam realita kehidupan. Mereka
kehilangan esensi sebagai manusia. Ia terasa asing dengan dirinya sendiri. Setiap
hari beribadah kepada Allah, tapi belum juga mengenal Allah. Diantara buktinya
ia belum mengenal dirinya dan belum mengenal orang-orang disekitarnya. Mereka masih
terjebak pada pengengalan sebatas formalitas, bukan pada subtansialnya.
Ajaran tasawuf mengatakan: “Barangsiapa
mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”. Realita, kita lebih mengenal
nafsu nya sendiri ketimbang subtansi ibadah sebagai kepasrahan secara
totalitas. Raga kita rajin menyembah-Nya, tapi pada saat yang sama kita gagal
mengenal-Nya. Semakin kita tidak mengenal-Nya maka semakin arogansi hubungan
kita dengan sesama manusia. Sebab cara pandang kita masih dibatasi oleh ruang-ruang
dan sekat-sekat formal administrasi, belum mengarah pada esensi. Kedekatan kita
kepada-Nya belum bisa memperhalus sifat, pikiran dan perbuatannya. Padahal Tuhan
sudah begitu lembut kepada makhluk-Nya. Kita seolah-olah tidak ikhlas mengikuti
ajaran tersebut kepada sesama manusia.
Tahun ini, sebagaimana tahun-tahun
sebelumnya, bulan ramadhan selalu saja berbeda-beda. Ada yang lebih dulu
berpuasa, ada yang setelahnya berpuasa. Pada tataran ini tidak ada persoalan. Puasa
bukan terletak pada metode menentukan permulaan tanggal 1 ramadhan, tapi para
realisasi menjalankan puasa sebagai hamba-hamba yang mutaqin yaitu yang semakin
nikmat memperbaiki hubungan kepada Allah dan memperbaiki hubungan kepada sesama
manusia.
Penetapan permulaan ramadhan merupakan
metode. Itu pasti ada perbedaan. Jika kita rebut pada metode, maka kita
terjebak pada egoisme sektoral. Itu sebabnya, kita tidak perlu rebut-ribut. Sebab
kebenaran dan kesalahan dalam menentukan metode sama-sama mendapatkan pahala.
Walhasil, jika kita sebagai manusia yang
asing dan terasing pada diri sendiri, maka tidaklah pantas kita merasa sempurna
hidup di dunia ini. Kita masih membutuhkan orang lain untuk menyadarkan diri
agar semakin mengenal diri. Kita masih membutuhkan pelajaran-pelajaran
kehidupan dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu ada di bulan ramadhan.
Bulan ini menjadi bulan memperbaiki status kita agar tidak terasing dengan
dirinya sendiri.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   83
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   100
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   100
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   103
Board of Peace menjelang Ramadhan
11 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   89
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355