Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Board of Peace menjelang Ramadhan



Rabu , 11 Februari 2026



Telah dibaca :  89

Almukarom Plato pernah mengatakan bahwa jiwa manusia bersifat abadi. Agama Islam pun mengajarkan kepada penganutnya tentang kekekalan jiwa. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Ghozali sangat serius membahas persoalan tersebut secara mendetail. Jiwa dengan segala nama nya merupakan tempat yang suci dan sumber ilmu pengetahuan dan kebenaran. Jasad sebatas mengikuti apa kata jiwa. Kadang  nurut, kadang juga berontak.

Islam menegaskan tentang konsistensi jiwa dan inkonistensi jasad sebagaimana Q.S. As-Syu’ara ayat 88-89 yang berbunyi: “Pada hari dimana harta dan anak tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap kepada Allah dengan qalbun salim”. Ayat tersebut tersirat beragam jiwa manusia dalam menempuh keputusan hidup: nafsu mutmainah dan nafsu sayyi ah. Keduanya bertolak belakang dan mempunyai tujuan hidup berbeda-beda. Nafsu sayyi'ah telah menutupi cahaya-cahaya kebenaran dalam jiwa. Sehingga jiwa pun mati.

Perilaku tersebut tidak hanya persoalan dinamika dunia, tetapi juga pada persoalan yang bersifat religious. Allah dalam surat al-ma’un mengajukan pertanyaan dan dijawab sendiri oleh-Nya, yaitu tentang pendusta agama. Pada ayat tersebut Allah menjelaskan tentang pendusta agama yaitu menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.

Seolah-olah Allah berkata, buat apa kamu beragama tapi tidak mempunyai empati kepada sesame manusia, tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Ketika melihat penderitaan orang lain kamu justru semena-mena dan tidak bergerak sedikit pun hati untuk menolongnya.

Ayat selanjutnya lebih pada tataran praktis. Allah memperjelas tentang konskuensi ahli ibadah-ahli sholat- yang masuk kategori celaka yaitu orang yang lupa diri terhadap esensi diri pada nilai-nilai kemanusiaan dengan bersikap sombong dan tidak peduli kepada sesama manusia.

Jika agama sebagai konstitusi yang bersifat umum, maka sholat bersifat khusus. Agama merupakan konstitusi dari Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia. Di dalamnya mengatur banyak sekali aturan hubungan dengan Allah berupa ibadah ritual dan ibadah sosial-ibadah dan muamalah. Sholat bagian dari beragam ibadah. Jika agama sebagai jalan untuk menundukan diri secara totalitas kepada Allah, maka sholat sebagai wujud totalitas penghambaan manusia dalam wujud ritual kepada-Nya. Artinya hanya satu-satunya Tuhan yang disembah oleh umat Islam adalah Allah SWT.

Namun kebenaran beragama seorang muslim tidak sebatas pada kebaikan nya kepada Sang Pencipta. Perilaku ini hanya sebagaian dari regulasi agama. Ada pasal-pasal dan ayat-ayat konsitusi yang mengatur kehidupan sesama manusia. Sebab semua yang ada di alam semesta ini bagian dari ayat-ayat sebagai bagian dari penjabaran kitab suci. Ketika seorang muslim tidak empati atau tidak peduli terhadap kehidupan di sekitarnya, sebenarnya ia sedang mereduksi aturan agama yang maha luas hanya sebatas ritual. Seolah-olah kesolehan yang telah dibentuk dengan banyak nya ibadah kepada-nya sebagai puncak ketakwaan tertinggi.

Ketika allah mencela orang beragama dan ahli ibadah bukan berarti tidak menyukai orang-orang beribadah kepada-nya. sebab bagaimanapun beragama dan sholat bagian dari perintah-nya yang tidak boleh ditinggalkan oleh umat islam.

Allah sedang menekankan tentang makna ibadah sebagai wujud keselarasan manusia yang ideal yaitu kemampuan mendesain diri membangun hubungan vertical dan horizontal. Kedua hubungan ini merupakan inti dari manusia yang letaknya dalam hati-jiwa manusia. Setiap jiwa akan mengatakan secara jujur bahwa  membutuhkan sandaran spiritual agar mendapatkan ketenangan dan kejelasan tujuan hidup. Disisi lain jiwa juga akan mengatakan secara jujur bahwa dirinya tidak mungkin hidup dengan menyakiti orang lain. Serusak apapun manusia, jiwa atau hati akan mengatakan secara jujur bahwa berbuat maksiat itu tidak benar dan berbuat baik pasti benar.

Dari sini sebenarnya antara agama dan kemanusiaan dalam hati manusia selalu ada titik temu dan tidak bisa dipisahkan. Keduanya sejalan, selaras dan sama-sama menginginkan adanya kedamaian hati bersama dengan Tuhan melalui rangkaian ibadah dan kedamaian dengan sesama manusia melalui lelaku kebaikan kepada sesamanya tanpa melihat latarbelakang agama, suku, etnis dan budaya.

Adanya titik temu ini sebenarnya jiwa manusia mempunyai kesamaan cita-cita yaitu keinginan menciptakan ketenangan, kenyamanan, kesenangan dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat dengan ruang tanpa batas. Ini yang disebut dengan board of peace yaitu hamparan perdamaian yang bersumber dari agama dan jiwa suci manusia.

Semoga menjelang masuk bulan ramadhan kita mendapatkan dua kedamaian yaitu kedamaian spiritual dan kedamaian sosial. Sehingga kita bisa melaksanakan ibadah dengan khusu’ sekaligus bisa membangun kebersaman dengan sesama nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   83

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   139

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   101

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   101

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   103

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355