
Almukarom Plato pernah mengatakan bahwa
jiwa manusia bersifat abadi. Agama Islam pun mengajarkan kepada penganutnya
tentang kekekalan jiwa. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Ghozali sangat
serius membahas persoalan tersebut secara mendetail. Jiwa dengan segala nama
nya merupakan tempat yang suci dan sumber ilmu pengetahuan dan kebenaran. Jasad
sebatas mengikuti apa kata jiwa. Kadang nurut, kadang juga berontak.
Islam menegaskan tentang
konsistensi jiwa dan inkonistensi jasad sebagaimana Q.S. As-Syu’ara ayat 88-89 yang
berbunyi: “Pada hari dimana harta dan anak tidak berguna kecuali orang-orang
yang menghadap kepada Allah dengan qalbun salim”. Ayat tersebut tersirat
beragam jiwa manusia dalam menempuh keputusan hidup: nafsu mutmainah dan
nafsu sayyi ah. Keduanya bertolak belakang dan mempunyai tujuan hidup
berbeda-beda. Nafsu sayyi'ah telah menutupi cahaya-cahaya kebenaran dalam jiwa. Sehingga jiwa pun mati.
Perilaku tersebut tidak hanya persoalan dinamika
dunia, tetapi juga pada persoalan yang bersifat religious. Allah dalam
surat al-ma’un mengajukan pertanyaan dan dijawab sendiri oleh-Nya, yaitu
tentang pendusta agama. Pada ayat tersebut Allah menjelaskan tentang pendusta
agama yaitu menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.
Seolah-olah Allah berkata, buat apa kamu
beragama tapi tidak mempunyai empati kepada sesame manusia, tidak mempunyai
rasa kemanusiaan. Ketika melihat penderitaan orang lain kamu justru semena-mena
dan tidak bergerak sedikit pun hati untuk menolongnya.
Ayat selanjutnya lebih pada tataran
praktis. Allah memperjelas tentang konskuensi ahli ibadah-ahli sholat- yang
masuk kategori celaka yaitu orang yang lupa diri terhadap esensi diri pada
nilai-nilai kemanusiaan dengan bersikap sombong dan tidak peduli kepada sesama
manusia.
Jika agama sebagai konstitusi yang bersifat
umum, maka sholat bersifat khusus. Agama merupakan konstitusi dari Tuhan untuk
mengatur kehidupan manusia. Di dalamnya mengatur banyak sekali aturan hubungan dengan
Allah berupa ibadah ritual dan ibadah sosial-ibadah dan muamalah. Sholat bagian
dari beragam ibadah. Jika agama sebagai jalan untuk menundukan diri secara totalitas
kepada Allah, maka sholat sebagai wujud totalitas penghambaan manusia dalam
wujud ritual kepada-Nya. Artinya hanya satu-satunya Tuhan yang disembah oleh umat
Islam adalah Allah SWT.
Namun kebenaran beragama seorang muslim
tidak sebatas pada kebaikan nya kepada Sang Pencipta. Perilaku ini hanya
sebagaian dari regulasi agama. Ada pasal-pasal dan ayat-ayat konsitusi yang
mengatur kehidupan sesama manusia. Sebab semua yang ada di alam semesta ini
bagian dari ayat-ayat sebagai bagian dari penjabaran kitab suci. Ketika seorang
muslim tidak empati atau tidak peduli terhadap kehidupan di sekitarnya, sebenarnya
ia sedang mereduksi aturan agama yang maha luas hanya sebatas ritual. Seolah-olah
kesolehan yang telah dibentuk dengan banyak nya ibadah kepada-nya sebagai
puncak ketakwaan tertinggi.
Ketika allah mencela orang beragama dan
ahli ibadah bukan berarti tidak menyukai orang-orang beribadah kepada-nya.
sebab bagaimanapun beragama dan sholat bagian dari perintah-nya yang tidak
boleh ditinggalkan oleh umat islam.
Allah sedang menekankan tentang makna
ibadah sebagai wujud keselarasan manusia yang ideal yaitu kemampuan mendesain
diri membangun hubungan vertical dan horizontal. Kedua hubungan ini merupakan
inti dari manusia yang letaknya dalam hati-jiwa manusia. Setiap jiwa akan
mengatakan secara jujur bahwa membutuhkan sandaran spiritual agar
mendapatkan ketenangan dan kejelasan tujuan hidup. Disisi lain jiwa juga akan
mengatakan secara jujur bahwa dirinya tidak mungkin hidup dengan menyakiti
orang lain. Serusak apapun manusia, jiwa atau hati akan mengatakan secara jujur
bahwa berbuat maksiat itu tidak benar dan berbuat baik pasti benar.
Dari sini sebenarnya antara agama dan
kemanusiaan dalam hati manusia selalu ada titik temu dan tidak bisa dipisahkan.
Keduanya sejalan, selaras dan sama-sama menginginkan adanya kedamaian hati bersama
dengan Tuhan melalui rangkaian ibadah dan kedamaian dengan sesama manusia
melalui lelaku kebaikan kepada sesamanya tanpa melihat latarbelakang agama,
suku, etnis dan budaya.
Adanya titik temu ini sebenarnya jiwa
manusia mempunyai kesamaan cita-cita yaitu keinginan menciptakan ketenangan,
kenyamanan, kesenangan dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat dengan ruang
tanpa batas. Ini yang disebut dengan board of peace yaitu hamparan
perdamaian yang bersumber dari agama dan jiwa suci manusia.
Semoga menjelang masuk bulan ramadhan kita
mendapatkan dua kedamaian yaitu kedamaian spiritual dan kedamaian sosial. Sehingga
kita bisa melaksanakan ibadah dengan khusu’ sekaligus bisa membangun kebersaman
dengan sesama nya.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   83
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   139
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   101
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   101
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   103
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355