
Saya membaca perdebatan persoalan perang
air di media sosial. Lebih-lebih tahun ini tradisi perang air Etnis Tionghoa terjadi
di awal bulan ramadhan. Lebih-lebih lagi, musim kemarau masih berlangsung. Tentu
perdebatannya bertambah seru. Bukan hanya persoalan budaya, merembet pada keyakinan
dengan mengeluarkan beragam dalil tentang boleh atau tidaknya perang air.
Untung saja hujan turun. Saking derasnya,
hingga tulisan ini dibuat hujan masih terus mengguyur bumi meranti. Jangan-jangan
tadi pagi ada hamba Allah yang doa minta hujan kebablasan: “Ya Allah, turunkan
air hujan yang lebat”. Terkabulkan. Benar-benar lebat. Jika banjir jangan salah
Tuhan. Nanti doa lagi, agar hujan berhenti dan banjir segera surut. Tidak apa
apa, Tuhan Maha Baik, kita saja yang kadang kurang ajar sama Tuhan.
Saya membaca nya dan menikmatinya. Cukup baik.
Beragam pandangan bagus-bagus saja. Ada pendekatan budaya, ada pendekatan
agama, ada pendekatan kesamaan perlindungan status sebagai warga negara.
“Jika anda orang Islam bisa takbir keliling
di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dan menggunakan toa di untuk adzan dan
iqomah serta ceramah di hari besar Islam, kenapa gue tidak boleh”, kata seseorang
anonim membela diri.
Keberagaman perilaku sosial memang selalu
saja melahirkan beragam presepsi. Para ulama juga berbeda-beda pandangan hukum
nya. Namun bukan berarti keberagaman fatwa kemudian menjadi dasar untuk
menjustifikasi bahwa kelompok si-A paling benar dan sholeh, sedangkan kelompok
si-B kelompok yang iman nya “minggring-minggring”, “iman nya lemot”,
“agen yahudi”, “Islam liberal” dan sebagainya.
Jadi ijtihad merupakan hasil kajian hukum. Ini
tidak ada hubungan tentang persoalan keimanan seseorang. Tapi kelihatannya di tengah
arus perubahan budaya yang sangat cepat, ada sebagian orang sering memposisikan
diri seolah-olah seperti Tuhan dengan kemampuan “mengukur” keimanan seseorang. Lebih
ngeri lagi, dengan mudah juga mengatakan “kafir” kepada orang Islam yang tidak
sependapat dengan nya. Jadi kesannya, seolah ia lebih Tuhan dari Tuhan. Padahal
kita sama-sama ma’lum bahwa “persoalan” keimanan dan kekafiran seseorang
yang tahu hanya Allah dan hanya dia yang berhak untuk memutuskan kafir atau
tidak nya seseorang.
Sebagian umat Islam sering juga memahami
bahwa fatwa merupakan harga mati dan tidak bisa berubah-rubah. Seolah-olah sama
dengan al-qur’an dan hadist. Padahal kita mengetahui bersama bahwa yang tidak
berubah hanya al-qur’an dan hadist. Fatwa bisa mengalami perubahan karena ada
beragam alasan dan pergeseran waktu dan kondisi alam atau masyarakat.
Pada masa penjajahan belanda, ulama NU mengharamkan
pakai celana panjang, Jas, dan Dasi -tentu tidak semua ulama NU mengharamkan. Sebab
itu tasyabuh-menyerupai budaya orang kafir. Orang belanda suka pakai jas, celana
Panjang dan dasi. Umat ikut-ikutan. Akhirnya pakaian sama. Bedanya tinggal
postur tubuhnya, mancung dan pesek hidungnya saja.
Dasarnya menggunakan hadist Nabi Muhammad SAW
sebagai berikut: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk
golongan mereka”. Hadist lain: “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang
sebelum kalian sejengkal demi sejengkal...". Hadist lain: “"Bukan
termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami".
Ulama Muhamadiyah tidak mengharamkan. Tidak
juga bilang tasyabuh. Ulama mereka sudah banyak yang memakai celana panjang,
jas dan dasi pada masa penjajah belanda. Mereka tetap enjoy saja. Sebagian ulama
NU seperti KH Wahid Hasyim punya pandangan sama dengan ulama Muhamadiyah. Ia suka
memakai Jas dan melakukan modernisasi sistem pendidikan Pesantren Tebuireng dengan
menggunakan kurikulum seperti saat sekarang ini.
Kini baik ulama NU, Muhamadiyah dan ulama
lainnya sudah biasa memakai celana Panjang, jas dan dasi. Semua telah mengikuti
budaya barat -lebih ekstrem lagi budaya kaum yahudi. Semua tidak ada persoalan.
Bahkan ulama yang sering berkata dan
berdalil tentang “tasyabuh” pun tidak sadar sudah ikut-ikutan tasyabuh. Ceramah
sudah memakai celana panjang dan mempunyai mobil sebagai bagian dari kebutuhan
dan gaya hidup.
Kini telah terjadi benturan peradaban. Di era
digital kehidupan manusia sudah diserbu oleh alat komunikasi. Anda sholeh atau
tidak sholeh sama-sama sudah menggunakan alat digital seperti iphone dan android
yang sebelumnya budaya barat dan china. Kini orang-orang sholeh sudah
benar-benar tasyabuh melalui dunia maya. Secara alamiah, hanya
negara-negara kuat yang akan menguasai peradaban dan budaya masyarakat. Bangsa yang
belum kuat akan melakukan pembelaan dengan segala argumentasi yang ada.
Namanya juga orang sholeh akan dengan mudah
berfatwa: “ tidak apa-apa kita meniru produk orang barat, tujuan kita agar
bisa berdakwah melalui media sosial”.
Lagi-lagi kalau pun dikaji lebih mendalam,
jawaban yang terlihat benar tersebut bisa jadi salah. Sebab dengan menggunakan
produk kaum yahudi maka secara langsung sedang memperkaya orang-orang yahudi. Hingga
kini, ekonomi yahudi menjadi terkuat di dunia karena produk media sosial
seperti FB, X, TIK TOK dan sejenisnya. sadarkah anda?
Walhasil, kita memang sering mengkritik
secara parsial apa-apa yang menurut kita kurang “sreg” dengan budaya dan
ajaran agama kita-sebagai seorang muslim. Perang air yang sudah berlangsung
lama di Selatpanjang pun tidak lepas menjadi perbincangan ulang tentang
statusnya dalam kontek budaya melayu dan ajaran agama Islam. Ini lebih menarik
diperbincangkan daripa membahas status HP dan media sosial kita yang
jelas-jelas produk kaum yahudi. Jika perang air mungkin berdampak pada ekonomi
meranti, tapi media sosial dan HP kita justru semakin memperkuat ekonomi kaum
yahudi. Repot bukan?
Saya memang tidak alergi terhadap perang air
dan tidak juga fanatik. Biasa-biasa saja. Saya juga tidak pernah ikut-ikutan. Saya
tidak ada perasaan apa-apa. Biasa saja. Bahkan hampir tidak pernah melihatnya. Jika
toh melihat, itu karena anak – anak minta ingin melihatnya. Itupun dari jarak
jauh.
Saya kurang berkenan ikut acara perang air
bukan karena apa-apa. Bukan juga karena memakai dalil yang ekstrem tentang
tasyabuh. Cuma rasanya tidak enak saja. Ma’lum lah, saya sering disebut sebagai
ustadz yang harus menjaga pandangan mata. Meskipun saya sudah berumur kepala
lima, melihat amoy-amoy memakai baju begini tentu saja masih seperti
anak-anak muda yang lagi masuk level baligh tingkat tinggi. Itu sebabnya, para
peserta perang air memakai baju dengan menutup aurat. Jangan terlihat vulgar. Ma’lum
lah, iman ku masih lemah.
Tentan perang air, saya sejak kecil dulu
sudah pernah melakukannya dengan membuat pestol dari bambu kecil. Saling semprot-semprotan
dengan teman-teman. Saya tanya sama teman-teman ku yang lahir di Selatpanjang
juga sama, dulu pernah perang-perangan air. Orang tua kita dulu mewariskan
tentang budaya dari realita masa kecilnya yaitu realita perang antara penjajah
dan masyarakat pribumi. Permainan menumbuhkan cinta terhadap tanah air.
Saya tidak akan memperdalam kajian budaya-atau
mungkin ritual- perang air yang dilakukan oleh saudara kita dari etnis tionghoa.
Tentu saja yang perlu diingat bersama, saudara etnis tionghoa adalah bagian
dari masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti. Mereka lahir dan punya KTP disini.
Bahkan seluruh ruko dan usaha di Sepanjang jalan utama hampir semua milik
mereka. Puluhan usaha sagu hampir-mungkin juga-90% milik mereka. Mereka benar-benar
bagian dari masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti.
Ini menjadi kewajiban pemerintah daerah Kabupaten
Kepulauan Meranti harus bersikap adil memberi kesempatan setiap budaya tumbuh
berkembang di sini.
Hal sama termasuk saat para pengkritik ketika
menjadi bupati, wakil bupati atau pejabat pemda, mau tidak mau harus bersikap
adil kepada seluruh lapisan masyarakat.
Tentu saja karena perang air sudah masuk
pada bulan suci Ramadhan, kita sama-sama menjaga perasaan penganut agama
masing-masing masyarakat. Yang mayoritas tidak boleh arogan, begitu juga yang
minoritas tidak boleh sesumbar. Hidup perlu saling menghormati kebebasan dan
keberagaman. Egoisme dengan analisi sempit bisa membuat kesimpulan yang
blunder. Semoga pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti bisa
memahami keberagaman dan bisa saling menghormati perbedaan.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   83
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   139
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   101
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   103
Board of Peace menjelang Ramadhan
11 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   89
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355