Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama



Selasa , 17 Februari 2026



Telah dibaca :  100

Saya membaca perdebatan persoalan perang air di media sosial. Lebih-lebih tahun ini tradisi perang air Etnis Tionghoa terjadi di awal bulan ramadhan. Lebih-lebih lagi, musim kemarau masih berlangsung. Tentu perdebatannya bertambah seru. Bukan hanya persoalan budaya, merembet pada keyakinan dengan mengeluarkan beragam dalil tentang boleh atau tidaknya perang air.

Untung saja hujan turun. Saking derasnya, hingga tulisan ini dibuat hujan masih terus mengguyur bumi meranti. Jangan-jangan tadi pagi ada hamba Allah yang doa minta hujan kebablasan: “Ya Allah, turunkan air hujan yang lebat”. Terkabulkan. Benar-benar lebat. Jika banjir jangan salah Tuhan. Nanti doa lagi, agar hujan berhenti dan banjir segera surut. Tidak apa apa, Tuhan Maha Baik, kita saja yang kadang kurang ajar sama Tuhan.

Saya membaca nya dan menikmatinya. Cukup baik. Beragam pandangan bagus-bagus saja. Ada pendekatan budaya, ada pendekatan agama, ada pendekatan kesamaan perlindungan status sebagai warga negara.

“Jika anda orang Islam bisa takbir keliling di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dan menggunakan toa di untuk adzan dan iqomah serta ceramah di hari besar Islam, kenapa gue tidak boleh”, kata seseorang anonim membela diri.

Keberagaman perilaku sosial memang selalu saja melahirkan beragam presepsi. Para ulama juga berbeda-beda pandangan hukum nya. Namun bukan berarti keberagaman fatwa kemudian menjadi dasar untuk menjustifikasi bahwa kelompok si-A paling benar dan sholeh, sedangkan kelompok si-B kelompok yang iman nya “minggring-minggring”, “iman nya lemot”, “agen yahudi”, “Islam liberal” dan sebagainya.

Jadi ijtihad merupakan hasil kajian hukum. Ini tidak ada hubungan tentang persoalan keimanan seseorang. Tapi kelihatannya di tengah arus perubahan budaya yang sangat cepat, ada sebagian orang sering memposisikan diri seolah-olah seperti Tuhan dengan kemampuan “mengukur” keimanan seseorang. Lebih ngeri lagi, dengan mudah juga mengatakan “kafir” kepada orang Islam yang tidak sependapat dengan nya. Jadi kesannya, seolah ia lebih Tuhan dari Tuhan. Padahal kita sama-sama ma’lum bahwa “persoalan” keimanan dan kekafiran seseorang yang tahu hanya Allah dan hanya dia yang berhak untuk memutuskan kafir atau tidak nya seseorang.

Sebagian umat Islam sering juga memahami bahwa fatwa merupakan harga mati dan tidak bisa berubah-rubah. Seolah-olah sama dengan al-qur’an dan hadist. Padahal kita mengetahui bersama bahwa yang tidak berubah hanya al-qur’an dan hadist. Fatwa bisa mengalami perubahan karena ada beragam alasan dan pergeseran waktu dan kondisi alam atau masyarakat.

Pada masa penjajahan belanda, ulama NU mengharamkan pakai celana panjang, Jas, dan Dasi -tentu tidak semua ulama NU mengharamkan. Sebab itu tasyabuh-menyerupai budaya orang kafir. Orang belanda suka pakai jas, celana Panjang dan dasi. Umat ikut-ikutan. Akhirnya pakaian sama. Bedanya tinggal postur tubuhnya, mancung dan pesek hidungnya saja.

Dasarnya menggunakan hadist Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”. Hadist lain: “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal...". Hadist lain: “"Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami".

Ulama Muhamadiyah tidak mengharamkan. Tidak juga bilang tasyabuh. Ulama mereka sudah banyak yang memakai celana panjang, jas dan dasi pada masa penjajah belanda. Mereka tetap enjoy saja. Sebagian ulama NU seperti KH Wahid Hasyim punya pandangan sama dengan ulama Muhamadiyah. Ia suka memakai Jas dan melakukan modernisasi sistem pendidikan Pesantren Tebuireng dengan menggunakan kurikulum seperti saat sekarang ini.

Kini baik ulama NU, Muhamadiyah dan ulama lainnya sudah biasa memakai celana Panjang, jas dan dasi. Semua telah mengikuti budaya barat -lebih ekstrem lagi budaya kaum yahudi. Semua tidak ada persoalan.

Bahkan ulama yang sering berkata dan berdalil tentang “tasyabuh” pun tidak sadar sudah ikut-ikutan tasyabuh. Ceramah sudah memakai celana panjang dan mempunyai mobil sebagai bagian dari kebutuhan dan gaya hidup.

Kini telah terjadi benturan peradaban. Di era digital kehidupan manusia sudah diserbu oleh alat komunikasi. Anda sholeh atau tidak sholeh sama-sama sudah menggunakan alat digital seperti iphone dan android yang sebelumnya budaya barat dan china. Kini orang-orang sholeh sudah benar-benar tasyabuh melalui dunia maya. Secara alamiah, hanya negara-negara kuat yang akan menguasai peradaban dan budaya masyarakat. Bangsa yang belum kuat akan melakukan pembelaan dengan segala argumentasi yang ada.

Namanya juga orang sholeh akan dengan mudah berfatwa: “ tidak apa-apa kita meniru produk orang barat, tujuan kita agar bisa berdakwah melalui media sosial”.

Lagi-lagi kalau pun dikaji lebih mendalam, jawaban yang terlihat benar tersebut bisa jadi salah. Sebab dengan menggunakan produk kaum yahudi maka secara langsung sedang memperkaya orang-orang yahudi. Hingga kini, ekonomi yahudi menjadi terkuat di dunia karena produk media sosial seperti FB, X, TIK TOK dan sejenisnya. sadarkah anda?

Walhasil, kita memang sering mengkritik secara parsial apa-apa yang menurut kita kurang “sreg” dengan budaya dan ajaran agama kita-sebagai seorang muslim. Perang air yang sudah berlangsung lama di Selatpanjang pun tidak lepas menjadi perbincangan ulang tentang statusnya dalam kontek budaya melayu dan ajaran agama Islam. Ini lebih menarik diperbincangkan daripa membahas status HP dan media sosial kita yang jelas-jelas produk kaum yahudi. Jika perang air mungkin berdampak pada ekonomi meranti, tapi media sosial dan HP kita justru semakin memperkuat ekonomi kaum yahudi. Repot bukan?

Saya memang tidak alergi terhadap perang air dan tidak juga fanatik. Biasa-biasa saja. Saya juga tidak pernah ikut-ikutan. Saya tidak ada perasaan apa-apa. Biasa saja. Bahkan hampir tidak pernah melihatnya. Jika toh melihat, itu karena anak – anak minta ingin melihatnya. Itupun dari jarak jauh.

Saya kurang berkenan ikut acara perang air bukan karena apa-apa. Bukan juga karena memakai dalil yang ekstrem tentang tasyabuh. Cuma rasanya tidak enak saja. Ma’lum lah, saya sering disebut sebagai ustadz yang harus menjaga pandangan mata. Meskipun saya sudah berumur kepala lima, melihat amoy-amoy memakai baju begini tentu saja masih seperti anak-anak muda yang lagi masuk level baligh tingkat tinggi. Itu sebabnya, para peserta perang air memakai baju dengan menutup aurat. Jangan terlihat vulgar. Ma’lum lah, iman ku masih lemah.

Tentan perang air, saya sejak kecil dulu sudah pernah melakukannya dengan membuat pestol dari bambu kecil. Saling semprot-semprotan dengan teman-teman. Saya tanya sama teman-teman ku yang lahir di Selatpanjang juga sama, dulu pernah perang-perangan air. Orang tua kita dulu mewariskan tentang budaya dari realita masa kecilnya yaitu realita perang antara penjajah dan masyarakat pribumi. Permainan menumbuhkan cinta terhadap tanah air.

Saya tidak akan memperdalam kajian budaya-atau mungkin ritual- perang air yang dilakukan oleh saudara kita dari etnis tionghoa. Tentu saja yang perlu diingat bersama, saudara etnis tionghoa adalah bagian dari masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti. Mereka lahir dan punya KTP disini. Bahkan seluruh ruko dan usaha di Sepanjang jalan utama hampir semua milik mereka. Puluhan usaha sagu hampir-mungkin juga-90% milik mereka. Mereka benar-benar bagian dari masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti.

Ini menjadi kewajiban pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Meranti harus bersikap adil memberi kesempatan setiap budaya tumbuh berkembang di sini.

Hal sama termasuk saat para pengkritik ketika menjadi bupati, wakil bupati atau pejabat pemda, mau tidak mau harus bersikap adil kepada seluruh lapisan masyarakat.

Tentu saja karena perang air sudah masuk pada bulan suci Ramadhan, kita sama-sama menjaga perasaan penganut agama masing-masing masyarakat. Yang mayoritas tidak boleh arogan, begitu juga yang minoritas tidak boleh sesumbar. Hidup perlu saling menghormati kebebasan dan keberagaman. Egoisme dengan analisi sempit bisa membuat kesimpulan yang blunder. Semoga pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti bisa memahami keberagaman dan bisa saling menghormati perbedaan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   83

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   139

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   101

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   103

Board of Peace menjelang Ramadhan
11 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   89

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355