Avatar

A. Ushfuri

Penulis Kolom

6 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

"

Pelamun yang menulis daily journal, membaca dan mencoba meramu prosa dan puisi. Berkepribadian melankolik, romantik, dan narsistik. Bisa dikenal melalui

Ig : @standbymi1

"

Obituari Bapapuh



Rabu , 25 Februari 2026



Telah dibaca :  127

Ada kasih sayang yang selalu underrated, kasih sayang itu milik orang yang mungkin lebih dulu sayang pada kita sebelum ayah ibu kita, bahkan jauh sebelum kita lahir. Orang itu adalah kakek nenek.


Memang tidak salah ada ungkapan bahwa puncak kenyamanan adalah rumah nenek. Tempat paling nyaman bagi kita cucu-cucunya, senyaman ayunan bayi. 


Rumahnya berada di desa dengan sawahnya. Tapi yang dimaksud disini sebenarnya bukan rumah nenek yang berada di kampung halaman di Riau, hanya ada kebon getah disitu. Rumah mbah itu ada di Ciamis, sebenarnya itu mbah kandungnya Hasbia sepupuku. Namanya Mbah Basri, Hasbia memanggilnya Bapapuh. Tapi bagiku rumah Mbah Basri sudah seperti rumah kakek nenek lainnya. Sempat kesana sekitar hampir 4 tahun lalu.


Masih ingat ketika Bapapuh mengajakku berkeliling sawah. Pagi itu aku bangun telat seperti biasanya, dan memutar lagu-lagu dewa 19 keras-keras di speaker. Mamapuh, begitu Hasbia memanggil neneknya—tahu pagi itu aku sedang badmood gara-gara ketinggalan rombongan yang hendak berpelesir ke Pantai Pangandaran dengan mobil Pick up. Sial, tak ada apa-apa bisa dilakukan selain tidur.


Mbah Basri dengan insting seorang mbah juga bisa membaca raut cemberut di wajahku, ia selalu tampak berseri-seri. Ia menghidupkan mesin motor beat merahnya, mengajak berjalan-jalan ke sawah sekitar situ. Dengan muka kusut bangun tidur aku diboncengnya. Dan yang kulihat kemudian ternyata lebih seru daripada yang terbayang.


Kami berbelok ke jalan tanah yang menuju belakang rumah warga, ternyata di belakang situlah sawah mbah berada. Itu kali pertamanya aku berjalan di pematang kecil seperti yang ada di buku gambar pelajaran seni. Bukan karena sebelumnya aku belum pernah ke sawah, tapi sawah di Sungai Cina sana adalah “sawah brutalist”, sawah padi tadah hujan, sedangkan sawah disini betul-betul rapi dengan irigasi yang sedemikian rupa.


Ladang begitu luas membentang. Bapapuh membawaku melewati jalan yang membelah bentangan ladang itu, sambil ia bercerita banyak hal meskipun angin mengaburkan suaranya. Petak-petak hijau itu masih belum setinggi lutut. 


Bukit-bukit kecil nampak rimbun tersentuh awan halus yang akan segera menguap seiring matahari meninggi, dengan pepohonan yang dibiarkan rimbun, indah sekali. Mereka bagai jantung—menampung mengedarkan air ke seluruh ladang.


Sesekali Bapapuh berhenti mengobrol dengan orang disana. Membawaku lebih dekat pada manusia-manusia dibalik ketahanan pangan dan keindahan sawah. Perempuan-perempuan berjalan mundur menancapkan benih benih setinggi sejengkal lebih, beberapa petak ada yang masih kosong dan baru dibikin kotak-kotak macam buku matematika.


Waktu itu masih sekitar seminggu setelah lebaran, orang-orang Selat Panjang masih banyak yang beraya ke rumah saudara dan kerabat, sebagian masih sibuk mengunjungi tempat plesiran, tapi orang Jawa sudah mulai turun ke sawah. Mungkin karena alam mereka juga sudah bagus, kehidupan mereka tenteram sehingga tak terlalu memikirkan perkara healing, soal silaturahmi pun sebenarnya mereka tak terlalu perlu karena mereka bertemu dan saling membantu setiap hari di sawah, berbagi makanan dan cemilan setiap hari di sawah.


Aku memerhatikan lagi bukit-bukit itu, bermacam-macam pohon tumbuh disitu, barangkali ada burung-burung seperti burung kuntul menjadikannya sarang, dan di kejauhan sana kawanan burung menukik memburu ikan di genangan sawah. Hmm… bukit itu kalau di Perawang atau di Siak pasti dah jadi kebon sawit, heu heu. Sepertinya aku juga sempat bilang itu pada Bapapuh. 


Sekitar sejam tamasya sampai pada rute terakhir, ladang dengan luas sekitar 4 lapangan bola, terpisah dan lebih kecil dari ladang yang tadi dilewati, tampak dikelilingi hutan. Ternyata tempat ini sekitar 100 meter dibelakang rumah Bapapuh. Disitu juga ada beberapa petak sawah milik Bapapuh. Ia menunjuk beberapa petak yang dulu juga bagian dari miliknya yang kemudian dijual. 


Di sekitar tempat kami berdiri kata bapapuh adalah bekas rumah dulu. Beberapa petak dijual dan rumah pindah ke depan. Baguslah lebih dekat ke jalan, ujarku. Tapi Bapapuh sepertinya lebih senang dengan tempat yang dulu karena lebih dekat pada ladang.


Aku selalu ingin ke rumah itu lagi. Rasanya seperti rumah nenek yang lain. Kalau kakek masih sehat pasti dia seperti Bapapuh juga, tuanya terlihat kurang lebih sama, dan wajahnya selalu berseri-seri. 


Aku tidak mengalami ketika kakek dulu masih sehat, aku hanya sempat melihat kakek sampai umur 5 tahun saja. Dan tak sempat melihat kakek satunya lagi karena dia meninggal ketika mamak masih kecil lagi, tapi masih punya kakek satu lagi—bapak kedua-nya mamak, mungkin kakek-ku itu selalu terlihat berseri-seri seperti mereka juga.


Mungkin kakek seperti mbah Tamrin juga ketika dulu masih sehat. Mbah Tamrin adalah tetangga kami dulu, yang juga senang membawaku jalan kemana-mana. Seperti saya adalah cucunya yang pertama, dan dulu saya begitu sering main ke rumahnya sebagaimana main ke rumah nenek, anak-anaknya juga sudah seperti paman bibik saya sendiri.


Memang selalu menyenangkan bersama mbah-mbah itu, terlepas dari tidak semuanya merupakan mbah kakung kandung. Saya rasa tidak ada bedanya.


Mungkin karena semua mbah adalah yang pertama kali menginginkan para cucu lahir, bahkan sebelum bapak dan ibu berpikir tentang seorang anak. Mereka selalu ingin segera menimang cucu.


Dan mbah-mbah selalu memandang kita sebagai cucu yang ditimang tak peduli kita sudah dewasa. Berbeda dengan ayah dan ibu yang mengajarkan kepada kita tentang hidup dan tanggungan-nya seiring dengan makin dewasa umur kita, kita mungkin masih dianggap anak kecil oleh ayah ibu tapi bukan untuk ditimang. Sedangkan kakek nenek selalu menganggap kita cucu yang ditimang-timang olehnya dan diceritakan dongeng. 


Itu membuatku melihat setiap sudut rumah kakek nenek seperti ayunan bayi yang masih kuat menenangkan diriku sampai aku tidur dengan tenang, tidak diusik oleh apapun, sedikit saja merengek kakek nenek akan mencari-cari hal yang mengembalikan senyum, tidak ada larangan dalam rumah itu, karena kita masih kecil—sekecil anak yang ngompol saja masih boleh.


Everytime aku ingin kembali ke rumah Bapapuh yang di Ciamis itu, sudah kutabung sebagian uang untuk bisa kesana lebaran nanti, dengan mengurangi dan menahan keinginan untuk membeli beberapa buku dan outfit lebaran. 


Senin pagi kemarin, ternyata tidak jadi senin yang ceria bagi Hasbia, pun aku. Segalanya terasa redup, gerimis turun di tengah sawah, mengubah bukit yang hijau menjadi kelabu. Bapapuh wafat hari itu.


Tak banyak kesempatan bersama Bapapuh Basri, tapi aku bersaksi bahwa Bapapuh adalah salah satu orang paling baik dan tulus yang pernah aku temui. Pesanku pada Tuhan, semoga Bapapuh diperlakukan dengan baik sebaik-baiknya disisi-Nya. Dan semoga Bapapuh yang dulu membawaku berkeliling sawah disana nanti dibawa oleh para Malaikat bersama orang-orang salih berkelling surga-Nya. 


Amien… lahul fatihah.


Tangerang, 25 Februari 2026






Download File

Penulis : A. Ushfuri


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   173

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   150

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Board of Peace menjelang Ramadhan
11 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   137

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13547


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4542


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2868