Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

388 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cubitan Sang Kekasih


 TAUHID

Minggu , 16 Agustus 2026



Telah dibaca :  62

Saat menulis artikel ini, hujan sudah berlangsung sekitar 20 menit. Setelah selesai membantu istri masak sayur kacang panjang campur tempe goreng-diiris kecil kecil-saya teringat dialog kami di hari jum’at. Saya abadikan dialognya dalam bentuk tulisan. Selamat menikmati.

“Ayah, tetangga kita sudah beberapa kali beli air hujan, air sudah habis” katanya.

Saya diam mendengarnya.

“Teman-teman ku juga sama, sudah beli air hujan. Banyak yang mengeluh ibu-ibu di  grup sekolah. Hujan tidak juga turun. Terpaksalah mencuci pakai air sumur bor” katanya lagi.

Hari jum’at, terlihat agak mendung. Saya bilang bahwa akan turun hujan. Insya Allah. Namun istri ku mengatakan berbeda. Belum saat nya hujan. Katanya -karena sering membaca artikel di media online, kita sedang terkena el-nino, yaitu fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di atas kondisi normal. Peristiwa alam ini melemahkan angin pasat dari timur ke barat, sehingga memicu pergeseran pola cuaca global, mengurangi curah hujan, dan menyebabkan kekeringan panjang di Indonesia.

“Karena angin itu, hujan jadi susah ayah “ kata istriku mengomentari gejala cuaca el-nino tersebut.

Saya tidak paham terhadap cuaca tersebut. saya kadang pun tidak terlalu fanatic mengikuti analisis para ilmuwan. Kadang pada moment tertentu, saya lebih memilih memasrahkan diri kepada Allah SWT.

“Ayah, biasanya berdoa minta hujan di facebook” kata istriku tertawa mengejekku. Tahu kalau saya suka membuat status. Istriku suka membaca statusku. Tapi dia sendiri tidak punya akun FB, IG dan X.

“Baik umi, saya tulis status minta hujan sama Allah di FB” jawab ku sambil bergurau.

Sekitar jam 10.00 saya menulis status di FB. Permintaan sederhana, agar Allah menurunkan air hujan dari langit. Semoga mendung tidak lari-lari lagi karena el-nino. Alhamdulillah, saya -dan masyarakat serta para kekasih Allah- telah berdoa minta hujan. Tuhan pun mengabulkan. Satu jam kemudian, hujan turun. Tuhan terlalu baik terhadap hamba-Nya. Namun kami terlalu sering berprasangka jelek kepada-Nya. Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami.

Amma ba’du,

Saudara ku, kadang fenomena alam selalu berubah-rubah. Kadang kemarau panjang, kadang hujan tanpa jeda. Semua mengeluh. Semua minta yang terbaik kepada-Nya. Mungkin jika saya-dan juga anda- sebagai Tuhan sudah stress dibuat oleh mereka dengan meminta segala sesuatu dengan sempurna.

Tidak hanya persoalan fenomena alam, persoalan sosial politik pun terasa semakin panas. Suhu udara meningkat. Pikiran terasa mendidih, dan perasaan terasa ingin marah-marah terus. Sungguh Sebagian psikologi bangsa ini sedang tidak baik-baik saja.

Lihat di ufuk barat, saudara kita sedang emosi. Ingin merdeka, marah. Luapan kata-kata dan berbagai reaksi ketidakpuasan terhadap kondisi saat ini memunculkan persoalan yang sangat dilematis. Siapa yang jadi korban. Lagi-lagi aparat, masyarakat kecil baik pro maupun yang kontra.

Tidak ketinggalan juga di ufuk timur. Sinar matahari yang sangat menyengat di kulit bertambah panas dengan teriakan sebagian masyarakat yang ingin menjadi manusia merdeka. Mereka menuntut perbaikan-perbaikan sistem dan pelayanan yang paripurna. Kemerdekaan yang sudah cukup tua oleh sebagian masyarakat Indonesia belum terasa efek manfaatnya. Diperparah lagi perilaku Sebagian para elit politik dan pejabat yang hidup penuh dengan hedonisme, berfoya-foya dan selalu saja menyinggung perasaan rakyat kecil.

Belum selesai dua persoalan tersebut, juga di sebelah timur sana, ada bencana alam. Gempa bumi. Orang tua kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, masyarakat kehilangan harta benda dan pekerjaan. Bumi terasa tidak kuat menanggung beban dosa manusia. akhirnya, bumi putus asa. Terjadilah gempa bumi.

Saudaraku,

Saya yakin Allah tidak sedang marah kepada kita. Allah sangat sayang kepada kita. Itu adalah cubitan dari Sang Kekasih Teragung agar kita bisa melihat dengan pandangan cinta dan berbuat dengan penuh kasih sayang dan rasa kemanusiaan.

Sang Kekasih sedang mengingatkan kita bahwa keselarasan dalam ucapan, perbuatan dan segala aktivitas kita harus selaras dengan nilai-nilai universal kebaikan yang tertulis dalam ayat-ayat cinta yang terangkum dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Sayang nya, kita sering mendapatkan cubitan dari sang kekasih. Tapi kita sering tidak menyadarinya. Ketika Tuhan menaikan volume nasihatnya, maka kita kalang kabut tidak berdaya.

Wahai saudaraku,

Mari kita sama-sama melihat semua komponen bangsa hidup penuh dengan kasih sayang. Para pejabat dan politisi perlu memberikan pencerahan. Jangan sibuk pansos melulu. Berilah berita, harapan dan realisasi baik kepada masyarakat. Jika mereka sakit, datangi mereka. Jika mereka lapar, ganjal perut mereka dengan sepotong roti. Jika mereka kedinginan karena udara malam hari, berilah selembar selimut agar mereka bisa merasakan indah nya melalui malam hari dengan penuh kedamaian.

Saudaraku,

Kita semua laksana Wayang Kulit. Tuhan sedang memberikan beragam peran dalam kehidupan yang beragam. Ada pejabat, hartawan, dan rakyat biasa. Jadilah kita  sebagai pemain dan berperan dalam hidup ini benar-benar sesuai dengan teks dari sutradara. Sehingga film kehidupan kita benar-benar terlihat indah dan mendapatkan pujian yang  tinggi dari Sang Kekasih yaitu Allah SWT.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   153

Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2763

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   280

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   265

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   243

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14223


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5668


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5225


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4114