
Saat menulis artikel ini, hujan sudah
berlangsung sekitar 20 menit. Setelah selesai membantu istri masak sayur kacang
panjang campur tempe goreng-diiris kecil kecil-saya teringat dialog kami di
hari jum’at. Saya abadikan dialognya dalam bentuk tulisan. Selamat menikmati.
“Ayah, tetangga kita sudah beberapa kali
beli air hujan, air sudah habis” katanya.
Saya diam mendengarnya.
“Teman-teman ku juga sama, sudah beli air
hujan. Banyak yang mengeluh ibu-ibu di
grup sekolah. Hujan tidak juga turun. Terpaksalah mencuci pakai air
sumur bor” katanya
lagi.
Hari jum’at, terlihat agak mendung. Saya bilang
bahwa akan turun hujan. Insya Allah. Namun istri ku mengatakan berbeda. Belum saat
nya hujan. Katanya -karena sering membaca artikel di media online, kita sedang
terkena el-nino, yaitu fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Samudra
Pasifik bagian tengah dan timur di atas kondisi normal. Peristiwa alam ini
melemahkan angin pasat dari timur ke barat, sehingga memicu pergeseran pola
cuaca global, mengurangi curah hujan, dan menyebabkan kekeringan panjang di
Indonesia.
“Karena angin itu, hujan jadi susah ayah “
kata istriku mengomentari gejala cuaca el-nino tersebut.
Saya tidak paham terhadap cuaca tersebut.
saya kadang pun tidak terlalu fanatic mengikuti analisis para ilmuwan. Kadang pada
moment tertentu, saya lebih memilih memasrahkan diri kepada Allah SWT.
“Ayah, biasanya berdoa minta hujan di
facebook” kata
istriku tertawa mengejekku. Tahu kalau saya suka membuat status. Istriku suka
membaca statusku. Tapi dia sendiri tidak punya akun FB, IG dan X.
“Baik umi, saya tulis status minta hujan
sama Allah di FB” jawab ku
sambil bergurau.
Sekitar jam 10.00 saya menulis status di FB.
Permintaan sederhana, agar Allah menurunkan air hujan dari langit. Semoga mendung
tidak lari-lari lagi karena el-nino. Alhamdulillah, saya -dan masyarakat serta
para kekasih Allah- telah berdoa minta hujan. Tuhan pun mengabulkan. Satu jam
kemudian, hujan turun. Tuhan terlalu baik terhadap hamba-Nya. Namun kami
terlalu sering berprasangka jelek kepada-Nya. Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami.
Amma ba’du,
Saudara ku, kadang fenomena alam selalu
berubah-rubah. Kadang kemarau panjang, kadang hujan tanpa jeda. Semua mengeluh.
Semua minta yang terbaik kepada-Nya. Mungkin jika saya-dan juga anda- sebagai Tuhan
sudah stress dibuat oleh mereka dengan meminta segala sesuatu dengan sempurna.
Tidak hanya persoalan fenomena alam,
persoalan sosial politik pun terasa semakin panas. Suhu udara meningkat. Pikiran
terasa mendidih, dan perasaan terasa ingin marah-marah terus. Sungguh Sebagian psikologi
bangsa ini sedang tidak baik-baik saja.
Lihat di ufuk barat, saudara kita sedang
emosi. Ingin merdeka, marah. Luapan kata-kata dan berbagai reaksi ketidakpuasan
terhadap kondisi saat ini memunculkan persoalan yang sangat dilematis. Siapa yang
jadi korban. Lagi-lagi aparat, masyarakat kecil baik pro maupun yang kontra.
Tidak ketinggalan juga di ufuk timur. Sinar
matahari yang sangat menyengat di kulit bertambah panas dengan teriakan sebagian
masyarakat yang ingin menjadi manusia merdeka. Mereka menuntut perbaikan-perbaikan
sistem dan pelayanan yang paripurna. Kemerdekaan yang sudah cukup tua oleh sebagian
masyarakat Indonesia belum terasa efek manfaatnya. Diperparah lagi perilaku Sebagian
para elit politik dan pejabat yang hidup penuh dengan hedonisme, berfoya-foya
dan selalu saja menyinggung perasaan rakyat kecil.
Belum selesai dua persoalan tersebut, juga
di sebelah timur sana, ada bencana alam. Gempa bumi. Orang tua kehilangan anak,
anak kehilangan orang tua, masyarakat kehilangan harta benda dan pekerjaan. Bumi
terasa tidak kuat menanggung beban dosa manusia. akhirnya, bumi putus asa. Terjadilah
gempa bumi.
Saudaraku,
Saya yakin Allah tidak sedang marah kepada kita. Allah
sangat sayang kepada kita. Itu adalah cubitan dari Sang Kekasih Teragung agar kita
bisa melihat dengan pandangan cinta dan berbuat dengan penuh kasih sayang dan
rasa kemanusiaan.
Sang Kekasih sedang mengingatkan kita bahwa
keselarasan dalam ucapan, perbuatan dan segala aktivitas kita harus selaras
dengan nilai-nilai universal kebaikan yang tertulis dalam ayat-ayat cinta yang
terangkum dalam Al-Qur’an Al-Karim.
Sayang nya, kita sering mendapatkan cubitan
dari sang kekasih. Tapi kita sering tidak menyadarinya. Ketika Tuhan menaikan volume
nasihatnya, maka kita kalang kabut tidak berdaya.
Wahai saudaraku,
Mari kita sama-sama melihat semua komponen
bangsa hidup penuh dengan kasih sayang. Para pejabat dan politisi perlu memberikan
pencerahan. Jangan sibuk pansos melulu. Berilah berita, harapan dan realisasi baik kepada masyarakat. Jika
mereka sakit, datangi mereka. Jika mereka lapar, ganjal perut mereka dengan
sepotong roti. Jika mereka kedinginan karena udara malam hari, berilah selembar
selimut agar mereka bisa merasakan indah nya melalui malam hari dengan penuh
kedamaian.
Saudaraku,
Kita semua laksana Wayang Kulit. Tuhan sedang
memberikan beragam peran dalam kehidupan yang beragam. Ada pejabat, hartawan,
dan rakyat biasa. Jadilah kita sebagai
pemain dan berperan dalam hidup ini benar-benar sesuai dengan teks dari sutradara.
Sehingga film kehidupan kita benar-benar terlihat indah dan mendapatkan pujian
yang tinggi dari Sang Kekasih yaitu Allah
SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   153
Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2763
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   280
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   265
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   243
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14223
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5668
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5225
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4579
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4114