
Selesai sholat subuh saya langsung meracik
minuman tradisional warisan para leluhur. Wedang Jahe campur kuncit. Biar
terasa nikmat, saya campur gula aren atau gula merah. Seger dan badan terasa
sangat hangat.
Kata orang tua dulu, minuman jahe dan
kunyit bagus untuk pertahanan tubuh dan mengurangi potensi penyakit maag -dispepsia
atau radang lambung (gastritis)- dan masih banyak lagi.
Saya percaya manfaat ramuan tersebut.
apalagi beberapa minggu ini udara sangat kotor. Asap masih terlihat tebal. Pagi
ini saja, matahari terlihat seperti tampah berwarna merah. Sinar
terhalang oleh tebal nya asap. Saking terlihat tebal, pohon-pohon pun seperti
diselimuti kabut asap.
Bagi kesehatan kabut asap kebakaran hutan
sangat mengganggu kesehatan. Ia mengandung partikel sangat kecil dan gas
beracun yang dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Dalam jangka lama
kabut ini akan menimbulkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut):
Partikel kotoran mudah masuk ke hidung dan tenggorokan, memicu batuk, pilek,
dan infeksi serius.Kambuhnya Asma dan PPOK: Penderita penyakit paru kronis akan
lebih mudah mengalami sesak napas, dada berat, dan bunyi mengi.Penurunan Fungsi
Paru: Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus bisa menurunkan kemampuan
kerja paru-paru.
Suhu udara panas juga menyebabkan daya
tahan tubuh melemah. Ini sangat rentan terkena serangan nyamuk Aedes Aegypti.
Meskipun penyebarannya lebih leluasa pada musim penghujan, tapi aktivitas nyamuk
tersebut meningkat: Suhu di atas 30 derajat celsius membuat frekuensi nyamuk
menggigit bisa meningkat tiga hingga lima kali lipat lebih sering. Perkembangan
Virus Cepat: Cuaca panas mempercepat masa inkubasi virus dengue di dalam tubuh
nyamuk, sehingga penularannya ke manusia menjadi lebih cepat. Itu sebabnya, daya
tahan tubuh yang lemah mudah terkena penyakit DBD -Demam Berdarah Dengue.
Saya pun sudah mulai merasakan gejala
demam. Wajah terasa sangat panas. Makan tidak selera. Pulang dari kampus jam
17.00 -Senin,14 September 2026- hampir saja tumbang. Sampai kos-kosan ingin tidur.
Mas Chanif ngasih paracetamol. Tidak saya minum. Saya memilih meracik
wedang jahe dan kunyit campur gula merah. Sekalian membuat sayur oseng buncis
campur tahu goreng, dan masak nasi.
Setelah sholat maghrib makan seorang diri (Mas
Chanif informasi ke Rumah Rektor, dan Dekan Dakwah informasi nya menemani anak perempuan
jalan-jalan). Minum nya wedang jahe kunyit. Keringat keluar di punggung dan
tangan. Badan terasa sedikit ringan. Rasa-rasanya gejala demam pun terasa
hilang. Alhamdulillah.
Malam itu ingin sekali menulis. Lagi-lagi
kondisi kurang fit memang hilang ide-idenya. Saya ambil HP. Ada berita hangat: “Menkeu
Purbaya diganti oleh Suahasil Nazara”.
Bagi sebagian orang itu berita hangat,
bagiku yang penting pagi ini saya bisa menghangatkan nasi dan sayur oseng
tadi malam. Untuk sarapan pagi. Dan tidak lupa juga minum minuman tradisional
jahe campur kunyit.
Sambil minum saya melihat informasi lainnya
di media sosial. Tiba-tiba saya tertuju sebuah potongan film dari FB milik John
Robinson. Film yang menceritakan seorang ibu yang sangat menyayangi anak nya. Awalnya
saya malas nonton film tersebut. Namun semakin melihat, saya hanyut dalam alur
cerita. Bahkan tidak terasa saya terbawa emosi yang mendalam. Seorang ibu yang
sangat menyayangi anak asuh nya.
Seorang ibu yang mempunyai latarbelakang
keluarga yang komplek dan mendapatkan tekanan batin yang sangat hebat. Ia harus
menghidupi dirinya sebagai seorang pengasuh anak dari keluarga miliarder. Sayangnya,
anak kecil tersebut mengalami traumatik yang sangat mendalam.
Berbekal dari pengalaman penderitaan hidup
yang sangat panjang, sang ibu asuh tadi terus melakukan berbagai inovasi agar
anak tersebut bisa kembali normal sebagaimana anak-anak pada umum nya. Walhasil
sejalan perjalanan waktu, ibu asuh tersebut berhasil mengembalikan anak
menemukan jati dirinya. Ia telah berhasil menjadi ibu asuh yang sangat baik. Dan
seperti biasa kisah ini pun ditutup dengan happy ending.
Walhasil, kadang Tuhan menghadirkan beragam
penderitaan bukan karena Tuhan marah sama kita. Tapi Tuhan sedang mengajarkan
tentang makna kebahagiaan hadir ketika kita sudah mampu menyibak penderitaan. Ketika
kita sering sakit bukan berarti Allah sedang menurunkan bencana, tapi Sang Maha
Agung sedang menunjukan kasih sayang-Nya sangat mendalam kepada kita agar kita
bisa mempunyai jiwa kuat dalam menghadapi suatu ujian-ujian hidup. Tuhan tidak menginginkan
hamba-hamba-nya cengeng dan gampang mengeluh. Tuhan mengajarkan kepada
hamba-hamba tentang makna manusia unggul di hadapan-Nya adalah manusia-manusia
yang siap menerima badai bencana dan siap menghadangnya dengan penuh percaya
diri akan pertolongan-Nya.
Bencana asap hari atau bencana lainnya yang
sedang menimpa bangsa Indonesia adalah cara Tuhan mengajarkan kepada bangsa Indonesia
untuk senantiasa kuat dan tangguh menghadapi ujian dan juga mengajarkan rasa
cinta kasih mendalam kepada sesama manusia. Sebab persoalan yang sangat besar
hanya bisa diselesaikan ketika rasa cinta kita kepada sesama manusia dan alam
semesta juga besar. Semakin mencintainya berarti semakin kuat untuk memperbaiki
hal-hal yang belum baik. Bukan demikian?
Bengkalis, 15 September 2026, Jam : 10.14
WIB.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   109
Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205
Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   215
Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239
Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   364
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14674
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6327
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5800
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4737
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4595