Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

395 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kabut Asap dan Wedang Jahe



Selasa , 15 September 2026



Telah dibaca :  61

Selesai sholat subuh saya langsung meracik minuman tradisional warisan para leluhur. Wedang Jahe campur kuncit. Biar terasa nikmat, saya campur gula aren atau gula merah. Seger dan badan terasa sangat hangat.

Kata orang tua dulu, minuman jahe dan kunyit bagus untuk pertahanan tubuh dan mengurangi potensi penyakit maag -dispepsia atau radang lambung (gastritis)- dan masih banyak lagi.

Saya percaya manfaat ramuan tersebut. apalagi beberapa minggu ini udara sangat kotor. Asap masih terlihat tebal. Pagi ini saja, matahari terlihat seperti tampah berwarna merah. Sinar terhalang oleh tebal nya asap. Saking terlihat tebal, pohon-pohon pun seperti diselimuti kabut asap.

Bagi kesehatan kabut asap kebakaran hutan sangat mengganggu kesehatan. Ia mengandung partikel sangat kecil dan gas beracun yang dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Dalam jangka lama kabut ini akan menimbulkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut): Partikel kotoran mudah masuk ke hidung dan tenggorokan, memicu batuk, pilek, dan infeksi serius.Kambuhnya Asma dan PPOK: Penderita penyakit paru kronis akan lebih mudah mengalami sesak napas, dada berat, dan bunyi mengi.Penurunan Fungsi Paru: Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus bisa menurunkan kemampuan kerja paru-paru.

Suhu udara panas juga menyebabkan daya tahan tubuh melemah. Ini sangat rentan terkena serangan nyamuk Aedes Aegypti. Meskipun penyebarannya lebih leluasa pada musim penghujan, tapi aktivitas nyamuk tersebut meningkat: Suhu di atas 30 derajat celsius membuat frekuensi nyamuk menggigit bisa meningkat tiga hingga lima kali lipat lebih sering. Perkembangan Virus Cepat: Cuaca panas mempercepat masa inkubasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk, sehingga penularannya ke manusia menjadi lebih cepat. Itu sebabnya, daya tahan tubuh yang lemah mudah terkena penyakit DBD -Demam Berdarah Dengue.

Saya pun sudah mulai merasakan gejala demam. Wajah terasa sangat panas. Makan tidak selera. Pulang dari kampus jam 17.00 -Senin,14 September 2026- hampir saja tumbang. Sampai kos-kosan ingin tidur. Mas Chanif ngasih paracetamol. Tidak saya minum. Saya memilih meracik wedang jahe dan kunyit campur gula merah. Sekalian membuat sayur oseng buncis campur tahu goreng, dan masak nasi.

Setelah sholat maghrib makan seorang diri (Mas Chanif informasi ke Rumah Rektor, dan Dekan Dakwah informasi nya menemani anak perempuan jalan-jalan). Minum nya wedang jahe kunyit. Keringat keluar di punggung dan tangan. Badan terasa sedikit ringan. Rasa-rasanya gejala demam pun terasa hilang. Alhamdulillah.

Malam itu ingin sekali menulis. Lagi-lagi kondisi kurang fit memang hilang ide-idenya. Saya ambil HP. Ada berita hangat: “Menkeu Purbaya diganti oleh Suahasil Nazara”.

Bagi sebagian orang itu berita hangat, bagiku yang penting pagi ini saya bisa menghangatkan nasi dan sayur oseng tadi malam. Untuk sarapan pagi. Dan tidak lupa juga minum minuman tradisional jahe campur kunyit.

Sambil minum saya melihat informasi lainnya di media sosial. Tiba-tiba saya tertuju sebuah potongan film dari FB milik John Robinson. Film yang menceritakan seorang ibu yang sangat menyayangi anak nya. Awalnya saya malas nonton film tersebut. Namun semakin melihat, saya hanyut dalam alur cerita. Bahkan tidak terasa saya terbawa emosi yang mendalam. Seorang ibu yang sangat menyayangi anak asuh nya.

Seorang ibu yang mempunyai latarbelakang keluarga yang komplek dan mendapatkan tekanan batin yang sangat hebat. Ia harus menghidupi dirinya sebagai seorang pengasuh anak dari keluarga miliarder. Sayangnya, anak kecil tersebut mengalami traumatik yang sangat mendalam.

Berbekal dari pengalaman penderitaan hidup yang sangat panjang, sang ibu asuh tadi terus melakukan berbagai inovasi agar anak tersebut bisa kembali normal sebagaimana anak-anak pada umum nya. Walhasil sejalan perjalanan waktu, ibu asuh tersebut berhasil mengembalikan anak menemukan jati dirinya. Ia telah berhasil menjadi ibu asuh yang sangat baik. Dan seperti biasa kisah ini pun ditutup dengan happy ending.

Walhasil, kadang Tuhan menghadirkan beragam penderitaan bukan karena Tuhan marah sama kita. Tapi Tuhan sedang mengajarkan tentang makna kebahagiaan hadir ketika kita sudah mampu menyibak penderitaan. Ketika kita sering sakit bukan berarti Allah sedang menurunkan bencana, tapi Sang Maha Agung sedang menunjukan kasih sayang-Nya sangat mendalam kepada kita agar kita bisa mempunyai jiwa kuat dalam menghadapi suatu ujian-ujian hidup. Tuhan tidak menginginkan hamba-hamba-nya cengeng dan gampang mengeluh. Tuhan mengajarkan kepada hamba-hamba tentang makna manusia unggul di hadapan-Nya adalah manusia-manusia yang siap menerima badai bencana dan siap menghadangnya dengan penuh percaya diri akan pertolongan-Nya.

Bencana asap hari atau bencana lainnya yang sedang menimpa bangsa Indonesia adalah cara Tuhan mengajarkan kepada bangsa Indonesia untuk senantiasa kuat dan tangguh menghadapi ujian dan juga mengajarkan rasa cinta kasih mendalam kepada sesama manusia. Sebab persoalan yang sangat besar hanya bisa diselesaikan ketika rasa cinta kita kepada sesama manusia dan alam semesta juga besar. Semakin mencintainya berarti semakin kuat untuk memperbaiki hal-hal yang belum baik. Bukan demikian?

Bengkalis, 15 September 2026, Jam : 10.14 WIB.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   109

Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205

Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   215

Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   364

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14674


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6327


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5800


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4595