Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

391 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Melatih Imajinasi Positif


 TAUHID

Senin , 17 Agustus 2026



Telah dibaca :  45

Sebenarnya malam hari ini jadwal pertemuan para warek, dekan dan wakil dekan. Jadwal ngaji bareng di New Normal. Berhubung, sebagian ada kegiatan rutin dan karena pegel-pegel linu habis lomba tujuhbelasan, maka pengajian malam ini diadakan ala kadarnya.

Pengajian malam hari ini unik. Semua nya menjadi santri, dan sekaligus jadi ustadz nya.

Buya Dr. Alma’arif membuka Kitab-kitab klasik milik al-Farabi, al-Ghozali dan Ibnu Khaldun hingga Das Kapital milik Karl Marx. Ia sekaligus membahas pemikiran para tokoh seperti Gus Dur, Prof Yudian, Prof Sohiron dan para ilmuwan nasional lainnya. Kelihatannya ia sangat menguasai pemikirannya. Iya masih dalam alam pikir, belum pada alam realita.

Di sesi diskusi ia melontarkan pertanyaan: “Apakah plato masuk Surga?”. Lagi-lagi, Buya Ma’arif belum bisa menjawab dengan jelas, lugas dan cermat. Kelihatannya, dia masih suka cerdas cermat pada tataran pemikirannya. Belum sampai pada level kultivasi tingkat 9. Mungkin dia harus banyak belajar kepada Budayawan Jarir Amrun, yang sering disebut sebagai wali-maksudnya wali murid.

Budayawan Dr. Jarir membahas qawaid dan budaya-budaya melayu. Sejarah peradaban dunia dan nasional, serta tokoh-tokoh politik yang suka membaca seperti Prabowo dan  Gus Dur. Lagi-lagi, dekan satu yang nyentrik ini diam-diam mengidolakan Gus Dur dan Prabowo, terutama pada kutu buku nya. Ia juga suka terhadap isu-isu nasional. Terutama yang sedang trending saat ini yaitu Muktamar Nahdlatul Ulama-NU- bulan Agustus akhir di Jombang.

Wakil Dekan Tarbiyah Dr. Decky lebih suka membahas pada tataran teknis. Sat-set. Tidak ada yang tidak mungkin dibuat di perguruan tinggi iain datuk laksemana. Bahkan jika udara pun dicat dengan tinta, bisa kok. Apalagi Cuma program.

Saya senyum-senyum. Nampak nya wadek satu ini suka nonton film drama china yang berjudul ‘Pendekar Plum’, yang menceritakan seorang laki-laki sastrawan yang diragukan kemampuannya sebagai pendekar. Ternyata dengan segala keahlian yang tersembunyi, ia menguasa bukan hanya bagian sastrawan, ia juga menguasai politik dan strategi perang. Terkadang kita sering tertipu oleh pandangan mata. Menurut kita orang tersebut tidak punya kemampuan, ternyata pada level tertentu justru mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki orang lain. dari sini sebenarnya kita belajar untuk saling menghargai setiap orang. Pada setiap orang selalu ada yang unik berkaitan bakat dan kemampuannya.

Nampak nya Dr. Decky sering membaca story ku. Ia nampak nya sangat suka pada kalimat yang saya tulis : “Musuh terbesar bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri”. Ia juga mengutip kalimat Prof Sohiron: “Permasalahan sebesar apapun, hadapi dengan tenang. Tidak ada pemimpin yang sempurna. Tidak ada manusia yang merasa puas. Jangankan kita sebagai manusia, Nabi Adam saja yang hidup di surga pun belum merasa puas. Ia ingin punya teman. Ia pun ingin mencicipi buah khuldi. Itulah watak dasar manusia”.

Saya mendengarkan petuahnnya dengan mesam-mesem. Kadang wadek satu ini ngomong nya ‘njalur’ juga, dan terbuka menerima masukan konstruktif darimana saja. Sepanjang itu untuk kebaikan, dia akan ok-ok saja.

Dua warek satu dan dua membahas tentang isu rokok. Satu sisi lebih condong pada hukum mubah, satu lagi hukum haral-kadang haram kadang halal, kondisional. Saya tidak menyalahkan salah satu nya. ma’lum, sudah level warek tentu kajian tentang rokok dan segala  jenisnya sudah khatam. Karena sama-sama khatam, keduanya mengambil hukum sendiri-sendiri. Warek satu dulu perokok dan kemudian sakit lalu menghukumi rokok setengah haram. Setengah nya lagi sesuai pesanan. Warek dua tetap mubah, makruh dan kadang sedikit ke arah-arah sunnah. Saya tidak tahu. Mungkin pemikirannya sudah ketularan Buya Ma’arif.

Saya sebagai moderator disuruh urun rembug atau kalau bisa mentashih semua hasil diskusi. Saya mencoba membuat kesimpulan dalam satu kalimat: “Jika ingin menjadi pemimpin jangan terlalu banyak bacaan, nanti bingung sendiri. Pemimpin tidak harus serba tahu. Tugas pemimpin meng okestra agar suara nada yang berserakan menjadi terdengar indah dan menarik”.

Diskusi semakin malam semakin menarik. Sambil menyeruput kopi hitam dan -sebagian lagi-minum jeruk panas terdengar sayup-sayup lagu Imagine dari John Lenon. Berikut penggalan lagunya :

 

Bayangkan negara tidak ada,

Tak sulit dilakukan,

Tidak ada yang harus dibunuh atau mati untuknya,

Dan tidak agama juga.

Bayangkan semua orang,

Hidup dalam kedamaian.

 

Sebagai penutup, kita kadang membayangkan segala sesuatu yang indah-indah dan menyenangkan. Tidak mengapa kita masih taraf membayangkan. Mungkin suatu hari bayangan tersebut menjadi kristal kenyataan dari apa yang kita bayangkan. Itu sesuatu yang tidak mungkin. Semua bisa terjadi jika ada kekuatan tekad untuk merealisasi bayangan tersebut. Dan imajinasi adalah dorongan jiwa dan pikiran. Imajinasi adalah bagian dari unsur-unsur penguat jiwa yang maqam nya bisa sampai pada doa. Lagi lagi, berimajinasi adalah taraf sedang melatih diri untuk tetap optimis setiap apa yang kita cita-citakan. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Cubitan Sang Kekasih
16 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91

Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   177

Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2772

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   280

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   265

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14227


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5705


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5234


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4123