
Sebenarnya malam hari ini jadwal pertemuan
para warek, dekan dan wakil dekan. Jadwal ngaji bareng di New Normal. Berhubung,
sebagian ada kegiatan rutin dan karena pegel-pegel linu habis lomba
tujuhbelasan, maka pengajian malam ini diadakan ala kadarnya.
Pengajian malam hari ini unik. Semua nya
menjadi santri, dan sekaligus jadi ustadz nya.
Buya Dr. Alma’arif membuka Kitab-kitab klasik milik al-Farabi, al-Ghozali dan Ibnu Khaldun hingga Das
Kapital milik Karl Marx. Ia sekaligus membahas pemikiran para tokoh seperti Gus
Dur, Prof Yudian, Prof Sohiron dan para ilmuwan nasional lainnya. Kelihatannya ia
sangat menguasai pemikirannya. Iya masih dalam alam pikir, belum pada alam realita.
Di sesi diskusi ia melontarkan pertanyaan: “Apakah
plato masuk Surga?”. Lagi-lagi, Buya Ma’arif belum bisa menjawab dengan jelas,
lugas dan cermat. Kelihatannya, dia masih suka cerdas cermat pada tataran pemikirannya.
Belum sampai pada level kultivasi tingkat 9. Mungkin dia harus banyak belajar
kepada Budayawan Jarir Amrun, yang sering disebut sebagai wali-maksudnya wali
murid.
Budayawan Dr. Jarir membahas qawaid dan
budaya-budaya melayu. Sejarah peradaban dunia dan nasional, serta tokoh-tokoh politik
yang suka membaca seperti Prabowo dan
Gus Dur. Lagi-lagi, dekan satu yang nyentrik ini diam-diam mengidolakan Gus
Dur dan Prabowo, terutama pada kutu buku nya. Ia juga suka terhadap isu-isu
nasional. Terutama yang sedang trending saat ini yaitu Muktamar Nahdlatul
Ulama-NU- bulan Agustus akhir di Jombang.
Wakil Dekan Tarbiyah Dr. Decky lebih suka
membahas pada tataran teknis. Sat-set. Tidak ada yang tidak mungkin
dibuat di perguruan tinggi iain datuk laksemana. Bahkan jika udara pun dicat
dengan tinta, bisa kok. Apalagi Cuma program.
Saya senyum-senyum. Nampak nya wadek satu
ini suka nonton film drama china yang berjudul ‘Pendekar Plum’, yang
menceritakan seorang laki-laki sastrawan yang diragukan kemampuannya sebagai
pendekar. Ternyata dengan segala keahlian yang tersembunyi, ia menguasa bukan
hanya bagian sastrawan, ia juga menguasai politik dan strategi perang. Terkadang
kita sering tertipu oleh pandangan mata. Menurut kita orang tersebut tidak
punya kemampuan, ternyata pada level tertentu justru mempunyai kemampuan yang
tidak dimiliki orang lain. dari sini sebenarnya kita belajar untuk saling
menghargai setiap orang. Pada setiap orang selalu ada yang unik berkaitan bakat
dan kemampuannya.
Nampak nya Dr. Decky sering membaca story
ku. Ia nampak nya sangat suka pada kalimat yang saya tulis : “Musuh terbesar
bukan orang lain, tetapi diri kita sendiri”. Ia juga mengutip kalimat Prof
Sohiron: “Permasalahan sebesar apapun, hadapi dengan tenang. Tidak ada pemimpin
yang sempurna. Tidak ada manusia yang merasa puas. Jangankan kita sebagai
manusia, Nabi Adam saja yang hidup di surga pun belum merasa puas. Ia ingin
punya teman. Ia pun ingin mencicipi buah khuldi. Itulah watak dasar manusia”.
Saya mendengarkan petuahnnya dengan mesam-mesem.
Kadang wadek satu ini ngomong nya ‘njalur’ juga, dan terbuka menerima masukan
konstruktif darimana saja. Sepanjang itu untuk kebaikan, dia akan ok-ok
saja.
Dua warek satu dan dua membahas tentang isu
rokok. Satu sisi lebih condong pada hukum mubah, satu lagi hukum haral-kadang
haram kadang halal, kondisional. Saya tidak menyalahkan salah satu nya. ma’lum,
sudah level warek tentu kajian tentang rokok dan segala jenisnya sudah khatam. Karena sama-sama khatam,
keduanya mengambil hukum sendiri-sendiri. Warek satu dulu perokok dan kemudian sakit
lalu menghukumi rokok setengah haram. Setengah nya lagi sesuai pesanan. Warek dua
tetap mubah, makruh dan kadang sedikit ke arah-arah sunnah. Saya tidak tahu. Mungkin
pemikirannya sudah ketularan Buya Ma’arif.
Saya sebagai moderator disuruh urun
rembug atau kalau bisa mentashih semua hasil diskusi. Saya mencoba membuat kesimpulan
dalam satu kalimat: “Jika ingin menjadi pemimpin jangan terlalu banyak bacaan,
nanti bingung sendiri. Pemimpin tidak harus serba tahu. Tugas pemimpin meng
okestra agar suara nada yang berserakan menjadi terdengar indah dan menarik”.
Diskusi semakin malam semakin menarik. Sambil
menyeruput kopi hitam dan -sebagian lagi-minum jeruk panas terdengar
sayup-sayup lagu Imagine dari John Lenon. Berikut penggalan lagunya :
Bayangkan negara tidak ada,
Tak sulit dilakukan,
Tidak ada yang harus dibunuh atau mati
untuknya,
Dan tidak agama juga.
Bayangkan semua orang,
Hidup dalam kedamaian.
Sebagai penutup, kita kadang membayangkan
segala sesuatu yang indah-indah dan menyenangkan. Tidak mengapa kita masih
taraf membayangkan. Mungkin suatu hari bayangan tersebut menjadi kristal kenyataan
dari apa yang kita bayangkan. Itu sesuatu yang tidak mungkin. Semua bisa
terjadi jika ada kekuatan tekad untuk merealisasi bayangan tersebut. Dan
imajinasi adalah dorongan jiwa dan pikiran. Imajinasi adalah bagian dari unsur-unsur
penguat jiwa yang maqam nya bisa sampai pada doa. Lagi lagi, berimajinasi adalah
taraf sedang melatih diri untuk tetap optimis setiap apa yang kita cita-citakan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Cubitan Sang Kekasih
16 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91
Kisah Buah Delima: 1 jadi 10
14 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   177
Energi Spiritual Mbah Riyan
29 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   2772
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   280
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   265
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14227
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5705
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5234
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4590
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4123