
Masa kecil selalu menjadi kenangan indah.
Ada romantisme yang sangat menggugah jiwa saat mengenang masa-masa itu. Kita
bisa mengenang dengan senyum kebahagiaan saat mengingat kembali saat bersama
teman-teman, bermain, belajar bersama, studi banding ke sekolah-sekolah
favorit, dan kemah pramuka dan
lain-lain. kadang saya tersenyum jika mengenang semua itu. Ingin rasanya
suasana seperti itu hadir di masa-masa saat sekarang ini. tapi romantisme
memang hanya sebatas kenangan. Ramantisme masa lalu hanya sebatas luapan
perasaan kita saat sekarang ini yang sebenarnya tidak beranding lurus dengan
kenyataan saat itu. Kita merasa terasa indah. Padahal pada saat itu, kita juga
merasakan betapa kadang menderita saat menghadapi segala kegiatan-kegiatan saat
itu. Ada kendala, ada halangan, ada kejadian-kejadian yang menyebabkan kita
menangis, sedih dan putus asa.
Itulah kenangan. Selalu saja hadir
menghibur diri kita saat kita saat ini merespon realita yang terasa tidak
seindah dulu. Ada problem yang mungkin belum bisa dipecahkan. Ada beban yang
belum juga bisa melepaskan diri dari situasi tersebut. Salah satu obat untuk
menghibur diri adalah mengingat kenangan masa lalu. Sederhana, tapi sangat
efektif membuat fikiran dan hati bisa damai dengan dirinya sendiri. kenangan
masa lalu bukan mengharap peristiwa tersebut kembali lagi pada saat sekarang
ini. Kenangan masa lalu sebenarnya jalan sunyi untuk meditasi diri melatih
fikiran dan perasaan agar bisa menerima realita kehidupan yang terus berjalan
tanpa henti.
Salah satu kenangan yang terasa sangat
indah ketika saya mulai mempunyai banyak teman. Apalagi sekolah ku di MI dan MTs
berada di lingkungan pesantren, memungkinkan punya teman dari para santri dan
putra-putra kyai. Kami bisa belajar dan bermain bersama. Persahabatan yang
benar-benar menjadi sahabat dalam suka dan duka. Saat senang kita selalu
bersama, saat susah dan sakit kami ramai-ramai datang ke rumah teman yang
sedang sakit.
Orang tua ku tentu sangat senang ketika
saya berteman dengan anak-anak santri dan putra-putra kyai. Orang tua ku selalu
berpesan agar selalu belajar sholat, ngaji di pesantren. Kebetulan pesantren
tidak terlalu jauh dengan rumah mbok de ku. Jika berjalan membutuhkan waktu
sekitar 25 menit. Masih terasa dekat. Apalagi kebiasaan saat itu adalah berjalan
sambil bermain. Jarak jauh pun terasa dekat.
Pesantren di desa ku bernama Pesantren
Raudhatut Thalibin-asuhan KH. Muhosis Nur. Teman-teman ku putra-putra pengasuh
pesantren. Kami sering bersama mereka. Tentu sebagai putra-putra pengasuh
pesantren, teman-teman ku sudah sangat mendalam ilmu-ilmu agama nya. Meskipun
mereka masih di tingkat MTs sudah mampu menghafalkan kitab-kitab tatabahasa
dasar seperti kitab amtsilatu tasrifiyah atau tasrif lughowi.
Saya ingat saat menjelang ujian kenaikan kelas
atau ujian nasional, kami selalu membuat kegiatan bernama studi club-belajar bersama.
Guru nya Adalah teman-teman satu kelas yang mempunyai kepandaian di
masing-masing bidang. Ada yang pandai dibidang matematika, maka mempunyai tugas
menjadi guru matematika, begitu juga teman-teman lain mempunyai tugas
mengajarkan mata Pelajaran yang dianggap menguasai nya.
Belajar sampai cukup malam hingga jam
22.00. terasa asik, belajar bersama. Kami benar benar menikmati belajar bersama.
Tidak ada yang menyuruh, baik guru maupun orang tua. Kami mempunyai kesadaran
sendiri. Belajar dan benar-benar
belajar. Jika sudah selesai kadang-kadang jalan-jalan di lingkungan pesantren
yang sangat menyenangkan. Ma’lum banyak sekali santri yang kalau malam seperti
siang. Suasana sangat hidup. Mereka sibuk belajar kitab kuning dan al-qur’an
dengan waktu yang telah ditentukan hingga jam 24.00.
Mas Hafidz sering menyuruhkan tidur ketika sudah
jam 24.00. Saya tidur di teras masjid. Tidak berani di asrama. Malu dengan para
santri mukim. Saya santri kalong-selesai belajar langsung pulang ke rumah. Sedangkan
santri mukim, mereka tinggal di asrama setiap hari. Hari-hari selalu belajar
dan memperdalam ilmu-ilmu agama.
Jam 03 dinihari, saya dibangunkan. Setelah bangun,
saya pun kaget. Ada banyak makanan di sampingku. Ternyata Mas Hafidz dan teman-teman
santri lain masak. Persiapan untuk puasa sunnah senin-kamis. Itu sudah menjadi
tradisi santri mukim. Berhubung saya santri kalong, malam hari ikut sahur, tapi
tidak puasa di siang hari.
Pagi setelah sholat subuh pulang ke rumah. Jalan
kaki. Sampai di rumah mandi dan berangkat sekolah yang letaknya di dekat pondok
pesantren tersebut. Sebab memang pesantren dan sekolah masih satu yayasan. Meskipun
milik swasta, tapi jumlah muridnya mengalahkan sekolah-sekolah negeri. Dulu,
pada tahun 1980-1990 an, Masyarakat di desa kami lebih suka menyekolahkan
anak-anak nya di lembaga Pendidikan pesantren. Setelah selesai, biasanya
melanjutkan Pendidikan pesantren yang lebih besar dan kajian agama nya lebih
luas. Ketika sudah merasa selesai atau khatam berbagai ilmu agama, mereka
pulang ke kampung halamannya dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Biasanya ilmu-ilmu
fiqh, tauhid dan akhlak. Itu sudah membudaya. Para petani di kampungku sudah
biasa mengajar kitab kuning kepada anak-anak muda. Untuk anak-anak yang masih
sekolah di mi atau mts biasanya diajari kitab ta’lim muta’alim dan fathul
qarib. Untuk anak-anak yang sudah masuk sekolah Tingkat SLTA atau Aliyah diajarkan
kitab tentang kehidupan rumah tangga. Jadi belajar kitab kuning bukan suatu
keistimewaan saat itu. Sudah menjadi tradisi.
Jika memasuki bulan ramadhan, saya dan
teman-teman sekolah ramai-ramai pergi ke pesantren. Biasanya saat masih imsak. Ada
suara imsak di mushola atau masjid, kami sudah berangkat dan berjalan menuju
pesantren. Ngaji kitab setelah sholat subuh. Waktu itu kami belajar kitab
kuning bandongan di Rumah Kyai Dalhar. Seorang kyai yang sangat tawadhu. Hampir
setiap kitab kuning yang diajarkan sudah hafal isinya. Ngajar kitab kuning
tidak pernah membuka kitab. Saat kami membaca dan salah, ia langsung
membetulkan. Begitu juga teman-teman ku saat itu yang ngaji kitab-kitab kuning
lainnya.
Itulah suasana di era tahun 90-an. Terasa sangat
asyik belajar, ngaji dan jalan-jalan sama-sama setelah ngaji. Hiburan yang
sangat menyenangkan waktu itu Adalah layer tancap. Jika musim kemarau, malam
hari ramai-ramai pergi ke sawah mencari jangkrik kalung-jangkrik yang ada garis
warna kuning.
Hiburan anak-anak kampung sejenis itu. Belum
ada hiburan-hiburan seperti pada era kemajuan modern saat sekarang ini yang sering
disebut era digital.
Kini suasana terasa berubah. Pola belajar
dan ngaji pun berubah. Sistem pun berubah. Dari guru yang dulu belajar tanpa
mengharapkan imbalan sama sekali berubah menjadi lebih nuansa bisnis. Ngaji al-qur’an
gratis kini berubah menjadi rumah tahfidz al-qur’an dengan membayar SPP sekian
puluh ribu atau sekian ratus ribu. Dulu hubungan guru dan murid terbangun oleh ikatan
batin yang sangat kuat. Tidak pernah ditemukan anak-anak yang berani kepada
orang tua ataupun kepada guru-gurunya.
Kini sistem modern menggeser sistem tradisional-atau
jangan jangan malah menggusur-dengan program pendidikan sistem paket dan
kurikulum. Sekian paket, sekian harganya. Hubungan guru dan murid seperti
hubungan kontrak rumah. Anda membayar sekian, maka kami mengajarkan demikian.
Sistem modern memang lebih mengarah kepada
hal-hal yang bersifat realistis. Tuntutan kehidupan yang semakin besar telah
melahirkan pola pemikiran yang berbeda dari sebelum nya. Era modern terasa bau
kapitalisasi pendidikan dengan tawaran-tawaran harga semakin hari semakin
tinggi. Pendidikan guru ngaji, guru agama di kota -bahkan juga mulai merambah
di desa-sudah mulai mengarah kepada kepentingan bisnis.
Tentu tidak salah. Zaman mulai berubah. Namun
tidak etis juga ketika anak-anak yang orang tuanya tidak mempunyai kelebihan
rezeki akan terpinggirkan dari belajar agama. Mereka hanya bisa membaca brosur
dan plang lembaga pendidikan dengan persyaratan-persyaratan yang membuat orang-orang
miskin hanya sanggup menelan ludah. Di sini akhirnya perlu ada kearifan sistem pendidikan.
Istilah orang tua dulu,”ngono yo ngono, nanging ojo koyo ngono”, boleh
seperti itu menerapkan sistem modern, tapi tidak harus selalu seperti itu juga.
Ada ruang regulasi lembaga pendidikan agar anak-anak dari keluarga tidak mampu
bisa belajar dengan baik dan layak.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   234
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   210
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   234
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14902
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6579
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5989
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4846
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4821