Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

12 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Santri Kalong



Rabu , 04 Februari 2026



Telah dibaca :  294

Masa kecil selalu menjadi kenangan indah. Ada romantisme yang sangat menggugah jiwa saat mengenang masa-masa itu. Kita bisa mengenang dengan senyum kebahagiaan saat mengingat kembali saat bersama teman-teman, bermain, belajar bersama, studi banding ke sekolah-sekolah favorit, dan kemah pramuka  dan lain-lain. kadang saya tersenyum jika mengenang semua itu. Ingin rasanya suasana seperti itu hadir di masa-masa saat sekarang ini. tapi romantisme memang hanya sebatas kenangan. Ramantisme masa lalu hanya sebatas luapan perasaan kita saat sekarang ini yang sebenarnya tidak beranding lurus dengan kenyataan saat itu. Kita merasa terasa indah. Padahal pada saat itu, kita juga merasakan betapa kadang menderita saat menghadapi segala kegiatan-kegiatan saat itu. Ada kendala, ada halangan, ada kejadian-kejadian yang menyebabkan kita menangis, sedih dan putus asa.

Itulah kenangan. Selalu saja hadir menghibur diri kita saat kita saat ini merespon realita yang terasa tidak seindah dulu. Ada problem yang mungkin belum bisa dipecahkan. Ada beban yang belum juga bisa melepaskan diri dari situasi tersebut. Salah satu obat untuk menghibur diri adalah mengingat kenangan masa lalu. Sederhana, tapi sangat efektif membuat fikiran dan hati bisa damai dengan dirinya sendiri. kenangan masa lalu bukan mengharap peristiwa tersebut kembali lagi pada saat sekarang ini. Kenangan masa lalu sebenarnya jalan sunyi untuk meditasi diri melatih fikiran dan perasaan agar bisa menerima realita kehidupan yang terus berjalan tanpa henti.

Salah satu kenangan yang terasa sangat indah ketika saya mulai mempunyai banyak teman. Apalagi sekolah ku di MI dan MTs berada di lingkungan pesantren, memungkinkan punya teman dari para santri dan putra-putra kyai. Kami bisa belajar dan bermain bersama. Persahabatan yang benar-benar menjadi sahabat dalam suka dan duka. Saat senang kita selalu bersama, saat susah dan sakit kami ramai-ramai datang ke rumah teman yang sedang sakit.

Orang tua ku tentu sangat senang ketika saya berteman dengan anak-anak santri dan putra-putra kyai. Orang tua ku selalu berpesan agar selalu belajar sholat, ngaji di pesantren. Kebetulan pesantren tidak terlalu jauh dengan rumah mbok de ku. Jika berjalan membutuhkan waktu sekitar 25 menit. Masih terasa dekat. Apalagi kebiasaan saat itu adalah berjalan sambil bermain. Jarak jauh pun terasa dekat.

Pesantren di desa ku bernama Pesantren Raudhatut Thalibin-asuhan KH. Muhosis Nur. Teman-teman ku putra-putra pengasuh pesantren. Kami sering bersama mereka. Tentu sebagai putra-putra pengasuh pesantren, teman-teman ku sudah sangat mendalam ilmu-ilmu agama nya. Meskipun mereka masih di tingkat MTs sudah mampu menghafalkan kitab-kitab tatabahasa dasar seperti kitab amtsilatu tasrifiyah atau tasrif lughowi.

Saya ingat saat menjelang ujian kenaikan kelas atau ujian nasional, kami selalu membuat kegiatan bernama studi club-belajar bersama. Guru nya Adalah teman-teman satu kelas yang mempunyai kepandaian di masing-masing bidang. Ada yang pandai dibidang matematika, maka mempunyai tugas menjadi guru matematika, begitu juga teman-teman lain mempunyai tugas mengajarkan mata Pelajaran yang dianggap menguasai nya.

Belajar sampai cukup malam hingga jam 22.00. terasa asik, belajar bersama. Kami benar benar menikmati belajar bersama. Tidak ada yang menyuruh, baik guru maupun orang tua. Kami mempunyai kesadaran sendiri. Belajar  dan benar-benar belajar. Jika sudah selesai kadang-kadang jalan-jalan di lingkungan pesantren yang sangat menyenangkan. Ma’lum banyak sekali santri yang kalau malam seperti siang. Suasana sangat hidup. Mereka sibuk belajar kitab kuning dan al-qur’an dengan waktu yang telah ditentukan hingga jam 24.00.

Mas Hafidz sering menyuruhkan tidur ketika sudah jam 24.00. Saya tidur di teras masjid. Tidak berani di asrama. Malu dengan para santri mukim. Saya santri kalong-selesai belajar langsung pulang ke rumah. Sedangkan santri mukim, mereka tinggal di asrama setiap hari. Hari-hari selalu belajar dan memperdalam ilmu-ilmu agama.

Jam 03 dinihari, saya dibangunkan. Setelah bangun, saya pun kaget. Ada banyak makanan di sampingku. Ternyata Mas Hafidz dan teman-teman santri lain masak. Persiapan untuk puasa sunnah senin-kamis. Itu sudah menjadi tradisi santri mukim. Berhubung saya santri kalong, malam hari ikut sahur, tapi tidak puasa di siang hari.

Pagi setelah sholat subuh pulang ke rumah. Jalan kaki. Sampai di rumah mandi dan berangkat sekolah yang letaknya di dekat pondok pesantren tersebut. Sebab memang pesantren dan sekolah masih satu yayasan. Meskipun milik swasta, tapi jumlah muridnya mengalahkan sekolah-sekolah negeri. Dulu, pada tahun 1980-1990 an, Masyarakat di desa kami lebih suka menyekolahkan anak-anak nya di lembaga Pendidikan pesantren. Setelah selesai, biasanya melanjutkan Pendidikan pesantren yang lebih besar dan kajian agama nya lebih luas. Ketika sudah merasa selesai atau khatam berbagai ilmu agama, mereka pulang ke kampung halamannya dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Biasanya ilmu-ilmu fiqh, tauhid dan akhlak. Itu sudah membudaya. Para petani di kampungku sudah biasa mengajar kitab kuning kepada anak-anak muda. Untuk anak-anak yang masih sekolah di mi atau mts biasanya diajari kitab ta’lim muta’alim dan fathul qarib. Untuk anak-anak yang sudah masuk sekolah Tingkat SLTA atau Aliyah diajarkan kitab tentang kehidupan rumah tangga. Jadi belajar kitab kuning bukan suatu keistimewaan saat itu. Sudah menjadi tradisi.

Jika memasuki bulan ramadhan, saya dan teman-teman sekolah ramai-ramai pergi ke pesantren. Biasanya saat masih imsak. Ada suara imsak di mushola atau masjid, kami sudah berangkat dan berjalan menuju pesantren. Ngaji kitab setelah sholat subuh. Waktu itu kami belajar kitab kuning bandongan di Rumah Kyai Dalhar. Seorang kyai yang sangat tawadhu. Hampir setiap kitab kuning yang diajarkan sudah hafal isinya. Ngajar kitab kuning tidak pernah membuka kitab. Saat kami membaca dan salah, ia langsung membetulkan. Begitu juga teman-teman ku saat itu yang ngaji kitab-kitab kuning lainnya.

Itulah suasana di era tahun 90-an. Terasa sangat asyik belajar, ngaji dan jalan-jalan sama-sama setelah ngaji. Hiburan yang sangat menyenangkan waktu itu Adalah layer tancap. Jika musim kemarau, malam hari ramai-ramai pergi ke sawah mencari jangkrik kalung-jangkrik yang ada garis warna kuning.

Hiburan anak-anak kampung sejenis itu. Belum ada hiburan-hiburan seperti pada era kemajuan modern saat sekarang ini yang sering disebut era digital.

Kini suasana terasa berubah. Pola belajar dan ngaji pun berubah. Sistem pun berubah. Dari guru yang dulu belajar tanpa mengharapkan imbalan sama sekali berubah menjadi lebih nuansa bisnis. Ngaji al-qur’an gratis kini berubah menjadi rumah tahfidz al-qur’an dengan membayar SPP sekian puluh ribu atau sekian ratus ribu. Dulu hubungan guru dan murid terbangun oleh ikatan batin yang sangat kuat. Tidak pernah ditemukan anak-anak yang berani kepada orang tua ataupun kepada guru-gurunya.

Kini sistem modern menggeser sistem tradisional-atau jangan jangan malah menggusur-dengan program pendidikan sistem paket dan kurikulum. Sekian paket, sekian harganya. Hubungan guru dan murid seperti hubungan kontrak rumah. Anda membayar sekian, maka kami mengajarkan demikian.

Sistem modern memang lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat realistis. Tuntutan kehidupan yang semakin besar telah melahirkan pola pemikiran yang berbeda dari sebelum nya. Era modern terasa bau kapitalisasi pendidikan dengan tawaran-tawaran harga semakin hari semakin tinggi. Pendidikan guru ngaji, guru agama di kota -bahkan juga mulai merambah di desa-sudah mulai mengarah kepada kepentingan bisnis.

Tentu tidak salah. Zaman mulai berubah. Namun tidak etis juga ketika anak-anak yang orang tuanya tidak mempunyai kelebihan rezeki akan terpinggirkan dari belajar agama. Mereka hanya bisa membaca brosur dan plang lembaga pendidikan dengan persyaratan-persyaratan yang membuat orang-orang miskin hanya sanggup menelan ludah. Di sini akhirnya perlu ada kearifan sistem pendidikan. Istilah orang tua dulu,”ngono yo ngono, nanging ojo koyo ngono”, boleh seperti itu menerapkan sistem modern, tapi tidak harus selalu seperti itu juga. Ada ruang regulasi lembaga pendidikan agar anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa belajar dengan baik dan layak.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   234

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   210

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   234

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14902


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6579


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5989


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4821