
Memperingati hari santri sebenarnya sama
seperti memperingati hari-hari nasional lainnya. Tidak ada perbedaan. Yang
membedakan hanya pada asesoris pakaian dan isi dari sambutannya. Tidak mungkin
acara hari santri sambutannya tentang mbg atau sppg. Tidak mungkin juga hari
koperasi sambutannya tentang masalah karhutla atau haji. Tentunya persoalan
kopdes.
Seperti tidak mungkin seseorang menjadi
khatib dengan memakai celana jin dan pakai topi cowboy. Tentu saja
idealnya, formalitasnya, dan realitas di Masyarakat menggunakan baju takwa dan
peci hitam atau putih. Semua ada pakem nya. kaidah ushul fiqh al’adatu
muhakamah-adat kebiasaan menjadi hukum.
Memperingati hari santri adalah peringatan
formalitas dan ada legalitas. Ia sudah disahkan oleh pemerintah secara resmi
yaitu tanggal 22 Oktober 2026. Namanya juga memperingati hari santri, seperti
memperingati ulang tahun anda atau pasangan anda. Terserah mau model apa,
sah-sah saja. Apakah mau potong kueh, tiup lilin atau makan-makan di kafe
bersama keluarga. Sah-sah saja. Sebab peringatan pada hakikatnya mengenang
kembali tentang apa yang diperingatinya.
Kenapa diperingati?. Apa subtansi
memperingati hari santri?. Semua punya pandangan berbeda. Semua juga mempunyai
hak berpandangan.
Persis seperti seminar parenting. Ada dua
orang narasumber dengan berbeda latar belakang. Satu narasumber sudah menikah
dan satu nya lagi belum menikah. Dua-duanya menyampaikan materi sama dan solusi
penyelesaian sama-sama tidak kalah hebatnya. Tentu saja, apa yang disampaikan
oleh narasumber yang sudah menikah jauh lebih memahami problematika dalam
mengasuh anak daripada narasumber kedua yang secara teori menguasai tapi belum
mempunyai SIM -Surat Izin Menikah. Hebat, tapi narasumber kedua masih
dalam tataran teori. Sehebat apapun tetap terlihat “ampang” dan hambar.
Kata orang bijak memang begitu. Orang yang
mengerti manisnya gula tentu orang yang pernah makan gula. Orang yang mengerti
indah nya cinta hanya orang yang pernah jatuh cinta. Dan orang yang mengerti hakikatnya
santri adalah yang pernah menjadi santri, bukan orang yang mempunyai mempunyai
banyak referensi tentang santri, tapi tidak pernah menjadi santri. Ia mungkin
dapat gambaran santri secara komprehensif, tapi saripati nya tentu tidak akan
mendapatkannya.
Secara etimologi, santri berasal dari kata
sastri atau shastri yang artinya orang yang membaca atau mempelajari
kitab-kitab suci. Ini pendapat dari C.C. Berg. Dalam literatur kitab turost
seperti dalam kitab ta’lim muta’alim ada istilah : muta’alim artinya pelajar,
mu’alim artinya guru, dan thalibul ‘ilmi artinya para pencari ilmu sama dengan
muta’alim.
Ada dua kata yang cukup menarik. Dalam tradisi
pesantren seluruh literatur kitab turost menggunakan bahasa arab. Tapi dalam
penyebutan sehari-hari justru menggunakan bahasa sansekerta “santri” bukan muta’alim,
thalib atau tilmidzun. Padahal para ulama sudah memahami betul
referensi dan penguasan bahasa arab secara mutabaher -luas ilmu nya
bagaikan laut.
Saya jadi teringat pada dua jenis bangunan
masjid. Satu di kudus ada masjid Menara Kudus. Satu lagi di semarang ada masjid
Laksemana Cheng Ho di Surabaya, Pasuruan dan Palembang. Masjid Menara Kudus bentuk
ornamennya mirip sekali dengan Pura, tempat sesembahan atau tempat ibadah orang
Hindu. Di Kudus sendiri juga ada kebiasaan yang unik yaitu dilarang menyembelih
sapi untuk ibadah kurban. Ini simbol menjaga perasaan dan menghormati penganut
agama hindu yang sangat menghormati binatang sapi.
Hal sama juga Masjid Laksemana Cheng Ho yang
sangat kental sekali dengan warna merah dan bangunannya mirip Klenteng. Kadang orang
susah membedakan, kecuali pada arah bangunan dan ornamen yang dinding nya
dihiasai dengan kaligrafi bahasa Arab.
Keunikan dua masjid ini sebenarnya pesan
yang sangat mendalam jauh sebelum islam datang ke Nusantara. Pada permulaan Islam
datang, nabi telah mengikat diri untuk hidup bersama dalam ikatan politik yang kuat
bersama kaum Yahudi, Nasrani dan umat-umat lain di tanah Yasrib. Ikatan yang
sangat kuat tertulis dalam suatu konstitusi Piagam Madinah. Pada konstitusi
tersebut dengan sangat jelas tentang pentingnya persaudaraan dalam keberagaman.
Perbedaan keyakinan, agama dan budaya serta suku tidak menjadi penghalan untuk
bermuamalah membangun tatanan kehidupan yang bertamadun. Untuk mengenang semangat
tersebut, yasrib kemudian hari berganti menjadi madinah yang artinya peradaban.
Penulis bisa memahami apa sebabnya para
ulama memberi nama para pelajar Islam tidak menggunakan bahasa arab, tapi
justru menggunakan bahasa sansekerta -kata santri- yang menjadi bahasa pengantar
saat itu tiada lain karena ada kesemangatan para ulama membangun peradaban
keindonesiaan dengan tidak hilang identitas dirinya sebagai seorang muslim yang
sangat taat kepada Allah SWT.
Jadi semangat Islam pada masa nabi dan pada
masa ulama pesantren masa dulu ada kesamaan yang sangat kuat yaitu sama-sama
membangun bangsa dan negara tanpa adanya diskriminasi dan perilaku eklusifitas baik
dalam kehidupan politik maupun sosial. Sebab kehadiran ajaran agama yang
sesungguhnya datang sebagai cahaya yang memberi sinar kepada seluruh alam,
bukan sebagai api yang keinginannya selalu memprovokasi, menyulut masalah dan
membakar kemarahan umat manusia.
Tentu saja sangat lucu sekali saat lidahnya
melantunkan ayat suci al-Qur’an, saat keningnya penuh dengan tanda sujud kepada
Allah, tapi kadang hadir di tengah-tengah masyarakat tampil laksana seperti Allah
dengan mudah mengkafirkan dan memasukan neraka kepada umat Islam yang tidak
sependapat dengan kelompok mereka.
Sebagai penutup, selamat hari santri. Semoga
keberagaman semakin kuat dan pemerintahan semakin berjalan dengan baik dalam merealisasikan
kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Mahasiswa dan Gua di Padang Pasir
20 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228
Guru, Ulama dan Santri
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   181
Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   178
AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   197
Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   275
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15306
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7099
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6245
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5393
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5052