
Minggu ini -setelah selesai menulis
beberapa artikel- ada beberapa kegiatan lanjutan; termasuk beberapa sahabat meminta
untuk ngaji bareng tentang kisah maulid Nabi Muhammad SAW. Saya menolak
dengan lembut. Saya ingin mengisi maulid Nabi dengan menemani anak-anak beli
es krim, dan belanja sayur dan keperluan
dapur di Pasar. Saya Ingin menelusuri dan
merasakan maulid Nabi berkaitan kisah Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Saat ia
bisa bertemu dengan orang tua dan menyuapi makanan ke mulutnya, saat ia memeluk
kaum buruh dengan pelukan cinta, saat ia bergurau dengan para sahabat sambil
makan kurma hingga sampai musuh pun bingung dan sulit membedakan mana Nabi dan
mana rakyat biasa. Sangat egaliter.
Pagi ini saya hanya memilih satu kegiatan. Sangat
sulit kujelaskan. Namun sangat sulit juga meluapkan isi hatiku. Betapa rinduku
kepada Kanjeng Nabi. Seorang yang jatuh cinta kepada manusia yang sangat agung.
Sungguh saya merasa malu. Tapi saya menyakini, bahwa tidak salah ketika sang
pendosa mencintai Nabi yang agung?.
Saya mencoba mengumpulkan file-file kisah Kanjeng
Nabi yang perlu saya abadikan sebagai penghormatan pada bulan maulid Nabi Muhammad
SAW.
Sebagai seorang pemimpin, saya ingat sekali
nabi tidak pernah berbicara kasar kepada para sahabatnya. Banyak senyum. Menunggu
sahabat berhenti bicara. Lalu ia pun berbicara. Seperlu nya bicara saat rapat. Hal-hal
yang penting saja. Selesai rapat. Ia pun kembali menjalankan aktivitas seperti
biasa. Kadang bergurau dengan istri-istri nya dan anak-anak nya.
Sebagai seorang pemimpin, Nabi terlalu
besar cinta nya kepada sahabatnya, kepada umat nya. Ia kadang seperti cahaya,
yang hanya ingin menerangi orang lain. Ia memilih malam hari tidur di atas
pelepah daun kurma. Ia kadang memilih makan yang sangat sederhana. Roti kasar
dan air putih. Ia baju nya pun terlihat murah, dan kain nya sangat kasar.
Ia ingin melihat sahabatnya bahagia. Bisa hidup
layak, bisa mempunyai rumah, bisa mempunyai pekerjaan. Ia membiarkan sahabatnya
bahagia. Nabi sungguh tipe seorang pemimpin yang sangat mengutamakan
kepentingan rakyat nya. Ia sungguh mempunyai rasa cinta yang mendalam.
Orang yang cinta nya mendalam kepada orang
lain, ia rela hancur lebur dan menderita hanya demi kebahagiaan orang-orang
yang dicintainya.
Sebagai seorang kepala rumah tangga, Nabi
terkadang guyon dengan istri-istrinya. Saat salah seorang istri bertanya kepada
nya tentang siapa yang paling dicintai oleh nya. Nabi tersenyum dan kemudian
menjawab dengan kalimat pendek: “Istriku yang paling saya cintai adalah yang
memakai cincin”. Semua istrinya melihat pada jari manis masing-masing. Semua
memakai cincin. Semua pun tersenyum bahagia. Nabi sungguh sangat pandai merayu
istri-istrinya. Hingga semua merasa sangat bahagia.
Sebagai seorang kepala keluarga, istri-istri
Nabi kadang cemburu dengan istri lainnya. Suatu hari saat Nabi bercengkrama
dengan para sahabat, Nabi menceritakan tentang kisah cantik istri-istrinya. Kebetulan
saat Aisyah lewat, Ia sedang menceritakan kecantikan istrinya bernama Ummu Habibah.
Kontan saat itu, piring yang ada di tangan Aisyah dilepas ke lantai dan pecah
berkeping-keping.
Para sahabat kaget. Nabi tersenyum dan
berkata kepada mereka: “ Suasana hati ibu mu lagi tidak baik-baik saja”.
Nabi sangat rilek sekali menghadapi suasana
istri yang sedang tidak senang kepada nya akibat cerita-cerita yang mungkin
membuatnya marah. Nabi memamahinya dengan kepala dingin dan penuh kehangatan
hati. Nabi menyadarinya, kemarahannya adalah wujud cinta yang mendalam kepada
nya.
Suatu hari, Fatimah mendengar ayah nya kena
marah sama Aisyah gara-gara ia bercerita tentang keagungan Sayidina Khadijah. Dengan
kalimat yang agak kasar, Aisyah mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang perempuan
yang sudah tua, sedangkan dia adalah perempuan yang muda, cantik dan cerdas.
Fatimah mendengar nya pun tidak terima. Ia membalas
dengan kalimat yang sangaat diplomatis: “Tidak apa-apa ibuku perempuan tua. Setua-setua
ibuku dia beruntung mendapatkan seorang pemuda, sedangkan secantik-cantik kamu
malah mendapatkan duda”.
Nabi juga suka bergurau dengan para sahabat
nya. suatu hari saat duduk melingkar bersama sahabat dengan hidangan kurma di
tengah-tengah nya, Nabi bertanya kepada para sahabat: “Siapa orang yang
paling rakus di antara kita?”.
Para sahabat saling berpandangan. Kemudian mereka
menjawab: “Hanya Allah dan rasul-Nya yang tahu”.
Nabi tersenyum sambil tangan nya
mengumpulkan biji kurma di depan Ali bin Abi Thalib. Sehingga di antara para
sahabat, hanya Ali bin Abi Thalib yang di depannya penuh dengan biji kurma. Sedangkan
di depan Nabi tidak ada biji kurma sama sekali.
“Orang yang paling rakus di antara kita adalah
orang yang di depannya paling banyak biji kurmanya” kata nabi. Semua sahabat
melihat di depannya. Lalu pandangan mengarah kepada Ali. Kontan semua tertawa.
Ali bin Abi Thalib tidak mau dibully atau
digojlogi begitu saja oleh nabi. Ia gantian menjawab dengan tersenyum: “Saya
kira yang paling rakus sebenarnya orang yang tidak ada biji kurma sama sekali. Sebab
ia makan bukan hanya kurma nya, tapi biji nya pun dimakan”. Semua pun
tertawa lepas.
Nabi tersenyum dan berkata: “ Saya adalah kota
nya ilmu, sedangkan Ali adalah pintu nya-ana madinatul ‘ilmi wa ‘ali babuha.”
Ya Allah, saya hanya membayangkan kehidupan
nabi kok terasa damai dan bahagia. Jika membayangkan kehidupan saat ini, kok
terasa berbeda sekali. Apa mungkin perasaan ku yang terlalu baper atau
memang kenyataan demikian. Saya tidak tahu. Namun hari ini, tenggorokan ku
sudah mulai kehilangan suara. Apa karena sedih apa karena gejala demam atau
karena polusi udara akibat kebakaran hutan dimana-mana. Wallahu a’lam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
H.Imam Hakim
Menstimulasi banget utk muhasabah diri bercermin pada kisah rasul yg agung dan mulia ini...syukron Pak Yi..
Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   156
Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   227
Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205
Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   197
Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   181
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14256
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5910
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5312
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4626
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4234