Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

392 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Terbakar Rindu



Rabu , 26 Agustus 2026



Telah dibaca :  66

Minggu ini -setelah selesai menulis beberapa artikel- ada beberapa kegiatan lanjutan; termasuk beberapa sahabat meminta untuk ngaji bareng tentang kisah maulid Nabi Muhammad SAW. Saya menolak dengan lembut. Saya ingin mengisi maulid Nabi dengan menemani anak-anak beli es krim, dan belanja sayur  dan keperluan dapur di Pasar.  Saya Ingin menelusuri dan merasakan maulid Nabi berkaitan kisah Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Saat ia bisa bertemu dengan orang tua dan menyuapi makanan ke mulutnya, saat ia memeluk kaum buruh dengan pelukan cinta, saat ia bergurau dengan para sahabat sambil makan kurma hingga sampai musuh pun bingung dan sulit membedakan mana Nabi dan mana rakyat biasa. Sangat egaliter.

Pagi ini saya hanya memilih satu kegiatan. Sangat sulit kujelaskan. Namun sangat sulit juga meluapkan isi hatiku. Betapa rinduku kepada Kanjeng Nabi. Seorang yang jatuh cinta kepada manusia yang sangat agung. Sungguh saya merasa malu. Tapi saya menyakini, bahwa tidak salah ketika sang pendosa mencintai Nabi yang agung?.

Saya mencoba mengumpulkan file-file kisah Kanjeng Nabi yang perlu saya abadikan sebagai penghormatan pada bulan maulid Nabi Muhammad SAW.

Sebagai seorang pemimpin, saya ingat sekali nabi tidak pernah berbicara kasar kepada para sahabatnya. Banyak senyum. Menunggu sahabat berhenti bicara. Lalu ia pun berbicara. Seperlu nya bicara saat rapat. Hal-hal yang penting saja. Selesai rapat. Ia pun kembali menjalankan aktivitas seperti biasa. Kadang bergurau dengan istri-istri nya dan anak-anak nya.

Sebagai seorang pemimpin, Nabi terlalu besar cinta nya kepada sahabatnya, kepada umat nya. Ia kadang seperti cahaya, yang hanya ingin menerangi orang lain. Ia memilih malam hari tidur di atas pelepah daun kurma. Ia kadang memilih makan yang sangat sederhana. Roti kasar dan air putih. Ia baju nya pun terlihat murah, dan kain nya sangat kasar.

Ia ingin melihat sahabatnya bahagia. Bisa hidup layak, bisa mempunyai rumah, bisa mempunyai pekerjaan. Ia membiarkan sahabatnya bahagia. Nabi sungguh tipe seorang pemimpin yang sangat mengutamakan kepentingan rakyat nya. Ia sungguh mempunyai rasa cinta yang mendalam.

Orang yang cinta nya mendalam kepada orang lain, ia rela hancur lebur dan menderita hanya demi kebahagiaan orang-orang yang dicintainya.

Sebagai seorang kepala rumah tangga, Nabi terkadang guyon dengan istri-istrinya. Saat salah seorang istri bertanya kepada nya tentang siapa yang paling dicintai oleh nya. Nabi tersenyum dan kemudian menjawab dengan kalimat pendek: “Istriku yang paling saya cintai adalah yang memakai cincin”. Semua istrinya melihat pada jari manis masing-masing. Semua memakai cincin. Semua pun tersenyum bahagia. Nabi sungguh sangat pandai merayu istri-istrinya. Hingga semua merasa sangat bahagia.

Sebagai seorang kepala keluarga, istri-istri Nabi kadang cemburu dengan istri lainnya. Suatu hari saat Nabi bercengkrama dengan para sahabat, Nabi menceritakan tentang kisah cantik istri-istrinya. Kebetulan saat Aisyah lewat, Ia sedang menceritakan kecantikan istrinya bernama Ummu Habibah. Kontan saat itu, piring yang ada di tangan Aisyah dilepas ke lantai dan pecah berkeping-keping.

Para sahabat kaget. Nabi tersenyum dan berkata kepada mereka: “ Suasana hati ibu mu lagi tidak baik-baik saja”.

Nabi sangat rilek sekali menghadapi suasana istri yang sedang tidak senang kepada nya akibat cerita-cerita yang mungkin membuatnya marah. Nabi memamahinya dengan kepala dingin dan penuh kehangatan hati. Nabi menyadarinya, kemarahannya adalah wujud cinta yang mendalam kepada nya.

Suatu hari, Fatimah mendengar ayah nya kena marah sama Aisyah gara-gara ia bercerita tentang keagungan Sayidina Khadijah. Dengan kalimat yang agak kasar, Aisyah mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang perempuan yang sudah tua, sedangkan dia adalah perempuan yang muda, cantik dan cerdas.

Fatimah mendengar nya pun tidak terima. Ia membalas dengan kalimat yang sangaat diplomatis: “Tidak apa-apa ibuku perempuan tua. Setua-setua ibuku dia beruntung mendapatkan seorang pemuda, sedangkan secantik-cantik kamu malah mendapatkan duda”.

Nabi juga suka bergurau dengan para sahabat nya. suatu hari saat duduk melingkar bersama sahabat dengan hidangan kurma di tengah-tengah nya, Nabi bertanya kepada para sahabat: “Siapa orang yang paling rakus di antara kita?”.

Para sahabat saling berpandangan. Kemudian mereka menjawab: “Hanya Allah dan rasul-Nya yang tahu”.

Nabi tersenyum sambil tangan nya mengumpulkan biji kurma di depan Ali bin Abi Thalib. Sehingga di antara para sahabat, hanya Ali bin Abi Thalib yang di depannya penuh dengan biji kurma. Sedangkan di depan Nabi tidak ada biji kurma sama sekali.

“Orang yang paling rakus di antara kita adalah orang yang di depannya paling banyak biji kurmanya” kata nabi. Semua sahabat melihat di depannya. Lalu pandangan mengarah kepada Ali. Kontan semua tertawa.

Ali bin Abi Thalib tidak mau dibully atau digojlogi begitu saja oleh nabi. Ia gantian menjawab dengan tersenyum: “Saya kira yang paling rakus sebenarnya orang yang tidak ada biji kurma sama sekali. Sebab ia makan bukan hanya kurma nya, tapi biji nya pun dimakan”. Semua pun tertawa lepas.

Nabi tersenyum dan berkata: “ Saya adalah kota nya ilmu, sedangkan Ali adalah pintu nya-ana madinatul ‘ilmi wa ‘ali babuha.”

Ya Allah, saya hanya membayangkan kehidupan nabi kok terasa damai dan bahagia. Jika membayangkan kehidupan saat ini, kok terasa berbeda sekali. Apa mungkin perasaan ku yang terlalu baper atau memang kenyataan demikian. Saya tidak tahu. Namun hari ini, tenggorokan ku sudah mulai kehilangan suara. Apa karena sedih apa karena gejala demam atau karena polusi udara akibat kebakaran hutan dimana-mana. Wallahu a’lam.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

H.Imam Hakim

Menstimulasi banget utk muhasabah diri bercermin pada kisah rasul yg agung dan mulia ini...syukron Pak Yi..

   Berita Terkait

Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   156

Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   227

Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205

Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   197

Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   181

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14256


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5910


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5312


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4234