
Kebahagiaan merupakan cita-cita alamiah setiap manusia baik secara
individual maupun kolektif, baik dalam unit terkecil berupa keluarga sampai
pada unit terbesar yang sering disebut dengan bangsa. Untuk mendapatkan makna
kebahagiaan tersebut, mereka melakukan berbagai macam usaha untuk
mewujudkannya. Q.S. Al-Baqarah ([2]:201) berbunyi sebagai berikut:
وَمِنْهُمْ
مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ
حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٢٠١
Artinya:
Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab
neraka.”
Kebahagiaan mengacu kepada hadist Nabi Muhammad SAW sebagai
berikut:
أَرْبَعٌ مِنْ
سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا
وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ
Artinya:
Empat macam
dari kebahagiaan manusia, yaitu istri yang salehah, anak yang berbakti,
teman-temannya adalah orang-orang yang baik, dan mata pencahariannya berada
dalam negaranya sendiri.'' (HR Dailami).
Kebahagiaan manusia dalam Islam ada empat unsur: Pertama,
istri sholehah. Makna Istri sholehah merupakan istri yang telah mengenal ajaran
Islam dan mempraktekan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari baik status
nya sebagai seorang ibu rumah tangga, sebagai guru buat anak-anak nya maupun
dalam kehidupan sosial. Istri sholehah bukan hanya sebatas sempurna pada
tataran dhohir, tapi kabaikan yang memancar dari inner body, yaitu
kejernihan jiwa dan kedamaian hati atas kesadaran nya terhadap hak dan
kewajiban yang melekat pada dirinya. Kesadaran ini lahir dari pemahaman
nilai-nilai agama Islam.
Islam menekankan istri sholehah sebagai sumber kebahagiaan hal ini
berangkat dari realita kehidupan sosial
bahwa suatu keluarga, masyarakat bahkan bangsa dan negara bisa menjadi
baik apabila kaum wanita yang bermartabat.
Era modern saat sekarang ini, ketika kaum wanita muslim terpesona
dengan kehidupan modern model barat, lalu sebagian mereka ingin meniru ajaran
bangsa barat tentang makna kebebasan tanpa batas (liberalisme dan
individualisme) dan merasa minder terhadap bangsa sendiri yang dianggap
terlihat kolot, terbelakang dan jauh dari makna modern. Sedikit demi sedikit
mereka meninggalkan ajaran Islam dan mengadopsi nilai-nilai barat dalam melihat
dunia dan segala isinya. Maka lahirnya makna kebebasan yang terjadi saat sekarang
ini. Semua merasa benar dan semua merasa mempunyai otoritas untuk menyuarakan
kebenaran berdasarkan pandangan-pandangan nya atas dasar pikirannya sendiri.
Pada akhirnya kebebasan berpendapat yang seharusnya menjadi pilar penyelesai
masalah malahan menjadi jalan retaknya hubungan suami istri, keluarga, bahkan
juga dalam kehidupan sosial dalam aspek yang lebih luas.
Kebebasan kaum Perempuan yang dihembuskan bangsa barat juga telah
menumbuhkan sikap berani mewujudkan kebebasan bersuara dan mengekspresikan
segala perilakunya dengan berlindung atas nama Hak Asasi Manusia dan atas nama
kemodernan. Namun ironisnya, produk dari semua itu melahirkan perilaku yang
sangat negatif seperti pergaulan bebas, perzinaan, hamil di luar nikah, dan
implikasi-implikasi negatif lainnya. Jika hal ini terus terjadi, maka tatanan
kehidupan masyarakat ambruk dan peradaban hancur. Semua ini bermula dari
hancurnya moralitas kaum perempuan.
Kedua, anak yang berbakti kepada orang
tua. Kedudukan anak sangat penting dalam unit terkecil dari keluarga. Ia hidup tidak
dalam lingkungan terbatas, tapi ia akan hidup dan bersosialisasi dengan
masyarakat dan suatu saat nanti menjadi pemegang estafet kepemimpinan masa
depan.
Sikap anak terhadap orang tua merupakan cermin hasil pendidikan
yang bisa bersumber dari keluarga maupun di masyarakat. Kesadaran anak tentang
pentingnya menghormati orang tua dalam kondisi apapun merupakan modal dari
kesiapan menerima dan menghormati keberagaman yang hidup di tengah-tengah
masyarakat. Ia mungkin tidak tumbuh dalam keluarga yang baik atau bahkan broken
home, namun pergaulan nya dengan lingkungan masyarakat yang baik atau teman
yang baik mampu menyadarkan diri tentang arti penting menghargai, menghormati
dan berbakti kepada orang tua sesuai dengan standarisasi ajaran-ajaran Islam.
Ketiga, teman-teman yang baik. Manusia
secara naluri tidak bisa hidup sendiri. Ia manusia sosial (zoon politicon).
Ia senantiasa membutuhkan orang lain untuk merealisasikan segala keinginannya
baik bersifat ruhaniah maupun jasmaniah. Naluri manusia akan terus bergerak dan
mencari orang-orang atau komunitas-komunitas yang mempunyai kesamaan dengan
keinginan-keinginannya.
Era saat sekarang ini muncul beragam komunitas. Dunia maya sering
menampilkan aktifitas-aktifitas mereka. Tidak semua komunitas itu baik. Ada
komunitas lahir karena ada persamaan nasib dari beragam akumulasi masalah yang
menimpa mereka. Ada kecocokan. Kemudian hari mereka membentuk
komunitas-komunitas. Seperti saat sekarang ini yang lagi viral berkaitan dengan
komunitas kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).
Komunitas LGBT menurut kaum modernis ala bangsa barat bagian dari
komunitas dan budaya yang dilindungi oleh konstitusi HAM internasional. Implikasi
dari perilaku LGBT melahirkan beragam penyakit seperti HIV/AID yang sangat
menakutkan sekali. obatnya sangat sulit. Maka, Negara-negara maju membuat obat
dan menyalurkan nya ke berbagai negara-negara untuk membelinya. Jadi atas nama
HAM, negara-negara maju sebenarnya mempunyai motif bisnis menjual obat-obatan. Ini
berdampak pada ketergantungan negara-negara berkembang dan miskin terhadap
negara-negara modern. Ketergantungan hingga saat sekarang ini.
Dalam kontek sosial, teman baik bisa juga dalam pengertian agama,
moral dan budi pekertinya. Pada sisi lain, teman yang baik bisa jadi kelompok
komunitas yang mempunyai nilai-nilai plus dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Umat Islam harus bisa memilih hal-hal yang positif dengan aktif
belajar, seminar dan kajian-kajian ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk meningkatkan kualitas diri dan kemajuan bangsa. Jadi, segala
sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan generasi Islam terbuka untuk belajar.
Sedangkan dalam bidang ajaran Islam, maka umat Islam harus bisa memberi contoh
kepada umat lain tentang indah hidup beragama.
Keempat, mencari nafkah di negeri sendiri.
ada dua pesan penting dalam kalimat tersebut: 1) setiap individu harus
mempunyai keahlian (skill) agar bisa membuka lapangan pekerjaan untuk
dirinya sendiri dan orang lain baik melalui keahlian teknologi, pertanian,
perdagangan, pendidikan dan lain-lain. Keberhasilan pendidikan indikatornya
yaitu ada kesadaran kemandirian mengenal jati diri dan berusaha keras untuk
mewujudkannya. Dari sini tumbuh generasi-generasi yang mempunyai etos kerja
tinggi dan menjadi cikal bakal lahirnya kehidupan yang berperadaban. 2) Dalam
konteks kehidupan yang lebih luas, saat ini setiap negara terus berusaha
membuka lapangan pekerjaan untuk kesejahteraan warga negaranya. Setiap calon
pemimpin mulai dari calon presiden sampai kepala desa senantiasa menyisipkan
janji menurunkan kemiskinan, menaikan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru
untuk masyarakat. Ketika cita-cita tersebut gagal, maka terjadi pengangguran dimana-mana.
Solusinya yaitu mereka keluar negeri mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Hal ini karena ketidakmampuan pemerintah menciptakan laparangan
pekerjaan bagi warga negaranya.
Sedangkan negara yang telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan
bagi warga negara nya menjadi indikator kebahagiaan dan kedamaian hati tumbuh
dengan baik. Mereka bisa tenang dalam bekerja dan membangun keharmonisan dengan
keluarga. Negara-negara seperti ini adalah negara-negara yang sudah mempunyai
Sumber Daya Manusia (SDM) sangat baik, ketaatan terhadap nilai-nilai
integritas, transparansi dan profesionalitas tumbuh sangat sehat. Meskipun
minim Sumber Daya Alam (SDA), kepala negara dan teamwork nya tetap bisa
membangun tatanan pemerintahan yang bersih, sehat dan tepat sasaran.
Kebahagiaan Dalam Sudut Iman
Kebahagiaan dalam Islam memang tidak selalu melulu berbicara
tentang persoalan mudah askses pendidikan, pekerjaan dan ekonomi serta kondisi
keamanan yang baik. Dalam kontek kebahagiaan yang bersifat sosial -sebagaimana
yang telah dibahas tersebut di atas -keempat unsur tersebut telah mencerminkan
makna kebahagiaan. Namun dalam kontek keimanan, kebahagiaan sering juga tidak
lepas dari kekuatan iman seseorang dalam menghadapi segala fenomena kehidupan.
Dalam realita sosial, tidak semua manusia mapan secara finansial
dan baik secara pendidikan. Namun bukan berarti mereka tidak mempunyai hak
untuk mendapatkan kebahagiaan. Siapapun orang nya mempunyai hak untuk
mendapatkan kebahagiaan dengan beragam jalan yang mereka lalui, termasuk
kebahagiaan dalam sudut pandang keimanan.
Setiap muslim telah menerima kisah hidup Nabi Muhammad SAW. Jika
dilihat dari beberapa kisah hidupnya, sering ia kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan hidup. Ia tetap bahagia. ketika ia bertanya kepada istri nya tentang
makanan apa yang bisa dimakan hari itu, istrnya menjawab tidak ada makanan.
Maka ia pun dengan Santai sekali menjawab: “kalau begitu, hari ini saya
puasa”.
Kisah serupa terjadi pada keluarga Ali bin Abi Thalib. Sebagai seorang
menantu Rasulullah, kehidupannya jauh dari mapan. Ia harus berjualan kayu ke
pasar dan Fatimah -istrinya- bekerja di rumah, mencuci baju dan masak. Hingga
tangan-tangannya terkadang penuh dengan luka. Saat Ali meminta orang untuk
membantu pekerjaan rumah tangga kepada Rasulullah, mala ia mendapatkan pesan
agar Fatimah membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir
33 kali untuk menghilangkan rasa lelah ketika siang hari bekerja.
Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:214) sebagai
berikut:
اَمْ
حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ
خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا
حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ
اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ ٢١٤
Artinya:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum
kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai
cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata,
“Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah
itu dekat.
Ayat tersebut merupakan jalan menuju kebahagiaan dalam sudut
keimanan. Ayat tersebut mengajarkan kerangka berfikir tentang hakikat suatu
kebahagiaan kepada umat Islam, yaitu kebahagiaan yang abadi. Dalam sudut
pandang keimanan, sering kejayaan dunia dalam beragam bentuk menjadi fitnah
kehidupan. konflik, perkelahian, perang dan permusuhan antar keluarga,
masyarakat dan antar bangsa merupakan bagian dari fitnah tersebut. Umat Islam
harus mengisi kehidupan, berjuang, belajar dan mencari pekerjaan harus berpijak
pada pengabdian diri kepada Allah SWT secara totalitas.
Kebahagiaan dalam perspektif keimanan mengajarkan tentang orientasi
hidup semata-mata mengabdi kepada-Nya. Kehidupan adalah perjuangan dalam upaya
menciptakan kebahagiaan di dunia melalui berbagai pekerjaan dan aktivitas lainnya. Disi lain kehidupan
juga jalan untuk mengabdi kepada-Nya dalam wujud ritual-ritual yang telah
ditentukan. Baik pekerjaan yang bersifat duniawi maupun bersifat ukhrawi
sebenarnya jalan pengabdian seorang hamba kepada-Nya. Tentu saja, manusia dalam
rangka mencapai puncak kebahagiaan sejati tidak lepas dari ujian-ujian Allah. Kemampuan
melintasi ujian tersebut manusia akan menemukan kebahagiaan sejati yaitu masuk
ke dalam surga nya.
Ruang Diskusi
Bagaimana pandangan kamu tentang makna kebahagiaan yang ingin kamu cita-citakan
!
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Dewi Astuti
Rasanya yg pertama dan paling utama bersyukur, senang, bahagia, dan bahkan sampai ga percaya bisa sampai berhasil di titik yang diimpikan. Merayakan kemenangan kebahagiaan itu perlu sebagai reward kita udah bisa berhasil menggapai keinginan itu (cita cita), tetapi disaat berada di atas, saat dimana kamu benar benar diuji sebijak baik apa kebijaksanaanmu, banyak sekali godaan, kenikmatan yang malah membuat kamu terlena yg menjadikan kamu tidak semakin berada diatas tapi malah jadi dibawah lagi, menjadi orang yang gagal lagi kalo kita tidak bijak dalam mengambil keputusan. Intinya jikalau kamu sudah berhasil meraih impian itu, rasa senang, bangga, bahagia pasti akan ada dan agar rasa itu bertahan di diri kamu teruslah bersyukur dan mencari cara lagi untuk bisa meraih cita cita lainnya, ingat jangan terlena!!
nopianti
menurut saya, kebahagiaan yang ingin dicita-citakan adalah hidup yang tenang, sederhana, penuh syukur, serta bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
AULYA NABILLA
Bagi saya, kebahagiaan adalah ketika bisa hidup dengan tenang, bersyukur, dan terus berusaha meraih cita-cita. Kebahagiaan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bisa bermanfaat bagi orang lain dan menjaga keseimbangan dalam hidup
Bunga Suci Aulia
Pandangan saya mengenai makna kebahagiaan ialah ketika melakukan hal yang kita sukai, hidup dengan tenang, mempelajari hal-hal baru yang ingin kita pelajari tanpa hambatan, membantu sesama dan hidup yang merasa nyaman dan aman.
Alya Septiamanda
Bagi saya, makna kebahagiaan yang ingin saya cita citakan adalah ketika melakukan hal-hal yang bisa membuat saya senang tanpa ada gangguan. Melakukan hal yang saya sukai, mendapatkan lingkungan yang membuat saya sendiri nyaman, dan membuat diri saya tidak takut untuk melakukan sesuatu. Hidup tenang, aman, damai dan tentram adalah keinginan saya untuk mendapatkan kebahagiaan tersendiri. Setelah mendapatkan suatu kebahagiaan, saya selalu bersyukur setiap kebahagiaan datang kedalam hidup saya.
INDAH WULANDARI
Baik. Menurut saya, kebahagiaan merupakan suatu keadaan batin yang lahir dari keseimbangan antara kebutuhan lahiriah dan batiniah. Kebahagiaan tidak selalu identik dengan pencapaian materi atau keberhasilan besar, melainkan kepada kemampuan seseorang untuk merasa cukup, mensyukuri hal-hal sederhana, serta merasakan ketenangan dalam dirinya. Kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan adalah kebahagiaan yang berakar pada makna hidup, yakni ketika segala usaha, tujuan, dan hubungan yang saya jalani dapat memberi nilai yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Bagi saya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang sekali lalu bertahan selamanya, melainkan proses yang terus diupayakan melalui rasa syukur, kedamaian, dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Dengan demikian, makna kebahagiaan yang ideal adalah hidup yang penuh arti, selaras dengan hati nurani, dan mampu menghadirkan kedamaian dalam setiap langkah.
Annisa Febry Aulia
“Bagi saya, kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan adalah hidup dengan tenang, dikelilingi orang-orang yang saya sayangi, serta mampu bermanfaat bagi orang lain. Kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur dan kepuasan hati dalam menjalani hidup.”
KHAI RANI ATIFA SARI
Bagi saya, kebahagiaan yang ingin dicita-citakan adalah hidup dengan hati tenang, bermanfaat bagi orang lain, membahagiakan keluarga, serta mampu bersyukur atas setiap pencapaian.
Nafisa alya
bagi saya, kebahagiaan yg ingin di cita citakan adalah hidup dengan hati tenang, bermanfaat bagi orang lain , membahagiakan keluarga,setra mampu bersyukur atas setiap pencapaian
diha ramadani
“Bagi saya, kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan adalah hidup dengan tenang, dikelilingi orang-orang yang saya sayangi, serta mampu bermanfaat bagi orang lain. Kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur dan kepuasan hati dalam menjalani hidup.”
CITI SARAH
Berdasarkan materi yg sudah diberikan,saya memandang kebahagiaan yang ingin dicita-citakan bukan sebagai suatu titik yang statis melainkan sebuah perjalanan dan keseimbangan yang melalui dimensi duniawi dan uhrawi sosial.
Ayu Dewi Astuti
Tentu kebahagiaan yang di cita cita kan adalah di mana kita bisa selalu bersyukur, punya kehidupan yang damai, tenang, tidak selalu memiliki problem, dan bisa selalu puas dengan apa yang di miliki, dan tentunya juga di jauhkan dari hal hal buruk, dijauhkan dari sifat sifat dengki, iri dsb.
MUHAMMAD AMRIZAN
konsep kebahagiaan dalam pandangan Islam 1. Kebahagiaan dalam Islam tidak hanya tentang kesenangan duniawi, tetapi juga tentang kebaikan di akhirat. 2. Empat unsur kebahagiaan: istri sholehah, anak yang berbakti, teman-teman yang baik, dan mencari nafkah di negeri sendiri. 3. Kebahagiaan dalam sudut iman, yaitu kebahagiaan yang abadi dan tidak terpengaruh oleh kesulitan duniwi, kebahagian dunia melalui pekerjaan dan aktivis lainnya.
MUHAMMAD AMRIZAN
konsep kebahagiaan dalam pandangan Islam 1. Kebahagiaan dalam Islam tidak hanya tentang kesenangan duniawi, tetapi juga tentang kebaikan di akhirat. 2. Empat unsur kebahagiaan: istri sholehah, anak yang berbakti, teman-teman yang baik, dan mencari nafkah di negeri sendiri. 3. Kebahagiaan dalam sudut iman, yaitu kebahagiaan yang abadi dan tidak terpengaruh oleh kesulitan duniwi, kebahagian dunia melalui pekerjaan dan aktivis lainnya.
FAZIA MAULINI
Menurut saya, kebahagiaan itu bukan sesuatu yang tunggal atau sama untuk semua orang, melainkan perjalanan yang sangat personal. Kalau saya harus merumuskan makna kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan, maka kebahagiaan adalah keadaan batin yang tenang, penuh syukur, dan bermakna, di mana saya bisa MENGENAL DIRI SENDIRI DENGAN BAIK, MENJALANI HIDUP DENGAN SEIMBANG . Setiap manusia menginginkan untuk menjadi lebih baik dan memiliki sesuatu yang baik adalah fitrah yang diberikan Allah Swt kepada manusia. Setiap hal yang diinginkan pasti akan terpintas di dalam pikiran manusia, akan tetapi kita harus ingat bahwa keinginan tersebut jangan sampai hanya membuat kita berangan-angan bahkan membuang-buang waktu. Dalam surah an-nisâ’ ayat 119 dituliskan bahwa setan berjanji kepada Allah Swt untuk terus menggoda manusia, salah satunya dengan membuat mereka berangan-angan kosong sehingga manusia lalai terhadap perintah Allah Swt . Berangan-angan hanya akan membuang waktu dan hal tersebut merupakan salah satu bentuk godaan setan untuk menyesatkan manusia, oleh karena itu hendaknya kita segera memohon ampun ketika terjebak dalam angan-angan kosong tersebut.
DESNI SELVIOLA
Kalau ditanya tentang makna kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan, saya akan melihatnya bukan hanya sebagai perasaan senang sesaat, tapi lebih sebagai kondisi batin yang tenang, seimbang, dan bermakna. Bagi saya, kebahagiaan ideal bisa diartikan dalam beberapa hal: 1. Ketenangan batin → bisa menerima diri sendiri, tidak selalu gelisah mengejar apa yang orang lain miliki. 2. Hubungan yang hangat → dikelilingi keluarga, teman, atau orang-orang yang tulus mendukung dan peduli. 3. Makna dan kontribusi → merasa bahwa apa yang dikerjakan bermanfaat, meskipun kecil, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. 4. Kebebasan memilih jalan hidup → bisa menentukan arah tanpa terlalu terikat tekanan eksternal. 5. Syukur atas hal-hal sederhana → karena sering kali, kebahagiaan datang dari hal kecil yang kita sadari nilainya. Jadi cita-cita kebahagiaan itu bukan hanya soal mencapai sesuatu, tapi lebih pada menjalani hidup dengan rasa syukur, ketenangan, dan makna.
AMELIA WIDYA ASTI
Menurut saya, kebahagiaan adalah keadaan ketika hati merasa tenang, damai, dan penuh rasa syukur. Kebahagiaan tidak selalu diukur dari banyaknya harta benda, tetapi lebih kepada bagaimana kita bisa mensyukuri apa yang dimiliki dan dikelilingi oleh orang-orang yang peduli serta menyayangi kita. Kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan adalah dapat hidup dengan sehat, berbakti kepada orang tua, memiliki sahabat yang baik, serta mampu meraih prestasi di perkuliahan. Dengan begitu, saya merasa hidup akan lebih bermakna dan membahagiakan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
MAHARANI FAHIRA ASFE
Menurut saya, kebahagiaan adalah saat seseorang bisa hidup tenang dan bebas dari keterikatan. Dengan tidak terlalu bergantung pada hal-hal yang diluar kendali kita, kita bisa lebih bersyukur, menerima keadaan, serta menjalani hidup dengan sederhana namun bermakna, dan berusaha menjadi orang yang lebih baik di kemudian hari.
ARUMI ABQARY HIBATULLAH
Menurut saya pribadi, makna kebahagiaan yang ingin aku cita-citakan itu mencakup keseimbangan antara kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Artinya, aku ingin bahagia secara lahir dan batin — bisa menjalani kehidupan yang harmonis dengan keluarga, punya teman yang baik, dan merasa cukup dalam pekerjaan, tapi juga punya kedamaian hati dan keimanan yang kuat supaya bisa menghadapi segala ujian dengan sabar.
RATU FATHANA BAYU SUCI
Makna kebahagiaan bagi saya bukan sekadar perasaan senang atau puas sesaat, melainkan kondisi batin yang tenang, penuh makna, dan seimbang. Kebahagiaan yang saya cita-citakan adalah ketika saya bisa memberikan manfaat untuk orang lain, menjadi versi terbaik dari diri sendiri, dan terus belajar tanpa tekanan. Saya membayangkan kebahagiaan sebagai: Kehidupan yang selaras antara pikiran, hati, dan tindakan. Hubungan yang sehat dengan orang lain—didasari rasa saling menghargai dan peduli. Kesempatan untuk tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut gagal. Kebahagiaan sejati, bagi saya, bukan datang dari hal-hal yang bersifat materi atau pujian dari luar, tetapi dari makna yang kita temukan dalam hidup kita sendiri, dalam peran kecil maupun besar yang kita jalani dengan sepenuh hati.
Indah Julia Putri
Menurut saya,kebahagiaan yang dicita-citakan bukan sekedar kebahagiaan sesaat tetapi keadaan batin yang tenang dan penuh makna.bukan berarti hidup tanpa masalah tetapi bisa menghadapi masalah dengan hati yang tenang dan lapang.Kebahagiaan juga menurut saya tercapai ketika apa yang saya pikirkan, rasakan, dan lakukan berada dalam satu jalur — sejalan dengan nilai hidup dan tujuan yang ingin dicapai.
Mugni basit rasida
Setiap orang memiliki definisi kebahagiaan yang unik dan dapat berubah seiring waktu. Namun, secara umum, kebahagiaan adalah kondisi yang membuat kita merasa puas, bahagia, dan memuaskan dalam mendapatkan sesuatu kebutuhan yang terpenuhi
AISYAH MUTMAINNAH
apapun untuk orang tua, apapun bentuk tujuan, impian, dan cita cita asal menyangkut doa orang tua akan terasa bahagia dan pasti dipermudahkan jalannya oleh Allah SWT. Ketenangan pada diri sendiri, keberanian, serta Ridho Allah SWT dalam mengejar impian yang ingin diwujudkan untuk diri sendiri, orang tua, masa depan itulah makna kebahagian bagi saya.
NURIZA DIAN AULIA
Menurut saya, makna kebahagiaan adalah ketika hidup terasa tenang, bermanfaat, serta dekat dengan Allah. Kebahagiaan sejati bukan hanya tentang kesenangan dunia, tetapi juga bisa meraih ridha-Nya dan kelak masuk ke surga. Namun, di dunia ini saya cita-citakan kebahagiaan dengan bisa membahagiakan orang tua, meraih cita-cita, dan hidup dengan penuh keberkahan.
Nabilatul Afifah
menurut pandangan saya mengenai makna kebahagiaan yang dicita²kan , bagaikan satu kesenangan yang dirasakan dengan hati dan kepuasan akan perjuangan diri,yang bisa sampai ketitik akhir dari cita²
ARIRIN PERMADANI
Benar. Dalam pandangan Islam seperti - Istri sholehah - Anak berbakti - Teman baik - Mencari nafkah di negeri sendiri - Pengabdian kepada Allah SWT untuk kebahagiaan abadi. Kebahagiaan dalam Islam juga melibatkan melewati ujian hidup dengan iman yang kuat untuk mencapai kebahagiaan abadi di surga.
AULIA MUTHMA INNAH
Kebahagiaan menurut saya adalah kebahagiaan mencakup duniawi dan akhirat yaitu seperti 2 rakaat sebelum subuh, dan kebahagiaan mencakup keluarga, teman, lingkungan serta pribadi.
fitra nur annisa
bagi saya kebahagiaan yang ingin saya cita citakan adalah hidup yang tenang dekat dengan allah serta bermanfaat bagi orang lain kebahagiaan bukan hanya memiliki banyak hal tetapi ketika hati mampu bersyukur ikhlas menerima kehidupan dan menjadikan diri bernilai bagi sesama
Maisya Ayuni Rahma
Bagi saya, kebahagiaan itu bukan hanya soal materi, tapi ketika hati tenang, hidup bermanfaat, orang tua bahagia, dan Allah ridha dengan apa yang saya jalani.
KEYSHA DWI JULYANA
pandangan tentang makna kebahagiaan yang ingin aku cita-citakan adalah: Kebahagiaan bukan hanya soal memiliki banyak hal, tetapi tentang merasakan ketenangan hati, bersyukur, dan mampu memberi arti bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebahagiaan sejati aku maknai sebagai kondisi ketika hidup bisa seimbang: antara kerja keras dan istirahat, antara mimpi pribadi dan kepedulian sosial, antara menerima kekurangan dan mensyukuri kelebihan. Cita-cita kebahagiaan itu adalah menjadi pribadi yang berkembang, bermanfaat, dan tetap bisa merasa cukup meski hidup terus berubah. Dengan begitu, kebahagiaan tidak hanya menjadi tujuan akhir, melainkan perjalanan yang dijalani setiap hari.
Taufik Hidayat
Kalau bicara soal makna kebahagiaan yang ingin dicita-citakan, menurut saya kebahagiaan itu bukan sekadar rasa senang sesaat, tapi kondisi hidup yang utuh dan seimbang. Berikut pandangan saya dalam beberapa sisi: --- ???? Kebahagiaan sebagai Individu Bisa hidup tenang tanpa terlalu dibebani oleh kecemasan. Memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang cukup untuk beraktivitas. Bisa berkembang, belajar, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. --- ???? Kebahagiaan dalam Sosial Memiliki hubungan yang hangat dengan keluarga, teman, dan orang sekitar. Merasakan arti keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain. Hidup dalam lingkungan yang saling mendukung, menghargai, dan peduli. --- ???? Kebahagiaan sebagai Makhluk Tuhan Merasakan kedekatan dengan Tuhan lewat ibadah dan doa. Hati yang lapang menerima takdir, baik suka maupun duka. Bisa menjalani hidup sesuai dengan nilai dan ajaran-Nya. --- ???? Jadi, kebahagiaan yang ingin dicita-citakan adalah hidup yang seimbang: cukup secara materi, damai secara batin, bermanfaat bagi orang lain, dan diridhai Tuhan. Taufiq mau saya rangkumkan jadi paragraf singkat gaya esai biar lebih enak dipakai langsung kalau buat tugas?
Taufik Hidayat
Kalau bicara soal makna kebahagiaan yang ingin dicita-citakan, menurut saya kebahagiaan itu bukan sekadar rasa senang sesaat, tapi kondisi hidup yang utuh dan seimbang. Berikut pandangan saya dalam beberapa sisi: --- ???? Kebahagiaan sebagai Individu Bisa hidup tenang tanpa terlalu dibebani oleh kecemasan. Memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang cukup untuk beraktivitas. Bisa berkembang, belajar, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. --- ???? Kebahagiaan dalam Sosial Memiliki hubungan yang hangat dengan keluarga, teman, dan orang sekitar. Merasakan arti keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain. Hidup dalam lingkungan yang saling mendukung, menghargai, dan peduli. --- ???? Kebahagiaan sebagai Makhluk Tuhan Merasakan kedekatan dengan Tuhan lewat ibadah dan doa. Hati yang lapang menerima takdir, baik suka maupun duka. Bisa menjalani hidup sesuai dengan nilai dan ajaran-Nya. --- ???? Jadi, kebahagiaan yang ingin dicita-citakan adalah hidup yang seimbang: cukup secara materi, damai secara batin, bermanfaat bagi orang lain, dan diridhai Tuhan.
QUMIL LAILA SAFITRI
Bagi saya, kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan adalah kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Hidup dengan rezeki yang halal, keluarga yang harmonis, teman yang baik, serta iman yang kuat untuk menghadapi ujian hidup dengan sabar dan syukur. Kebahagiaan sejati adalah ketika hati tenang, mendapat ridha Allah, dan hidup bermanfaat bagi orang lain.
awani khalila familta
• Hidup sesuai nilai diri. •Menjaga hubungan yang hangat. •Menikmati hal-hal sederhana tiap hari. •Menerima hidup dengan syukur Intinya: kebahagiaan adalah saat kita bisa hidup bermakna, seimbang, dan tulus.
nisya febriani putri
Bahagia lahir batin, artinya bukan hanya terpenuhinya kebutuhan materi, tetapi juga ketenangan jiwa. Dekat dengan Allah, karena kebahagiaan sejati dalam Islam adalah saat kita merasa cukup, bersyukur, dan ikhlas dengan ketentuan-Nya. Bermanfaat bagi orang lain, sebab kebahagiaan terbesar adalah saat bisa memberi kebaikan dan membuat orang lain tersenyum. Mencapai cita-cita, dengan kerja keras dan doa, karena keberhasilan yang diraih dengan usaha sendiri terasa lebih bermakna.
RODIATUS SHOLIHAH
Bahagia adalah keadaan psikologis yang ditandai dengan perasaan kesenangan, ketentraman lahir dan batin, kepuasan hidup, serta perasaan positif secara umum. Kebahagiaan bukan hanya tentang kesenangan sesaat, tetapi juga tentang menjalani kehidupan yang bermakna, bersyukur, merasa cukup, dan mampu melihat masa depan dengan optimis.
Shahidah ramadhani
pandangan saya tentang kebahagiaan adalah keseimbangan antara dua hal: 1. Kebahagiaan di Dunia: Yaitu memiliki keluarga yang baik, teman-teman yang mendukung, dan pekerjaan yang mapan. Ini adalah kebahagiaan yang bisa kita lihat dan rasakan secara langsung. 2. Kebahagiaan di Akhirat: Yaitu ketenangan hati dan kekuatan iman saat menghadapi ujian hidup. Kebahagiaan sejati ini datang dari keyakinan bahwa semua kesulitan adalah bagian dari perjalanan menuju surga. Jadi, kebahagiaan sejati bukanlah hanya tentang punya banyak hal, tapi juga tentang memiliki hati yang damai dan keyakinan yang kuat.
Nashwa Deabiy Ryzandasyah
makna kebahagiaan bagi saya adalah ketika kita merasa senang, tenang, bersyukur, bahagia, karena diberi kesehatan, keluarga yang saling suport, harmonis, memiliki teman yang baik, mendapatkan pekerjaan yang layak, serta memiliki keimanan yang kuat dan ketaatan kepada Allah Swt.
Ilmadyan Fahirra ABI 1D
Makna kebahagiaan berarti sehat jasmani dan rohani, mendapatkan teman-teman yang berdampak positif bagi diri kita, selalu bersyukur pada hal-hal kecil, dan menjaga ketenangan serta kedamaian hati dengan menjalankan ibadah 5 waktu dan ibadah-ibadah lainnya.
Dinia anis syafira
Ketenangan batin karena dekat dengan Allah dan menjalankan ajaran agama. Kehidupan yang bermanfaat, bisa memberi kebaikan bagi orang lain. Keseimbangan hidup, antara pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan ibadah. Syukur dan sabar, mampu menerima keadaan dengan ikhlas sekaligus terus berusaha lebih baik. Jadi, kebahagiaan yang saya harapkan bukan sekadar materi, tetapi rasa damai, cukup, dan keberkahan hidup.
silvia afriani 1d
Kalau menurutku, makna kebahagiaan itu bukan cuma soal harta, jabatan, atau kesenangan sesaat. Kebahagiaan sejati ada ketika hidup terasa penuh makna, hati merasa tenang, dan kita bisa bermanfaat bagi orang lain.
juliana safitri
Menurut saya, kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan adalah hidup dengan hati yang tenang, merasa cukup, dan selalu bersyukur. Kebahagiaan bukan hanya dari materi, tetapi juga dari hubungan yang baik dengan orang lain serta bisa bermanfaat bagi sesama.
Nasywa sifa halmala
secara umum, kebahagiaan yang layak dicita-citakan adalah hidup yang seimbang: ada rasa tenang di dalam diri, hubungan baik dengan orang lain, dan kegiatan yang memberi makna. Itu membuat senang sekaligus bermanfaat, bukan hanya bahagia sesaat.
Windari 1 D
kebahagiaan yang ingin dicita-citakan adalah kondisi hidup yang seimbang antara jasmani, rohani, sosial, dan spiritual. Kebahagiaan bukan sekadar memiliki harta atau kesenangan sesaat, melainkan rasa tenang dalam hati, mampu menerima diri apa adanya, serta selalu bersyukur.
RAHMA NUR AZIZAH
kebahagiaan yang saya cita cita kan ialah dengan keseimbangan, keseimbangan hidup, keseimbangan antara pekerjaan, hubungan, iman dan kegiatan pribadi
ALISA SUHANA
Menurut saya, kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan bukan hanya soal harta, jabatan, atau hal-hal yang bersifat duniawi, tapi lebih kepada ketenangan hati dan rasa cukup.
Suci Hayati
Menurut saya, makna kebahagiaan yang ingin saya cita-citakan adalah kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Kebahagiaan bukan hanya tentang harta, jabatan, atau kemudahan hidup, tetapi juga tentang ketenangan hati, keikhlasan, dan rasa syukur. Saya ingin bahagia karena bisa bermanfaat bagi keluarga, sesama manusia, dan tetap dekat dengan Allah SWT. Kebahagiaan sejati adalah ketika hidup terasa penuh makna, damai, dan mendapat ridha dari Allah, meskipun sederhana secara materi.
Marcshella zarides
kebahagiaan yang ingin dicita-citakan adalah kondisi hidup di mana hati tenang, jiwa penuh kedamaian, dan kehidupan berjalan dengan penuh makna melalui ketaatan dan keikhlasan, bukan semata-mata pencapaian dunia. Kebahagiaan ini adalah anugerah dari Allah yang muncul dari keseimbangan antara spiritualitas, emosi, dan kebutuhan jasmani.
Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85
Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   158
Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344
Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   385
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875