Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Belajar Ku Melihatmu dengan Senyuman


 NEWS

Senin , 23 Januari 2023



Telah dibaca :  258

Sangat sulit memahami kehidupan yang sering disebut sebagai orang yang mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah kepada Manusia. Hasrat setiap orang mengingingkan hidup serba kecukupan, tidak pernah sakit, dan apa yang diinginkan segera terkabulkan. Disi lain, saat keinginanya sudah terwujud lalu muncul rasa  ketakutan apabila datang suatu masa yang tidak menyenangkan dalam kehidupan seperti rasa sakit, menua dengan ditandai kulit semakin berkeriput, rambut memutih, pandangan mata kabur, dan gigi satu persatu pun lepas.

Allah menyadarkan manusia dengan keterbatasan; umur, kekayaan, kejayaan, dan kecantikan atau ketampanan. Dia sedang mendidik manusia untuk refleksi tentang makna keterbatasan satu sisi, dan memberi kelebihan pada orang lain. dengan cara ini, manusia pun saling membutuhkan orang lain. tanpa ada bantuan orang lain, kesempurnaan untuk ukuran manusia tidak bisa terwujud dengan sempurna.

Baca juga : Wanita Cantik di Depan Multazam

Umat manusia jika disederhanakan terdiri dari sepasang suami-istri. Seorang suami mungkin sering melihat ketidak sempurnaan istrinya. Yang dilihat pada dirinya bahwa istrinya cerewet, pemarah, terlalu mengatur urusan laki-laki, egois, selalu menang sendiri, merasa benar dan selalu menyalahkan suaminya, gampang curiga ketika suami pergi ke kantor atau ke rumah teman dan masih banyak lagi. Jika menuruti keinginan hati, seorang laki-laki selalu saja rasanya ingin emosi atas tingkah laku istri yang tidak menyenangkan.

Namun, suami tidak menyadarinya bahwa watak seorang istri memang demikian. Matanya seperti radar yang bisa mendata segala apapun yang tidak sempurna di dalam dan sekitar rumahnya. Dia menginginkan kesempurnaan; baju rapi, lantai bersih, makanan tersedia, cucian cepat selesai dan hasil baju tertata dengan baik, taman-taman pun beragam dan selalu terlihat segar. Disisi lain, dia juga mempunyai keinginan kesempurnaan pada bentuk rumah, kendaraan, perhiasan yang melekat pada dirinya serta adanya refresing ke tempat sebagaimana yang dia lihat dan dengar baik melalui FB, Twitter, IG atau percakapan dengan teman-teman ketika bertemu di tempat kerja atau di tempat belanja. Namun keinginannya tidak sebanding dengan tenaganya dan kenyataanya. Dia tidak bisa menampung segala pekerjaan dan keingingan-keinginan tersebut. Namun dia senantiasa selalu memaksakan diri untuk mengerjakan dengan cara sempurna. Akibatnya lelah, pikiran kacau, dan emosinya tidak stabil. Seolah-olah tidak ada yang membantunya. Maka saat suami pulang dari kantor atau tempat kerja, atau anak-anak nya yang pulang dari sekolah atau tempat permainan, mendapatkan sasaran kemarahanya. Bahkan kadang dengan kata-kata yang tidak terkontrol menyebut semua apa yang dilihat dengan kalimat atau kata-kata yang menurut ukuran kewajaran terdengar tidak pantas dan memalukan bagi yang mendengarnya, baik suaminya maupun orang lain.

Baca juga : Wanita Cantik di Cafe Elit

Seorang suami mungkin ada yang bosan mendengar segala keluh kesah atau omelan dari istrinya setiap saat. Ketika dia mencoba memberi nasehat, terkadang justru kalimat-kalimat sang istri lebih mengena kalimat nya kepada suaminya daripada nasehatnya untuk istrinya. Lalu, dengan emosi dan merasa tidak berguna nasehatnya, suami pun ikut-ikut terbawa emosi istrinya; ngomel, marah-marah dengan melampiaskan pada perilaku terlihaat kasar seperti; menutup pintu keras-keras, membanting barang-barang disekitarnya dan perilaku kasar lainya.

Saya tentu tidak membela seorang istri. Ada hal-hal yang memang pada diri seorang suami tidak dipunyai sebagaimana seorang istri yaitu ketelatenan menyelesaikan segala pekerjaan mulai dari pagi hari sampai pada malam hari. Seorang laki-laki di desain oleh Allah dengan tenaga yang kuat, dan cenderung progresif serta ketidakmampuan untuk duduk lama-lama menyebabkan kurang perhatian terhadap apa yang ada pada dirinya dan di sekitarnya. Laki-laki lebih terkesan masa bodoh. Namun demikian, pada sisi lain laki-laki bisa menyelesaikan berbagai persoalan lebih besar yang tidak mampu diselesaikan oleh seorang istri. Hal ini karena secara biologis yang didesain lebih kuat, psikologis lebih matang, dan pikiran yang lebih mampu berfikir jauh kedepan dibandingkan perempuan. Ini secara umum, dan tentu ada pengecualianya pada orang-orang tertentu.

Dari sini kita bisa meliihat bahwa kekurangan seorang suami akan ditutupi oleh kelebihan istri. Dan kekurangan istri akan ditutupi oleh kelebihan suami. Menyadari dua sisi yang berbeda secara terus-menerus menjadi sesuatu keharusan bagi pasangan suami-istri. Bahwa untuk mencapai sebuah tujuan yang agung ada tugas-tugas yang saling menguat dari kedua belah pihak dengan menyadari Tupoksi di masing-masing tugas yang telah Allah berikan garis-garis besar nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   141

Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228

Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279

Pembagian Staff Akademik Fakultas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169

Pengumuman UM-PTKIN 2026
31 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   511

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884