
Judul tulisan ini agak mirip dengan Syair
nya Mbah Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus). Cuma syairnya tidak ada kata “depan”,
artinya memang posisi wanita tersebut di Multazam, yaitu dinding Ka’bah yang
terletak antara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Namun obyek pemandangan ada
kesamaan; yaitu sama-sama wanita sangat cantik. Jika Gus Mus mengungkapkan
dengan bahasa sastra, maka terbayang dalam benaku, kecantikan wanita yang
dilihat oleh nya sangat perfec untuk ukuran mata manusia. Tentu
lagi-lagi sifatnya relatif. Dan Gus Mus agak berhasil melukiskan kecantikan
wanita tersebut dengan untaian syair. Walaupun saya mungkin jika diperkenankan
menilai, kalimat tersebut belum bisa bisa mewakili kecantikan seutuhnya. Ada
perasaan yang memang sebatas di rasa, dan tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata.
Pengalaman ini justru sebelum saya mendengar Syair Gus Mus di Youtube. Ketika saya melaksanakan Thawaf, Sa’i dan ditutup dengan Tahalul, saya sengaja tidak pulang ke Hotel. Jam di HP sudah menunjukan pukul jam 3.30 dini hari. Sebentar lagi sholat subuh. Walaupun sebenarnya masih lama. Sholat subuhnya sekitar jam 5 lebih. Jarak Hotel sekitar 300 meter. Puang pergi sudah 600 meter. Jadi, saya dan beberapa kawan sengaja tetap di Masjid Al-Haram melakukan rangkaian ibadah Sunnah sambil menunggu datang waktu sholat Subuh.
Baca juga : Belajar Melihatmu dengan Senyuman
Menjelang subuh, Askar sudah mengatur
lokasi dekat Ka’bah. Mereka rata-rata berbadan langsing (jika tidak disebut
kurus) seperti perawakan Indonesia dan sedikit lebih tinggi. Namun suaranya
mampu menggetarkan para jamaah. Jamaah laki-laki membentuk shaff sholat. Jam’ah
perempuan di suruh ke belakang Jamaah laki-laki. Persis model sholat berjam’ah
model di Indonesia atau di Mushola kampong-kampung dulu (karena mushola kecil)
yaitu; beberapa baris untuk laki-laki, dan perempuan bagian belakang nya. ada
satir pembatas.
Askar sangat tegas sekali. Jika ada jamaah
yang tidak mematuhi aturan, tidak segan-segan membentak dengan suara sangat
keras. Bahkan pernah ada jamaah laki-laki karena di luar line pembatas ( setiap
sholat ada bagian tempat yang tidak boleh untuk sholat), dan tidak
menghiraukan. Walaupun berada di shaf depan, maka Askar menyuruh keluar dari
barisan dan disuruh mencari shaf yang paling belakang. Begitu juga para jamaah
haji atau umroh perempuan yang masih bergabung dengan laki-laki, maka Askar
dengan nada keras berkata : hajjah, haram-haram!!”. Artinya, ketika sholat
laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan yang sudah diberi tempat
khusus perempuan.
Namun herannya, malam itu ada pemandangan aneh. Diantara puluhan ribu para Jamaah yang duduk di depan Ka’bah, ada tiga orang tetap berdiri. Satu laki-laki, dua perempuan. Lelakinya memakai baju Ihrom (lokasi Masjidl lantai pertama yang ada Ka’bah nya semua laki-laki wajib memakai baju Ihram, sedangkan lantai kedua dan ketiga boleh memaki baju sesuai selera jamaah). kulitnya putih, berkumis dan jenggot tipis. Wajah nya seperti orang kajakistan, kulit putih, hidung mancung, dan mata tidak lebar dan tidak sipit. Perempuanya kulit putih, memakai baju nya berwarna krem. Keduanya memakai jilbab dan tidak bercadar. Model jilbab pada umum nya sebagaimana saya lihat di Negara Indonesia dan Negara-negara Islam lainya. Keduanya sangat cantik. Terutama yang masih mudah. Sangat cantik sekali, jika anda mendengar puisinya Gus Mus, itulah kecantikannya. Selama saya di Makah sudah melihat ribuan wajah wanita, tapi saya merasa tidak ada secantik wanita pada malam itu.
Baca juga : Wanita Cantik di Cafe Elit
Hati saya bertanya-tanya tentang ketiga
orang tersebut. Pertanyaan pertama dalam hati adalah kenapa Askar tidak
marah-marah kepada kedua wanita itu. Pada saat jamaah sudah duduk, mereka
dengan santai berdiri. Saya merasa semua orang melihatnya. Semua orang melihat
kecantikan dan indah senyumnya dengan gigi putih laksana Biji Mentimun. Alisnya
yang tebal hitam dan tertawa yang sangat menarik hati membuat saya tidak bisa
melepaskan mata nya tertuju kearahnya. Wajahnya ceria, senyum, tertawa dan tatapan wajahnya sungguh benar-benar
bersih dari hati yang bagaikan mutiara. Melihat wajahnya, seolah-olah melihat Samudra
yang penuh dengan kedamaian. Pertanyaan kedua muncul apakah orang ini bagian
dari keluarga kerajaan Arab Saudi atau mungkin para Bangsawan Arab Saudi.
Seolah-olah batin saya terbaca oleh nya.
dia pun menoleh kearahku saat posisi saya duduk dan dia berdiri. Posisi
disamping kiri saya. Jarak antara saya dan ketiga jamaah tadi sekitar 20 meter.
Saya pun menunduk. Namun saya tidak kuat, lalu saya pandang lagi. Ketika saya
memandang kali kedua, dia melaksanakan sholat sunnah. Selesai sholat sunnah,
dia pun berdiri dan menengadah kedua tanganya seraya berdoa kepada Allah s.w.t.
Subhanallah, saya melihat nya menjerit
histeris. Kututup kepalaku dengan kain ihrom dan menangis sejadi-jadinya. Saya
merasa bersalah saat itu. Bagaimana tidak merasa bersalah. Wanita yang saya
kagumi kesempurnaan wajah dan tubuhnya sedang menangis tersedu-sedu. Air mata,
dan wajah serta mulutnya menangis dan terus melafadzkan kalam-kalam doa. Seolah-olah
Masjid Haram tidak ada. Seolah-orang suasana waktu itu hanya Dia dan Allah
s.w.t. Dia yang terlihat sempurna sedang bercengkrama, berdialog dan memadu
kasih dengan Dzat yang paling pantas dicintai yaitu Allah s.w.t.
Malam itu, saya merasa hina sekali dalam
pandangan Allah s.w.t. Malam itu, saya begitu sibuk mengagumi keindahan dan kecantikan
wanita misteri, dan dia justru saat beribadah sangat menikmati bercengkrama
dengan Dzat Yang Maha Indah. Dunia seolah-olah tidak singgah di hatinya. Segala
sikap, perilaku dan ucapanya benar-benar dipasrahkan untuk kekasih teragungnya.
Sedangkan saya, masih sebatas melihat keindahan dunia, masih tertarik
kecantikan dunia, dan belum begitu nikmat melihat keindah teragung; Allah
sumber segala keindahan.
Malam itu saya termenung, istigfar dan meminta
ampun kepada Allah. Sungguh, saya juga berterima kasih kepada-Nya telah
menghadirkan wanita misteri tadi untuk mengajarkan hakikat cinta yang benar
ketika di Dunia yang fana ini, yang penuh dengan tipu daya. Namun sering kita
tidak menyadarinya, dan akhirnya terpedaya masuk dalam pelukan dunia.
Selesai menangis, saya buka kain ihram
penutup kepalaku. Saya melihat dia berjalan kearah kerumunan orang yang sedang
Thowaf seorang diri. Sedangkan kedua orang lain, sepasang laki-laki sudah tidak
melihat lagi. Saya fokus melihatnya yang sedang berjalan seolah-olah menuju
depan Pintu Ka’bah. Waktu itu, orang-orang yang Thowaf semakin sedikit karena
jamaah laki-laki terus memenuhi sekitar Ka’bah. Waktu sholat subuh hampir tiba.
Askar terus bekerja agar ibadah subuh benar-benar tidak terganggu dan bisa
khusu.
Setelah sholat Subuh dan bahkan beberapa
hari saya senantiasa sholat di lokasi dekat Ka’bah. Saya ingin melihat wanita
tersebut. Bukan karena jatuh cinta, tidak sama sekali. Tapi wajahnya telah
menjadikan saya senantiasa mampu mengingat Sang Pencipta. Dia benar-benar mampu
menyadarkan arti hakikat hidup yang sebenarnya. Namun saya gagal. Setiap waktu
saya duduk dan mengamati satu persatu
wanita yang melaksanakanThawaf, ternyata
tidak ada. Saya tidak tahu apakah dia Manusia atau Malaikat. Saya masih
berfikir dia adalah manusia. Jika toh seandainya Malaikat, bisa juga. Karena
saya mendengar cerita-cerita orang tua dulu, para Malaikat banyak yang turun
dan Thowaf di Baitullah. Peristiwa mengingatkan saya tentang hadist Nabi yang
dia ditanya oleh seorang laki-laki tentang Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat.
Nabi mengatakan kepada para sahabat waktu itu, bahwa yang bertanya kepadanya adalah
Malaikat Jibril.
Duhai wanita di depan Multazam aku rindu
melihat air mata mu yang membasahi pipi mu karena tangisanmu kepada Tuhan mu.
Anda sungguh menjadi wasilah saya untuk semakin mencintai Tuhan ku.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2988
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884