
Para ulama, intelektual, dan para ustadz yang
sering mengisi mimbar-mimbar pengajian dan masjid selalu menganjurkan realisasi Idul Fitri memberkahi pada perilaku umat Islam baik secara individual maupun
kolektif dalam kehidupan yang lebih luas yaitu berbangsa dan bernegara. Realisasi
Idul Fitri tentu pada nilai-nilai positifnya. Salah satu nya realisasi pada “kejembaran
hati” atau “keluasan hati” dari kesiapan menerima permintaan maaf dan membuka
maaf kepada siapapun. Pada hari itu sangat terbuka sekali. Berkah lail al-qadr
di hari fitri yang terlihat yaitu kesediaan saling memaafkan dan kegesitan
membantu orang lain dengan senang hati.
Realisasi Idul Fitri tersebut merupakan
modal besar dalam membangun kualitas sdm yang baik dan berkualitas. Sebab SDM yang
berkualitas sebenarnya berangkat dari suasana hati yang sehat. Indikator sederhananya
yaitu mengakui kekurangan masing-masing dan menerima kekuarangan tersebut
sebagai kekuatan yang sangat besar.
Meminjam pendapat dari A.Mukti Ali, bahwa pembangunan
adalah tanggungjawab bersama. Ia juga meminjam pendapat dari Pearson dan Tinbergen
bahwa pembangunan dapat dilakukan dengan melakukan suatu perubahan-perubahan. Dalam
kontek hubungan antara negara, baik negara maju maupun negara berkembang dan negara
miskin
Pearson dan Tinbergen melihat indikator
keberhasilan Pembangunan lebih menekankan pada perubahan-perubahan status
kualitas manusia. semakin baik kualitas manusia, maka semakin baik perubahan
tersebut. Adanya perbedaan status negara dari maju, berkembang dan miskin
merupakan cermin dari status komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan yang
dianutnya. Maka kita sering melihat nilai-nilai positif pada negara-negara maju
selalu membuat sebagian kita terkagum-kagum. Kita kadang iri terhadap mereka
dan terhadap hasil dari pembangunan nya yang mampu menciptakan kesejahteraan
kepada masyarakatnya.
Apakah nilai-nilai positif yang dilahirkan
pada hari Idul Fitri mampu melahirkan kualitas spiritual SDM umat Islam di Indonesia?
Sebuah pertanyaan yang sangat luas juga jawabannya. Ma’lum, persoalan nya pun
sangat komplek. Satu sisi pemahaman umat Islam terhadap syariat Islam yang
sangat tekstualis yang terkadang sering menolak konsep pembangunan dan
administrasi, sebagian lagi sudah mulai bergerak pada tafsir-tafsir baru yang
bersifat kontstruktif dalam berbagai aspek kehidupan.
Dalam Islam, semangat saling memaafkan
dalam Idul Fitri merupakan modal besar untuk melakukan suatu perubahan,
setidaknya untuk umat Islam itu sendiri. kebetulan menjadi umat terbesar di Indonesia.
Berarti perubahan umat Islam juga menjadi perubahan bangsa Indonesia sendiri. Karena
ia sebagai modal besar, maka optimisme menjaga perilaku tersebut harus ada. Artinya
optimisme dalam berkomitmen untuk “men-dawam-kan” perilaku positif
tersebut sebagai wujud prasangka baik kita kepada sesama manusia dan kepada Sang
Pencipta.
Menurut Nurcholish Madjid, salah satu sikap
optimisme yang dianjurkan dalam agama yaitu berprasangka baik kepada Tuhan. Kita
harus menyakini bahwa Tuhan Maha Pengampun atas segala dosa yang kita lakukan. Salah
satu sisi positif dari sikap optimisme tersebut yaitu menjadi manusia produktif,
yaitu secara terus-menerus memperbaiki kualitas diri, bukan hanya hubungan kita
dengan Allah juga dengan sesama manusia
Kenyataannya memperbaiki kualitas diri
tidak semudah merealisasikan kebaikan di Hari Raya Idul Fitri. Seolah-olah pasca
Idul Fitri secara pelan-pelan pintu hati pun mulai menutup. Semakin jauh, maka
semakin terasa sangat rapat. Idul fitri dan tirakat puasa satu bulan penuh menjadi
kenangan. Lalu hari-hari berikutnya tumbuh cendawan prasangka-prasangka negatif
kepada manusia dan juga kepada Tuhan. Bahkan ada sebagian orang menggugat
kepada Tuhan dan bertanya dengan sikap skeptis: “Tuhan, kenapa kamu
memberi kami seorang pemimpin seperti ini?”. Pertanyaan dan keramaian persoalan
terus bersahut-sahutan dalam perjalanan berbangsa hingga datang pesta
demokrasi. Seolah-olah tidak ada jedanya. Hingga kita hanyut dalam pertengkaran
dan berpikir negatif tanpa henti. Kita baru sadar, bahwa pesta demokrasi yang akan datang pun
sudah mulai mendekat berada di depan mata.
Walhasil kita berharap perubahan besar pada
daerah kita, kampung kita atau malah bangsa dan negara kita dengan ukuran akal
pikiran kita jelas tidak mampu. Bahkan untuk merubah diri kita sendiri menjaga
nilai-nilai positif Idul Fitri tertanam dalam hati pun sering jebol. Tadarus,
tarawih, qiyam al-lail, sedekah sangat hebat. Kini pasca Idul Fitri, program
efesiensi semua itu melanda sebagian kita.
Akhirnya mau tidak mau, kita pun harus
bertanya pada diri kita: Pantaskah kita berbicara perubahan peradaban,
sedangkan kita belum juga “tumancep” memahami “adab” dan “peradaban”.
Jika kita sendiri sudah ada perubahan dan orang
lain belum, setidaknya kita telah berhasil menoreh kesukesan puasa dan Idul
Fitri di tahun ini, yaitu bisa berdamai dengan diri sendiri.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1020
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   784
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   761
Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12929
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3111
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2352