Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

306 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Idul Fitri dan Misi Perdamaian



Sabtu , 05 April 2025



Telah dibaca :  886

Para ulama, intelektual, dan para ustadz yang sering mengisi mimbar-mimbar pengajian dan masjid selalu menganjurkan realisasi Idul Fitri memberkahi pada perilaku umat Islam baik secara individual maupun kolektif dalam kehidupan yang lebih luas yaitu berbangsa dan bernegara. Realisasi Idul Fitri tentu pada nilai-nilai positifnya. Salah satu nya realisasi pada “kejembaran hati” atau “keluasan hati” dari kesiapan menerima permintaan maaf dan membuka maaf kepada siapapun. Pada hari itu sangat terbuka sekali. Berkah lail al-qadr di hari fitri yang terlihat yaitu kesediaan saling memaafkan dan kegesitan membantu orang lain dengan senang hati.

Realisasi Idul Fitri tersebut merupakan modal besar dalam membangun kualitas sdm yang baik dan berkualitas. Sebab SDM yang berkualitas sebenarnya berangkat dari suasana hati yang sehat. Indikator sederhananya yaitu mengakui kekurangan masing-masing dan menerima kekuarangan tersebut sebagai kekuatan yang sangat besar.

Meminjam pendapat dari A.Mukti Ali, bahwa pembangunan adalah tanggungjawab bersama. Ia juga meminjam pendapat dari Pearson dan Tinbergen bahwa pembangunan dapat dilakukan dengan melakukan suatu perubahan-perubahan. Dalam kontek hubungan antara negara, baik negara maju maupun negara berkembang dan negara miskin (Ali, 1987).

Pearson dan Tinbergen melihat indikator keberhasilan Pembangunan lebih menekankan pada perubahan-perubahan status kualitas manusia. semakin baik kualitas manusia, maka semakin baik perubahan tersebut. Adanya perbedaan status negara dari maju, berkembang dan miskin merupakan cermin dari status komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan yang dianutnya. Maka kita sering melihat nilai-nilai positif pada negara-negara maju selalu membuat sebagian kita terkagum-kagum. Kita kadang iri terhadap mereka dan terhadap hasil dari pembangunan nya yang mampu menciptakan kesejahteraan kepada masyarakatnya.

Apakah nilai-nilai positif yang dilahirkan pada hari Idul Fitri mampu melahirkan kualitas spiritual SDM umat Islam di Indonesia? Sebuah pertanyaan yang sangat luas juga jawabannya. Ma’lum, persoalan nya pun sangat komplek. Satu sisi pemahaman umat Islam terhadap syariat Islam yang sangat tekstualis yang terkadang sering menolak konsep pembangunan dan administrasi, sebagian lagi sudah mulai bergerak pada tafsir-tafsir baru yang bersifat kontstruktif dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam Islam, semangat saling memaafkan dalam Idul Fitri merupakan modal besar untuk melakukan suatu perubahan, setidaknya untuk umat Islam itu sendiri. kebetulan menjadi umat terbesar di Indonesia. Berarti perubahan umat Islam juga menjadi perubahan bangsa Indonesia sendiri. Karena ia sebagai modal besar, maka optimisme menjaga perilaku tersebut harus ada. Artinya optimisme dalam berkomitmen untuk “men-dawam-kan” perilaku positif tersebut sebagai wujud prasangka baik kita kepada sesama manusia dan kepada Sang Pencipta.

Menurut Nurcholish Madjid, salah satu sikap optimisme yang dianjurkan dalam agama yaitu berprasangka baik kepada Tuhan. Kita harus menyakini bahwa Tuhan Maha Pengampun atas segala dosa yang kita lakukan. Salah satu sisi positif dari sikap optimisme tersebut yaitu menjadi manusia produktif, yaitu secara terus-menerus memperbaiki kualitas diri, bukan hanya hubungan kita dengan Allah juga dengan sesama manusia (Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Jilid. 2, Cet. 1, , 2006).

Kenyataannya memperbaiki kualitas diri tidak semudah merealisasikan kebaikan di Hari Raya Idul Fitri. Seolah-olah pasca Idul Fitri secara pelan-pelan pintu hati pun mulai menutup. Semakin jauh, maka semakin terasa sangat rapat. Idul fitri dan tirakat puasa satu bulan penuh menjadi kenangan. Lalu hari-hari berikutnya tumbuh cendawan prasangka-prasangka negatif kepada manusia dan juga kepada Tuhan. Bahkan ada sebagian orang menggugat kepada Tuhan dan bertanya dengan sikap skeptis: “Tuhan, kenapa kamu memberi kami seorang pemimpin seperti ini?”. Pertanyaan dan keramaian persoalan terus bersahut-sahutan dalam perjalanan berbangsa hingga datang pesta demokrasi. Seolah-olah tidak ada jedanya. Hingga kita hanyut dalam pertengkaran dan berpikir negatif tanpa henti. Kita baru sadar,  bahwa pesta demokrasi yang akan datang pun sudah mulai mendekat berada di depan mata.

Walhasil kita berharap perubahan besar pada daerah kita, kampung kita atau malah bangsa dan negara kita dengan ukuran akal pikiran kita jelas tidak mampu. Bahkan untuk merubah diri kita sendiri menjaga nilai-nilai positif Idul Fitri tertanam dalam hati pun sering jebol. Tadarus, tarawih, qiyam al-lail, sedekah sangat hebat. Kini pasca Idul Fitri, program efesiensi semua itu melanda sebagian kita.

Akhirnya mau tidak mau, kita pun harus bertanya pada diri kita: Pantaskah kita berbicara perubahan peradaban, sedangkan kita belum juga “tumancep” memahami  “adab” dan “peradaban”.

Jika kita sendiri sudah ada perubahan dan orang lain belum, setidaknya kita telah berhasil menoreh kesukesan puasa dan Idul Fitri di tahun ini, yaitu bisa berdamai dengan diri sendiri.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1020

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   784

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   761

Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12929


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2352