Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

306 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar



Minggu , 13 April 2025



Telah dibaca :  1020

Kehidupan saat sekarang ini rasa-rasanya di desain agar seperti wanita muda cantik dan menggairahkan. Semua ingin menikmati keindahan tubuhnya. Padahal, ia akan mengalami perubahan secara pelan-pelan, sehingga suatu saat kita akan memalingkan pandangan mata kepada nya. Sebab ia tidak lagi menggairahkan seperti yang anda bayangkan pada masa dulu.

Kehidupan saat sekarang ini seolah-olah ingin diciptakan suasana kota. Malam penuh bertaburan cahaya. Terang benderang dan penuh dengan vitalitas tinggi untuk bisa menikmati seluruh malam hingga datangnya waktu subuh. Tidur sebentar. Lalu ia pun menikmati siang dengan mengumpulkan seluruh kebutuhan. Angan-angan yang terlalu panjang menyebabkan tidak adanya singkronisasi apa yang dikumpulkan dengan apa yang dibutuhkan. Kadang kita mengumpulkan terlalu banyak air minum, padahal sebenarnya yang dibutuhkan hanya satu gelas. Kadang kita membutuhkan satu atau dua baju, tapi imajinasi nafsu mengalahkan akal. Akibatnya, kita selalu kekurangan lemari untuk menampung baju-baju, yang kadang ada baju yang tidak pernah dipakai se-umur-umur.

Kadang kehidupan seperti orang berpuasa. Saat siang hari, nafsu terlalu besar ingin memasukan seluruh makanan. Sore hari beli ta’jil begitu banyak. Nafsu telah menyakini bahwa apa yang dibeli seluruhnya akan masuk ke dalam perut. Namun, betapa kagetnya saat berbuka puasa. Hanya satu gelas air putih dan tiga potong kurma, kita telah terasa kenyang.

Jadi, kehidupan saat sekarang ini yang sering disebut zaman kemajuan, secara pelan-pelan sedang mengikis rasa tawakal kita kepada Allah. Perubahan yang sangat cepat, dan gonjang-ganjing politik yang terus-menerus serta virus media sosial yang menyebabkan kita terkadang “tantrum”, telah menutup cahaya-cahaya illahiyah yang telah diajarkan oleh guru-guru kampung kita pada masa dulu. Hidup di era modern telah melahirkan ilusi-ilusi tujuan hidup yang kadang berakhir dengan kebingungan, kegelisahan dan kekosongan hati. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyak manusia pemarah atau senang tanpa batas berjoget riya dengan meninggalkan nilai-nilai etika lalu di share di tiktok, youtube dan canal-canal media sosial lainnya.

Semua ini terjadi karena kita salah meletakan kehidupan modern pada benda, pada hal-hal yang bersifat mekanik. Akibatnya, energi kita menuruti keinginan segala yang bersifat bendawi. Semua ingin instan. Karya tulis harus mengikuti AI, mengetik cukup dengan mengeluarkan suara di aplikasi. Jadi,hidup diatur sudah tidak menggunakan kaidah-kaidah fitrah manusia yang pada naluri selalu membutuhkan suatu proses. Akibatnya, hidup terkesan “gumrungsung” dan tidak mendatangkan ketenangan jiwa.

Suatu hari, Hatim ditanya tentang hidup dan makna tawakal. Ia menjawab sebagai berikut: pertama, saya tahu bahwa rizqi saya tidak akan mungkin diambil orang lain, oleh karena itu saya tidak perlu gelisah; kedua, saya tahu bahwa kewajiban itu tidak dapat dikerjakan oleh orang lain, oleh karena itu saya tidak berani meninggalkan kewajiban itu; ketiga saya tahu bahwa mati itu akan datang secara tiba-tiba, oleh karena itu maka saya selalu siap menghadapinya; keempat saya tahu bahwa Tuhan melihat saya kapan dan di mana saya berada, oleh karena itu saya malu berbuat sesuka hati.

Mungkin pesan dari Hatim Al-Asham terlalu receh. Tapi kita harus ingat, bahwa hal-hal yang receh sebenarnya ia akan menjadi intan berlian bagi kita pada suatu masa. Banyak orang ingin membeli dengan harga ratusan juta hanya untuk menukar dengan satu prangko bekas yang disimpan oleh anda sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu.

Modernisasi memang suatu hal yang tidak akan berhenti dalam rekayasa ilmu pengetahuan, saint dan temuan-temuan kebaruan lainnya. akal pikiran akan terus melakukan inovasi-inovasi untuk memuaskan dan memenuhi seluruh kehidupannya hingga manusia seperti bayi. Tapi ingat semua itu suatu saat akan menjadi beban kehidupan para pencipta dan seluruh manusia.

Kita belum memikirkan hal tersebut.  Padahal, anda sudah mulai merasa stress saat anda sudah disetir oleh kebiasaan memakai internet. Saat anda menikmati internet dalam bekerja, tiba-tiba terjadi down yang super hebat. maka saat itu anda seperti bayi, tantrum, stress dan marah-marah tidak menentu. Semua akan terkena sasaran. Atasan, keuangan, pemerintah dan sebagainya. Saat anda sedang asyik-asyik membuat acara, tiba-tiba Listrik mati, maka emosi meledak-ledak tanpa batas. Ledakan emosi melebihi ledakan Trafo Listrik. Modernisasi melahirkan sifat-sifat yang sangat mengerikan sekali dalam kehidupan sosial.

Jadi, modernisasi yang bersifat dhohiran di alam semesta ini seharusnya juga harus dibarengi modernisasi spiritual manusia agar konektivitas hati dan akal tetap kepada jalur vertikal yaitu Allah SWT. Jika ini bisa dilakukan, modernisasi dalam kehidupan sosial akan baik-baik saja atau paling tidak agak sedikit terkendali.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

M.rizuansyah

Saya sangat tertarik membaca dengan tulisan yang bapak dosen bagikan

Admin

alhamdulillah

Avatar

   Berita Terkait

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   785

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   762

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   887

Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2352