
Kehidupan saat sekarang ini rasa-rasanya di
desain agar seperti wanita muda cantik dan menggairahkan. Semua ingin menikmati
keindahan tubuhnya. Padahal, ia akan mengalami perubahan secara pelan-pelan,
sehingga suatu saat kita akan memalingkan pandangan mata kepada nya. Sebab ia
tidak lagi menggairahkan seperti yang anda bayangkan pada masa dulu.
Kehidupan saat sekarang ini seolah-olah
ingin diciptakan suasana kota. Malam penuh bertaburan cahaya. Terang benderang
dan penuh dengan vitalitas tinggi untuk bisa menikmati seluruh malam hingga
datangnya waktu subuh. Tidur sebentar. Lalu ia pun menikmati siang dengan
mengumpulkan seluruh kebutuhan. Angan-angan yang terlalu panjang menyebabkan
tidak adanya singkronisasi apa yang dikumpulkan dengan apa yang dibutuhkan. Kadang
kita mengumpulkan terlalu banyak air minum, padahal sebenarnya yang dibutuhkan
hanya satu gelas. Kadang kita membutuhkan satu atau dua baju, tapi imajinasi
nafsu mengalahkan akal. Akibatnya, kita selalu kekurangan lemari untuk
menampung baju-baju, yang kadang ada baju yang tidak pernah dipakai se-umur-umur.
Kadang kehidupan seperti orang berpuasa. Saat
siang hari, nafsu terlalu besar ingin memasukan seluruh makanan. Sore hari beli
ta’jil begitu banyak. Nafsu telah menyakini bahwa apa yang dibeli seluruhnya akan
masuk ke dalam perut. Namun, betapa kagetnya saat berbuka puasa. Hanya satu
gelas air putih dan tiga potong kurma, kita telah terasa kenyang.
Jadi, kehidupan saat sekarang ini yang
sering disebut zaman kemajuan, secara pelan-pelan sedang mengikis rasa tawakal
kita kepada Allah. Perubahan yang sangat cepat, dan gonjang-ganjing politik
yang terus-menerus serta virus media sosial yang menyebabkan kita terkadang “tantrum”,
telah menutup cahaya-cahaya illahiyah yang telah diajarkan oleh
guru-guru kampung kita pada masa dulu. Hidup di era modern telah melahirkan
ilusi-ilusi tujuan hidup yang kadang berakhir dengan kebingungan, kegelisahan
dan kekosongan hati. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyak manusia pemarah
atau senang tanpa batas berjoget riya dengan meninggalkan nilai-nilai etika
lalu di share di tiktok, youtube dan canal-canal media sosial lainnya.
Semua ini terjadi karena kita salah
meletakan kehidupan modern pada benda, pada hal-hal yang bersifat mekanik. Akibatnya,
energi kita menuruti keinginan segala yang bersifat bendawi. Semua ingin
instan. Karya tulis harus mengikuti AI, mengetik cukup dengan mengeluarkan
suara di aplikasi. Jadi,hidup diatur sudah tidak menggunakan kaidah-kaidah fitrah
manusia yang pada naluri selalu membutuhkan suatu proses. Akibatnya, hidup
terkesan “gumrungsung” dan tidak mendatangkan ketenangan jiwa.
Suatu hari, Hatim ditanya tentang hidup dan
makna tawakal. Ia menjawab sebagai berikut: pertama, saya tahu
bahwa rizqi saya tidak akan mungkin diambil orang lain, oleh karena itu saya
tidak perlu gelisah; kedua, saya tahu bahwa kewajiban itu tidak
dapat dikerjakan oleh orang lain, oleh karena itu saya tidak berani
meninggalkan kewajiban itu; ketiga saya tahu bahwa mati itu akan
datang secara tiba-tiba, oleh karena itu maka saya selalu siap menghadapinya; keempat
saya tahu bahwa Tuhan melihat saya kapan dan di mana saya berada, oleh karena
itu saya malu berbuat sesuka hati.
Mungkin pesan dari Hatim Al-Asham terlalu
receh. Tapi kita harus ingat, bahwa hal-hal yang receh sebenarnya ia akan menjadi
intan berlian bagi kita pada suatu masa. Banyak orang ingin membeli dengan
harga ratusan juta hanya untuk menukar dengan satu prangko bekas yang disimpan
oleh anda sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu.
Modernisasi memang suatu hal yang tidak
akan berhenti dalam rekayasa ilmu pengetahuan, saint dan temuan-temuan kebaruan
lainnya. akal pikiran akan terus melakukan inovasi-inovasi untuk memuaskan dan
memenuhi seluruh kehidupannya hingga manusia seperti bayi. Tapi ingat semua itu
suatu saat akan menjadi beban kehidupan para pencipta dan seluruh manusia.
Kita belum memikirkan hal tersebut. Padahal, anda sudah mulai merasa stress saat
anda sudah disetir oleh kebiasaan memakai internet. Saat anda menikmati
internet dalam bekerja, tiba-tiba terjadi down yang super hebat. maka saat itu
anda seperti bayi, tantrum, stress dan marah-marah tidak menentu. Semua akan
terkena sasaran. Atasan, keuangan, pemerintah dan sebagainya. Saat anda sedang
asyik-asyik membuat acara, tiba-tiba Listrik mati, maka emosi meledak-ledak
tanpa batas. Ledakan emosi melebihi ledakan Trafo Listrik. Modernisasi melahirkan
sifat-sifat yang sangat mengerikan sekali dalam kehidupan sosial.
Jadi, modernisasi yang bersifat dhohiran di
alam semesta ini seharusnya juga harus dibarengi modernisasi spiritual manusia
agar konektivitas hati dan akal tetap kepada jalur vertikal yaitu Allah SWT. Jika
ini bisa dilakukan, modernisasi dalam kehidupan sosial akan baik-baik saja atau
paling tidak agak sedikit terkendali.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
M.rizuansyah
Saya sangat tertarik membaca dengan tulisan yang bapak dosen bagikan
Admin
alhamdulillah
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   786
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   762
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   887
Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3114
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355