
Ada kisah dari Gus Dur dalam buku "Sekadar Mendahului", yang merupakan buku kumpulan kata pengantar untuk buku-buku para penulis. kurang lebih begini ceritana:
“Suatu hari ada seorang pendeta baru saja
mengikuti seminar di suatu daerah. Selesai kegiatan yang sudah menjelang sore,
ia pulang ke rumah yang jarak nya cukup jauh. Ia pun mengambil jalan pintas,
yaitu melalui jalan setapak di tengah hutan. Setiap masuk ke hutan, semakin
rasa deg-degan hatinya. Ada rasa takut , khawatir bertemu dengan ular atau binatang
buas. Ternyata benar. Di ujung sana, berdiri seekor harimau. Sontak ia kaget. Takut.
Dan tanpa pikir panjang, ia berlari sekuat tenaga. Sialnya, di depan nya ada
jurang yang sangat dalam. Dia berfikir, jika meloncat ke jurang pasti mati, diam
pun mati diterkam harimau. Karena sebagai seorang yang taat kepada Tuhan, ia
pun berdoa: “Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, selamatkan aku dari terkaman harimau”.
“Ia berdoa cukup panjang. Hingga ia sadar
bahwa ia masih berdoa dan badan masih sehat dan masih hidup. Tidak diterkam
oleh nya. Dalam hati berfikir: “Doa ku makbul”. Lalu pelan-pelan ia menoleh ke
belakang. Dilihatnya, harimau sedang duduk.
Sang pendeta pun memberanikan diri bertanya kepada harimau atas tingkah
lakunya: “Wahai harimau, sejak tadi kamu duduk saja dan tidak menerkam aku, ada
gerangan apa?. Harimau pun menjawab: “Saya sedang berdoa”. Lalu pendeta tanya
lagi: “Doa apa harimau?”. Harimau pun menjawab: “Doa makan”.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai
seorang yang beragama tentu saja mempunyai kebiasaan berdoa kepada Allah SWT. Apalagi
kita baru saja meninggalkan bulan ramadhan. Masih sangat membekas ingatan kita,
ibadah kita, harapan kita akan doa-doa dikabulkan. Terutama memasuki sepuluh
hari terakhir yang diyakini ada malam lail al-qadr sebagai malam
mustajab akan terkabulnya doa-doa hamba-hamba Allah (‘Abdullah).
Dalam realita kehidupan, kita sering
melihat fakta tentang makna “Sebenarnya do’a kita dikabulkan oleh Allah apa tidak?”.
Itu pertanyaan yang tidak sepele. Anda yang merasa orang lurus-lurus dan terus
berdoa, tapi dalam hati nya merasa terdzalimi karena doa yang anda panjatkan
belum juga dikabulkan oleh-Nya. Sedangkan orang-orang yang anda benci, mungkin
malah muak melihat muka anda malah mempunyai karir yang sangat mentereng.
Perasaan tersebut ada dan tidak bisa dihilangkan
dari arsip-arsip kehidupan anda. Apalagi jabatan-jabatan yang sangat
bersentuhan dengan politik seperti Menteri, Duta Besar, Kepala Dinas,Sekretaris
Daerah dan lain-lain. Perubahan jabatan lebih cepat dari doa yang anda panjatkan.
Persoalan doa terlihat sepele. Bagi anda
yang sudah “tumancep” keimanan kepada-Nya, mungkin sudah punya prinsip
penangkal “petir kesetresan”. Jika hajatnya terkabul, anda akan mengakan”
“Itu rezeki dari Allah”. Jika belum terkabul: “Allah akan memberi ku tempat
yang terbaik. Rencana Allah pasti yang terbaik”.
Bagi orang yang harapan nafsu dunia
melebihi besarnya tawakal kepada Allah, kadang menjadi suatu persoalan yang
serius. Ini sering terjadi fenomena yang disebut oleh Nabi: “Kefakiran sering
mendekatkan kepada kekufuran”. Ironis lagi kadang lebih mendekatkan kepada “kekafiran,
yaitu tertutup pintu keimanan dalam hati orang tersebut. sebab pada jenis
manusia seperti ini dominasi makna kebahagiaan memang sebatas kepada hal-hal
yang bersifat materi. Apalagi situasi kekinian (bagi sebagian orang dipandang
kondisi sangat sulit dalam mencari penghidupan), membuat manusia mudah
terperosok pada persoalan pragmatisme. Semua melihat dengan hitung-hitungan
kenikmatan untung-rugi. Bahkan jika ibadah dianggap mendatangkan kerugian,
tidak segan-segan meninggalkanya. Na’udzubillah mindalik.
Maka pemahaman bahwa “doa pasti dikabulkan”
harus menggunakan pada dua pendekatan antara syukur dan sabar. Dua
pendekatan tersebut berangkat dari konsep “yuhoyyiru ma bi anfusihim”,
dan “inn allah ‘ala kulli syaiin qadir”. Ketika kita sudah semaksimal
mungkin melakukan suatu perjuangan dengan pendekatan ilmu, politik dan segala
strategi, lalu Tuhan kita menyandarkan diri atas segala proses yang telah
dilakukan, maka kita akan mendapatkan kesuksesan dan terkabul doa dalam wujud syukur
dan sabar. Baik syukur maupun sabar semua baik. Sebab keduanya
balasannya surga.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1020
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   784
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   761
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   886
Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12929
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4045
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3111
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2351