Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

306 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau



Sabtu , 12 April 2025



Telah dibaca :  613

Ada kisah dari Gus Dur dalam buku "Sekadar Mendahului", yang merupakan buku kumpulan kata pengantar untuk buku-buku para penulis. kurang lebih begini ceritana:

“Suatu hari ada seorang pendeta baru saja mengikuti seminar di suatu daerah. Selesai kegiatan yang sudah menjelang sore, ia pulang ke rumah yang jarak nya cukup jauh. Ia pun mengambil jalan pintas, yaitu melalui jalan setapak di tengah hutan. Setiap masuk ke hutan, semakin rasa deg-degan hatinya. Ada rasa takut , khawatir bertemu dengan ular atau binatang buas. Ternyata benar. Di ujung sana, berdiri seekor harimau. Sontak ia kaget. Takut. Dan tanpa pikir panjang, ia berlari sekuat tenaga. Sialnya, di depan nya ada jurang yang sangat dalam. Dia berfikir, jika meloncat ke jurang pasti mati, diam pun mati diterkam harimau. Karena sebagai seorang yang taat kepada Tuhan, ia pun berdoa: “Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, selamatkan aku dari terkaman harimau”.

“Ia berdoa cukup panjang. Hingga ia sadar bahwa ia masih berdoa dan badan masih sehat dan masih hidup. Tidak diterkam oleh nya. Dalam hati berfikir: “Doa ku makbul”. Lalu pelan-pelan ia menoleh ke belakang. Dilihatnya, harimau sedang duduk.  Sang pendeta pun memberanikan diri bertanya kepada harimau atas tingkah lakunya: “Wahai harimau, sejak tadi kamu duduk saja dan tidak menerkam aku, ada gerangan apa?. Harimau pun menjawab: “Saya sedang berdoa”. Lalu pendeta tanya lagi: “Doa apa harimau?”. Harimau pun menjawab: “Doa makan”.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai seorang yang beragama tentu saja mempunyai kebiasaan berdoa kepada Allah SWT. Apalagi kita baru saja meninggalkan bulan ramadhan. Masih sangat membekas ingatan kita, ibadah kita, harapan kita akan doa-doa dikabulkan. Terutama memasuki sepuluh hari terakhir yang diyakini ada malam lail al-qadr sebagai malam mustajab akan terkabulnya doa-doa hamba-hamba Allah (‘Abdullah).

Dalam realita kehidupan, kita sering melihat fakta tentang makna “Sebenarnya do’a kita dikabulkan oleh Allah apa tidak?”. Itu pertanyaan yang tidak sepele. Anda yang merasa orang lurus-lurus dan terus berdoa, tapi dalam hati nya merasa terdzalimi karena doa yang anda panjatkan belum juga dikabulkan oleh-Nya. Sedangkan orang-orang yang anda benci, mungkin malah muak melihat muka anda malah mempunyai karir yang sangat mentereng.

Perasaan tersebut ada dan tidak bisa dihilangkan dari arsip-arsip kehidupan anda. Apalagi jabatan-jabatan yang sangat bersentuhan dengan politik seperti Menteri, Duta Besar, Kepala Dinas,Sekretaris Daerah dan lain-lain. Perubahan jabatan lebih cepat dari doa yang anda panjatkan.

Persoalan doa terlihat sepele. Bagi anda yang sudah “tumancep” keimanan kepada-Nya, mungkin sudah punya prinsip penangkal “petir kesetresan”. Jika hajatnya terkabul, anda akan mengakan” “Itu rezeki dari Allah”. Jika belum terkabul: “Allah akan memberi ku tempat yang terbaik. Rencana Allah pasti yang terbaik”.

Bagi orang yang harapan nafsu dunia melebihi besarnya tawakal kepada Allah, kadang menjadi suatu persoalan yang serius. Ini sering terjadi fenomena yang disebut oleh Nabi: “Kefakiran sering mendekatkan kepada kekufuran”. Ironis lagi kadang lebih mendekatkan kepada “kekafiran, yaitu tertutup pintu keimanan dalam hati orang tersebut. sebab pada jenis manusia seperti ini dominasi makna kebahagiaan memang sebatas kepada hal-hal yang bersifat materi. Apalagi situasi kekinian (bagi sebagian orang dipandang kondisi sangat sulit dalam mencari penghidupan), membuat manusia mudah terperosok pada persoalan pragmatisme. Semua melihat dengan hitung-hitungan kenikmatan untung-rugi. Bahkan jika ibadah dianggap mendatangkan kerugian, tidak segan-segan meninggalkanya. Na’udzubillah mindalik.

Maka pemahaman bahwa “doa pasti dikabulkan” harus menggunakan pada dua pendekatan antara syukur dan sabar. Dua pendekatan tersebut berangkat dari konsep “yuhoyyiru ma bi anfusihim”, dan “inn allah ‘ala kulli syaiin qadir”. Ketika kita sudah semaksimal mungkin melakukan suatu perjuangan dengan pendekatan ilmu, politik dan segala strategi, lalu Tuhan kita menyandarkan diri atas segala proses yang telah dilakukan, maka kita akan mendapatkan kesuksesan dan terkabul doa dalam wujud syukur dan sabar. Baik syukur maupun sabar semua baik. Sebab keduanya balasannya surga.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1020

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   784

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   761

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   886

Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12929


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4045


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2351