
Malam ini saya bisa silaturahim dengan Kapolres
lama AKBP Kurnia Setyawan dan Kapolres baru AKBP Aldi Alfa Faroqi di Grand
Meranti Hotel. Saya menganggap keduanya sebagai saudara kami. Saya dengan bang Khalid Ali, Ketua DPRD yang senyam-senyum di belakang ku, saya anggap saudara kami. Bukan dalam satu kandung. Tentunya saudara dalam konteks Islamiyah, Basyariyah dan Wathaniyah.
Sebagian orang memahami bahwa saudara itu
satu darah. Itu benar. Tapi terkadang realita satu darah, tapi sering membuat
marah. Akhirnya putus persaudaraan. Qabil dan Habil itu satu saudara kandung.
Seolah-olah menjadi bukan saudara. Keduanya dipisahkan keimanan. Laksana kutub
utara dan Selatan. Keduanya tidak akan bertemu.
Nabi Muhammad itu garis keturunannya dari Nabi
Ismail. Ayah nya Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim itu Orang Palestina. Hidung
mancung, kulit putih badan tinggi. Itu sebabnya Nabi Muhammad dalam Kitab
Al-Barzanji “ka as-syamsu, ka al-badru”, laksana matahari yang menyinari
dunia dan memberi semangat untuk hidup untuk beribadah dan berkarya, laksana rembulan yang hati nya
sangat lembut penuh kasih sayang kepada seluruh manusia. Ia benar-benar menjadi rahmat semesta alam.
Ia punya sahabat namanya Bilal. Orang negro
kulit hitam. Duduk bareng laksana “kueh ketan warna putih” dan “kueh dodol atau
jenang warna hitam”. Berbeda kulit, berbeda ketampanan, dan berbeda garis
keturunan. Tapi tetap terlihat indah. Sebab kedunya menebarkan senyum terindah
yang datang dari hati yang paling dalam. Mereka terpisah dari garis keturunan.
Mereka kemudian dipertemukan dalam garis persaudaraan dalam iman. Kedua-duanya
bahagia di dunia dan bahagia di surga nya Allah SWT.
Para ulama seperti Hadratusyeikh Hasyim
Asy’ari dan para ulama-ulama pesantren mengajarkan kepada para santri bahwa
persaudaraan itu tidak sebatas pada Islamiyah, tapi juga Basyariyah
dan Wathaniyah. Ketiganya itu harus berjalan beriringan. Jika tidak,
maka konflik akan terus terjadi. Sebab hilangnya rasa persaudaraan dalam hati
sebenarnya tumbuh dari egoisme yang sangat kental pada diri masing-masing.
Contoh persudaraan sesama Islam. Kita
sering berbicara tentang Ukhuwah Islamiyah. Muslim harus Bersatu. Itu
slogan indah sekali. Tapi, mewujudkan rasa bersatu dalam satu keluarga, satu RT
itupun sangat sulit. Kadang ada rasa saling curiga. Sikut-sikutan. Saling
fitnah. Dan berakhir pada konflik berkepanjangan. Itu baru satu RT. Belum
mencalonkan diri jadi DPR, bersaing satu Partai Politik. Bahkan berkelahi, dan
memutuskan silaturahim.
Jadi umat Islam itu hidup dalam pemahaman
ajarannya yang berbeda-beda. Bukan satu negara. tapi satu keluarga atau satu
RT. Lalu sering kita bicara tentang ukhuwah Islamiyah. Bagaimana bisa
mewujudkan tujuan tersebut, wong jabatan RT saja rebutan dan saling
sikut-sikutan. Satu aliran, berbeda pemahaman. Satu keturunan berbeda
keinginan. Rasa kesatuan tidak bisa diukur dari adanya satu kesamaan rasa
seperti makan bakso dengan sambal cabe ijo. Kalau soal ini, semua sepakat akan
mengatakan “bakso nya pedas sekali”. bagaimana tidak pedas, satu mangkok
dikasih satu sendok sambal cabe cakra atau sering disebut cabe setan. Satu saja
sudah pedas, apalagi satu sendok.
Jika ukhuwah Islamiyah begitu sulit,
apalagi ukhuwah basyariah. Rambut beda, orang tua beda, suku beda dan
keyakinan serta agama beda. Itu gampang sekali konflik. Apalagi jika sudah
masuk persoalan politik dan kekuasaan. Gampang sekali dikipas-kipasi.
Ujung-ujungnya berkelahi. Ini sudah ada contoh pada masa jahiliyah dulu. Itu
yang kata Ibnu Khaldun disebut ashabiyah. Bangga dengan suku dan etnis.
Teori ibnu Khaldun terbukti. Sekarang ini dua etnis yang menguasi dunia, Yahudi
dan Cina.
Terakhir adalah ukhuwah wathaniyah. Kita
hidup dalam satu negara. tapi masyarakatnya komplek. Semua ingin ini dan itu.
Usul ini, dan usul itu. Semua harus diatur. Negara pun membuat yang disebut konstitusi.
Dan yang pasti konstitusi tidak memuaskan semua elemen masyarakat. Sebab naluri
manusia memang tidak selalu puas. Ibarat sudah punya gunung emas, pasti ingin
berharap gunung emas lain. begitu seterusnya.
Maka negara hadir dengan wujud ketegasan
pada pendekatan regulasi. Semua harus patuh. Sebab tanpa ada kepatuhan bentuk
apapun ukhuwah hanya sebatas harapan-harapan semata. Apalagi watak manusia
selalu ingin menguasai. Jika semua tidak diatur, maka yang terjadi adalah hukum
rimba.
Akhirnya, kita memang harus belajar
berlapang dada menerima siapapun yang menjadi pejabat sebagai wujud kesadaran
konstitusi. Kita juga harus tetap mengkritisi sebagai wujud dari keadilan yang
terkandung dalam nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan basyariyah. Bagaimanapun
kekuasaan harus terus diingatkan agar ia selalu berjalan dengan benar dan mampu
memberikan kenyamanan pada hak-hak warga baik dalam kontek Islamiyah nya maupun
dalam konteks basyariyah nya.
Salah satu konstitusi yang diajarkan dalam Islam
yaitu selalu memberikan doa kebaikan kepada siapapun sebagaimana Nabi Muhammad
mendoakan orang-orang Thaif yang masih kafir. Apalagi sesama Islam, adalah
suatu kewajiban mendoakan kebaikan. Semoga benar-benar baik. Jika belum, kita
sudah menunjukan keindahan ajaran Islam, dan paling tidak kita berharap
kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan kembali kepada kita sendiri. Dawuh
Kanjeng Nabi: “Barangsiapa yang berbuat baik, hakikat nya untuk dirinya sendiri”.
Penulis belajar untuk selalu mendoakan
kebaikan kepada siapapun, termasuk kepada Kapolres lama dan baru di Kabupaten
Kepulauan Meranti. Semoga kebaikan dan keberkahan melimpah kepada kita semua.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1020
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   762
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   887
Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3111
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2352