Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

306 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri



Jumat , 11 April 2025



Telah dibaca :  785

Malam ini saya bisa silaturahim dengan Kapolres lama AKBP Kurnia Setyawan dan Kapolres baru AKBP Aldi Alfa Faroqi di Grand Meranti Hotel. Saya menganggap keduanya sebagai saudara kami. Saya dengan bang Khalid Ali, Ketua DPRD yang senyam-senyum di belakang ku, saya anggap saudara kami. Bukan dalam satu kandung. Tentunya saudara dalam konteks Islamiyah, Basyariyah dan Wathaniyah.

Sebagian orang memahami bahwa saudara itu satu darah. Itu benar. Tapi terkadang realita satu darah, tapi sering membuat marah. Akhirnya putus persaudaraan. Qabil dan Habil itu satu saudara kandung. Seolah-olah menjadi bukan saudara. Keduanya dipisahkan keimanan. Laksana kutub utara dan Selatan. Keduanya tidak akan bertemu.

Nabi Muhammad itu garis keturunannya dari Nabi Ismail. Ayah nya Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim itu Orang Palestina. Hidung mancung, kulit putih badan tinggi. Itu sebabnya Nabi Muhammad dalam Kitab Al-Barzanji “ka as-syamsu, ka al-badru”, laksana matahari yang menyinari dunia dan memberi semangat untuk hidup untuk beribadah dan berkarya, laksana rembulan yang hati nya sangat lembut penuh kasih sayang  kepada seluruh manusia. Ia benar-benar menjadi rahmat semesta alam.

Ia punya sahabat namanya Bilal. Orang negro kulit hitam. Duduk bareng laksana “kueh ketan warna putih” dan “kueh dodol atau jenang warna hitam”. Berbeda kulit, berbeda ketampanan, dan berbeda garis keturunan. Tapi tetap terlihat indah. Sebab kedunya menebarkan senyum terindah yang datang dari hati yang paling dalam. Mereka terpisah dari garis keturunan. Mereka kemudian dipertemukan dalam garis persaudaraan dalam iman. Kedua-duanya bahagia di dunia dan bahagia di surga nya Allah SWT.

Para ulama seperti Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari dan para ulama-ulama pesantren mengajarkan kepada para santri bahwa persaudaraan itu tidak sebatas pada Islamiyah, tapi juga Basyariyah dan Wathaniyah. Ketiganya itu harus berjalan beriringan. Jika tidak, maka konflik akan terus terjadi. Sebab hilangnya rasa persaudaraan dalam hati sebenarnya tumbuh dari egoisme yang sangat kental pada diri masing-masing.

Contoh persudaraan sesama Islam. Kita sering berbicara tentang Ukhuwah Islamiyah. Muslim harus Bersatu. Itu slogan indah sekali. Tapi, mewujudkan rasa bersatu dalam satu keluarga, satu RT itupun sangat sulit. Kadang ada rasa saling curiga. Sikut-sikutan. Saling fitnah. Dan berakhir pada konflik berkepanjangan. Itu baru satu RT. Belum mencalonkan diri jadi DPR, bersaing satu Partai Politik. Bahkan berkelahi, dan memutuskan silaturahim.

Jadi umat Islam itu hidup dalam pemahaman ajarannya yang berbeda-beda. Bukan satu negara. tapi satu keluarga atau satu RT. Lalu sering kita bicara tentang ukhuwah Islamiyah. Bagaimana bisa mewujudkan tujuan tersebut, wong jabatan RT saja rebutan dan saling sikut-sikutan. Satu aliran, berbeda pemahaman. Satu keturunan berbeda keinginan. Rasa kesatuan tidak bisa diukur dari adanya satu kesamaan rasa seperti makan bakso dengan sambal cabe ijo. Kalau soal ini, semua sepakat akan mengatakan “bakso nya pedas sekali”. bagaimana tidak pedas, satu mangkok dikasih satu sendok sambal cabe cakra atau sering disebut cabe setan. Satu saja sudah pedas, apalagi satu sendok.

Jika ukhuwah Islamiyah begitu sulit, apalagi ukhuwah basyariah. Rambut beda, orang tua beda, suku beda dan keyakinan serta agama beda. Itu gampang sekali konflik. Apalagi jika sudah masuk persoalan politik dan kekuasaan. Gampang sekali dikipas-kipasi. Ujung-ujungnya berkelahi. Ini sudah ada contoh pada masa jahiliyah dulu. Itu yang kata Ibnu Khaldun disebut ashabiyah. Bangga dengan suku dan etnis. Teori ibnu Khaldun terbukti. Sekarang ini dua etnis yang menguasi dunia, Yahudi dan Cina.

Terakhir adalah ukhuwah wathaniyah. Kita hidup dalam satu negara. tapi masyarakatnya komplek. Semua ingin ini dan itu. Usul ini, dan usul itu. Semua harus diatur. Negara pun membuat yang disebut konstitusi. Dan yang pasti konstitusi tidak memuaskan semua elemen masyarakat. Sebab naluri manusia memang tidak selalu puas. Ibarat sudah punya gunung emas, pasti ingin berharap gunung emas lain. begitu seterusnya.

Maka negara hadir dengan wujud ketegasan pada pendekatan regulasi. Semua harus patuh. Sebab tanpa ada kepatuhan bentuk apapun ukhuwah hanya sebatas harapan-harapan semata. Apalagi watak manusia selalu ingin menguasai. Jika semua tidak diatur, maka yang terjadi adalah hukum rimba.

Akhirnya, kita memang harus belajar berlapang dada menerima siapapun yang menjadi pejabat sebagai wujud kesadaran konstitusi. Kita juga harus tetap mengkritisi sebagai wujud dari keadilan yang terkandung dalam nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan basyariyah. Bagaimanapun kekuasaan harus terus diingatkan agar ia selalu berjalan dengan benar dan mampu memberikan kenyamanan pada hak-hak warga baik dalam kontek Islamiyah nya maupun dalam konteks basyariyah nya.

Salah satu konstitusi yang diajarkan dalam Islam yaitu selalu memberikan doa kebaikan kepada siapapun sebagaimana Nabi Muhammad mendoakan orang-orang Thaif yang masih kafir. Apalagi sesama Islam, adalah suatu kewajiban mendoakan kebaikan. Semoga benar-benar baik. Jika belum, kita sudah menunjukan keindahan ajaran Islam, dan paling tidak kita berharap kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan kembali kepada kita sendiri. Dawuh Kanjeng Nabi: “Barangsiapa yang berbuat baik, hakikat nya untuk dirinya sendiri”.

Penulis belajar untuk selalu mendoakan kebaikan kepada siapapun, termasuk kepada Kapolres lama dan baru di Kabupaten Kepulauan Meranti. Semoga kebaikan dan keberkahan melimpah kepada kita semua.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1021

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   762

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   887

Idul Fitri dan Lebaran
04 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   782

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355