
Sekali lagi, masa-masa indah waktu sekolah
di tingkat dasar-SD-hingga tingkat SLTA Ketika menemukan guru idola. Saya pikir,
hampir setiap murid-murid atau peserta didik pernah mempunyai sosok guru yang
bisa menjadi panutan. Ia menjadi inspirasi perubahan dalam pola belajar dan
aktivitas positif lainnya. Kenangan nasehatnya saat bersama-sama dengannya
sangat sulit dilupakan.
Sebaliknya, hampir bisa dipastikan
murid-murid juga mempunyai kenangan terhadap guru yang sering disebut “guru
kiler”. Sedikit-sedikit marah, sedikit sedikit menghukum murid berdiri di
depan papan tulis, sedikit-sedikit melempar kapur-dulu menulis pakai kapur
warna putih-pada anak-anak yang terlihat main-main. Era itu, mata seorang guru
seperti mata elang. Siapa murid yang dehem-deham, bergerak tangannya, ngantuk,
dan senyam senyum langsung kena radar hukuman. Biasanya ia menghukum dengan
cara yang unik, yaitu disuruh berdiri dengan satu kaki di depan papan tulis.
Ada juga guru tidak kiler tapi
terkadang juga dibenci oleh murid-muridnya. Terutama murid-murid yang belum
bisa membaca dan menulis. Guru jenis ini Adalah guru PMP dan bahasa Indonesia. Pola
mengajarnya, guru memerintah murid-muridnya membaca dengan pola berurutan. Mulai
dari depan terus berurutan menyamping
sampai ke belakang. Bagi yang sudah bisa membaca, tentu saja merasa sangat
senang. Tapi bagi yang belum bisa membaca, ini benar-benar ujian hidup yang
maha berat. Badan panas dingin. Keringat keluar dan jika tidak kuat kadang bisa
kencing di celana -dulu hal yang biasa anak-anak tingkat SD kencing di celana
karena takut terhadap guru atau karena tidak bisa membaca. Meskipun demikian,
guru tahu kondisi tersebut. Ia tidak marah seolah-olah tidak ada kejadian
apapun.
Dulu tempat duduk sudah ada aturan tidak
tertulis. Di depan anak-anak yang berbadan pendek, kecil dan tidak nakal. Belakang
anak-anak yang berbadan tinggi, kekar, dan termasuk para preman-preman kelas. Guru-guru
sudah terbiasa memerintah anak-anak di depan untuk membersihkan papan tulis,
mengambil absen atau mengerjakan tugas. Biasanya deretan bangku pertama
anak-anak yang mempunyai kemampuan cukup baik dalam hal baca tulis dan
berhitung.
Saya selalu duduk di depan. Terutama ketika
sudah masuk sekolah di tingkat SLTP-SMP- dan SLTA-SMA. Celakanya, saya bukan
termasuk kriteria yang sudah bisa baca tulis dan berhitung. Hanya saja karena
badan ku pendek dan kurus, maka teman-teman ku yang bergaya preman mengancam ku
untuk bisa duduk di depan. Karena takut, mau tidak mau menuruti permintaan
mereka.
Maka wajar saja jika saya sering
mendapatkan hukuman dari guru. Berdiri di depan papan tulis karena kesulitan
membaca dan menulis dengan lancar. Sungguh sangat malu. Tapi memang belum
terbuka akal pikiran dengan sempurna. Setiap anak berbeda-beda menangkap
pemahaman yang sempurna. Ada waktu dan ada saatnya ia mengalami suatu perubahan
dan pemahaman. Pendidikan adalah suatu proses terus-menerus. Seorang murid akan
mengalami perubahan secara pelan dan ada kalanya mengalami perubahan secara
radikal. Ketika menemukan guru yang tepat, maka ia akan menemukan suatu
perubahan-perubahan yang sangat mengejutkan. Dari sini sebenarnya, tidak ada
murid yang bodoh, yang ada adalah murid yang belum menemukan guru yang tepat.
Ketika masuk kelas satu Aliyah, ada seorang
guru bahasa inggris dan bahasa jerman. Lulusan IKIP Semarang dan IKIP Yogyakarta.
Saya merasakan senang cara mengajarnya. Terasa asyik dan mudah dipahami. Ketika
ia memperkenalkan buku pegangan utama, saya memperhatikan judul bukunya dan
warnanya. Saya masih ingat judul buku nya”Kontakte Deutsch”, warnanya
hitam putih. Saya ingin sekali membelinya.
Saat hari minggu, saya pergi ke Pasar
Kroya. Pasar yang cukup ramai. Di daerah tersebut termasuk daerah yang
strategis. Selain ada pasar ukuran besar, ada bioskop, ada toko buku ada juga
penjual buku loakan-buku bekas.
Saya mencari buku tersebut. Ada. Di pasar
loakan. Terasa sangat senang. Harga saat itu satu buku Rp. 1500,00. Saya lebih
suka beli buku di pasar loakan. Murah-murah. Hanya saja, covernya sudah
lecet-lecet atau mulai mengelupas. Tapi isinya masih sangat bagus.
Minggu berikutnya saya pun berburu buku-buku
pelajaran lainnya. Hampir semua buku pegangan guru, saya punya. Saya senang
sekali, saat teman-teman lainnya tidak mempunyai buku pelajaran-buku cetak-,
saya sendiri sudah mempunyainya. Terasa sangat gagah kala itu. Tiap malam
belajar secara sungguh-sungguh. Hingga kala itu, saya hampir menguasai seluruh
pelajaran. Saat masuk kelas 1, saya berada di tingkat paling bontrot-juru
kunci-, menanjak menjadi masuk tiga lima besar. Suatu lompatan atau capaian
yang sangat luarbiasa kala itu.
Saya benar-benar mempunyai dua sahabat
terdekat kala itu: guru inspiratif dan buku. Guru inspiratif telah mampu
membuka kunci tentang strategi memahami pelajaran dan buku mampu membuka
cakrawala ilmu pengetahuan. Semakin membaca buku semakin haus dan ingin terus
berburu buku, membeli dan belajar tanpa mengenal waktu. Belajar terasa nikmat
sekali.
Namun….kini saya justru merenung memikirkan
diri sendiri, “Apakah saya sudah bisa menjadi guru inspiratif bagi
murid-muridku dan mahasiswa ku?”. Suatu pertanyaan yang sering menghantuiku dan
kadang membuat hatiku sedih. Ketika saya menerangkan tentang pentingnya ilmu
pengetahuan dan buku sebagai jendela dunia, mereka semua mendengarkan. Saya
merasa dihargai oleh keseriusan mereka mendengarkannya. Namun saat dilihat dari
realita di lapangan, hanya sebagian kecil dari mereka yang sungguh-sungguh
menjadi pembaca aktif dan berfikir kritis.
Saya merasa gagal menanamkan kepada mereka
untuk mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Namun, saya ternyata tidak
sendirian. Teman-teman ku juga merasakan hal serupa: gagal menanamkan cinta membaca
buku.
Kini mungkin alam kehidupan sudah berbeda dulu
dan sekarang. Dulu kehidupan pelajar masih sebatas mengenal lingkungan terbatas
dan hiburan apa adanya. Nilai-nilai moralitas lingkungan masih terjaga dengan
baik. Kepatuhan terhadap orang tua dan guru masih terjaga dan terawat.
Kini dunia telah terbuka kuncinya. Pintu kebudayaan
dan deras arus informasi tanpa batas. Waktu anak-anak sekarang sudah hampir habis
di depan gadget, android, Iphone dan lain-lain. Mereka telah menemukan hiburan
baru dan sekaligus menjadi tuntunan dalam kehidupan nya. Gadget telah berubah
menjadi suri tauladan.
Mereka sudah mulai terasa kurang nikmat
saat masuk sekolah atau kuliah. Mereka sudah tidak mau lagi mendapatkan beban
tugas yang berat-berat. Gadget yang ada ditangannya dengan mudah membantu
menyelesaikan masalah. Sangat mudah mengerjakan apa yang diperintahkan oleh
guru atau dosen. Tentang benar dan salah itu urusan nomor sekian.
Pola kehidupan yang serba mudah atau
kehidupan cepat saji ternyata tidak selama nya baik. Seperti makanan cepat saji
yang sering menimbulkan beragam penyakit yang sangat membahayakan tubuh. Era digital
pun demikian, ia telah menyiapkan ilmu pengetahuan, hiburan dan informasi siap
saji kepada generasi muda. Mereka menerima asupan informasi tanpa ada filter
yang tepat. Langsung dikunyah dan ditelan. Pola hidup semua “dikunyah”
yang memungkinkan muncul beragam penyakit mental dan kejiwaan di usia masih
anak-anak dan remaja. Bahkan kini prosentasenya sangat menghawatirkan. Indonesia
termasuk masyarakat yang darurat. 1 dari 3 anak-anak atau remaja mengalami
gangguang mental terutama kecemasan dan depresi.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6598
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4853
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4836