
Cara Nabi Ibrahim Menyelesaikan Persoalan Hidup
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ،
وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا
الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ
سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و
سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ
وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا
الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ
مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah.
Pertama-tama, marilah kita senantiasa
meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan
perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya.
Kedua, sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, para
tabi’in, tabi’in tabi’in, para ulama hingga kepada umat-umatnya. Semoga kita
mendapatkan syafaatnya. Amin.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah,
Sebentar lagi umat Islam akan melaksanakan hari raya kurban atau
sering disebut Idul Adha. Hari raya ini tidak terlepas dari kisah kehidupan
yang agung dari seorang hamba bernama Nabi Ibrahim. Keagungan tauladan tersebut
diabadikan dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:131) sebagai berikut:
اِذْ قَالَ
لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ١٣١
Artinya:
(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim),
“Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
Dalam Tafsir Qurtubi, ayat ini sebenarnya berangkat dari kesedihan Nabi
Ibrahim ketika menghadapi suatu persoalan hidup dari mana dan akan kemana hidup
ini. Ketika Ibrahim muda sedang mencari hakikat kebahagiaan dan kebenaran
sejati, ia mencoba menyandarkan kepada dunia dan alam semesta ini. Allah menjelaskan
hal tersebut dalam Q.S. Al-An’am ([6]:76-78) sebagai berikut:
“Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah
bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam
dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”
“Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada
kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata,
“Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk
kaum yang sesat.”
“Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi
kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika
matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri
dari yang kamu persekutukan.”
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah,
Nabi Ibrahim muda sebagaimana manusia pada umum nya atau basyarun
mislukum, juga mengalami kegelisahan hidup. Ayat-ayat tersebut di atas
sedikit dari gambaran hidup, bahwa apa yang terjadi pada masa itu juga terjadi
pada masa sekarang.
Kita sering mengalami berbagai persoalan hidup yang pada moment
tertentu mengalami kebuntuan berfikir. Bagi yang sudah mempunyai istri, kadang
sedih yang teramat tinggi karena belum mempunyai keturunan. Ketika dikaruniai
keturunan, sedih pun muncul karena biaya Pendidikan sangat tinggi dan
seterusnya kisah penderitaan dalam hidup rumah tangga.
Kita yang hidup dalam komunitas sosial akan bertemu dengan
orang-orang yang tidak menyenangkan: omonganya kasar, menyakitkan hati, jika di
belakang selalu menebarkan fitnah. Belum lagi persoalan pada rekan kerja yang
sering terjadi banyak drama kehidupan yang bersambung tidak pernah berhenti.
Pada kondisi seperti ini, kita terkadang mengalami kegoncangan
jiwa, sedih yang tidak berkesudahan dan muncul rasa putus asa akibat persoalan
yang terus tumbuh tanpa henti.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,
Persoalan tidak akan berhenti. Bahkan kita meninggal dunia pun
muncul persoalan baru. Kita belajar tentang keteguhan Nabi Ibrahim pada ayat
tersebut di atas yaitu:
اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ
الْعٰلَمِيْنَ ١٣١
Artinya:
(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim),
“Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
Ayat tersebut mengandung filosofis tentang metode dalam menyelesaikan
berbagai problematika hidup sebagai berikut:
Pertama, kita belajar
memahami ketika ada persoalan, pikiran dan hati kita menyakini bahwa persoalan
tersebut merupakan perjalanan hidup yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Kita tidak
perlu menangisi, mengutuk, atau menghindari persoalan tersebut. Allah menghadirkan
persoalan tersebut sebagai jalan agar diri kita menyelesaikan persoalan
tersebut tetap ingat kepada-Nya. Apapun yang kita lakukan menjadi terasa
ringan. Bukan kadar persoalan yang semakin kurang. Persoalan tersebut tetap seperti
semula. Tapi sandaran hati kita yang sudah benar dan semakin kuat. Sehingga secara
psikologis, kita merasakan tidak begitu berat persoalan yang ada yang terjadi. Kita
merasa asyik saja. Bahkan kita semakin merasakan dalam hati bahwa hakikatnya persoalan
tersebut sebagai terapi diri semakin dekat dengan Allah SWT.
Kedua, Nabi Ibrahim mengajarkan
bahwa fokus cara berfikir dan berdzikir kita adalah pada keagungan Allah SWT. Ketika
kita ada masalah, sering kita memfokuskan diri pada persoalan tersebut. Pikiran,
hati dan perasaan penuh dengan persoalan. Hidup terasa sangat gelap dan sesak
di dada.
Ini adalah persaoalan yang sering terjadi pada diri kita. Pikiran kita
lebih dominan memikirkan masalah daripada dominasi pikiran dan hati kita mengenal
Allah SWT. Saat ada persoalan, Allah semakin kecil. Toh seandainya Allah hadir
pada diri kita, sering kita perlakukan-Nya sebatas sebagai psikolog atau
dokter. Ketika kita sudah sembuh, maka dokter pun ditinggal begitu saja. Inilah
kesalahan yang fatal berakibat terasa sesak ketika ada problem.
Kita harus melatih kesadaran diri baik pikiran, hati dan perasaan
tentang keindahan kehadiran tuhan saat sendiri maupun saat di ruang sosial. Kita
perlu melatih pikiran, hati dan perasaan untuk selalu melihatnya dalam setiap
ciptaan-ciptaan-nya. sehingga kita benar-benar melihat-nya seluruh isi alam
semesta ini. Ketika ini, terjadi maka problematika tersebut menjadi terlihat
sangat kecil. Sebab semua sudah tenggal dalam rindu dan cinta yang mendalam
kepada kekasih teragung yaitu Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,
Dari paparan tersebut, khatib bisa mengambil pelajaran dari keagungan Nabi
Ibrahim bahwa orang-orang yang mampu mengenal Allah dengan baik akan melahirkan
aliran-aliran kebahagiaan dalam kondisi hidup seperti apapun kondisinya. Sebab orang-orang
yang telah mengenal Allah berarti telah mengenal kehidupan di dunia ini yang
bersifat fana dan kehidupan akherat yang bersifat kekal.
جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا
وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. باَرَكَ اللهُ
لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ
وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى
جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ
ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا
بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرْ
Penulis : Sang Khatib
Khutbah Jum'at: Realisasi Pasca Idul Adha; Jalan Sunyi Untuk Terus Berkarya
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban dan Kepedulian Kepada Sesama
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   253
Khutbah Jum'at: 4 Permata Kebahagiaan Dalam Islam
07 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184
7 Golongan Mendapatkan Perlindungan Dari Allah
01 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91
Khutbah Jum'at Kontemporer: Menghidupkan Kembali Budaya Membaca
27 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   174
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3515
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3256