Avatar

Sang Khatib

Penulis Kolom

9 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cara Nabi Ibrahim Menyelesaikan Persoalan Hidup



Kamis , 14 Mei 2026



Telah dibaca :  256

Cara Nabi Ibrahim Menyelesaikan Persoalan Hidup

 

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah.

Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya.

Kedua, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, para tabi’in, tabi’in tabi’in, para ulama hingga kepada umat-umatnya. Semoga kita mendapatkan syafaatnya. Amin.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,

Sebentar lagi umat Islam akan melaksanakan hari raya kurban atau sering disebut Idul Adha. Hari raya ini tidak terlepas dari kisah kehidupan yang agung dari seorang hamba bernama Nabi Ibrahim. Keagungan tauladan tersebut diabadikan dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:131) sebagai berikut:

اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۝١٣١

Artinya:

(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”

Dalam Tafsir Qurtubi, ayat ini sebenarnya berangkat dari kesedihan Nabi Ibrahim ketika menghadapi suatu persoalan hidup dari mana dan akan kemana hidup ini. Ketika Ibrahim muda sedang mencari hakikat kebahagiaan dan kebenaran sejati, ia mencoba menyandarkan kepada dunia dan alam semesta ini. Allah menjelaskan hal tersebut dalam Q.S. Al-An’am ([6]:76-78) sebagai berikut:

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

“Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.”

“Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.”

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,

Nabi Ibrahim muda sebagaimana manusia pada umum nya atau basyarun mislukum, juga mengalami kegelisahan hidup. Ayat-ayat tersebut di atas sedikit dari gambaran hidup, bahwa apa yang terjadi pada masa itu juga terjadi pada masa sekarang.

Kita sering mengalami berbagai persoalan hidup yang pada moment tertentu mengalami kebuntuan berfikir. Bagi yang sudah mempunyai istri, kadang sedih yang teramat tinggi karena belum mempunyai keturunan. Ketika dikaruniai keturunan, sedih pun muncul karena biaya Pendidikan sangat tinggi dan seterusnya kisah penderitaan dalam hidup rumah tangga.

Kita yang hidup dalam komunitas sosial akan bertemu dengan orang-orang yang tidak menyenangkan: omonganya kasar, menyakitkan hati, jika di belakang selalu menebarkan fitnah. Belum lagi persoalan pada rekan kerja yang sering terjadi banyak drama kehidupan yang bersambung tidak pernah berhenti.

Pada kondisi seperti ini, kita terkadang mengalami kegoncangan jiwa, sedih yang tidak berkesudahan dan muncul rasa putus asa akibat persoalan yang terus tumbuh tanpa henti.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,

Persoalan tidak akan berhenti. Bahkan kita meninggal dunia pun muncul persoalan baru. Kita belajar tentang keteguhan Nabi Ibrahim pada ayat tersebut di atas yaitu:

اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۝١٣١

Artinya:

(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”

Ayat tersebut mengandung filosofis tentang metode dalam menyelesaikan berbagai problematika hidup sebagai berikut:

Pertama, kita belajar memahami ketika ada persoalan, pikiran dan hati kita menyakini bahwa persoalan tersebut merupakan perjalanan hidup yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Kita tidak perlu menangisi, mengutuk, atau menghindari persoalan tersebut. Allah menghadirkan persoalan tersebut sebagai jalan agar diri kita menyelesaikan persoalan tersebut tetap ingat kepada-Nya. Apapun yang kita lakukan menjadi terasa ringan. Bukan kadar persoalan yang semakin kurang. Persoalan tersebut tetap seperti semula. Tapi sandaran hati kita yang sudah benar dan semakin kuat. Sehingga secara psikologis, kita merasakan tidak begitu berat persoalan yang ada yang terjadi. Kita merasa asyik saja. Bahkan kita semakin merasakan dalam hati bahwa hakikatnya persoalan tersebut sebagai terapi diri semakin dekat dengan Allah SWT.

Kedua, Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa fokus cara berfikir dan berdzikir kita adalah pada keagungan Allah SWT. Ketika kita ada masalah, sering kita memfokuskan diri pada persoalan tersebut. Pikiran, hati dan perasaan penuh dengan persoalan. Hidup terasa sangat gelap dan sesak di dada.

Ini adalah persaoalan yang sering terjadi pada diri kita. Pikiran kita lebih dominan memikirkan masalah daripada dominasi pikiran dan hati kita mengenal Allah SWT. Saat ada persoalan, Allah semakin kecil. Toh seandainya Allah hadir pada diri kita, sering kita perlakukan-Nya sebatas sebagai psikolog atau dokter. Ketika kita sudah sembuh, maka dokter pun ditinggal begitu saja. Inilah kesalahan yang fatal berakibat terasa sesak ketika ada problem.

Kita harus melatih kesadaran diri baik pikiran, hati dan perasaan tentang keindahan kehadiran tuhan saat sendiri maupun saat di ruang sosial. Kita perlu melatih pikiran, hati dan perasaan untuk selalu melihatnya dalam setiap ciptaan-ciptaan-nya. sehingga kita benar-benar melihat-nya seluruh isi alam semesta ini. Ketika ini, terjadi maka problematika tersebut menjadi terlihat sangat kecil. Sebab semua sudah tenggal dalam rindu dan cinta yang mendalam kepada kekasih teragung yaitu Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,

Dari paparan tersebut, khatib  bisa mengambil pelajaran dari keagungan Nabi Ibrahim bahwa orang-orang yang mampu mengenal Allah dengan baik akan melahirkan aliran-aliran kebahagiaan dalam kondisi hidup seperti apapun kondisinya. Sebab orang-orang yang telah mengenal Allah berarti telah mengenal kehidupan di dunia ini yang bersifat fana dan kehidupan akherat yang bersifat kekal.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 



Penulis : Sang Khatib


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban dan Kepedulian Kepada Sesama
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   253

Khutbah Jum'at: 4 Permata Kebahagiaan Dalam Islam
07 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184

7 Golongan Mendapatkan Perlindungan Dari Allah
01 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91

Khutbah Jum'at Kontemporer: Menghidupkan Kembali Budaya Membaca
27 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   174

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3256