
Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Islam
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ،
وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا
الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ
سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و
سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ
وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا
الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ
مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah.
Pertama-tama, marilah kita senantiasa
meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan
perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya.
Kedua, sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, para
tabi’in, tabi’in tabi’in, para ulama hingga kepada umat-umatnya. Semoga kita
mendapatkan syafaatnya. Amin.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah,
Hidup sebenarnya pengulangan sejarah. Dari dulu, ada pagi, siang, sore
dan malam. Dari dulu, ada haus, lapar, dahaga dan kenyang. Dari dulu, ada
proses kelahiran, anak kecil, remaja, dewasa, bekerja, menikah, punya anak, punya
cucu dan meninggal dunia. Dari dulu juga, ada pemimpin yang baik dan yang
buruk. Ada Nabi Ibrahim, ada Raja Namrud, ada Nabi Musa ada Raja Fir’aun, dan
ada Nabi Muhammad dan ada Abu Jahal dan Abu Lahab. Ada orang yang membangun
peradaban, ada juga yang memporak-porandakan bangunan peradaban. Pola-pola sejarah
kehidupan tersebut akan terus terulang dari masa ke masa.
Kita senang atau sedih, semangat atau putus asa, menjadi pejabat
atau rakyat biasa merupakan catatan warna-warna kehidupan yang ada pada diri
manusia. Mereka bisa bercerita tentang dirinya dan orang-orang di sekitarnya
dalam pengertian yang lebih luas.
Namun, apakah kita sebatas membuat cerita sejarah tanpa makna. Suatu
pertanyaan yang mengantarkan khatib merenungi sebuah ayat dalam Q.S. An-Nahl ayat
97 sebagai berikut:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ
مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٩٧
Artinya:
Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan,
sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik
daripada apa yang selalu mereka kerjakan.
Ayat tersebut memberi pesan bahwa kita diberi otoritas melakukan
apa saja sesuai dengan keinginan kita masing-masing. Sebab semua perbuatan akan
kembali kepada pelakunya.
Pada sisi lain, Allah juga mendidik umat Islam bahwa kebebasan
melakukan apa saja harus mempunyai tanggungjawab. Kebebasan yang
bertanggungjawab. Tentu saja tanggungjawab sebagai orang yang beragama berupa
segala aktivitas mengandung amal sholeh.
Ada satu Hadist Nabi yang sangat indah sekali untuk diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ :
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو
لَهُ
artinya:
Ketika manusia meninggal dunia maka terputas amalnya kecuali tiga
hal yaitu: shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh mendoakan
kedua orang tuanya.
Dari ayat dan hadist tersebut, ada beberapa aktivitas yang berlu
kita jaga atau rawat hingga kita menghadap Allah SWT yaitu:
Pertama, hidup yang
berkualitas yaitu hidup yang selalu digunakan untuk menanam kebaikan baik
menanam kebaikan apa saja seperti membantu berupa harta atau kekayaan atau kebaikan
dalam bentuk ucapan, nasehat atau pertolongan-pertolongan dalam konteks yang
lebih luas. Ini yang sering disebut dengan shodaqah jariyah, yaitu “قَالَ فِي الْأَزْهَارِ هِيَ الْوَقْفُ وَشَبَهُهُ مِمَّا يَدُومُ
نَفْعُهُ”- bahwa amal sholeh bukan
hanya pada benda saja, tetapi juga termasuk segala sesuatu yang memberi
manfaat.
Kedua, memberi
pencerahan kepada masyarakat. Salah satu aktivitas yang sangat mulia dan diakui eksistensinya
dalam pandangan Allah yaitu ilmu yang bermanfaat. Hidup merupakan lembaran
beragam aturan-aturan sebagai bagian dari perwujudan tugas manusia sebagai
khalifah di dunia. Hidup akan semakin bermakna dan berkualitas ketika Sumber
Daya Manusia-SDM-juga berkualitas. Semakin baik kualitas SDM nya, semakin
baik kehidupan nya. Semakin jeblok kualitas SDM, semakin rendah kualitas
hidupnya. Ini adalah hukum sosial yang terjadi dari dulu hingga saat sekarang
ini.
Pada masa Raja Fir’aun, kualitas SDM kaum Bani Israel sangat rendah.
Ia menjadi masyarakat kelas dua, dan dijadikan budak oleh Raja Fir’aun. Lalu Nabi
Musa melakukan reformasi konstitusi dengan kewajiban hidup untuk ibadah dan
berkarya dengan panduan Kitab Taurat. Walhasil reformasi konstitusi yang
dilakukan oleh Nabi Musa berhasil. Masyarakat Bani Israel mencapai puncak
kejayaan di tanah Palestina.
Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab sangat terbelakang. Lalu munculah
Nabi Muhammad SAW melakukan reformasi Konstitus berbasis Ketuhanan dan ilmu
pengetahuan dengan kalimat pendek “اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ “, baca dengan
menyebut nama Tuhan mu. Reformasi SDM berhasil, dan umat Islam kala itu
mencapai puncak kemuliaan dalam segala aspek kehidupan.
Ketiga, menyiapkan
generasi qur’ani. Generasi qur’ani bukan berarti generasi yang hafal Al-Qur’an sebanyak
30 juz di luar kepala. Generasi qur’ani adalah generasi yang mampu menyelami
esensi dari pesan-pesan Tuhan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari
dalam wujud berbakti kepada kedua orang tua. Islam tidak membenarkan mengukur kesuksesan seorang anak sebatas pada kesuksesan duniawi, tetapi Islam juga mengukur kehebatan seorang anak pada kesuksesan memulyakan orang tua dan merealisasikan pesan-pesan kebaikannya.
Bagi kaum liberal atau sekuler generasi yang cerdas adalah generasi
yang berpendidikan tinggi dan mempunyai karya yang sering mengabaikan hubungan batin
antara anak dan orang tua nya. Kaum sekuler tidak mempersoalkan darimanapun seorang
anak di lahirkan dengan cara apapun. Sepanjang mereka mempunyai sumbangsih
pemikiran dan karya yang baik, maka mereka mendapatkan tempat yang mulia di
tengah-tengah masyarakat. Bahkan kadang dianggap sebagai pemikir, tokoh atau
filusuf dan pendobrak kejumudan.
Islam menempatkan kesholehan bukan sebatas pada sumbangsih kepada masyarakat.
Menurut Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kifayatul
Atqiya wa Minhajul Ashfiya, halaman 51 mengatakan “ والصالحون هم القائمون بحقوق الله وحقوق العباد
“, Orang-orang sholeh yaitu orang yang memenuhi hak-hak Allah dan
hak-hak hamba-Nya.
Dari makna tersebut khatib bisa memahami bahwa generasi yang sholeh adalah sholeh -baik hubungan dengan Allah-dan sholeh-baik sumbangsihnya dalam
kehidupan sosial. Karena itu, hakikatnya anak yang sholeh yang mendoakan kedua
orang tua nya adalah doa bukan hanya dalam bentuk ucapan, tapi implementasi doa
dalam wujud karya nyata yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,
Dari paparan tersebut, khatib bisa mengambil pelajaran bahwa Sumber Daya
Manusia-SDM- sebagai jalan perubahan peradaban dalam sejarah peradaban Islam
merupakan kombinasi kekuatan pada diri umat Islam yaitu: kekuatan iman,ilmu,
amal dan senantiasa membangun meneruskan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan
oleh orang tua atau para pendahulunya.
جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا
وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. باَرَكَ اللهُ
لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ
وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى
جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ
ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا
بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرْ
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Khutbah Jum'at: Realisasi Pasca Idul Adha; Jalan Sunyi Untuk Terus Berkarya
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   355
Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban dan Kepedulian Kepada Sesama
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   297
Cara Nabi Ibrahim Menyelesaikan Persoalan Hidup
14 Mei 2026   Oleh : Sang Khatib   264
Khutbah Jum'at: 4 Permata Kebahagiaan Dalam Islam
07 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   191
7 Golongan Mendapatkan Perlindungan Dari Allah
01 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   97
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13891
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4920
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3932
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3585
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3504