Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

357 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Islam



Kamis , 04 Juni 2026



Telah dibaca :  207

Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Islam

 

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah.

Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya.

Kedua, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, para tabi’in, tabi’in tabi’in, para ulama hingga kepada umat-umatnya. Semoga kita mendapatkan syafaatnya. Amin.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,

Hidup sebenarnya pengulangan sejarah. Dari dulu, ada pagi, siang, sore dan malam. Dari dulu, ada haus, lapar, dahaga dan kenyang. Dari dulu, ada proses kelahiran, anak kecil, remaja, dewasa, bekerja, menikah, punya anak, punya cucu dan meninggal dunia. Dari dulu juga, ada pemimpin yang baik dan yang buruk. Ada Nabi Ibrahim, ada Raja Namrud, ada Nabi Musa ada Raja Fir’aun, dan ada Nabi Muhammad dan ada Abu Jahal dan Abu Lahab. Ada orang yang membangun peradaban, ada juga yang memporak-porandakan bangunan peradaban. Pola-pola sejarah kehidupan tersebut akan terus terulang dari masa ke masa.

Kita senang atau sedih, semangat atau putus asa, menjadi pejabat atau rakyat biasa merupakan catatan warna-warna kehidupan yang ada pada diri manusia. Mereka bisa bercerita tentang dirinya dan orang-orang di sekitarnya dalam pengertian yang lebih luas.

Namun, apakah kita sebatas membuat cerita sejarah tanpa makna. Suatu pertanyaan yang mengantarkan khatib merenungi sebuah ayat dalam Q.S. An-Nahl ayat 97 sebagai berikut:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝٩٧

Artinya:

Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.

Ayat tersebut memberi pesan bahwa kita diberi otoritas melakukan apa saja sesuai dengan keinginan kita masing-masing. Sebab semua perbuatan akan kembali kepada pelakunya.

Pada sisi lain, Allah juga mendidik umat Islam bahwa kebebasan melakukan apa saja harus mempunyai tanggungjawab. Kebebasan yang bertanggungjawab. Tentu saja tanggungjawab sebagai orang yang beragama berupa segala aktivitas mengandung amal sholeh.

Ada satu Hadist Nabi yang sangat indah sekali untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
artinya:

Ketika manusia meninggal dunia maka terputas amalnya kecuali tiga hal yaitu: shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh mendoakan kedua orang tuanya.

Dari ayat dan hadist tersebut, ada beberapa aktivitas yang berlu kita jaga atau rawat hingga kita menghadap Allah SWT yaitu:

Pertama, hidup yang berkualitas yaitu hidup yang selalu digunakan untuk menanam kebaikan baik menanam kebaikan apa saja seperti membantu berupa harta atau kekayaan atau kebaikan dalam bentuk ucapan, nasehat atau pertolongan-pertolongan dalam konteks yang lebih luas. Ini yang sering disebut dengan shodaqah jariyah, yaitu “قَالَ فِي الْأَزْهَارِ هِيَ الْوَقْفُ وَشَبَهُهُ مِمَّا يَدُومُ نَفْعُهُ”- bahwa amal sholeh bukan hanya pada benda saja, tetapi juga termasuk segala sesuatu yang memberi manfaat.

Kedua, memberi pencerahan kepada masyarakat. Salah satu aktivitas yang sangat mulia dan diakui eksistensinya dalam pandangan Allah yaitu ilmu yang bermanfaat. Hidup merupakan lembaran beragam aturan-aturan sebagai bagian dari perwujudan tugas manusia sebagai khalifah di dunia. Hidup akan semakin bermakna dan berkualitas ketika Sumber Daya Manusia-SDM-juga berkualitas. Semakin baik kualitas SDM nya, semakin baik kehidupan nya. Semakin jeblok kualitas SDM, semakin rendah kualitas hidupnya. Ini adalah hukum sosial yang terjadi dari dulu hingga saat sekarang ini.

Pada masa Raja Fir’aun, kualitas SDM kaum Bani Israel sangat rendah. Ia menjadi masyarakat kelas dua, dan dijadikan budak oleh Raja Fir’aun. Lalu Nabi Musa melakukan reformasi konstitusi dengan kewajiban hidup untuk ibadah dan berkarya dengan panduan Kitab Taurat. Walhasil reformasi konstitusi yang dilakukan oleh Nabi Musa berhasil. Masyarakat Bani Israel mencapai puncak kejayaan di tanah Palestina.

Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab sangat terbelakang. Lalu munculah Nabi Muhammad SAW melakukan reformasi Konstitus berbasis Ketuhanan dan ilmu pengetahuan dengan kalimat pendek “اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١ “, baca dengan menyebut nama Tuhan mu. Reformasi SDM berhasil, dan umat Islam kala itu mencapai puncak kemuliaan dalam segala aspek kehidupan.

Ketiga, menyiapkan generasi qur’ani. Generasi qur’ani bukan berarti generasi yang hafal Al-Qur’an sebanyak 30 juz di luar kepala. Generasi qur’ani adalah generasi yang mampu menyelami esensi dari pesan-pesan Tuhan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam wujud berbakti kepada kedua orang tua.  Islam tidak membenarkan mengukur kesuksesan seorang anak sebatas pada kesuksesan duniawi, tetapi Islam juga mengukur kehebatan seorang anak pada kesuksesan memulyakan orang tua dan merealisasikan pesan-pesan kebaikannya. 

Bagi kaum liberal atau sekuler generasi yang cerdas adalah generasi yang berpendidikan tinggi dan mempunyai karya yang sering mengabaikan hubungan batin antara anak dan orang tua nya. Kaum sekuler tidak mempersoalkan darimanapun seorang anak di lahirkan dengan cara apapun. Sepanjang mereka mempunyai sumbangsih pemikiran dan karya yang baik, maka mereka mendapatkan tempat yang mulia di tengah-tengah masyarakat. Bahkan kadang dianggap sebagai pemikir, tokoh atau filusuf dan pendobrak kejumudan.

Islam menempatkan kesholehan bukan sebatas pada sumbangsih kepada masyarakat. Menurut Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, halaman 51 mengatakan “ والصالحون هم القائمون بحقوق الله وحقوق العباد

“, Orang-orang sholeh yaitu orang yang memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya.

Dari makna tersebut khatib bisa memahami bahwa generasi yang sholeh adalah sholeh -baik hubungan dengan Allah-dan sholeh-baik sumbangsihnya dalam kehidupan sosial. Karena itu, hakikatnya anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tua nya adalah doa bukan hanya dalam bentuk ucapan, tapi implementasi doa dalam wujud karya nyata yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,

Dari paparan tersebut, khatib  bisa mengambil pelajaran bahwa Sumber Daya Manusia-SDM- sebagai jalan perubahan peradaban dalam sejarah peradaban Islam merupakan kombinasi kekuatan pada diri umat Islam yaitu: kekuatan iman,ilmu, amal dan senantiasa membangun meneruskan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan oleh orang tua atau para pendahulunya.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban dan Kepedulian Kepada Sesama
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   297

Cara Nabi Ibrahim Menyelesaikan Persoalan Hidup
14 Mei 2026   Oleh : Sang Khatib   264

Khutbah Jum'at: 4 Permata Kebahagiaan Dalam Islam
07 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   191

7 Golongan Mendapatkan Perlindungan Dari Allah
01 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   97

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13891


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4920


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3504