
4 Permata Kebahagiaan Dalam Islam
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ،
وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا
الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ
سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و
سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ
وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا
الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ
مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah.
Pertama-tama, marilah kita senantiasa
meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan
perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya.
Kedua, sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, para
tabi’in, tabi’in tabi’in, para ulama hingga kepada umat-umatnya. Semoga kita
mendapatkan syafaatnya. Amin.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah,
Setiap manusia selalu menginginkan kebahagiaan. Islam telah
memberikan makna kebahagiaan dan kebaikan secara universal sebagaimana yang
dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ([2]:201) sebagai berikut:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٢٠١
Artinya:
Di antara mereka ada juga yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab
neraka.”
Seorang muslim mendapatkan kebahagiaan atau kebaikan di dunia
maupun di akherat apabila pada dirinya ada empat mutiara. Nabi Muhammad SAW
telah bersabda sebagaima yang ditulis dalam Kitab Ihya Ulumudin sebagai
berikut:
قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَةُ جَوَهِرَ فِيْ جِسْمِ بَنِيْ اَدَمَ
يُزَلُهَا اَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ اَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ وَالدِّيْنُ
وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الْصَّالِحُ
Artinya:
Rasulullah saw bersabda, “Ada empat permata dalam tubuh manusia
yang dapat hilang karena empat hal. Empat permata tersebut adalah akal, agama,
sifat malu, dan amal saleh”.
Permata pertama yaitu akal. Permata
ini laksana raja bagi tubuh manusia. Rusak akal, rusak manusia dan rusak agama.
Baik akal, baik manusia baik juga agama.
Menurut Syeikh Hajar Asqalani, bahwa akal merupakan bagian dari ciptaan
Allah yang ada pada diri manusia yang mempunyai fungsi untuk bisa membedakan
kebaikan dan keburukan segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Dari sini,
kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketika kita mampu mempergunakan akal
dengan baik sebenarnya sedang menjaga kemuliaan kita dan agama kita.
Permata kedua yaitu agama. Bagi
sebagian orang yang kurang yakin
terhadap adanya agama-atau orang-orang ateis-hidup adalah kebahagiaan di dunia.
Mumpung masih hidup, maka menggunakan semaksimal mungkin segala faslitas dunia
untuk menuruti hawa nafsunya.
Padahal, sebahagia apapun kehidupan seseorang bisa dipastikan akan
berakhir dengan kematian. Saat pada posisi seperti ini, ia membutuhkan fase
kehidupan yang ingin lebih bahagia lagi, yaitu saat di alam barzah dan kemudian
di hari akherat.
Agama Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanya sebatas kebahagiaan
semu. Jabatan, kekayaan, anak-anak yang hebat-hebat membawa kebahagiaan sementara.
Semua akan hilang pada waktunya. Semua akan berakhir di dunia. Namun jika semua
fasilitas digunakan sesuai dengan syariat Islam, maka akan menjelma menjadi
kebahagiaan yang kekal abadi.
Permata ketiga, sifat malu. Sifat
malu ada dua: haya’un nafsiyun dan haya’un imaniyun. Haya’un
nafsiyun adalah malu yang secara naluri ada diri manusia itu sendiri, yaitu
malu secara kodrati ketika melakukan perbuatan yang dianggap bertentangan
dengan etika, moral, budaya dan adat kebiasaan lainnya.
Sedangkan haya;un imaniyun adalah “ ان يمنعَ المؤمنُ فعْلِ المعاصي خوفاً من اللهِ“-ketika seseorang mu’min mampu mencegah melakukan
maksiat karena takut kepada Allah SWT.
Ketika pada diri kita mempunyai dua sifat
malu tersebut, maka kita benar-benar mempunyai mutiara kehidupan yang sangat
agung dan menjadi sumber kebahagiaan yang kekal abadi.
Permata keempat yaitu amal sholeh. Tugas manusia selain
mengabdi kepada Allah yaitu mengabdi kepada sesama manusia. mengabdi kepada Allah
berarti kita melakukan segala aktifitas semata-mata mempunyai tujuan ibadah. Sedangkan
mengabdi kepada manusia yaitu kita melakukan aktivitas dalam pengertian yang
lebih luas untuk kebaikan orang-orang yang ada disekitar kita. Kita bekerja
untuk pasangan kita dan anak-anak kita serta keluarga kita. Kita menjadi
pejabat untuk memberikan kebahagiaan kepada masyarakat yang menjadi
tanggungjawabnya dalam jabatannya baik sebagai guru, direktur perusahaan, kepala
desa, camat dan pejabat dalam lingkup yang luas.
Amal sholeh adalah mutiara yang mempunyai
implikasi yang sangat luas. Jika setiap individu mampu menjalankan aktivitas
masing-masing yang memberi kemanfaatan kepada diri dan orang lain, maka
orang-orang seperti ini telah mempunyai kehidupan yang sangat bahagia di dunia
dan di akherat.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at
Rahimakumullah,
Dari paparan tersebut, khatib dan kita bisa menjadi bagian dari orang-orang
yang mampu menjaga dan menyuburkan empat mutiara kebahagian pada diri kita masing-masing
sampai berjumpa dengan Allah SWT dan masuk kedalam surga-Nya.
جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا
وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. باَرَكَ اللهُ
لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ
وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى
جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ
ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ
أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ
وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا
بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ
اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ
اللهِ أَكْبَرْ
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Khutbah Jum'at: Realisasi Pasca Idul Adha; Jalan Sunyi Untuk Terus Berkarya
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Khutbah Idul Adha: Ibadah Kurban dan Kepedulian Kepada Sesama
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   253
Cara Nabi Ibrahim Menyelesaikan Persoalan Hidup
14 Mei 2026   Oleh : Sang Khatib   256
7 Golongan Mendapatkan Perlindungan Dari Allah
01 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91
Khutbah Jum'at Kontemporer: Menghidupkan Kembali Budaya Membaca
27 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   174
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3515
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3256