Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Efek Cubitan Iblis bagi Manusia


 Agama

Rabu , 25 Oktober 2023



Telah dibaca :  1267

Allah SWT menjadikan manusia sebagai Khalifah mendapat kritik dari Malaikat dan Iblis. Jika Malaikat secara terus terang menyampaikan argument penolakan, sedangkan Iblis “nggrundel” dalam hati, tapi penampilan wajah seperti baby face, sopan dan sangat lembut. Atas sikap tersebut Nabi Adam pun terlena oleh keindahan argumentasi Iblis.

Malaikat tidak setuju manusia sebagai Khalifah di Dunia. Alasanya sangat argumentatif, yaitu punya potensi melakukan kerusakan dan penumpahan darah. Dalam hal ini, Tuhan menerima alasannya. Sang Pencipta Alam Semesta membenarkan bahwa data-data ilmiah yang diberikan kepada-Nya adalah sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan jika melihat data-data sebelum Nabi Adam. Dari sini sebenarnya bisa dipahami bahwa kritik Malaikat merupakan wujud betapa dalam cinta nya kepada-Nya. Dalam hal ini, Allah sangat memahaminya. Itu sebabnya, Sang Khaliq menjelaskan bahwa ada rencana strategis sebagai blueprint pembangunan alam semesta yang telah dibuat oleh-Nya. Rencana pembangunan jangka panjang dunia yang bisa hanya manusia, sedangkan Malaikat dan Iblis tidak mampu.

Itu sebabnya, Allah swt memberikan pembuktian bahwa Adam yang akan diberikan tugas untuk menjadi khalifah lebih yu’la ‘alaihima. Ketika dites kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, Malaikat dan Iblis kalah. Malaikat sadar, dan memberi hormat kepada Adam. Tapi Iblis justru dendam. Demi ambisi besarnya, dia berikrar akan menghancurkan karir adam dan keturunannya. Allah SWT kemudian memberikan sifat ghofur untuk hamba-hamba yang melakukan kesalahan.

Dari sini anda bisa melihat bahwa manusia pada saat tertentu bisa berubah wataknya seperti Malaikat. Pada saat tertentu bisa berubah seperti Iblis. Kadang juga berpenampilan pada saat yang sama bisa Iblis dan Malaikat. Watak manusia kadang seperti daun-daunan. Ketika terkena angin ke barat, dia pun akan menari-nari ke barat, begitu juga sebaliknya. Meskipun demikian, saat tenang suasana, tenang juga posisi daun tersebut. lucunya, juga akan berubah lagi saat ada angin datang atau hujan turun.

Manusia tidak statis, tapi dinamis. Dia mutahayirun, selalu gampang mengalami kebingunan ketika menghadapi suatu persoalan. Kadang dalam memutuskan sesuatu persoalan, sering akal dikalahkan oleh nafsu. Entah itu persoalan keluarga, karir, pekerjaan dan lain-lain. sikap-sikap tersebut menimbulkan ekses yang beragam, ada yang menyenangkan ada juga yang menyedihkan.

Manusia adalah mahluk yang unik. Allah mengilustrasikan sebagai “ahsanitaqwim”, mahluk terseksi di dunia, terindah di dunia. Tidak ada yang paling seksi di Dunia kecuali manusia. Sudah banyak kisah manusia harus bertekuk lutut kepada mahluk yang namanya wanita. Bahkan dunia seisinya bisa dikorbankan hanya untuk wanita. Menangis bisa karena wanita, tertawa sendiri bisa karena wanita. Semangat hidup karena wanita, luntang-luntung tidak karuan juga karena wanita. Itulah kebenaran firman Allah bahwa manusia itu adalah ahsanitaqwim. Setelah wanita lalu berturut-turut manusia disibukan dengan persoalan keturunan, pangkat, prestasi, prestise, harta dan sejenisnya.

Meskipun demikian, ketika manusia mampu mengendalikan dorongan-dorongan nafsu yang merusak, maka akan menjadi status unggul sebagai qolbun salim. Hati berubah laksana lautan. Semua kotoran bisa saja masuk ke dalam nya; ada cacian, fitnah, teror, intimidasi, persekusi dan sejenisnya. Semua ini tidak menjadi air kemulyaan tidak menjadi keruh. Mungkin kadang berubah panas, atau gelombang yang cukup besar. Meskipun demikian, qolbun salim tidak terus-menerus dalam kondisi yang tidak menentu. Ia berlahan-lahan kembali menjadi tenang dan damai.

Qalbun salim seorang hamba terlihat bisa dipahami dari perkataan Aisyah R.A bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,”Pondasi sebuah rumah adalah dasarnya. Pondasi agama adalah pengenalana kepada Allah SWT, yakin dan akal yang teguh”. Perilaku qalbun salim menjadikan sang hamba kosong dari dirinya sendiri, Karena dia dilimpahi oleh dzikir kepada-Nya. Dengan demikian, tidak melihat apa pun selain Allah SWT, tidak pula musyahadah kepada selain Allah SWT. Sebagaimana seorang yang berakal berpaling kepada hati dan refleksi pemikirannya terhadap obyek pemikirannya, atau kondisi yang dihadapinya. Bagi Sang Arif, semata kembali kepada Tuhanya. Jika seseorang disibukkan dengan Tuhannya semata, maka dia tidak akan berpaling kepada hatinya sendiri.

Jika hati sudah diisi oleh cahaya-cahaya Tuhan, maka sudah tidak ada lagi rekayasa kemunafikan, kebencian, dan angkara murka ingin menjegal saudara sendiri atau menyakiti orang yang tidak sepaham dengan dirinya sendiri dengan cara-cara yang tidak benar. Sebab cahaya hati bagi orang-orang yang qalbun salim, telah hilang rasa kebencian kepada orang lain. Hatinya telah melimpah sifat-sifat Rahman dan Rahim. Sehingga semua menjadi terlihat indah. Sisi baik-buruk selalu saja hadir sebagai penguat mahabah kepada Allah SWT. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Titanic vs Jelatik
03 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   617

Habib Umar, Deddy Corbuzier dan Wajah Islam
23 Agustus 2023   Oleh : Imam Ghozali   1200

Rajab; Menyendiri untuk Memperbaiki Kwalitas Diri
14 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   403

2022; Kenangan dan Kenyataan
29 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   450

Rakerda MUI; Integrasi Subtantif dan Formatif
28 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   309

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871