
Allah SWT menjadikan manusia sebagai Khalifah
mendapat kritik dari Malaikat dan Iblis. Jika Malaikat secara terus terang
menyampaikan argument penolakan, sedangkan Iblis “nggrundel” dalam hati,
tapi penampilan wajah seperti baby face, sopan dan sangat lembut. Atas
sikap tersebut Nabi Adam pun terlena oleh keindahan argumentasi Iblis.
Malaikat tidak setuju manusia sebagai
Khalifah di Dunia. Alasanya sangat argumentatif, yaitu punya potensi melakukan
kerusakan dan penumpahan darah. Dalam hal ini, Tuhan menerima alasannya. Sang Pencipta
Alam Semesta membenarkan bahwa data-data ilmiah yang diberikan kepada-Nya
adalah sebuah kebenaran yang tidak terbantahkan jika melihat data-data sebelum Nabi
Adam. Dari sini sebenarnya bisa dipahami bahwa kritik Malaikat merupakan wujud betapa
dalam cinta nya kepada-Nya. Dalam hal ini, Allah sangat memahaminya. Itu
sebabnya, Sang Khaliq menjelaskan bahwa ada rencana strategis sebagai blueprint
pembangunan alam semesta yang telah dibuat oleh-Nya. Rencana pembangunan jangka
panjang dunia yang bisa hanya manusia, sedangkan Malaikat dan Iblis tidak
mampu.
Itu sebabnya, Allah swt memberikan
pembuktian bahwa Adam yang akan diberikan tugas untuk menjadi khalifah lebih yu’la
‘alaihima. Ketika dites kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, Malaikat
dan Iblis kalah. Malaikat sadar, dan memberi hormat kepada Adam. Tapi Iblis
justru dendam. Demi ambisi besarnya, dia berikrar akan menghancurkan karir adam
dan keturunannya. Allah SWT kemudian memberikan sifat ghofur untuk
hamba-hamba yang melakukan kesalahan.
Dari sini anda bisa melihat bahwa manusia
pada saat tertentu bisa berubah wataknya seperti Malaikat. Pada saat tertentu
bisa berubah seperti Iblis. Kadang juga berpenampilan pada saat yang sama bisa
Iblis dan Malaikat. Watak manusia kadang seperti daun-daunan. Ketika terkena
angin ke barat, dia pun akan menari-nari ke barat, begitu juga sebaliknya.
Meskipun demikian, saat tenang suasana, tenang juga posisi daun tersebut. lucunya,
juga akan berubah lagi saat ada angin datang atau hujan turun.
Manusia tidak statis, tapi dinamis. Dia mutahayirun,
selalu gampang mengalami kebingunan ketika menghadapi suatu persoalan. Kadang
dalam memutuskan sesuatu persoalan, sering akal dikalahkan oleh nafsu. Entah
itu persoalan keluarga, karir, pekerjaan dan lain-lain. sikap-sikap tersebut
menimbulkan ekses yang beragam, ada yang menyenangkan ada juga yang
menyedihkan.
Manusia adalah mahluk yang unik. Allah
mengilustrasikan sebagai “ahsanitaqwim”, mahluk terseksi di dunia,
terindah di dunia. Tidak ada yang paling seksi di Dunia kecuali manusia. Sudah
banyak kisah manusia harus bertekuk lutut kepada mahluk yang namanya wanita.
Bahkan dunia seisinya bisa dikorbankan hanya untuk wanita. Menangis bisa karena
wanita, tertawa sendiri bisa karena wanita. Semangat hidup karena wanita,
luntang-luntung tidak karuan juga karena wanita. Itulah kebenaran firman Allah
bahwa manusia itu adalah ahsanitaqwim. Setelah wanita lalu
berturut-turut manusia disibukan dengan persoalan keturunan, pangkat, prestasi,
prestise, harta dan sejenisnya.
Meskipun demikian, ketika manusia mampu
mengendalikan dorongan-dorongan nafsu yang merusak, maka akan menjadi status
unggul sebagai qolbun salim. Hati berubah laksana lautan. Semua kotoran
bisa saja masuk ke dalam nya; ada cacian, fitnah, teror, intimidasi, persekusi
dan sejenisnya. Semua ini tidak menjadi air kemulyaan tidak menjadi keruh. Mungkin
kadang berubah panas, atau gelombang yang cukup besar. Meskipun demikian, qolbun
salim tidak terus-menerus dalam kondisi yang tidak menentu. Ia berlahan-lahan
kembali menjadi tenang dan damai.
Qalbun salim seorang hamba terlihat bisa dipahami dari
perkataan Aisyah R.A bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,”Pondasi sebuah rumah
adalah dasarnya. Pondasi agama adalah pengenalana kepada Allah SWT, yakin dan
akal yang teguh”. Perilaku qalbun salim menjadikan sang hamba kosong
dari dirinya sendiri, Karena dia dilimpahi oleh dzikir kepada-Nya. Dengan
demikian, tidak melihat apa pun selain Allah SWT, tidak pula musyahadah
kepada selain Allah SWT. Sebagaimana seorang yang berakal berpaling kepada hati
dan refleksi pemikirannya terhadap obyek pemikirannya, atau kondisi yang
dihadapinya. Bagi Sang Arif, semata kembali kepada Tuhanya. Jika seseorang
disibukkan dengan Tuhannya semata, maka dia tidak akan berpaling kepada hatinya
sendiri.
Jika hati sudah diisi oleh cahaya-cahaya Tuhan,
maka sudah tidak ada lagi rekayasa kemunafikan, kebencian, dan angkara murka
ingin menjegal saudara sendiri atau menyakiti orang yang tidak sepaham dengan
dirinya sendiri dengan cara-cara yang tidak benar. Sebab cahaya hati bagi
orang-orang yang qalbun salim, telah hilang rasa kebencian kepada orang
lain. Hatinya telah melimpah sifat-sifat Rahman dan Rahim. Sehingga semua
menjadi terlihat indah. Sisi baik-buruk selalu saja hadir sebagai penguat mahabah
kepada Allah SWT.
Penulis : Imam Ghozali
Titanic vs Jelatik
03 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   617
Habib Umar, Deddy Corbuzier dan Wajah Islam
23 Agustus 2023   Oleh : Imam Ghozali   1200
Rajab; Menyendiri untuk Memperbaiki Kwalitas Diri
14 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   403
2022; Kenangan dan Kenyataan
29 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   450
Rakerda MUI; Integrasi Subtantif dan Formatif
28 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   309
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871