Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Titanic vs Jelatik


 Agama

Selasa , 03 Oktober 2023



Telah dibaca :  616

Pernahkan mendengar nama Titanic? Saya kira manusia di berbagai belahan dunia sudah mendengar kisah Kapal Laut terbesar dibuat pada  14 April 1912 oleh Lord Pirrie dan Thomas Andrews. Namun Kapal Laut yang disebut sebagai Maha Karya manusia pada Zaman nya berakhir tragis karena menabrak Maha Karya ciptaan Allah, yaitu Gunung Es. Kapal bocor, dan karam. Untuk mengenang peristiwa tersebut, Sang Sutradara James Cameron membuat film epik dengan judul "Titanic" pada tahun 1997-an(hampir bersamaan dengan tenggelamnya Kapal Orde Baru di Indonesia, dan masuk era kapal reformasi tahun 1998). Entah apakah ada hubungannya dengan berakhirnya perang dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet tahun 1991. Apakah juga ada hubungan AS mulai menjauhi Indonesia, lalu Kapal Orde Baru jebol dan tenggelam? Ah, terlalu menghayal. Film ya film. Masa sih ada hubungannnya. Tapi....sebenarnya penting juga lho diteliti. Sebab budaya juga bagian dari amanah konstitusi untuk mempromosikan cita-cita politik suatu bangsa dan negara bukan?

Kembali lagi ke Titanic. Film ini mengisahkan percintaan perbedaan kasta sepasang kekasih bernama Jack dan Rose ( diperankan oleh Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet). Kisah cinta yang mengharu biru. Menyentuh hati. Apalagi soundtrack musiknya berjudul “my heart will go on” yang dibawakan oleh Celine Dion. lagu tersebut membuat Penonton benar-benar tidak bisa menahan tetasan air mata. Mereka sangat mudah hanyut dalam permainan perasaan aliran cinta. Terhipnotis. Rasa emosional benar-benar tidak bisa ditahan. Bahkan bagi siapapun yang belum pernah melihat film ini, tapi dalam suasana yang sama, akan hanyut dalam suasana rindu yang mendalam. Jika tidak percaya,coba dech putar lagu tersebut ketika anda sedang merindukan kekasih hadir di sampingnya. Lagu tersebut sangat membantu anda secara pelan-pelan meneteskan air mata kerinduan. Ingin coba?

Berbeda dengan titanic yang memuat penumpang sekitar 2000 orang, Jelatik adalah Kapal Laut yang terbuat dari kayu berasal dari Kepulauan Meranti. Kapal ini memuat sekitar 300-350 penumpang. Jika dari kejauhan terlihat mirip Titanic. Wajar jika orang-orang menyebutnya kapal Titanic. Kapal yang sudah berusia cukup lama, melegenda, dan merakyat. Sebab, semua bisa naik kapal ini; mulai dari para pejabat, para pedagang dan masyarakat biasa.

Kapal Titanic menjadi legenda sepanjang sejarah karena film nya. ketika berbicara tentangnya, maka yang akan terbangun dalam memori adalah kisah cinta yang dianggap sebagai cinta sejati. Tidak mengenal kasta. Disitu ada nilai sebuah ketulusan. Sayangnya, tangisan air mata tidak dibarengi dengan pesan moral tentang pentingnya kesakralan cinta yang dibangun oleh nilai-nilai agama. Tapi, saya bisa mema’lumi dari latarbelakang pembuat film yang memang menganut madzab sekular.

Sedang Kapal Jelatik adalah wujud dari film kehidupan yang nyata. Ada kisah cinta sepasang kekasih, kisah cinta terhadap keluarga, pekerjaan, dan perjuangan untuk mempertahankan kehidupan di tengah gempuran persaingan hidup yang semakin keras.

Jika anda melihat Kapal Titanic yang terdiri dari beberapa tingkat, maka Kapal jelatik ini terdiri dari dua tingkat. Setiap tingkat ada tempat tidurnya. Model tempat tidurnya bertingkat. Mirip barak prajurit. Memanjang. Ada disebelah kanan-kiri. Sedangkan tengah nya seluas satu setengah meter tempat untuk lalu-lalang penumpang. Tidak ada kasur atau bantal. Jadi tidurnya beralaskan papan kayu. Makanya para penumpang yang sudah paham, biasanya sudah menyiapkan selimut atau bantal dari Rumah.

Jika di film Kapal Titanic, saya sebatas nonton Jack dan Rose lari kucing-kucingan menghindari kekasih Rose seorang bangsawan bernama Cal (diperankan oleh Caledon Nathan hocklye), maka di Kapal Jelatik saya duduk-duduk melihat orang lalu-lalang, naik-turun tangga dari lantai dua ke lantai dasar.

Saat saya duduk di lantai dasar dekat tangga, ada dua gadis cantik menuntun neneknya turun dari tangga. Hampir saja jatuh. Untung kedua gadis itu cekatan memegang tangan dan tubuh nenek tua tersebut. Belum lama berselang, turun lagi dua orang nenek-nenek dituntun oleh cucu laki-lakinya. Sama, sudah sangat udzur.

Saya duduk dekat penjual minuman. “Cappuccino Bang” kataku. Dia memberi minuman dan meletakan disampingku.

Para penumpang terus bersliweran. Ada yang jalan sempoyongan. Paling banyak ibu-ibu. Ada sepasang kekasih yang sedang asyik bergandengan tangan. Ada juga seorang laki-laki berjalan seperti robot; tangan dan kaki nya kaku. Dia berjalan pelan-pelan, lalu duduk disampingku. Terlihat sangat susah sekali untuk bisa duduk dengan benar. Pandangan mata terlihat kosong, dan mulutnya sulit untuk berbicara.

Tidak lama setelah dia duduk disampingku, ada seorang bocah laki-laki (sekitar berumur 13 tahun) datang mendekatiku. Dia  membawa wadah Botol Aqua kosong. Ternyata ingin mengambil Air di Galon yang berada di sampingku. Saya pun bertanya tujuanya dan dengan siapa dia naik Kapal Jelatik. “Ikut orang tua” katanya. Saya tanya lagi tujuan, dia pun menjawab ke Ruma Sakit. “Siapa yang sakit” tanya ku. Dia pun menjawab, “Adik sakit jantung”. Saya melihat seorang ibu menggendong seorang bayi,  sambil duduk di lantai kayu. Tidak ada senyum, tidak ada candaan. Anak nya yang masih bayi harus dibawa ke rumah sakit. Entah kenapa, saya seolah-olah menyesal bertanya kepada bocah kecil tadi. Pandangan ibu dan ayah nya telah membuat saya ikut merasakan penderitaan mereka.

Tentu saja, penumpang tidak semua membawa penderitaan atau kesedihan. di dalamnya sangat beragam. Ada yang sedang bahagia karena konon anak nya mau wisuda. Ada seorang ayah bermain dengan anak nya yang masih berumur satu tahun-an. Ibunya hanya senyum-senyum melihat tingkah anak nya sambil minum dan makan-makanan ringan. Ada juga di sebelah pojok, seorang pemuda duduk, dan ada seorang gadis yang tidur di pangkuanya. Sangat mesra. Dunia terasa milik berdua. Ada juga seorang pemuda yang kepala nya goyang-goyang karena menikmati lagu dari headset TWS.

Di Jelatik ada beragam kisah yang bisa dicatat dalam tulisan ini lebih benyak lagi. Namun, sebanyak kisah kehidupan sebenarnya hanya dua intisarinya; kebahagiaan dan kesedihan. Ada kebahagiaan yang menghasilkan ketenangan jiwa, Ada kebahagiaan yang berakhir dengan kegelapan jiwa. Begitu juga kesedihan. Ada kesedihan yang melahirkan ketajaman mata hati, Ada juga kesedihan yang menghancurkan hati.

Semua orang mempunyai jalan dan cara untuk melaluinya. Semua orang mempunyai potensi untuk melalui jalan yang benar atau salah. Tuhan telah memberikan akal pikiran untuk mengaktifkan kecerdasan intelektual agar bisa berfikir secara sehat untuk memutuskan dengan cara yang tepat. Tuhan juga memberikan hati kepada manusia untuk melihat secara jernih tentang status apa yang dilakukan apakah sesuai dengan perintah-Nya atau justru mendatangkan murka-Nya.

Kapal Jelatik mungkin tidak bisa mengalahkan ketenaran Kapal Titanic. Meskipun demikian, Kapal Jelatik telah mengajarkan kepada kita untuk “meraba” pada diri masing-masing. Kita ini sebenarnya kelompok nenek-nenek yang sudah sempoyongan jalannya, atau seorang pemuda yang jalan nya seperti robot yang hampir habis batere nya. Kita ini laksana seorang anak kecil yang belum punya dosa dan harus siap dengan segala ujian atau seorang ibu yang hari-harinya dihabiskan dengan kesedihan. Kita ini sebenarnya siapa?

Dari sini kita tahu, bahwa film terbaik di dunia ini adalah menonton diri sendiri dengan penuh kejujuran. Bukankah demikian?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efek Cubitan Iblis bagi Manusia
25 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   1267

Habib Umar, Deddy Corbuzier dan Wajah Islam
23 Agustus 2023   Oleh : Imam Ghozali   1200

Rajab; Menyendiri untuk Memperbaiki Kwalitas Diri
14 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   403

2022; Kenangan dan Kenyataan
29 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   450

Rakerda MUI; Integrasi Subtantif dan Formatif
28 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   309

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871