
Pernahkan mendengar nama Titanic? Saya kira manusia di berbagai belahan dunia sudah mendengar kisah Kapal Laut terbesar dibuat pada 14 April 1912 oleh Lord Pirrie dan Thomas Andrews. Namun Kapal Laut yang disebut sebagai Maha Karya manusia pada Zaman nya berakhir tragis karena menabrak Maha Karya ciptaan Allah, yaitu Gunung Es. Kapal bocor, dan karam. Untuk mengenang peristiwa tersebut, Sang Sutradara James Cameron membuat film epik dengan judul "Titanic" pada tahun 1997-an(hampir bersamaan dengan tenggelamnya Kapal Orde Baru di Indonesia, dan masuk era kapal reformasi tahun 1998). Entah apakah ada hubungannya dengan berakhirnya perang dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet tahun 1991. Apakah juga ada hubungan AS mulai menjauhi Indonesia, lalu Kapal Orde Baru jebol dan tenggelam? Ah, terlalu menghayal. Film ya film. Masa sih ada hubungannnya. Tapi....sebenarnya penting juga lho diteliti. Sebab budaya juga bagian dari amanah konstitusi untuk mempromosikan cita-cita politik suatu bangsa dan negara bukan?
Kembali lagi ke Titanic. Film ini mengisahkan percintaan perbedaan kasta sepasang
kekasih bernama Jack dan Rose ( diperankan oleh Leonardo Dicaprio dan Kate
Winslet). Kisah cinta yang mengharu biru. Menyentuh hati. Apalagi soundtrack
musiknya berjudul “my heart will go on” yang dibawakan oleh Celine Dion. lagu tersebut membuat Penonton benar-benar tidak bisa menahan tetasan air mata. Mereka sangat mudah hanyut dalam permainan perasaan aliran cinta. Terhipnotis. Rasa emosional benar-benar tidak bisa ditahan. Bahkan bagi siapapun yang belum pernah melihat film ini, tapi dalam
suasana yang sama, akan hanyut dalam suasana rindu
yang mendalam. Jika tidak percaya,coba dech putar lagu tersebut ketika anda
sedang merindukan kekasih hadir di sampingnya. Lagu tersebut sangat membantu
anda secara pelan-pelan meneteskan air mata kerinduan. Ingin coba?
Berbeda dengan titanic yang memuat
penumpang sekitar 2000 orang, Jelatik adalah Kapal Laut yang terbuat dari kayu
berasal dari Kepulauan Meranti. Kapal ini memuat sekitar 300-350 penumpang. Jika
dari kejauhan terlihat mirip Titanic. Wajar jika orang-orang menyebutnya kapal Titanic.
Kapal yang sudah berusia cukup lama, melegenda, dan merakyat. Sebab, semua bisa
naik kapal ini; mulai dari para pejabat, para pedagang dan masyarakat biasa.
Kapal Titanic menjadi legenda sepanjang
sejarah karena film nya. ketika berbicara tentangnya, maka yang akan terbangun
dalam memori adalah kisah cinta yang dianggap sebagai cinta sejati. Tidak
mengenal kasta. Disitu ada nilai sebuah ketulusan. Sayangnya, tangisan air mata
tidak dibarengi dengan pesan moral tentang pentingnya kesakralan cinta yang dibangun
oleh nilai-nilai agama. Tapi, saya bisa mema’lumi dari latarbelakang pembuat
film yang memang menganut madzab sekular.
Sedang Kapal Jelatik adalah wujud dari film
kehidupan yang nyata. Ada kisah cinta sepasang kekasih, kisah cinta terhadap
keluarga, pekerjaan, dan perjuangan untuk mempertahankan kehidupan di tengah
gempuran persaingan hidup yang semakin keras.
Jika anda melihat Kapal Titanic yang
terdiri dari beberapa tingkat, maka Kapal jelatik ini terdiri dari dua tingkat.
Setiap tingkat ada tempat tidurnya. Model tempat tidurnya bertingkat. Mirip
barak prajurit. Memanjang. Ada disebelah kanan-kiri. Sedangkan tengah nya
seluas satu setengah meter tempat untuk lalu-lalang penumpang. Tidak ada kasur
atau bantal. Jadi tidurnya beralaskan papan kayu. Makanya para penumpang yang
sudah paham, biasanya sudah menyiapkan selimut atau bantal dari Rumah.
Jika di film Kapal Titanic, saya sebatas
nonton Jack dan Rose lari kucing-kucingan menghindari kekasih Rose seorang
bangsawan bernama Cal (diperankan oleh Caledon Nathan hocklye), maka di Kapal
Jelatik saya duduk-duduk melihat orang lalu-lalang, naik-turun tangga dari
lantai dua ke lantai dasar.
Saat saya duduk di lantai dasar dekat
tangga, ada dua gadis cantik menuntun neneknya turun dari tangga. Hampir saja
jatuh. Untung kedua gadis itu cekatan memegang tangan dan tubuh nenek tua
tersebut. Belum lama berselang, turun lagi dua orang nenek-nenek dituntun oleh
cucu laki-lakinya. Sama, sudah sangat udzur.
Saya duduk dekat penjual minuman. “Cappuccino
Bang” kataku. Dia memberi minuman dan meletakan disampingku.
Para penumpang terus bersliweran. Ada yang
jalan sempoyongan. Paling banyak ibu-ibu. Ada sepasang kekasih yang sedang
asyik bergandengan tangan. Ada juga seorang laki-laki berjalan seperti robot;
tangan dan kaki nya kaku. Dia berjalan pelan-pelan, lalu duduk disampingku. Terlihat
sangat susah sekali untuk bisa duduk dengan benar. Pandangan mata terlihat
kosong, dan mulutnya sulit untuk berbicara.
Tidak lama setelah dia duduk disampingku, ada
seorang bocah laki-laki (sekitar berumur 13 tahun) datang mendekatiku. Dia membawa wadah Botol Aqua kosong. Ternyata
ingin mengambil Air di Galon yang berada di sampingku. Saya pun bertanya
tujuanya dan dengan siapa dia naik Kapal Jelatik. “Ikut orang tua” katanya.
Saya tanya lagi tujuan, dia pun menjawab ke Ruma Sakit. “Siapa yang sakit”
tanya ku. Dia pun menjawab, “Adik sakit jantung”. Saya melihat seorang ibu menggendong seorang bayi, sambil duduk di lantai
kayu. Tidak ada senyum, tidak ada candaan. Anak nya yang masih bayi harus
dibawa ke rumah sakit. Entah kenapa, saya seolah-olah menyesal bertanya kepada
bocah kecil tadi. Pandangan ibu dan ayah nya telah membuat saya ikut merasakan
penderitaan mereka.
Tentu saja, penumpang tidak semua membawa
penderitaan atau kesedihan. di dalamnya sangat beragam. Ada yang sedang bahagia
karena konon anak nya mau wisuda. Ada seorang ayah bermain dengan anak nya yang
masih berumur satu tahun-an. Ibunya hanya senyum-senyum melihat tingkah anak
nya sambil minum dan makan-makanan ringan. Ada juga di sebelah pojok, seorang
pemuda duduk, dan ada seorang gadis yang tidur di pangkuanya. Sangat mesra. Dunia
terasa milik berdua. Ada juga seorang pemuda yang kepala nya goyang-goyang
karena menikmati lagu dari headset TWS.
Di Jelatik ada beragam kisah yang bisa
dicatat dalam tulisan ini lebih benyak lagi. Namun, sebanyak kisah kehidupan
sebenarnya hanya dua intisarinya; kebahagiaan dan kesedihan. Ada kebahagiaan
yang menghasilkan ketenangan jiwa, Ada kebahagiaan yang berakhir dengan
kegelapan jiwa. Begitu juga kesedihan. Ada kesedihan yang melahirkan ketajaman
mata hati, Ada juga kesedihan yang menghancurkan hati.
Semua orang mempunyai jalan dan cara untuk
melaluinya. Semua orang mempunyai potensi untuk melalui jalan yang benar atau
salah. Tuhan telah memberikan akal pikiran untuk mengaktifkan kecerdasan
intelektual agar bisa berfikir secara sehat untuk memutuskan dengan cara yang
tepat. Tuhan juga memberikan hati kepada manusia untuk melihat secara jernih
tentang status apa yang dilakukan apakah sesuai dengan perintah-Nya atau justru
mendatangkan murka-Nya.
Kapal Jelatik mungkin tidak bisa
mengalahkan ketenaran Kapal Titanic. Meskipun demikian, Kapal Jelatik telah
mengajarkan kepada kita untuk “meraba” pada diri masing-masing. Kita ini
sebenarnya kelompok nenek-nenek yang sudah sempoyongan jalannya, atau seorang
pemuda yang jalan nya seperti robot yang hampir habis batere nya. Kita ini laksana
seorang anak kecil yang belum punya dosa dan harus siap dengan segala ujian
atau seorang ibu yang hari-harinya dihabiskan dengan kesedihan. Kita ini
sebenarnya siapa?
Dari sini kita tahu, bahwa film terbaik di
dunia ini adalah menonton diri sendiri dengan penuh kejujuran. Bukankah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
Efek Cubitan Iblis bagi Manusia
25 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   1267
Habib Umar, Deddy Corbuzier dan Wajah Islam
23 Agustus 2023   Oleh : Imam Ghozali   1200
Rajab; Menyendiri untuk Memperbaiki Kwalitas Diri
14 Februari 2023   Oleh : Imam Ghozali   403
2022; Kenangan dan Kenyataan
29 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   450
Rakerda MUI; Integrasi Subtantif dan Formatif
28 Desember 2022   Oleh : Imam Ghozali   309
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871