Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

12 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Main Layang-Layang, Ketika Putus Tidak Akan Kembali



Jumat , 23 Januari 2026



Telah dibaca :  384

Ketika saya melihat anak laki-laki ku yang masih kelas 2 SD-Muhammad Faiz Artanabil- membuat layang-layang, saya teringat masa-masa seumurannya. Ada kesukaan membuat layang-layang atau main layang-layang. Waktu seolah-olah hanya untuk bermain. Tidak mengenal siang maupun malam. Selalu saja ingin bermain. Berhentinya ketika orang tua menyuruhnya sambil marah-marah kepada anaknya.

Waktu adalah bermain, bukan belajar pada seumuran anak ku. Belajar sebatas tugas, tapi main penuh totalitas. Bahkan dalam hati rasanya agar malam cepat berlalu. Ketika malam telah berganti pagi, ingin juga rasanya pagi cepat berlalu. Sebab pagi hari adalah waktu belajar. Ketika berada di ruang sekolah, rasanya pun ingin cepat-cepat berlalu dan cepat-cepat pulang. Ketika terdengar suara lonceng berbunyi bertanda selesai waktu belajar, maka saya pun bergegas pulang dan berlari-lari.

Era 80-an dan 90-an Sekolah Dasar-SD-Madrasah Ibtidaiyah-MI-masih sedikit jumlahnya. Satu kecamatan terkadang hanya ada dua sekolah SD. Hal sama juga Sekolah Lanjut Tingkat Pertama seperti SMP atau MTS. Sedikitnya sekolah waktu itu yang saya rasakan karena masih minim sumber daya manusia nya-SDM. Guru-guru ku dulu terkadang hanya tamat SLTA atau pendidikan guru sejenis Pendidikan Guru Agama-PGA atau Sekolah Pendidikan Guru-SPG.

Masa-masa itu belum memahami pentingnya pendidikan. Era tersebut anak-anak seusia ku lebih memilih bekerja membantu orang tua dan/atau menikah- dijodohkan orang tua. Setelah selesai Sekolah Dasar atau SLTP, mereka lebih memilih belajar bekerja baik menjadi petani atau pedagang. Ketika sudah ada sedikit uang terkumpul, mereka menikah. Jadi, saat mereka masuk usia sekolah di tingkat SLTA, rata-rata sudah mempunyai anak.

Bahkan ada di satu desa rata-rata anak perempuan yang sudah tamat SD langsung menikah. Kebiasaan yang kemudian menjadi tradisi di desa tersebut. artinya rata-rata masih berumur 14 tahun sudah menikah. Meskipun sudah ada Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974 tentang persyaratan usia minimal 16 tahun. Tapi ini kurang berlaku di desa-desa dan juga di daerah-daerah yang kehidupan agama nya masih sangat kental. Rata-rata menikah tidak tercatat. Hingga akhirnya, administrasi berantakan. Termasuk data kelahiran anak-anaknya. Itu sebabnya saat anak-anak nya sekolah tidak mempunyai biodata. Mereka diminta biodata ketika sudah memasuki kelas 6 SD. Itu sebabnya, sering antara nama di Ijazah, KTP, dan Surat Nikah sering sedikit berbeda-beda. Seperti contoh nama Imam Ghozali, ada yang menulis Imam Gozali, ada juga Imam Gazali ada juga yang menulis Imam Ghazali. Kekeliruan yang terus berlangsung hingga saat sekarang ini.

Saya kira wajar, jika umur seusia tersebut sudah menikah. Sifat-sifat kekanakan tentu saja masih melekat. Kesukaan mainan seperti main layang-layang masih ada.Terkadang mereka main bareng layang-layang dengan anak-anak nya. terlihat mereka seperti kakak beradik. Padahal ayah dan anak.

Apakah rendahnya pendidikan menyebabkan mereka mengalami persoalan lebih serius pada persoalan-persoalan seperti Kesehatan, pendidikan dan ekonomi? Tentu saja ada. bahkan masyarakat yang mempunyai pendidikan sudah cukup baik pun berjibun persoalan. Tidak serta merta pendidikan baik, kualitas ekonomi nya juga baik.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Esther Duflo dari AS yang mendapatkan hadiah nobel dalam bidang ekonomi. Ia melakukan penelitian sumbangsih lulusan SD Inpres dalam hubungannya dengan ekonomi masyarakat.

Penelitian fokus pada periode 1973-1978. Hasilnya bahwa lulusan SD Inpres telah berhasil membantu mengentaskan kemiskinan.

Anda boleh menolak atau menerima hasil penelitian tersebut. tidak mengapa. Penelitian ilmiah memang selalu menghasilkan kesimpulan berbeda-beda akibat dari perbedaan metodologi. Semua sama-sama benar dengan bendekatan yang berbeda.

Saya dan teman-teman seusiaku saat itu yang suka main layang-layang memang terkesan seperti menghabiskan waktu tidak ada guna. Saat tidak sekolah atau saat hari libur datang, anak-anak seusiaku saat itu sudah disibukan membuat layang-layang. Kami harus mencari bambu dan memilihnya mana bambu yang terbaik untuk membuat rangka layang-layang. Walhasil, anak-anak SD sudah bisa membuat layang-layang hasil karya sendiri.

Hari ini saya-mungkin juga anda- akan merindukan masa dimana anak-anak bisa menyatu dengan alam. Mereka bisa bermain dan membuat karya. Terlihat seperti main-main kurang berguna. Namun justru dari sini proses pembentukan kemandirian anak terbangun dengan baik. Mereka sudah terbentuk kesiapan menerima kondisi alam dalam bentuk apapun. Sehingga jiwa mereka tangguh dan kuat menghadapi hidup hingga saat mereka menikah masih diusia muda. Dengan kondisi ekonomi pas-pasan dan pendidikan rendah, mereka bisa memahami hakikat kehidupan.

Sekarang saya-mungkin juga anda- telah mulai kehilangan zaman layang-layang. Hari ini anak-anak kita telah disibukan oleh permainan apa yang disebut dengan HP atau Android atau Iphone. Benda komunikasi yang menyuguhkan permainan anak-anak, video, tik-tok, game dan sejenisnya. Anak-anak kita tidak bermain di sawah, di pinggir jalan, atau di tegalan yang terik terkena panas sinar matahari. Kini anak-anak kita memencet HP dan melihat video atau permainan game di rumah dan dikamar-kamar. Dua contoh permainan lintas zaman yang kontradiktif.

Jika dulu, anak-anak sudah bisa menyatu dan bersahabat dengan alam. Kini anak-anak sudah mulai tidak mengenal alam tempat kehidupan nya sendiri. mereka asing di tempat tinggal sendiri. mereka lebih mengenal Doraemon, sincan daripada sawah dan tegalan. Mereka lebih mengenal game daripada layang-layang. Mereka bahagia dalam bayang-bayang keterasingan dan penderitaan sepiritual.

Sungguh sangat menyedihkan jika ingat masa lalu dan melihat realita masa kini. Ingin rasanya kembali lagi pada masa main layang-layang. Namun apa hendak di kata, layang-layang telah putus talinya. Ia telah hilang ditelan bumi. Tidak akan kembali lagi masa yang indah itu.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6598


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4836