
Ketika saya melihat anak laki-laki ku yang masih kelas 2 SD-Muhammad
Faiz Artanabil- membuat layang-layang, saya teringat masa-masa seumurannya. Ada
kesukaan membuat layang-layang atau main layang-layang. Waktu seolah-olah hanya
untuk bermain. Tidak mengenal siang maupun malam. Selalu saja ingin bermain.
Berhentinya ketika orang tua menyuruhnya sambil marah-marah kepada anaknya.
Waktu adalah bermain, bukan belajar pada seumuran anak ku. Belajar
sebatas tugas, tapi main penuh totalitas. Bahkan dalam hati rasanya agar malam
cepat berlalu. Ketika malam telah berganti pagi, ingin juga rasanya pagi cepat
berlalu. Sebab pagi hari adalah waktu belajar. Ketika berada di ruang sekolah,
rasanya pun ingin cepat-cepat berlalu dan cepat-cepat pulang. Ketika terdengar
suara lonceng berbunyi bertanda selesai waktu belajar, maka saya pun bergegas
pulang dan berlari-lari.
Era 80-an dan 90-an Sekolah Dasar-SD-Madrasah Ibtidaiyah-MI-masih
sedikit jumlahnya. Satu kecamatan terkadang hanya ada dua sekolah SD. Hal sama
juga Sekolah Lanjut Tingkat Pertama seperti SMP atau MTS. Sedikitnya sekolah
waktu itu yang saya rasakan karena masih minim sumber daya manusia nya-SDM.
Guru-guru ku dulu terkadang hanya tamat SLTA atau pendidikan guru sejenis Pendidikan
Guru Agama-PGA atau Sekolah Pendidikan Guru-SPG.
Masa-masa itu belum memahami pentingnya pendidikan. Era tersebut
anak-anak seusia ku lebih memilih bekerja membantu orang tua dan/atau menikah- dijodohkan orang tua. Setelah selesai Sekolah
Dasar atau SLTP, mereka lebih memilih belajar bekerja baik menjadi petani atau
pedagang. Ketika sudah ada sedikit uang terkumpul, mereka menikah. Jadi, saat
mereka masuk usia sekolah di tingkat SLTA, rata-rata sudah mempunyai anak.
Bahkan ada di satu desa rata-rata anak perempuan yang sudah tamat SD langsung
menikah. Kebiasaan yang kemudian menjadi tradisi di desa tersebut. artinya
rata-rata masih berumur 14 tahun sudah menikah. Meskipun sudah ada
Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974 tentang persyaratan usia minimal 16
tahun. Tapi ini kurang berlaku di desa-desa dan juga di daerah-daerah yang
kehidupan agama nya masih sangat kental. Rata-rata menikah tidak tercatat. Hingga
akhirnya, administrasi berantakan. Termasuk data kelahiran anak-anaknya. Itu sebabnya
saat anak-anak nya sekolah tidak mempunyai biodata. Mereka diminta biodata
ketika sudah memasuki kelas 6 SD. Itu sebabnya, sering antara nama di Ijazah, KTP,
dan Surat Nikah sering sedikit berbeda-beda. Seperti contoh nama Imam Ghozali,
ada yang menulis Imam Gozali, ada juga Imam Gazali ada juga yang menulis Imam Ghazali.
Kekeliruan yang terus berlangsung hingga saat sekarang ini.
Saya kira wajar, jika umur seusia tersebut sudah menikah. Sifat-sifat
kekanakan tentu saja masih melekat. Kesukaan mainan seperti main layang-layang
masih ada.Terkadang mereka main bareng layang-layang dengan anak-anak nya.
terlihat mereka seperti kakak beradik. Padahal ayah dan anak.
Apakah rendahnya pendidikan menyebabkan mereka mengalami persoalan lebih
serius pada persoalan-persoalan seperti Kesehatan, pendidikan dan ekonomi? Tentu
saja ada. bahkan masyarakat yang mempunyai pendidikan sudah cukup baik pun berjibun
persoalan. Tidak serta merta pendidikan baik, kualitas ekonomi nya juga baik.
Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Esther Duflo dari AS yang
mendapatkan hadiah nobel dalam bidang ekonomi. Ia melakukan penelitian
sumbangsih lulusan SD Inpres dalam hubungannya dengan ekonomi masyarakat.
Penelitian fokus pada periode 1973-1978. Hasilnya bahwa lulusan SD Inpres
telah berhasil membantu mengentaskan kemiskinan.
Anda boleh menolak atau menerima hasil penelitian tersebut. tidak
mengapa. Penelitian ilmiah memang selalu menghasilkan kesimpulan berbeda-beda
akibat dari perbedaan metodologi. Semua sama-sama benar dengan bendekatan yang
berbeda.
Saya dan teman-teman seusiaku saat itu yang suka main layang-layang
memang terkesan seperti menghabiskan waktu tidak ada guna. Saat tidak sekolah
atau saat hari libur datang, anak-anak seusiaku saat itu sudah disibukan
membuat layang-layang. Kami harus mencari bambu dan memilihnya mana bambu yang terbaik
untuk membuat rangka layang-layang. Walhasil, anak-anak SD sudah bisa membuat
layang-layang hasil karya sendiri.
Hari ini saya-mungkin juga anda- akan merindukan masa dimana anak-anak
bisa menyatu dengan alam. Mereka bisa bermain dan membuat karya. Terlihat seperti
main-main kurang berguna. Namun justru dari sini proses pembentukan kemandirian
anak terbangun dengan baik. Mereka sudah terbentuk kesiapan menerima kondisi
alam dalam bentuk apapun. Sehingga jiwa mereka tangguh dan kuat menghadapi
hidup hingga saat mereka menikah masih diusia muda. Dengan kondisi ekonomi
pas-pasan dan pendidikan rendah, mereka bisa memahami hakikat kehidupan.
Sekarang saya-mungkin juga anda- telah mulai kehilangan zaman
layang-layang. Hari ini anak-anak kita telah disibukan oleh permainan apa yang
disebut dengan HP atau Android atau Iphone. Benda komunikasi yang menyuguhkan
permainan anak-anak, video, tik-tok, game dan sejenisnya. Anak-anak kita tidak
bermain di sawah, di pinggir jalan, atau di tegalan yang terik terkena panas sinar
matahari. Kini anak-anak kita memencet HP dan melihat video atau permainan game
di rumah dan dikamar-kamar. Dua contoh permainan lintas zaman yang kontradiktif.
Jika dulu, anak-anak sudah bisa menyatu dan bersahabat dengan alam. Kini
anak-anak sudah mulai tidak mengenal alam tempat kehidupan nya sendiri. mereka
asing di tempat tinggal sendiri. mereka lebih mengenal Doraemon, sincan
daripada sawah dan tegalan. Mereka lebih mengenal game daripada layang-layang. Mereka
bahagia dalam bayang-bayang keterasingan dan penderitaan sepiritual.
Sungguh sangat menyedihkan jika ingat masa lalu dan melihat realita masa
kini. Ingin rasanya kembali lagi pada masa main layang-layang. Namun apa hendak
di kata, layang-layang telah putus talinya. Ia telah hilang ditelan bumi. Tidak
akan kembali lagi masa yang indah itu.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6598
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4853
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4836