Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Materi Kuliah: Zakat Mal



Sabtu , 19 April 2025



Telah dibaca :  233

Zakat mal atau zakat harta benda, telah difardhukan allah sejak permulaan islam, sebelum nabi s.a.w berhijrah ke kota Madinah. Pada mulanya zakat difardlukan tanpa ditentukan kadarnya dan tanpa pula ditrangkan dengan jelas harta-harta yang diberikan zakatnya. Syara’ hanya menyuruh mengeluarkan zakat. Banyak sedikitnya terserah kepada kemauan dan keridlaan para penzakat sendiri. Kondisi ini berjalan hingga tahun kedua dari hijrah. Mereka yang menerimanya hanya dua golongan  yaitu fakir dan miskin.

Q.S. Al-Baqarah ([2]: 271) sebagai berikut:

اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

artinya:

jika kamu memberi sedekahmu, maka itulah pekerjaan yang sebaik-baiknya. Dan jika kamu menyembunyikan pemberian itu, kamu serahkan kepada orang faqir, maka itulah yang lebih baik bagimu.

Hadist nabi Muhammad:

اِنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَدُ مِنْ اَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَي فُقَرَائِهِمْ

Artinya:

Sesungguhnya Allah memfardhukan atas mereka mengeluarkan zakat, yang diambil dari orang kaya, lalu diberikan kepada orang-orang fakir.

Pada tahun kesembilan hijrah turun Q.S. At-Taubah ayat 60 tentang pembagian delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagai berikut:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۝٦٠

Artinya:

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Kedudukan zakat dalam islam sebagai berikut:

Cukup nishab dan haul

Syarat harta mendapatkan kewajiban zakat apabila telah memenuhi syarat sebagai berikut: pertama, sudah cukup Nishab. Kedua, jika harti itu telah cukup setahun dimiliki. Jadi satu nishab dan satu tahun menjadi syarat harta tersebut terkena kewajiban zakat.

Harta yang didapat di tengah-tengah tahun dinamai “mal mustafad”, dengan jalan membeli, hibah, waqaf dan sepertinya dan yang didapati itu bukan dari jenis harta yang telah ada, tiadalah dikumpukan yang didapati itu kepada haarta yang telah ada dalam menghitung tahun, hanya digabung kepada yang telah ada dalam soal nishab.

Apabila ada pada seseorang binatang senishab banyaknya, maka di tengah-tengah tahun beranak binatang itu hingga sampai nishab yang kedua, maka anak-anak kambing yang didapati di tengah-tengah tahun itu, digabungkan kepada induk-induknya dan dihitunglah besertanya. Apabila telah sampai tahun induk-induk itu, dikeluarkan zakat dari padanya dan dari pada induknya, karena mengingat perktaan Umar kepada amilnya di Thaif, Sufyan ibn Abdillah Ats Tsaqafly, yang diriwayatkan Malik, yaitu: “Hitunglah terhadap mereka anak-anak Binatang yang digembalakan oleh penggembalanya”.

Apabila telah didapati sebab wajib zakat, yaitu cukup senishab harta, maka bolehlah baginya mengeluarkan zakatnya walaupun syaratnya belum ada, yakni belum cukup setahun.

Apabila seseorang tiada memberi zakat beberapa tahun lamanya, maka wajiblah atasnya mengeluarkan zakat untuk tahun-tahun itu, bai kia telah mengetahui wajib berzakat mapun tidak, bai kia di negara Islam maupun bukan.

Membagi zakat oleh yang berzakat sendiri

Tak ada perselisihan tentang kebolehan membagi zakat harta batin oleh yang berzakat sendiri, apabila hal itu diserahkan kepadanya oleh yang berwajib.

Adapun tentang tentang zakat harta yang nyata, maka menurut Madzhab Jadid Asy-Syafi’i boleh juga dibagi sendiri oleh yang berzakat jika tiada dimintanya oleh penguasa dan menuruti madzhab qadimnya, tidak boleh dibagi sendiri, wajib diberikan kepada penguasa; dan telah diterangkan bahwa jika ia bagi sendiri zakat yang nyata, boleh penguasa meminta ganti dan wajib digantinya.

Ruang Diskusi

Bagaimana pandangan kamu tentang kebiasaan membagi zakat fitrah yang dilaksanakan di masjid-masjid dan di mushola-mushola. !



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85

Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93

Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   157

Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344

Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   385

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872