
Zakat mal atau zakat harta benda, telah difardhukan
allah sejak permulaan islam, sebelum nabi s.a.w berhijrah ke kota Madinah. Pada
mulanya zakat difardlukan tanpa ditentukan kadarnya dan tanpa pula ditrangkan
dengan jelas harta-harta yang diberikan zakatnya. Syara’ hanya menyuruh
mengeluarkan zakat. Banyak sedikitnya terserah kepada kemauan dan keridlaan
para penzakat sendiri. Kondisi ini berjalan hingga tahun kedua dari hijrah. Mereka yang menerimanya hanya dua golongan yaitu fakir dan miskin.
Q.S. Al-Baqarah ([2]: 271) sebagai berikut:
اِنْ تُبْدُوا
الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ
فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ
بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
artinya:
jika kamu memberi sedekahmu, maka itulah
pekerjaan yang sebaik-baiknya. Dan jika kamu menyembunyikan pemberian itu, kamu
serahkan kepada orang faqir, maka itulah yang lebih baik bagimu.
Hadist nabi Muhammad:
اِنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً
تُؤْخَدُ مِنْ اَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَي فُقَرَائِهِمْ
Artinya:
Sesungguhnya Allah memfardhukan atas mereka
mengeluarkan zakat, yang diambil dari orang kaya, lalu diberikan kepada
orang-orang fakir.
Pada tahun kesembilan hijrah turun Q.S. At-Taubah
ayat 60 tentang pembagian delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagai
berikut:
اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ
لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ
قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ
السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ٦٠
Artinya:
Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk
orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang
dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk
(membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk
orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai
kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Kedudukan zakat dalam islam sebagai
berikut:
Cukup nishab dan haul
Syarat harta mendapatkan kewajiban zakat
apabila telah memenuhi syarat sebagai berikut: pertama, sudah cukup Nishab.
Kedua, jika harti itu telah cukup setahun dimiliki. Jadi satu nishab dan satu
tahun menjadi syarat harta tersebut terkena kewajiban zakat.
Harta yang didapat di tengah-tengah tahun
dinamai “mal mustafad”, dengan jalan membeli, hibah, waqaf dan
sepertinya dan yang didapati itu bukan dari jenis harta yang telah ada, tiadalah
dikumpukan yang didapati itu kepada haarta yang telah ada dalam menghitung
tahun, hanya digabung kepada yang telah ada dalam soal nishab.
Apabila ada pada seseorang binatang senishab banyaknya,
maka di tengah-tengah tahun beranak binatang itu hingga sampai nishab yang
kedua, maka anak-anak kambing yang didapati di tengah-tengah tahun itu,
digabungkan kepada induk-induknya dan dihitunglah besertanya. Apabila telah
sampai tahun induk-induk itu, dikeluarkan zakat dari padanya dan dari pada
induknya, karena mengingat perktaan Umar kepada amilnya di Thaif, Sufyan ibn
Abdillah Ats Tsaqafly, yang diriwayatkan Malik, yaitu: “Hitunglah terhadap
mereka anak-anak Binatang yang digembalakan oleh penggembalanya”.
Apabila telah didapati sebab wajib zakat, yaitu cukup senishab
harta, maka bolehlah baginya mengeluarkan zakatnya walaupun syaratnya belum
ada, yakni belum cukup setahun.
Apabila seseorang tiada memberi zakat
beberapa tahun lamanya, maka wajiblah atasnya mengeluarkan zakat untuk
tahun-tahun itu, bai kia telah mengetahui wajib berzakat mapun tidak, bai kia di
negara Islam maupun bukan.
Membagi zakat oleh yang berzakat
sendiri
Tak ada perselisihan tentang kebolehan membagi
zakat harta batin oleh yang berzakat sendiri, apabila hal itu diserahkan
kepadanya oleh yang berwajib.
Adapun tentang tentang zakat harta yang
nyata, maka menurut Madzhab Jadid Asy-Syafi’i boleh juga dibagi sendiri oleh
yang berzakat jika tiada dimintanya oleh penguasa dan menuruti madzhab qadimnya,
tidak boleh dibagi sendiri, wajib diberikan kepada penguasa; dan telah
diterangkan bahwa jika ia bagi sendiri zakat yang nyata, boleh penguasa meminta
ganti dan wajib digantinya.
Ruang Diskusi
Bagaimana pandangan kamu tentang kebiasaan
membagi zakat fitrah yang dilaksanakan di masjid-masjid dan di mushola-mushola.
!
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85
Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   157
Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344
Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   385
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872