
Saya tidak tahu situasi tahun 1974. Apakah
itu tahun kelahiranku. Bisa jadi iya, bisa jadi sebelum tahun itu, bisa jadi
setelah tahun itu. Saya tidak tahu persis. Namun saya masih ingat. Pada tahun
1987, wali kelas 6 MI (Madrasah Ibtidaiyah)-setingkat Sekolah Dasar/SD-meminta
kepada seluruh murid kelas 6 agar mengumpulkan biodata.
Setelah pulang sekolah, saya langsung
menemui biyung-ibu sebuah panggilan khas orang banyumas kepada ibunya
dari masyarakat biasa. Ada panggilan selain biyung yaitu mama dan
ibu. Panggilan terakhir biasanya untuk kelompok yang dianggap priyayi dan orang
terpandang-dan mengatakan kepadanya bahwa wali kelas meminta biodata ku.
Biyung ku tidak begitu merespon. Ia tidak begitu memahami
arti biodata. Biyung ku seorang petani. Hari-harinya sering ke sawah.
Saat usia sudah mulai tua, ia lebih banyak berada di rumah. Kebetulan di rumah
ada home industri, berupa kerajinan pembuatan keset dari sabut kelapa dan dari
kain. Setelah cukup banyak, keset tersebut djual di kota Yogyakarta oleh
anak-anak nya.
Anak-anak biyung ku cukup banyak.
Ada Mas Sulhan, Mas Mastur, Mas Imam Mahdi, Mas Madzkur, Mas Muhaimin, Yayu
Hikmah dan Yayu Siti Huriyah. Dari semua itu, yang sekolah di tingkat PGA ada
dua yaitu Mas Madzkur dan Yayu Siti Huriyah. Kemudian hari keduanya pun menjadi
pns. Yayu hikmah selalu di rumah menjaga biyunge. Lainnya banyak yang
belajar ilmu agama-nyantri- di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi Asuhan
K.H. Mukhtar Syafa’at.
Selesai dari pesantren Mas Sulhan menikah
dengan ibu kholifah seorang putra kyai dan sekaligus ia seorang PNS guru SD.
Sedangkan kegiatan Mas Sulhan yaitu mengajar ilmu agama di mushola mertua yang
tidak jauh dari rumah nya. Siang hari pergi ke Sawah. Jika pas off tidak
ada kegiatan, ia suka ke rumah biyunge sambil membawa majalan kemenag. Saya
lupa nama nya. tapi saya sering melihat nya dan tidak membaca. Saat itu, saya
belum begitu pandai tulis-baca. Terlambat. Saya SD belum bisa membaca dan
menulis. Berbeda anak-anak sekarang, SD kelas 1 sudah pandai membaca huruf
latin dan iqra.
Mas Mastur, Mas Mahdi dan Mas Muhaimin
memilih wiraswasta. Ketiga ini yang sering jualan kebutuhan Rumah Tangga di
Yogyakarta. Barang-barang yang sering dibawa yaitu Keset, Sapu, Korok WC dan Sikat
Lantai. Sekali membawa cukup banyak, satu truk. Di tengah-tengah antara
gulungan ikatan keset di beri ruang untuk tempat duduk. Keset bagian atas
ditutup terpal dari plastic. Jika ada pemeriksaan, biasanya hanya bagian
belakang dan tidak sampai ke bagian tengah. sehingga saya selalu aman dari
pantauan polisi.
Kembali lagi pada persoalan biodataku yang
belum selesai. biyung ku memerintah Mas Muhaimin untuk membuatkan nya.
saya masih ingat. Mas Muhaimin memerintahkan ku untuk mengambil pena dan buku
tulis. Buku tulis yang sampulnya masih berwarna biru polos. Setelah mengambil
satu lembar kertas, ia langsung menulis biodata seadanya. Nama, tanggal lahir,
dan nama ayah. Akhirnya saya tercatat tanggal kelahiranku adalah 1 Januari
1974. Nama ayah adalah asy’ari. Data ini yang diberikan kepada wali kelas. Nama
dan tanggal lahir ini juga hingga kini menjadi acuan seluruh administrasiku.
Setelah bertambah umur-sudah masuk MTs
(Madrasah Tsanawiyah)-saya mulai mengerti asli orang tua ku. Ayah ku bukan Asy’ari,
tapi bapak Munajat. Ibuku juga bukan ibu Tinjun, tapi ibu Ainiyatun. Nama
Asy’ari dan Tinjun adalah Pak De dan Mbdok De ku. mbok De Tinjun kakak perempuan
bapak ku. Karena sejak kecil-sekitar umur 5 bulan-saya sudah dirawat oleh Mbok
De. Jadi saya menyangka, Mbok De adalah ibuku. Sampai tamat sekolah SLTA, sebagian
teman-teman ku belum mengetahui identitas orang tua ku. bahkan ada teman ku
baru mengetahui identitas orang tua ku setelah berjalan 49 tahun.
Namun karena dari pertama administrasi saat
di MI selalu menggunakan nama Asy’ari, hingga kini tidak dirubah-rubah. Apalagi
sejak kecil hingga SLTA, saya selalu tinggal di rumah mbok de. Keluarganya
sudah dianggap sebagai keluarga dan orang tua ku sendiri.
Kesalahan administrasi pada masa lalu masih
terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada prasangka negatif. Semua dilakukan
semata-mata mempunyai niat untuk menolong saudaranya atau tetangganya.
Ada banyak beragam kesalahan administrasi. Kadang
mempunyai nama yang berbeda-beda. Ada teman ku dulu, sejak kecil punya nama Subur.
Karena sering sakit-sakitan, hingga umur 9 tahun diganti nama Sabar. Teman-temannya
banyak mengenal nya dengan nama Subur, bukan Sabar. Tapi dalam ijazah nama nya Sabar.
Fotonya sama, yaitu foto Subur yang telah berganti nama Sabar.
Orang tua dulu mempunyai suatu keyakinan
bahwa nama mempunyai pengaruh terhadap kondisi anak atau terkadang nasib anak. Kepercayaan
tersebut diyakini karena nama bagian dari doa. Ketika ada harapan-harapan
terlalu tinggi-terkesan sangat berlebihan-biasanya anak nya sering
sakit-sakitan. Para orang tua dulu biasanya meminta saran kepada tokoh adat
atau ulama mengenai persoalan tersebut. salah satu saran yang sering dilakukan
yaitu mengganti nama sesuai dengan kondisi anak tersebut dan keluarganya. Kadang
ada kondisi keluarga rakyat biasa memberi nama seperti nama para bangsawan atau
nama-nama yang mempunyai makna agamis seperti Jalal, Jabar, dan Jamal. Biasanya
ditambah menjadi Abdul Jalal, Abdul Jabar dan Abdul Jamal.
Saya mendapat informasi dari anak nya Mbok
De Tinjun tentang asbabul nuzul dirawat sejak kecil di Rumah Mbok De. Pertama,
karena saya sering sakit-sakitan sejak bayi. Dan ibu ku tidak lama kemudian
hamil lagi. Jadi sangat berat merawat ku yang sakit-sakitan terus-menerus. Kedua,
anak Mbok De terakhir, siti huriyah ingin punya adik laki-laki. Ketika saya
dibawa di Rumah Mbok De, ia sangat senang.
Namun nama ku tidak dirubah-rubah. Tetap Imam
Ghozali. Kami memang dari keluarga yang secara turun-temurun punya tradisi agama
yang kuat. Dari garis bapak-dan ibuku ke atas adalah garis para ulama, kyai dan
tokoh agama. Hal sama juga dari garis keluarga Pak De Asy’ari. Wajar saja,
anak-anaknya sejak dulu dimasukan ke pesantren. Rata-rata mereka tidak mau
menjadi pegawai. mereka lebih memilih menjadi guru ngaji dan wiraswasta setelah
selesai pendidikan di pesantren.
Kenapa nama ku tidak dirubah oleh orang tua
ku atau oleh pak de ku. Apakah saya tidak “kaboten jeneng”-terlalu berat
namanya-padahal sepanjang masa kecil selalu sakit-sakitan. Saya kira bapak dan
pak de ku mempunyai pandangan lain. mereka mungkin mempunyai mata batin yang
sangat baik bahwa memberi nama Imam Ghozali merupakan jalan “tafaulan”
dari seorang ulama yang sangat produktif menulis karya ilmiah di bidang ilmu-ilmu
agama (‘ulumuddin). Pada saat saya sudah mulai mengenal nama-nama para
ulama, saya baru tahu bahwa nama Imam Ghozali merupakan seorang ulama yang
mendapatkan gelar “Hujjatul Islam”.
Saya merasa terlalu berat membawa nama
tersebut. Tapi saya juga selalu berharap dari keberkahan dari nama besar
tersebut. Jika tidak bisa menjadi ulama atau penulis, paling tidak saya dapat “tempiasnya”,
sedikit bisa memahami agama dan sedikit bisa menulis yang bisa memberi manfaat
banyak orang. Dan tulisan ini (Insya Allah akan terus berlanjut) sebagai upaya memberi
manfaat kepada para pembaca. Semoga Allah meridhoi niat ku. amin.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6598
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4853
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4836