Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

12 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Merubah Nama Mu untuk Mendapatkan Keberuntungan



Minggu , 22 Juni 2025



Telah dibaca :  454

Saya tidak tahu situasi tahun 1974. Apakah itu tahun kelahiranku. Bisa jadi iya, bisa jadi sebelum tahun itu, bisa jadi setelah tahun itu. Saya tidak tahu persis. Namun saya masih ingat. Pada tahun 1987, wali kelas 6 MI (Madrasah Ibtidaiyah)-setingkat Sekolah Dasar/SD-meminta kepada seluruh murid kelas 6 agar mengumpulkan biodata.

Setelah pulang sekolah, saya langsung menemui biyung-ibu sebuah panggilan khas orang banyumas kepada ibunya dari masyarakat biasa. Ada panggilan selain biyung yaitu mama dan ibu. Panggilan terakhir biasanya untuk kelompok yang dianggap priyayi dan orang terpandang-dan mengatakan kepadanya bahwa wali kelas meminta biodata ku.

Biyung ku tidak begitu merespon. Ia tidak begitu memahami arti biodata. Biyung ku seorang petani. Hari-harinya sering ke sawah. Saat usia sudah mulai tua, ia lebih banyak berada di rumah. Kebetulan di rumah ada home industri, berupa kerajinan pembuatan keset dari sabut kelapa dan dari kain. Setelah cukup banyak, keset tersebut djual di kota Yogyakarta oleh anak-anak nya.

Anak-anak biyung ku cukup banyak. Ada Mas Sulhan, Mas Mastur, Mas Imam Mahdi, Mas Madzkur, Mas Muhaimin, Yayu Hikmah dan Yayu Siti Huriyah. Dari semua itu, yang sekolah di tingkat PGA ada dua yaitu Mas Madzkur dan Yayu Siti Huriyah. Kemudian hari keduanya pun menjadi pns. Yayu hikmah selalu di rumah menjaga biyunge. Lainnya banyak yang belajar ilmu agama-nyantri- di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi Asuhan K.H. Mukhtar Syafa’at.

Selesai dari pesantren Mas Sulhan menikah dengan ibu kholifah seorang putra kyai dan sekaligus ia seorang PNS guru SD. Sedangkan kegiatan Mas Sulhan yaitu mengajar ilmu agama di mushola mertua yang tidak jauh dari rumah nya. Siang hari pergi ke Sawah. Jika pas off tidak ada kegiatan, ia suka ke rumah biyunge sambil membawa majalan kemenag. Saya lupa nama nya. tapi saya sering melihat nya dan tidak membaca. Saat itu, saya belum begitu pandai tulis-baca. Terlambat. Saya SD belum bisa membaca dan menulis. Berbeda anak-anak sekarang, SD kelas 1 sudah pandai membaca huruf latin dan iqra.

Mas Mastur, Mas Mahdi dan Mas Muhaimin memilih wiraswasta. Ketiga ini yang sering jualan kebutuhan Rumah Tangga di Yogyakarta. Barang-barang yang sering dibawa yaitu Keset, Sapu, Korok WC dan Sikat Lantai. Sekali membawa cukup banyak, satu truk. Di tengah-tengah antara gulungan ikatan keset di beri ruang untuk tempat duduk. Keset bagian atas ditutup terpal dari plastic. Jika ada pemeriksaan, biasanya hanya bagian belakang dan tidak sampai ke bagian tengah. sehingga saya selalu aman dari pantauan polisi.

Kembali lagi pada persoalan biodataku yang belum selesai. biyung ku memerintah Mas Muhaimin untuk membuatkan nya. saya masih ingat. Mas Muhaimin memerintahkan ku untuk mengambil pena dan buku tulis. Buku tulis yang sampulnya masih berwarna biru polos. Setelah mengambil satu lembar kertas, ia langsung menulis biodata seadanya. Nama, tanggal lahir, dan nama ayah. Akhirnya saya tercatat tanggal kelahiranku adalah 1 Januari 1974. Nama ayah adalah asy’ari. Data ini yang diberikan kepada wali kelas. Nama dan tanggal lahir ini juga hingga kini menjadi acuan seluruh administrasiku.

Setelah bertambah umur-sudah masuk MTs (Madrasah Tsanawiyah)-saya mulai mengerti asli orang tua ku. Ayah ku bukan Asy’ari, tapi bapak Munajat. Ibuku juga bukan ibu Tinjun, tapi ibu Ainiyatun. Nama Asy’ari dan Tinjun adalah Pak De dan Mbdok De ku. mbok De Tinjun kakak perempuan bapak ku. Karena sejak kecil-sekitar umur 5 bulan-saya sudah dirawat oleh Mbok De. Jadi saya menyangka, Mbok De adalah ibuku. Sampai tamat sekolah SLTA, sebagian teman-teman ku belum mengetahui identitas orang tua ku. bahkan ada teman ku baru mengetahui identitas orang tua ku setelah berjalan 49 tahun.

Namun karena dari pertama administrasi saat di MI selalu menggunakan nama Asy’ari, hingga kini tidak dirubah-rubah. Apalagi sejak kecil hingga SLTA, saya selalu tinggal di rumah mbok de. Keluarganya sudah dianggap sebagai keluarga dan orang tua ku sendiri.

Kesalahan administrasi pada masa lalu masih terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada prasangka negatif. Semua dilakukan semata-mata mempunyai niat untuk menolong saudaranya atau tetangganya.

Ada banyak beragam kesalahan administrasi. Kadang mempunyai nama yang berbeda-beda. Ada teman ku dulu, sejak kecil punya nama Subur. Karena sering sakit-sakitan, hingga umur 9 tahun diganti nama Sabar. Teman-temannya banyak mengenal nya dengan nama Subur, bukan Sabar. Tapi dalam ijazah nama nya Sabar. Fotonya sama, yaitu foto Subur yang telah berganti nama Sabar.

Orang tua dulu mempunyai suatu keyakinan bahwa nama mempunyai pengaruh terhadap kondisi anak atau terkadang nasib anak. Kepercayaan tersebut diyakini karena nama bagian dari doa. Ketika ada harapan-harapan terlalu tinggi-terkesan sangat berlebihan-biasanya anak nya sering sakit-sakitan. Para orang tua dulu biasanya meminta saran kepada tokoh adat atau ulama mengenai persoalan tersebut. salah satu saran yang sering dilakukan yaitu mengganti nama sesuai dengan kondisi anak tersebut dan keluarganya. Kadang ada kondisi keluarga rakyat biasa memberi nama seperti nama para bangsawan atau nama-nama yang mempunyai makna agamis seperti Jalal, Jabar, dan Jamal. Biasanya ditambah menjadi Abdul Jalal, Abdul Jabar dan Abdul Jamal.

Saya mendapat informasi dari anak nya Mbok De Tinjun tentang asbabul nuzul dirawat sejak kecil di Rumah Mbok De. Pertama, karena saya sering sakit-sakitan sejak bayi. Dan ibu ku tidak lama kemudian hamil lagi. Jadi sangat berat merawat ku yang sakit-sakitan terus-menerus. Kedua, anak Mbok De terakhir, siti huriyah ingin punya adik laki-laki. Ketika saya dibawa di Rumah Mbok De, ia sangat senang.

Namun nama ku tidak dirubah-rubah. Tetap Imam Ghozali. Kami memang dari keluarga yang secara turun-temurun punya tradisi agama yang kuat. Dari garis bapak-dan ibuku ke atas adalah garis para ulama, kyai dan tokoh agama. Hal sama juga dari garis keluarga Pak De Asy’ari. Wajar saja, anak-anaknya sejak dulu dimasukan ke pesantren. Rata-rata mereka tidak mau menjadi pegawai. mereka lebih memilih menjadi guru ngaji dan wiraswasta setelah selesai pendidikan di pesantren.

Kenapa nama ku tidak dirubah oleh orang tua ku atau oleh pak de ku. Apakah saya tidak “kaboten jeneng”-terlalu berat namanya-padahal sepanjang masa kecil selalu sakit-sakitan. Saya kira bapak dan pak de ku mempunyai pandangan lain. mereka mungkin mempunyai mata batin yang sangat baik bahwa memberi nama Imam Ghozali merupakan jalan “tafaulan” dari seorang ulama yang sangat produktif menulis karya ilmiah di bidang ilmu-ilmu agama (‘ulumuddin). Pada saat saya sudah mulai mengenal nama-nama para ulama, saya baru tahu bahwa nama Imam Ghozali merupakan seorang ulama yang mendapatkan gelar “Hujjatul Islam”.

Saya merasa terlalu berat membawa nama tersebut. Tapi saya juga selalu berharap dari keberkahan dari nama besar tersebut. Jika tidak bisa menjadi ulama atau penulis, paling tidak saya dapat “tempiasnya”, sedikit bisa memahami agama dan sedikit bisa menulis yang bisa memberi manfaat banyak orang. Dan tulisan ini (Insya Allah akan terus berlanjut) sebagai upaya memberi manfaat kepada para pembaca. Semoga Allah meridhoi niat ku. amin.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6598


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4836