Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nilai-Nilai Dasar Politik



Senin , 29 September 2025



Telah dibaca :  463

Tauhid merupakan ajaran Islam yang pertama dan utama. Nabi Muhammad selama 13 tahun mengajarkan tauhid kepada masyarakat Arab. Dia memberikan pemahaman tentang pentingnya tauhid sebagai bentuk keimanan yang suci  dan mengaplikasikan nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjadi pendorong kuat dalam melakukan perubahan masyarakat Arab yang kala itu mengalami kemerosotan moral dan kemunduran peradaban. Melalui kekuatan tauhid, masyarakat Arab mampu melepaskan diri dari tradisi perbudakan dan hidup atas dasar persamaan hak sesama manusia.

Menurut Husain Haikal, tauhid adalah keyakinan bahwa Tuhan itu hanya satu. Dialah Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Allah swt, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dialah satu-satunya yang patut disembah (Haykal, tt). Pendapatnya sesuai dengan Q.S. Al-Ikhlas [30]:1-4 berbunyi: Katakanlah: Dialah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakan. Dan tidak ada orang pun yang setara dengan-Nya”.

Menurut Sayid Qutb tauhid menjadikan setiap mualaf mengakui bahwa tidak ada sesembahan, kepatuhan dan tujuan hidup selain Allah. Dari kondisi demikian, semua manusia berada dalam derajat sama; derajat kehambaan kepada tuha. Dengan kata lain, tidak dibenarkan penghambaan kepada sesama manusia, kepada materi, bahkan kepada nafsu yang ada pada diri sendiri. Misi Islam tidak hanya membebaskan manusia dari belenggu materi dan sesamannya, akan tetapi juga membebaskan dari godaan-godaan nafsu dalam diri sendiri. Agama yang benar adalah Islam yang selalu menjaga konsistensi atas ketundukan hanya kepada Allah (Quthb, 2012). Menurut Al-Faruqi Iman dalam Islam tidaklah sama dengan iman yang terdapat pada agama-agama selainnya. Karena iman dalam Islam adalah kebenaran yang diberikan kepada pikiran, bukan kepada perasaan manusia yang mudah mempercayai apa saja. Kebenaran-kebenaran atau proposi-proposi dari iman bukanlah misteri-misteri, hal-hal yang sulit dipahami, tidak daapt diketahui dan tidak masuk akal, melainkan bersifat kritis dan rasional (al-Faruqi, 1988).

Pendapat-pendapat para ilmuwan Islam memberi pengertian tauhid sebagai berikut: Pertama, manusia menempatkan Allah sebagai sesembahan mutlak dan menjadi tempat bersandar segala kehidupannya. Kedua, ukuran kebaikan dan keburukan perbuatan manusia berasal dari nilai-nilai yang telah diajarkan oleh—nya melalui Al-Qur’an dan utusan-Nya melalui hadist. Ketiga, tauhid bukan sebatas bentuk  keimanan semata yang bersifat spiritual yang bersifat ubudiyah, tapi juga mempunyai realitasi terhadap kehidupan sosial.

Dalam Syair Melayu (M. Ridwan Hasbi, 2024), ajaran tauhid merupakan ajaran yang sentral dan utama dan perlu diperkenalkan kepada setiap muslim. berikut bunyi sya’irnya:

Allah taala bersifat esa,

Awalnya lagi tiada bersama,

 Janganlah engkau tiada percaya,

Baik dan jahat daripada ia,

Ingatlah badan sekalian nyawa,

Allah Taala Tuhan Yang Amat Karim,

Tiada berbandingan di dalam dunia,

Ialah yang mengasihi kepada sekalian muslim,

Serta Ialah Rahman dan Rahim,

Telah terlimpah sekalian muslim.

 

Ajaran tauhid pada nilai-nilai budaya melayu bersumber dari hukum Islam; Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Kebenaran tauhid yang bersumber dari hukum-hukum Islam tersebut sebagai sumber kebenaran mutlak sehingga membentuk karakter adanya kesadaran pribadi masyarakat melayu terhadap keagungan dan kesucian-nya dalam melihat aspek kehidupan baik berkaitan dengan ubudiyah maupun kehidupan sosial.

Ajaran tauhid dipandang sebagai hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Pola hubungan ini sebagai wujud penghambaan kepada-Nya. Tauhid telah membentuk adanya kelemahan seluruh makhluk dan kekuatan hanya bersumber dari Allah SWT. keyakinan yang meresap pada diri masyarakat melayu pada perilaku kehidupan sehari-hari sebagai wujud hubungan horizontal dalam rangka membangun keselarasan hidup sesame manusia, saling menghormati dan menghargai keberagaman sebagai sunatullah (Thamrin, 2018).

Sya’ir dari Tenas Effendy sebabagai berikut:

Elok budaya karena agama, elok adat karena kiblat. Apa tanda budaya melayu, kepada Islam ia mengacu. Apa tanda melayu berbahasa, kepada Islam ia berpunca. Tegak melayu karena budadyanya, tegak budaya karena agamanya. Dimana tempat melayu teguh, pada sunnah beserta syarah. Dimana tempat melayu diam, pada adat bertiangkan Islam. Di dalam pantun, syarah dan petunjuk berhimpun. Syair-syair tersebut memberikan identitas melayu dalam nafas peradaban selalu saja memberikan nuansa-nuansa ke-Islam-an. Kalimat tertulis secara tersirat. Semangat menunjukan keagungan ajaran Islam sebagai lokal wisdom masyarakat melayu telah membentuk jati diri mereka terhadap keteguhan terhadap ajaran Islam.

Berikut contoh pantun melayu menempatkan nilai-nilai tauhid sebagai ajaran politik dalam masyarakat melayu:

Negara merdeka sesudah perang,

Gugur pahlawan di medan laga,

Ada narkotik dan obat terlarang,

Hancurkan kehidupan anak manusia.

Buruk besi dililit kawat,

Buruk tangan berbuat jahat,

Mabuk dan judi perbuatan maksiat,

Dikutuk Tuhan dunia akhirat.

Masak ikan dicampur garam,

Makan berkuah pindang kunyit,

Kalau dimakan uang haram,

Jadi musibah dan penyakit.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

M.PASHA JAMA'DIL AKHIR

Secara keseluruhan tulisan ini memberikan pemahaman yang baik tentang pentingnya tauhid dalam Islam dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam budaya Melayu

   Berita Terkait

Menelusuri Jejak Peradaban Ibrahim
22 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   301

Pembatalan Perkawinan
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   13

Rasionalisme, Humanisme dan Islam
08 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   313

Batas Minimal Usia Kawin
03 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   94

Agama dan Kehidupan Modern
24 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   111

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272