Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pembaharuan dalam Islam



Kamis , 02 April 2026



Telah dibaca :  377

Kata “pembaharuan” dalam Islam sering menggunakan kata jajdid. Istilah ini juga beririsan dengan kata modernism, reformisme, puritanisme, revivalisme dan fundamentalisme. Makna tersebut mengacu kepada suatu upaya menghidupkan kembali keimanan Islam berserta praktik-praktiknya dalam komunitas kaum muslim (O.Voll, 1987).

Menurut Din Syamsuddin pembaharuan Islam merupakan rasionalisasi pemahaman Islam dan konstekstualisasi nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan. Sebagai salah satu pendekatan pembaharuan Islam, rasinalisasi mengandung arti sebagai upaya menemukan subtansi dan  penanggalan lambang-lambang, sedangkan konstekstualisasi mengandung arti sebagai upaya pengaitan subtansi tersebut untuk membungkus kembali subtansi tersebut. Dengan ungkapan lain rasionalisasi dan konstekstualisasi dapat disebut sebagai proses subtansi Islam ke dalam proses kebudayaan dengan melakukan desimboliasi atau penanggalan lambing budaya asal-Arab-, dan pengalokasian nilai-nilai tersebut ke dalam budaya baru-lokal. Sebagai proses subtansi, pembaruan Islam melibatkan pendekatan subtantivistik terhadap Islam (Syamsudin, 1993).

Modernism dalam masyarakat barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern (Nasution, 2014).

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia Islam, terutama sesudah pembukaan abad ke-19 M, yang dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan periode modern. Kontak dengan dunia barat selanjutnya membawa ide-ide baru ke dunia Islam seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi dan lain-lain. Semua ini menimbulkan persoalan persoalan baru, dan pemimpin-pemimpin Islam pun mulai memikirkan cara mengatasi persoalan-persoalan baru itu.

Secara garis besarnya sejarah Islam dapat dibagi menjadi tiga periode besar yaitu: klasik, pertengahan, dan modern.

Pertama, periode klasik -650 s/d 1250 M- merupakan zaman kemajuan dan dibagi ke dalam dua fase. Pertama, fase ekspansi, integrasi dan puncak kemajuan -650 s/d 100 M. Dizaman inilah daerah Islam meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di barat dan melalui Persia sampai ke India di timur. Daerah-daerah itu tunduk kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad. Pada masa ini juga berkembang dan memuncal ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun dalam bidang non-agama, dan kebudayaan Islam. Zaman inilah yang menghasilkan ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ibnu Hanbal dalam bidang hukum, Imam Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, pemuka-pemuka Muktazilah seperti Wasil bin ‘Ata’ Abu Al-Huzail, An-Nazzam dan Al-Jubbai dalam bidang teologi, Zunnun Al-Misri, Abu Yazid Al-Bustami dan Al-Hallaj dalam mistisme atau tasawuf, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibn Miskawaih Dalam Falsafat, dan Ibn Al-Haisam, Ibn Hayyan, Al-Khawarizmi, Al-Mas’udi Dan Ar-Razi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kedua, fase disintegrasi (1000-1250 M). Di masa ini keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah. Kekuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dapat dirampas dari Hulagu di tahun 1258 M. Khilafah, sebagai lambing kesatuan politik umat Islam hilang.

Periode pertengahan di bagi menjadi dua fase. Fase kemunduran (1250-1800 M). Di zaman ini desentrelasisasi dan disintegrasi bertambah meningkat. Perbedaan antara sunni dan syi’ah dan demikian juga antara Arab dan Persia bertambah nyata kelihatan. Dunia Islam terbagi dua, bagian Arab yang terdiri atas Arabia, Irak, Suriah, Palestina, Mesir dan Afrika Utara dengan mesir sebagai pusat dan bagian Persia yang terdiri atas Balkan, Asia Kecil, Persia dan Asia Tengah dengan Iran sebagai pusat. Kebudayaan Persia mengambil bentuk internasional dan dengan demiikian mendesak lapangan kebudayaan Arab. Pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup makin meluas di kalangan umat Islam. Perhatian terhaadap ilmu pengetahuan kurang. Umat Islam Spanyol dipaksa masuk Kristen atau ke luar dari daerah itu.

Kedua, fases Kerajaan Besar (1500-1800 M) yang dimulai dengan zaman kemajuan (1500-1700m) dan zaman kemunduran (1700-1800m). Tiga Kerajaan Besar yang dimaksud ialah Kerajaan Usmani-Otoman Empire- di Turki. Kerajaan safawi di Persia dan Kerajaan mughol di India. Di masa kemajuan, ketiga Kerajaan besar ini mempunyai kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literatur dan arsitek.

Di zaman kemunduran, Kerajaan Usman terpukul di Eropa. Kerajaan Safawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku Bangsa Afghan, sedang daerah kekuasaan Kerajaan Mughal diperkecil oleh pukkulan-pukulan Raja-Raja India. Kekuatan militer dan kekuatan politik Umat Islam menurun. Umat Islam dalam keadaan mundur dan statis. Dalam pada itu, Eropa dengan kekayaan-kekayaan yang diangkut dari Amerika dan Timur Jauh, bertambah kaya dan maju. Penetrasi Barat yang kekuatannya meningkat ke dunia Islam, yang kekuatannya menurun, klan mendalam dan kian meluas. Akhirnya Napoleon di tahun 1798 M menduduki Mesir, sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.

Ketiga, periode modern (1800 M dan seterusnya) merupakan kebangkitan umat Islam. Jatuhnya Mesir ke tangah Barat menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa di Barat telah tumbuh peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Di periode inilah timbulnya ide-ide pembaharuan dalam Islam.

Daftar Pustaka

Ali, A. (1981). Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini. Jakarta : Rajawali .

Madjid, N. (2008). Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung : Mizan .

Nasution, H. (2014). Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan . Jakarta : PT. Bulan Bintang.

O.Voll, J. (1987). Pembaharuan dan Perubahan dalam Sejarah Islam: Tajdid dan Islah, terj; Bakri Siregar . Jakarta : Rajawali Press.

Syamsudin, M. D. (1993). Mengapa Pembaharuan Islam . Ulumul Qur'an , 68-69.

Yaya, A. H. (2010). Pemikiran Modern dalam Islam . Bandung : CV. Pustaka Setia .

Bahan Diskusi Materi:

Saat sekarang ini kita dikejutkan pada keberanian Negara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sekaligus. Pada saat negara-negara Islam merapat kepada kedua negara tersebut dan mengakui kehebatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi-terutama teknologi perang-, iran bisa tampil perang head to head melawan dua negara tersebut dengan peralatan senjata yang sangat canggih. Bagaimana pandangan saudara tentang kemampuan teknologi Iran yang bisa sejajar dengan negara-negara modern saat sekarang ini, jelaskan !



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

NURMI RAYUTIK Kls 6B

Mengenai teknologi iran yang bisa sejajar dengan negara negara modern saat sekarang ini,berakar pada strategi kemandirian akibat sanksi ekonomi barat, yang berkepanjangan. Iran berhasil mengubah tekanan eksternal menjadi pendorong inovasi domestik, terutama dalam sektor pertahanan dan teknologi tinggi. Pencapaian teknologi iran adalah: 1. Teknlogi Militer dan pertahanan - Drone - Rudal balistik dan jelajah - Pertahanan udara. 2.Teknologi tinggi dan sains - Nanoteknologi dan bioteknologi - Kedirgantaraan - Teknologi laser dan kesehatan Jadi kesimpulannya teknologi iran saat ini sejajar dalam hal efektivitas operasional, inovasi militer, dan kemandirian, terutama dalam teknologi drone dan rudal, menjadikannya aktor utama dalam lanskap pertahanan global, bukan lagi sekadar pengguna teknologi impor.

Avatar

Soleha aliyanda putri

Mengenai teknologi iran yang bisa sejajar dengan negara negara modern saat sekarang ini,berakar pada strategi kemandirian akibat sanksi ekonomi barat, yang berkepanjangan. Iran berhasil mengubah tekanan eksternal menjadi pendorong inovasi domestik, terutama dalam sektor pertahanan dan teknologi tinggi. Pencapaian teknologi iran adalah: 1. Teknlogi Militer dan pertahanan - Drone - Rudal balistik dan jelajah - Pertahanan udara. 2.Teknologi tinggi dan sains - Nanoteknologi dan bioteknologi - Kedirgantaraan - Teknologi laser dan kesehatan Jadi kesimpulannya teknologi iran saat ini sejajar dalam hal efektivitas operasional, inovasi militer, dan kemandirian, terutama dalam teknologi drone dan rudal, menjadikannya aktor utama dalam lanskap pertahanan global, bukan lagi sekadar pengguna teknologi impor.

Avatar

Soleha aliyanda putri kls6A

Iran memang terlihat berani menghadapi Amerika Serikat dan Israel, tapi itu bukan karena teknologinya sudah sepenuhnya setara dengan negara modern, melainkan karena kombinasi strategi dan fokus pengembangan tertentu. Iran kuat di beberapa bidang penting seperti rudal jarak jauh, drone tempur, dan sistem pertahanan udara. Teknologi ini mungkin tidak selalu paling canggih di dunia, tetapi cukup akurat, efektif, dan bisa diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya lebih murah. Ini yang membuat Iran tetap berbahaya secara militer. Kemajuan ini juga terjadi karena Iran lama terkena sanksi, sehingga mereka dipaksa mandiri dan mengembangkan teknologi sendiri. Akibatnya, mereka tidak bergantung pada negara lain dalam produksi senjata. Namun, secara keseluruhan Iran masih tertinggal dalam banyak hal dibanding negara maju, seperti: Jet tempur modern Teknologi stealth Sistem militer terpadu yang kompleks

Avatar

Sustiya wati 6A

Pandangan saya Kemampuan teknologi Iran saat ini terlihat cukup maju dalam beberapa hal, bisa mendekati negara modern, tetapi sebenarnya belum sepenuhnya sejajar dengan Amerika Serikat dan Israel dalam segi teknologi nya. Kemudian Iran ini tidak unggul dalam semua bidang teknologi militer, tetapi Iran banyak mengembangkan teknologi seperti drone dan rudal yang mampu menjangkau jarak jauh serta diproduksi dalam jumlah besar. Teknologi ini tentu membuat Iran tetap kuat meskipun tidak memiliki perlengkapan militer paling modern. Jadi Iran bukan negara dengan teknologi paling canggih, dengan tidak memiliki teknologi yang canggih, tentunya iran mampu menyaingi negara modern dalam beberapa bidang tertentu karena strategi yang tepat. iran ini lebih mengedepankan stategi nya dari pada teknologi. karena iran menyadari kekuatan teknologinya belum setara dengan Amerika Serikat dan Israel. Selain itu, adanya sanksi membuat Iran sulit mendapatkan teknologi canggih. Oleh karena itu, Iran memilih cara yang lebih efektif, seperti menggunakan drone, rudal, dan strategi perang tidak langsung, agar tetap bisa menghadapi lawan yang lebih kuat tanpa harus memiliki teknologi paling kondisi. Dengan memanfaatkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan kondisi.

Avatar

Tino saputra kls 6B

Mengenai teknologi iran yang bisa sejajar dengan negara negara modern saat sekarang ini,berakar pada strategi kemandirian akibat sanksi ekonomi barat, yang berkepanjangan. Iran berhasil mengubah tekanan eksternal menjadi pendorong inovasi domestik, terutama dalam sektor pertahanan dan teknologi tinggi. Pencapaian teknologi iran adalah: 1. Teknlogi Militer dan pertahanan - Drone - Rudal balistik dan jelajah - Pertahanan udara. 2.Teknologi tinggi dan sains - Nanoteknologi dan bioteknologi - Kedirgantaraan - Teknologi laser dan kesehatan Jadi kesimpulannya teknologi iran saat ini sejajar dalam hal efektivitas operasional, inovasi militer, dan kemandirian, terutama dalam teknologi drone dan rudal, menjadikannya aktor utama dalam lanskap pertahanan global, bukan lagi sekadar pengguna teknologi impor.

Avatar

Haikal Trio Adrian 6A

Menurut pandangan saya, kemampuan teknologi Negara Iran merupakan hasil dari kemandirian mereka akibat sanksi barat dan embargo ekonomi, pada revolusi Iran di tahun 1970an, disaat negara negara timur tengah dipaksa bergantung kepada negara arab, iran lebih memilih untuk mengembangkan teknologi mereka sendiri, selain karena mereka mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas terbukti mereka bisa menciptakan drone dan rudal balistik, iran juga mempunyai sumber daya alam yang melimpah terutama minyak, dan juga geografi negara iran juga mendukung perlawanan mereka terhadap amerika, salah satunya mereka memblokade selat hormuz yang merupakan jalur vital pelayaran minyak di timur tengah, dan tentunya iran mempunyai relasi terhadap negara negara yang bersebrangan dengan amerika seperti rusia dan china, hal hal tersebutlah yang membuat iran bisa menyeimbangi kekuatan militer dari amerika dan israel. Jika dikaitkan dengan materi diatas yaitu pembaharuan dalam islam, Iran adalah salah satu negara yang merekonstruksi pemahaman yang menggabungkan identitas islam dengan ilmu teknologi dan sains.

Avatar

Dzikrul Fadhilah

Iran tidak sepenuhnya menyamai negara maju seperti Amerika Serikat atau Israel, tetapi Iran cerdas dalam memilih jenis teknologi yang dikembangkan. Iran fokus pada senjata yang efektif dan tidak terlalu mahal, seperti drone (pesawat tanpa awak) dan rudal jarak menengah. Drone bisa diproduksi dalam jumlah banyak dan sulit ditangkal, sedangkan rudal dapat menjangkau wilayah musuh tanpa perlu pesawat tempur canggih. Selain itu, Iran juga mengembangkan kemampuan perang siber untuk menyerang sistem digital lawan. Salah satu faktor penting yang membuat Iran berkembang adalah sanksi dari negara Barat. Karena sulit membeli senjata dari luar, Iran terpaksa membuat dan mengembangkan teknologi sendiri. Hal ini justru membuat Iran menjadi lebih mandiri dalam beberapa bidang militer, walaupun masih tertinggal dalam teknologi tingkat tinggi seperti jet tempur modern atau sistem satelit. Yang membuat Iran tampak “sejajar” adalah strategi militernya. Iran mengandalkan perang tidak langsung, produksi senjata dalam jumlah besar, serta kombinasi teknologi seperti drone, rudal, dan perang siber. Bahkan dalam kondisi diserang, Iran masih mampu mempertahankan sebagian besar kemampuan militernya dan tetap menjadi ancaman di kawasan �. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan Iran lebih terletak pada ketahanan dan strategi, bukan semata-mata kecanggihan teknologi.

Avatar

Tri Novita Sari

Menurut saya, kemampuan teknologi Iran saat ini memang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Di tengah dominasi negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan sekutunya seperti Israel, Iran justru mampu menunjukkan kemandirian teknologi, khususnya di bidang militer. Pertama, kemajuan teknologi Iran banyak didorong oleh kondisi tekanan dan sanksi internasional yang sudah berlangsung lama. Karena sulit mengakses teknologi dari luar, Iran terpaksa mengembangkan teknologi sendiri (self-reliance). Hal ini justru menjadi faktor pendorong lahirnya inovasi, terutama dalam pengembangan rudal balistik, drone tempur, dan sistem pertahanan udara. Kedua, Iran juga memfokuskan pengembangan pada teknologi asimetris. Artinya, mereka tidak harus menyaingi secara penuh kekuatan militer negara besar, tetapi mencari celah strategi dengan teknologi yang lebih efisien namun tetap mematikan, seperti drone murah tapi efektif. Ini terlihat dari penggunaan UAV (drone) yang cukup diakui dalam berbagai konflik. Ketiga, dari sisi sumber daya manusia, Iran memiliki basis pendidikan sains dan teknologi yang cukup kuat. Banyak ilmuwan dan insinyur lokal yang berperan dalam pengembangan teknologi dalam negeri. Hal ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu bergantung pada negara maju, tetapi juga pada kemampuan mengelola potensi internal. Namun demikian, perlu diakui bahwa secara keseluruhan, Iran belum sepenuhnya setara dengan negara-negara maju dalam semua aspek teknologi, terutama dalam teknologi tinggi seperti AI militer canggih, satelit, dan sistem persenjataan generasi terbaru. Tetapi dalam konteks tertentu, khususnya perang regional dan strategi militer, Iran sudah mampu tampil sebagai kekuatan yang cukup diperhitungkan. Jadi, menurut saya, keberhasilan Iran menunjukkan bahwa dengan kemandirian, strategi yang tepat, dan penguasaan ilmu pengetahuan, sebuah negara dapat mengejar ketertinggalan teknologi dan bahkan menantang dominasi negara besar di bidang tertentu.

Avatar

Desi sustrapika

Menurut saya, kemampuan teknologi Iran memang patut diperhitungkan. Walaupun Iran selama puluhan tahun menghadapi embargo, sanksi ekonomi, dan keterbatasan akses terhadap teknologi Barat, negara tersebut tetap mampu mengembangkan industri militernya sendiri, terutama pada bidang rudal, drone, pertahanan udara, dan teknologi siber. Kekuatan utama Iran bukan berarti mereka lebih unggul dibanding Amerika Serikat atau Israel secara keseluruhan, karena kedua negara tersebut masih jauh lebih maju dalam bidang satelit, pesawat tempur generasi terbaru, sistem radar, kecerdasan buatan, hingga persenjataan presisi. Namun Iran memiliki kelebihan pada strategi “perang asimetris”, yaitu menggunakan teknologi yang lebih murah tetapi efektif untuk melawan musuh yang lebih kuat. Contohnya, Iran berhasil mengembangkan drone tempur dan drone bunuh diri dengan biaya relatif murah, tetapi dapat diproduksi dalam jumlah besar. Selain itu, Iran juga memiliki rudal balistik dan rudal jarak jauh yang cukup akurat. Dengan strategi serangan massal menggunakan drone murah dan rudal, Iran dapat memberi tekanan besar terhadap sistem pertahanan lawan yang jauh lebih mahal.  Kemajuan Iran juga tidak lepas dari kemampuan mereka melakukan riset mandiri, rekayasa balik (reverse engineering), serta memanfaatkan komponen komersial yang tersedia di pasar internasional. Mereka belajar dari teknologi luar negeri, lalu mengembangkannya menjadi produk dalam negeri. Sanksi justru membuat Iran terdorong untuk mandiri dan membangun industri pertahanan sendiri.  Namun demikian, perlu dipahami bahwa teknologi Iran masih memiliki keterbatasan. Banyak drone dan rudalnya dinilai belum sepresisi dan secanggih milik Amerika Serikat atau Israel. Iran juga masih bergantung pada beberapa komponen luar negeri, terutama elektronik dan semikonduktor. Selain itu, sanksi internasional tetap memperlambat pengembangan teknologi tingkat tinggi mereka.  Jadi, dapat disimpulkan bahwa Iran memang belum sejajar sepenuhnya dengan negara-negara modern seperti Amerika Serikat atau Israel dalam semua bidang teknologi. Akan tetapi, Iran telah berhasil membuktikan bahwa dengan kemandirian, inovasi, dan strategi yang tepat, mereka mampu menjadi salah satu kekuatan militer yang disegani di dunia modern.

Avatar

Masnawati

Pandangan saya terhadap teknologi Iran sejajar dengan negara modern sangat tepat dan cangih dalam konteks militer asimetris, ruang angkasa, dan nuklir. Strategi Iran adalah memaksimalkan menghasilkan senjata berbiaya rendah namun berdaya rusak tinggi (drone/rudal) yang sulit ditandingi oleh pertahanan konvensional yang mahal. Namun, dalam hal teknologi sipil konsumen, infrastruktur elektronik canggih Iran masih tertinggal dari negara-negara maju seperti AS atau China. Kesejajaran Iran dalam pertahanan teknologi sangat luar biasa hal ini di dorong oleh sektor pertahanan dan teknologi yang sangat tinggi

Avatar

Nabila

Menurut saya, kemampuan teknologi Iran terlihat maju karena mereka mandiri dalam mengembangkan senjata, terutama sejak terkena sanksi dari Amerika Serikat. Iran fokus membuat drone dan rudal yang efektif. Namun, Iran sebenarnya belum sepenuhnya setara dengan Amerika Serikat dan Israel. Mereka menggunakan strategi cerdas (asimetris), yaitu memakai teknologi yang lebih sederhana tapi tepat guna. Kesimpulan: Iran bisa terlihat kuat karena mandiri, fokus pada teknologi penting, dan strategi yang tepat, bukan karena paling unggul di semua bidang.

Avatar

Julia

Iran memiliki kemajuan teknologi militer yang cukup signifikan, terutama karena dorongan sanksi yang membuatnya mandiri. Iran unggul pada: -Drone murah dan efektif -Rudal balistik jarak jauh -Strategi perang asimetris Namun, dibanding Amerika Serikat dan Israel, Iran masih tertinggal dalam teknologi tinggi seperti pesawat siluman, satelit, dan sistem tempur terpadu. Kesimpulan: Iran tidak sepenuhnya sejajar, tetapi cukup maju dan strategis sehingga mampu menantang negara yang lebih kuat.

Avatar

Rini Hidayanti

Munculnya Iran sebagai kekuatan teknologi militer yang mampu melakukan konfrontasi langsung (head-to-head) dengan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel merupakan fenomena geopolitik yang menarik. Kemajuan ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari strategi jangka panjang yang sangat terencana. Pandangan saya bahwa Iran mampu sejajar bukan berarti mereka memiliki ekonomi atau jumlah senjata yang sama dengan AS, melainkan mereka berhasil mencapai "Paritas Teknologi fungsional". Mereka membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kedekatan politik dengan Barat. Dengan kombinasi antara nasionalisme riset, fokus pada senjata non-konvensional, dan pemanfaatan celah teknologi, Iran berhasil menciptakan deterensi (daya getar) yang membuat negara-negara adidaya harus berpikir dua kali sebelum melakukan konfrontasi langsung secara penuh.

Avatar

DESIKA RANI

Menurut saya Iran memiliki kemampuan teknologi yang cukup signifikan, terutama dalam bidang pertahanan dan senjata. Meskipun tidak secanggih negara-negara besar seperti Amerika Serikat atau Israel, Iran telah berhasil mengembangkan senjata canggih seperti rudal balistik, sistem pertahanan udara, dan senjata kimia. Kemampuan ini didukung oleh kebijakan nasional yang fokus pada keamanan nasional dan pengembangan teknologi dalam konteks geopolitik yang kompleks. Namun, perlu diingat bahwa kemampuan teknologi Iran masih terbatas dibandingkan negara-negara maju, terutama dalam bidang teknologi sipil dan ilmu pengetahuan murni. Dan Iran bisa memiliki teknologi canggih di sebabkan konsisten negara tersebut untuk menciptakan kemajuan dibidang Alusista, dan catatan penting bagi saya,Iran bisa mencapai teknologi canggih hari ini di karenakan tingginya intelektual bangsa Iran dan ikut sertanya pemerintah Iran dalam mencerdaskan bangsa, dari data yg kita dapat kan 9 dari 10 rakyat Iran berpendidikan S1 dan di sekolah sekolah Iran pembelajaran sain menjadi hal yg utama dan ditekan Kan diseluruh negeri, dampak dari itu adalah yg kita lihat hari ini

Avatar

Mutia Khairati

Kemampuan teknologi Iran saat ini dapat dikatakan cukup maju dalam bidang tertentu, terutama di sektor militer, meskipun belum sepenuhnya setara dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Israel. Kemajuan Iran banyak dipengaruhi oleh kondisi sanksi internasional yang membuat mereka tidak bebas mengakses teknologi dari luar. Hal ini justru mendorong Iran untuk mengembangkan teknologi secara mandiri. Akibatnya, Iran menjadi kuat dalam menciptakan teknologi yang bersifat efisien, murah, dan fungsional, terutama dalam bidang drone, rudal balistik, dan sistem pertahanan. Dalam beberapa aspek seperti drone tempur dan rudal jarak menengah, Iran mampu menunjukkan kemampuan yang cukup signifikan sehingga dianggap sebagai kekuatan yang diperhitungkan di kawasan. Selain itu, Iran juga mengembangkan strategi perang modern seperti perang asimetris dan siber, yang tidak selalu bergantung pada kekuatan militer konvensional. Namun, jika dibandingkan secara keseluruhan, Iran masih tertinggal dalam teknologi tingkat tinggi, seperti sistem senjata berbasis kecerdasan buatan, satelit canggih, dan pesawat tempur generasi terbaru yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Israel. Dengan demikian, kemampuan teknologi Iran tidak sepenuhnya sejajar dengan negara maju, tetapi mereka berhasil membangun kekuatan teknologi yang mandiri, adaptif, dan cukup efektif, sehingga mampu menghadapi tekanan dari negara-negara besar dan menunjukkan keberanian dalam konflik internasional.

Avatar

Uci Yudianti Kls. 6.B

Bagaimana pandangan saudara tentang kemampuan teknologi Iran yang bisa sejajar dengan negara-negara modern saat sekarang ini, jelaskan ! ANSWER : Pandangan mengenai kemampuan teknologi Iran yang Sejajar dengan negara negara modern Saat Ini, menunjukan sebuah Fenomena kemandirian Teknologi pertahanan yang pesat di tengah isolasi sanksi. Dan Juga Negara Iran Merupakan Negara Yang Memiliki strategi Militer Yang Mumpuni dikarenakan pernah Berperang Melawan Irak 8tahun dan tidak Kalah... Meskipun saat Ini Sipil Iran Mengalami tekanan, sektor teknologi militernya berhasil mencapai level penyeimbang Kekuatan di timur Tengah dan Mampu bersaing secara Asimetris dengan Kekuatan besar.

Avatar

ANNISA ALHAMIDAH

Menurut saya Keberanian Iran dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kemampuan teknologi yang tidak bisa dipandang remeh, khususnya di bidang militer seperti drone, rudal, dan sistem pertahanan yang terus berkembang. Kemajuan ini didorong oleh kemandirian akibat sanksi internasional, sehingga Iran terbiasa mengembangkan teknologi sendiri dengan biaya lebih efisien namun tetap efektif. Meskipun demikian, kemampuan Iran sebenarnya belum sepenuhnya sejajar dengan negara-negara modern secara keseluruhan, karena masih tertinggal dalam teknologi sipil, industri, dan ekonomi. Dengan demikian, Iran dapat dikatakan kuat dan mampu menyaingi negara maju dalam bidang tertentu, terutama militer, tetapi belum setara secara menyeluruh di semua aspek teknologi.

Avatar

Nurlaili

Kemampuan teknologi Iran tidak berarti bahwa negara tersebut telah sepenuhnya sejajar dengan negara maju seperti Amerika Serikat dan Israel dalam semua bidang sains dan teknologi. Namun, Iran berhasil menunjukkan kekuatan yang signifikan karena mampu memfokuskan pengembangan pada teknologi-teknologi strategis, khususnya di bidang militer, dengan pendekatan yang efisien dan mandiri. Melalui pemanfaatan sains terapan, strategi asimetris, serta kemandirian dalam riset akibat tekanan sanksi, Iran mampu menciptakan teknologi yang efektif dan relevan dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, posisi Iran lebih tepat dipahami sebagai negara yang unggul dalam bidang tertentu yang strategis, bukan sebagai negara yang sepenuhnya setara dengan negara modern dalam seluruh aspek teknologi.

Avatar

SITI FATMA AZZAHARA

Menurut saya, kemampuan teknologi Iran memang cukup maju, terutama di bidang militer. Walaupun sering mendapat sanksi dari negara seperti Amerika Serikat dan tekanan dari Israel, Iran justru terdorong untuk mandiri dan mengembangkan teknologinya sendiri. Iran fokus membuat senjata seperti drone, rudal, dan sistem pertahanan tanpa terlalu bergantung pada negara lain. Karena itu, walaupun tidak sepenuhnya setara dengan negara besar, mereka tetap mampu menunjukkan kekuatan dan percaya diri dalam menghadapi lawan. Jadi, bisa dibilang kemajuan Iran bukan karena lebih unggul, tapi karena kemandirian dan konsistensi dalam mengembangkan teknologi mereka sendiri.

Avatar

Natasa ramadani

Kemampuan teknologi Iran yang dinilai mampu “sejajar” dengan negara modern seperti Amerika Serikat dan Israel tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari beberapa faktor penting. Pertama, Iran memiliki kemandirian dalam pengembangan teknologi. Sanksi internasional yang berkepanjangan justru mendorong Iran untuk tidak bergantung pada negara lain. Mereka mengembangkan sendiri teknologi militer seperti drone, rudal, dan sistem pertahanan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal dapat menjadi pendorong inovasi. Kedua, Iran melakukan investasi serius dalam bidang pendidikan dan sains. Pengembangan Sains dan teknologi menjadi prioritas nasional. Dengan sumber daya manusia yang terdidik, Iran mampu menciptakan teknologi yang kompetitif, meskipun dalam keterbatasan. Ketiga, Iran menerapkan strategi militer yang cerdas (asimetris). Mereka tidak menyaingi kekuatan Barat secara langsung, tetapi menggunakan pendekatan alternatif yang lebih efektif dan efisien, seperti teknologi drone dan perang siber. Ini membuat mereka tetap diperhitungkan dalam percaturan global. Keempat, jika dikaitkan dengan konsep pembaharuan Islam (tajdid), keberhasilan Iran menunjukkan bahwa umat Islam dapat menggabungkan nilai-nilai agama dengan modernitas. Kemajuan teknologi tidak harus bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi justru bisa menjadi alat untuk memperkuat posisi umat. Namun demikian, perlu dicatat bahwa kemampuan Iran belum sepenuhnya setara dengan negara maju dalam semua bidang, terutama ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang masih menghadapi.

Avatar

Siti nurhawa

Kemampuan teknologi Iran yang bisa terlihat sejajar dengan negara modern seperti Amerika Serikat dan Israel menurut saya merupakan hasil dari proses pembaharuan dalam arti nyata, bukan hanya wacana. Iran berhasil menerapkan semangat tajdid dengan cara merasionalisasi ajaran dan mendorong penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi sebagai bagian dari kekuatan umat. Sejak Revolusi Iran 1979, Iran mengalami tekanan dan sanksi dari Barat, sehingga mereka dipaksa mandiri dalam mengembangkan teknologi, termasuk di bidang militer. Kondisi ini justru melahirkan inovasi dan kemandirian, karena mereka tidak bisa bergantung pada negara lain. Selain itu, Iran juga serius dalam membangun pendidikan dan riset, sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang unggul di bidang sains. Ini menunjukkan bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh kekayaan, tetapi oleh kemauan untuk menguasai ilmu pengetahuan. Jadi, kemampuan Iran sejajar dengan negara modern bukan karena kebetulan, tetapi karena kombinasi antara semangat pembaharuan Islam, kemandirian, dan investasi besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Avatar

Siti Nur Annisa 6B

Berbicara tentang Kemampuan Teknologi Iran, Iran telah menunjukkan kemajuan teknologi yang mengesankan meskipun menghadapi sanksi internasional ketat dari AS dan sekutunya sejak 1979, yang membatasi akses ke teknologi Barat. Kemampuan mereka sejajar dengan negara-negara modern di bidang tertentu, terutama pertahanan, drone, rudal, dan nuklir, tetapi masih tertinggal di sektor lain seperti AI, semikonduktor canggih, dan infrastruktur sipil. Ini didasarkan pada data dari sumber terbuka seperti laporan IAEA, SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), dan analisis intelijen AS (misalnya, dari DIA dan ODNI). Iran mengandalkan rekayasa balik (reverse engineering), kolaborasi dengan Rusia/Cina, dan inovasi domestik untuk mengejar ketertinggalan.

Avatar

Khusnita

Kemampuan teknologi Iran dalam menghadapi kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel dapat dipahami sebagai fenomena yang tidak sederhana, melainkan hasil dari proses sejarah, politik, dan strategi yang panjang. Iran memang tidak sepenuhnya setara dengan kedua negara tersebut dalam semua bidang teknologi, tetapi mereka berhasil menunjukkan kekuatan pada sektor-sektor tertentu yang bersifat strategis, khususnya dalam teknologi militer seperti rudal balistik dan drone. Kondisi ini tidak terlepas dari tekanan sanksi internasional yang dialami Iran sejak lama, terutama pasca Revolusi Iran 1979. Tekanan tersebut justru mendorong Iran untuk mengembangkan kemandirian teknologi (self-reliance), sehingga mereka tidak bergantung pada negara lain. Dalam situasi keterbatasan, Iran memilih untuk fokus mengembangkan teknologi yang efisien, relatif murah, tetapi memiliki daya gentar tinggi. Dengan demikian, kekuatan Iran bukan terletak pada kuantitas atau kecanggihan menyeluruh, melainkan pada efektivitas strategi penggunaannya. Selain itu, Iran menggunakan pendekatan yang berbeda dari negara-negara besar, yaitu strategi asimetris. Mereka tidak berusaha menyaingi Amerika Serikat secara langsung dalam semua aspek, melainkan mengembangkan cara-cara alternatif untuk menyeimbangkan kekuatan lawan. Pendekatan ini membuat Iran tetap diperhitungkan dalam percaturan global, meskipun secara ekonomi dan teknologi umum masih berada di bawah negara-negara maju. Jika dikaitkan dengan konsep pembaharuan dalam Islam (tajdid), fenomena ini menunjukkan bahwa pembaharuan tidak hanya terjadi dalam bidang pemikiran keagamaan, tetapi juga dalam aspek kehidupan yang lebih luas, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Iran dapat dipandang sebagai contoh bagaimana nilai kemandirian, rasionalitas, dan kontekstualisasi—sebagaimana dijelaskan oleh Din Syamsuddin—diterapkan dalam konteks modern untuk membangun kekuatan bangsa.

   Berita Terkait

Menelusuri Jejak Peradaban Ibrahim
22 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   300

Pembatalan Perkawinan
14 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   13

Rasionalisme, Humanisme dan Islam
08 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   313

Batas Minimal Usia Kawin
03 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Agama dan Kehidupan Modern
24 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   111

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258