
Tuhan nya sama bukan berarti mempunyai
tujuan sama. Kiblatnya sama bukan berarti mempunyai perasaan sama. Baju ihram
sama, bukan berarti sifatnya sama. Atau di dalam gereja yang sama alirannya,
tapi bertolak belakang cara melihat fakta kehidupan. atau di klenteng, sinagoge
-apalah nama tempat ibadahnya-saling memuji-muji Tuhan, tapi dalam realita
justru saling caci-maki manusia atas nama Tuhan.
Itulah manusia. Di dalam kehidupan ketaatan
menjalankan ritual ada sifat manusia yang liar dan mengabaikan nilai-nilai yang
diajarkan Tuhan yaitu kemanusiaan dan kedamaian.
Ketika malam tahun baru datang, kita tidak
merayakannya dengan beragam alasan mulai dari persoalan agama dan kemanusiaan.
Kita tidak mau dianggap “bersenang-senang” di atas “penderitaan” orang lain.
ada saudara-saudara kita yang sedang kehilangan rumah, kehilangan saudara dan
kehilangan jiwa dan masa depan. Kita benar-benar mampu meredam perang narasi
berdalil tentang “boleh” atau “tidak boleh” menyambut tahun baru. Semuanya
benar-benar merasakan perdebatan itu tidak penting. ada yang lebih penting dari
semua itu yaitu kemanusiaan. Menjaga rasa saudara yang sedah kesusahan.
Namun ketenangan yang kita nikmati di tahun
baru. Keheningan yang kita rasakan di awal tahun baru bukan sebagai pertanda
berhasilnya meredam nafsu dalam jiwa kita menjadi nafsu mutmainah. Nun
jauh di sana meletus perang dengan beragam alasan dan narasi-narasi absurd dan
liar. Entah mana yang benar dan salah. Saya tidak tahu, anda juga mungkin tidak
tahu. Yang kita tahu mereka mempunyai tuhan yang sama yang setiap hari disembah
sedikitnya lima waktu.
Kita mengenal Arab Saudi. Mayoritas muslim.
Di negara tersebut ada dua tempat ibadah suci: Masjid Haram dan Masjid Nabawi. Lebih
dalam lagi, di dalam Masjid Haram ada Ka’bah, dimana kita sholat menghadap ke
arahnya.
Kita mengenal juga Yaman. Sekitar 99%
beragama Islam. di kota itu, kita sering mengenal para ulama-ulama dan
orang-orang baik yang selalu menyerukan cinta kepada nabi, cinta terhadap
perdamaian.
Lihat sekarang. Mereka perang dengan beribu
alasan. Lihat sekarang. Mereka saling bunuh membunuh dengan beragumen pada
masing-masing hujah. Saling ngotot, saling klaim merasa paling benar.
Lihat Venezuela mayoritas beragama Kristen.
Amerika Serikat juga mayoritas agama Kristen. Dua-duanya mengajarkan tentang
kasih Tuhan Yesus. Pengorbanan Yesus sebagai juru selamat agar tercipta
kedamaian di dunia. Tapi kita lihat sekarang, nilai-nilai kemanusiaan yang ada
dalam ajaran agama terkubur oleh nafsu-nafsu serakah manusia. mereka perang
terbuka dengan alasan terserah alasan apa yang mereka buat.
Perang adalah solusi penyelesaian masalah.
Tidak peduli agama apa. Siapa Tuhan yang mereka sembah. Siapa nabi yang mereka
ikuti dan menjadi suri tauladan. Ajaran apa yang mereka yakini kebenarannya.
Tempat-tempat suci seperti masjid,gereja
dan tempat ibadah lainnya adalah tempat penyambung lidah suara Tuhan agar di
dengar oleh penguasa dan rakyat biasa. di tempat tersebut-rumah Tuhan-ada pesan-pesan
kebaikan dan keagungan. Dari tempat ini juga, seruan mengajak hidup penuh
dengan kedamaian dan saling menghargai perbedaan keyakinan dan pandangan hidup.
Semua pesan Tuhan-kata para penyeru kebaikan- adalah jalan lurus untuk
menggapai dunia penuh dengan kebahagiaan sejati.
Sayangnya, suara para manusia suci yang
terdengar indah dalam telinga, terasa sejuk dalam pikiran dan terasa damai
dalam jiwa hanya sebatas berhenti di pintu rumah Tuhan. Ketika kita keluar tempat
tersebut, suara mesiu dan cahaya-cahaya rudal di tengah malam berubah menjadi cahaya
api disertai dengan kepulan asap tebal berwarna putih. Suara menggelegar. Gedung-gedung
pemerintah hancur, mobil terpental, meledak dan darah-darah manusia berceceran
seperti darah binatang-binatang kurban yang belum dibersihkan di pelataran
tempat-tempat ibadah.
Kesakralan Tuhan kelihatannya hanya dalam ritual.
Dalam hidup sehari-hari, manusia-manusia berkuasa lebih melihat kekuasaan dan
kekayaan lebih sakral ketimbang dari Sang Pencipta nya. Tuhan malah hanya
sebatas dijadikan stempel untuk melegalisasi perang, pembunuhan dan pembantaian
suku lain, etnis lain, dan bangsa lain.
Kemanusiaan, keadilan, kesetaraan derajat dan
HAM sudah bukan lagi pesan-pesan Tuhan-yang sering kita dengarkan dalam ajaran
kitab suci-hanya milik kelompok atau bangsa yang punya kekuatan politik,
kekayaan dan kekuatan otoritas kekuasaan tanpa batas. Para penguasa seperti ini
benar-benar menjelma sebagai perwakilan Tuhan-dengan tafsirnya sendiri- atau
bahkan merasa lebih berkuasa dari Tuhan dalam menentukan nasib hidup dan mati manusia.
Duhai Tuhan ku, kini anda telah disaingi
oleh tuhan-tuhan baru yang sudah kehilangan rasa kemanusiaan sebagaimana yang
anda ajarkan. Tuhan-tuhan baru tersebut hanya mengenal mengenal “pedang” untuk
menciptakan perdamaian versi mereka.
Duhai Tuhan, sampai kapan kah pesan
perdamaian yang engkau tulis dalam kitab suci benar-benar terwujud di permukaan
bumi ini?.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   102
Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   182
Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   234
Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   251
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   177
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14338
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6057
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5496
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4671
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4433