Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

393 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Perang Para Penyembah Tuhan



Selasa , 06 Januari 2026



Telah dibaca :  368

Tuhan nya sama bukan berarti mempunyai tujuan sama. Kiblatnya sama bukan berarti mempunyai perasaan sama. Baju ihram sama, bukan berarti sifatnya sama. Atau di dalam gereja yang sama alirannya, tapi bertolak belakang cara melihat fakta kehidupan. atau di klenteng, sinagoge -apalah nama tempat ibadahnya-saling memuji-muji Tuhan, tapi dalam realita justru saling caci-maki manusia atas nama Tuhan.

Itulah manusia. Di dalam kehidupan ketaatan menjalankan ritual ada sifat manusia yang liar dan mengabaikan nilai-nilai yang diajarkan Tuhan yaitu kemanusiaan dan kedamaian.

Ketika malam tahun baru datang, kita tidak merayakannya dengan beragam alasan mulai dari persoalan agama dan kemanusiaan. Kita tidak mau dianggap “bersenang-senang” di atas “penderitaan” orang lain. ada saudara-saudara kita yang sedang kehilangan rumah, kehilangan saudara dan kehilangan jiwa dan masa depan. Kita benar-benar mampu meredam perang narasi berdalil tentang “boleh” atau “tidak boleh” menyambut tahun baru. Semuanya benar-benar merasakan perdebatan itu tidak penting. ada yang lebih penting dari semua itu yaitu kemanusiaan. Menjaga rasa saudara yang sedah kesusahan.

Namun ketenangan yang kita nikmati di tahun baru. Keheningan yang kita rasakan di awal tahun baru bukan sebagai pertanda berhasilnya meredam nafsu dalam jiwa kita menjadi nafsu mutmainah. Nun jauh di sana meletus perang dengan beragam alasan dan narasi-narasi absurd dan liar. Entah mana yang benar dan salah. Saya tidak tahu, anda juga mungkin tidak tahu. Yang kita tahu mereka mempunyai tuhan yang sama yang setiap hari disembah sedikitnya lima waktu.

Kita mengenal Arab Saudi. Mayoritas muslim. Di negara tersebut ada dua tempat ibadah suci: Masjid Haram dan Masjid Nabawi. Lebih dalam lagi, di dalam Masjid Haram ada Ka’bah, dimana kita sholat menghadap ke arahnya.

Kita mengenal juga Yaman. Sekitar 99% beragama Islam. di kota itu, kita sering mengenal para ulama-ulama dan orang-orang baik yang selalu menyerukan cinta kepada nabi, cinta terhadap perdamaian.

Lihat sekarang. Mereka perang dengan beribu alasan. Lihat sekarang. Mereka saling bunuh membunuh dengan beragumen pada masing-masing hujah. Saling ngotot, saling klaim merasa paling benar.

Lihat Venezuela mayoritas beragama Kristen. Amerika Serikat juga mayoritas agama Kristen. Dua-duanya mengajarkan tentang kasih Tuhan Yesus. Pengorbanan Yesus sebagai juru selamat agar tercipta kedamaian di dunia. Tapi kita lihat sekarang, nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam ajaran agama terkubur oleh nafsu-nafsu serakah manusia. mereka perang terbuka dengan alasan terserah alasan apa yang mereka buat.

Perang adalah solusi penyelesaian masalah. Tidak peduli agama apa. Siapa Tuhan yang mereka sembah. Siapa nabi yang mereka ikuti dan menjadi suri tauladan. Ajaran apa yang mereka yakini kebenarannya.

Tempat-tempat suci seperti masjid,gereja dan tempat ibadah lainnya adalah tempat penyambung lidah suara Tuhan agar di dengar oleh penguasa dan rakyat biasa. di tempat tersebut-rumah Tuhan-ada pesan-pesan kebaikan dan keagungan. Dari tempat ini juga, seruan mengajak hidup penuh dengan kedamaian dan saling menghargai perbedaan keyakinan dan pandangan hidup. Semua pesan Tuhan-kata para penyeru kebaikan- adalah jalan lurus untuk menggapai dunia penuh dengan kebahagiaan sejati.

Sayangnya, suara para manusia suci yang terdengar indah dalam telinga, terasa sejuk dalam pikiran dan terasa damai dalam jiwa hanya sebatas berhenti di pintu rumah Tuhan. Ketika kita keluar tempat tersebut, suara mesiu dan cahaya-cahaya rudal di tengah malam berubah menjadi cahaya api disertai dengan kepulan asap tebal berwarna putih. Suara menggelegar. Gedung-gedung pemerintah hancur, mobil terpental, meledak dan darah-darah manusia berceceran seperti darah binatang-binatang kurban yang belum dibersihkan di pelataran tempat-tempat ibadah.

Kesakralan Tuhan kelihatannya hanya dalam ritual. Dalam hidup sehari-hari, manusia-manusia berkuasa lebih melihat kekuasaan dan kekayaan lebih sakral ketimbang dari Sang Pencipta nya. Tuhan malah hanya sebatas dijadikan stempel untuk melegalisasi perang, pembunuhan dan pembantaian suku lain, etnis lain, dan bangsa lain.

Kemanusiaan, keadilan, kesetaraan derajat dan HAM sudah bukan lagi pesan-pesan Tuhan-yang sering kita dengarkan dalam ajaran kitab suci-hanya milik kelompok atau bangsa yang punya kekuatan politik, kekayaan dan kekuatan otoritas kekuasaan tanpa batas. Para penguasa seperti ini benar-benar menjelma sebagai perwakilan Tuhan-dengan tafsirnya sendiri- atau bahkan merasa lebih berkuasa dari Tuhan dalam menentukan nasib hidup dan mati manusia.

Duhai Tuhan ku, kini anda telah disaingi oleh tuhan-tuhan baru yang sudah kehilangan rasa kemanusiaan sebagaimana yang anda ajarkan. Tuhan-tuhan baru tersebut hanya mengenal mengenal “pedang” untuk menciptakan perdamaian versi mereka.

Duhai Tuhan, sampai kapan kah pesan perdamaian yang engkau tulis dalam kitab suci benar-benar terwujud di permukaan bumi ini?. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   102

Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   182

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   234

Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   251

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   177

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14338


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6057


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5496


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4433